Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Strategi Pemisahan
Ruang kelas pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Dion dan Kriss masuk dengan wajah kuyu dan napas yang masih sedikit memburu akibat aksi kejar-kejaran yang gagal total tadi pagi. Mereka duduk di kursi biasa, tepat di belakang Airin yang sudah duduk manis sambil merapikan catatan kecilnya.
"Rin," bisik Dion, mencoba mencari celah. "Tadi pagi lo berangkat pakai apa? Gue ke apartemen lo tapi satpamnya bilang nggak ada nama lo di sana."
Airin menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang tampak sangat polos dan tenang. "Oh, aku... aku berangkat pagi sekali tadi, Dion. Ada buku yang harus kucari di perpustakaan pusat. Soal satpam, mungkin mereka salah dengar namaku."
Kriss menyipitkan mata. Ia tahu Airin sedang berbohong, namun sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan lanjutan, pintu kelas terbuka lebar. Jordan Abraham melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, dan sempat berhenti satu detik lebih lama pada Airin sebelum beralih ke layar proyektor.
"Selamat pagi. Hari ini kita tidak akan melakukan kuliah teori biasa," suara Jordan berat dan mutlak. "Saya akan membagi kalian ke dalam kelompok kecil untuk proyek analisis pasar. Dan kali ini, saya sendiri yang menentukan pembagiannya berdasarkan hasil evaluasi nilai minggu lalu."
Dion dan Kriss saling lirik, sudah bersiap-siap untuk segera berkumpul dengan Airin dan Thea seperti biasa.
"Kelompok satu: Dion Pratama, Kriss Adi, dan Thea," sebut Jordan dengan nada datar.
"Hah?" Dion melongo. "Tapi Pak, biasanya kami berempat"
"Saya tidak menerima interupsi, Tuan Dion. Ini adalah simulasi profesional di mana kalian tidak bisa memilih rekan kerja sendiri," potong Jordan dingin, matanya menatap tajam hingga Dion langsung bungkam.
"Dan kelompok lima," Jordan melanjutkan, suaranya sedikit melunak namun tetap berwibawa. "Airin Rodriguez, bersama asisten riset saya dari kantor pusat yang akan bergabung siang nanti. Kalian akan fokus pada analisis internal Abraham Corp."
Airin tersentak. Itu artinya ia akan dipisahkan sepenuhnya dari teman-temannya. Ia melirik Jordan, dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat—senyum kemenangan yang licik.
"Pak, kenapa Airin dipisah sendiri dari kami?" tanya Kriss berani, mencoba membela.
"Karena nilai Airin adalah yang tertinggi di kelas ini. Dia butuh tantangan yang lebih besar daripada sekadar mengerjakan tugas kelompok standar bersama kalian yang... yah, masih perlu banyak belajar," jawab Jordan dengan nada meremehkan yang disengaja untuk membuat Dion dan Kriss jengkel.
Sepanjang jam pelajaran, Dion dan Kriss tidak punya kesempatan sedikit pun untuk bicara pada Airin. Setiap kali mereka mencoba menoleh atau melempar kertas kecil, mata elang Jordan langsung mengunci mereka.
"Tuan Kriss, fokus pada layar atau saya anggap Anda tidak hadir hari ini," tegur Jordan saat Kriss mencoba berbisik pada Airin.
Selesai kelas, Jordan sengaja menahan Airin di meja depan dengan alasan memberikan dokumen proyek, sementara Dion dan Kriss "diusir" halus karena asisten dosen lainnya sudah menunggu mereka di ruang diskusi yang berbeda gedung.
"Luar biasa licik," gumam Kriss saat mereka berjalan menjauh dari kelas. "Dia sengaja misahin kita biar kita nggak bisa tanya-tanya soal tadi pagi ke Airin."
"Gue baru sadar," sahut Dion lemas. "Kita bukan lagi lawan dosen galak, Kriss. Kita lagi lawan CEO yang punya strategi perang buat ngedapetin satu cewek."
Di dalam kelas yang mulai kosong, Jordan mendekati Airin yang sedang membereskan buku dengan wajah merengut. "Kenapa wajahnya ditekuk begitu, sayang?"
"Kamu jahat, Jordan. Dion dan Kriss jadi sedih karena kamu bilang mereka perlu banyak belajar," protes Airin lembut, bibirnya mengerucut lagi.
Jordan tertawa, ia meraih pinggang Airin dan menariknya ke dalam pelukan singkat di balik meja dosen. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Dan bonusnya, sekarang mereka tidak akan punya waktu untuk menginterogasimu karena tugas kelompok itu sangat berat. Jadi, malam ini kamu milikku sepenuhnya tanpa gangguan pesan dari mereka, mengerti?"
Airin hanya bisa mendesah pasrah sambil merasakan kecupan lembut Jordan di puncak kepalanya. Ia sadar, di dalam kelas ini maupun di luar, Jordan adalah pembuat aturan yang tidak mungkin ia lawan.