Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Komandan Martinus sudah menempati rumah dinas bersama istri dan kedua anak laki - laki mereka. Setelah ibadah yang dilakukan dirumah. Ini saran orangtua yang harus di ikuti oleh Ino dan Cia. Sri susternya Chan juga ikut.
Aktivitas sesungguhnya di mulai. Mobil pribadi Cia sudah berada di rumah dinas. Cia sudah memohon ijin suaminya, jika di ke perusahaan Nuel dan Chan ikut. Dan Ino mengijinkan.
Pagi - pagi sekali Cia sudah bangun, dia menyiapkan sarapan bagi keluarganya.ternyata anggota yang di kediaman juga sudah bangun juga. Meskipun mereka laki - laki tetapi mereka juga pintar memasak. Satu minggu pertama Cia mengamati. Namun dia bersyukur, dia ada yang membantu selain Sri. Meskipun tugasnya menjaga anak - anak namun dia juga membantu pekerjaan rumahnya Cia lakukan.
"Bagaimana perusahaan semenjak ada ownernya, CEOnya."
"Baik mas. Walaupun adek di luar Papua, adekkan tetap bekerja."
"Iya sayang. Nuel senang sekali katanya dikantor mami. Pengen ke kantor papi. Jadi mas ijin bawa Nuel ke kantor."
"Apa mas ngak kerepotan nanti."
"Ada anggota yang bisa menjaganya."
"Oke mas."
Hari ini adek dan kakak kedua anak Ino dan Cia berpisah, Nuel ikut papi, sedangkan di kecil Chan bersama maminya. Di kantor papinya Fransisco Imanuel Rehata menikmati semua yang dia lihat mulai dari anggota yang latihan, berolah raga semua meniru.
"Papi, adek besar mau seperti papi. Jadi tentara."
"Siap. Amin."
"Amin." Suara kecil Nuel membalas juga dengan kata Amin. Di temani Gerson, Nuel menikmati. Dia bermain semua alat - alat yang ada di lapangan. Bergantungan dengan di pegang oleh Gerson. Ino di ruangannya bekerja. Sampai jam makan siang, Cia istrinya datang ke kantor bersama Chan dan Sri.
"Selamat siang pak komandan." Ino bahagia sekali bisa di kunjungi oleh istrinya. Langsung disambut istri tercinta dengan ciuman dan pelukan.
"Kok tumben ke sini."
"Ngak boleh??"
"Boleh dong sayang."
"Chan tanya kakaknya mas." Ino tertawa.
"Kamu lihat anakmu sana sayang."Dari ruangan kerja Ino, Cia bisa lihat aktivitas Nuel. Yang sedang meniru om - om tentara latihan. Nuel tetap di jaga oleh Gerson.
"Lihat apa sayang lama - lama. Mantan ya." Sebenarnya fokus Cia kepada Nuel. Karena di singgung oleh suaminya, Cia jadi tahu bahwa Max ada juga di lapangan.
"Anak saya lebih enak di pandang mas."
"Masa??? Sekarang dia masih dudakan."
"Itu pilihannya mas."
"Sepertinya dia belum move on dari kamu sayang."
"Itu yang Max pilih."
"Siapa Max, masih ingat nama mantan." Cia langsung mencium bibir suaminya.
"I love you Martinus Revelino Rehata. Hanya kamu sayang."
"Love you more Gracia Anastasya, mas cemburu dan takut bertugas disini."
"I am yours honey. Only you." Ino mencium bibir istrinya.
Akhirnya Ino pulang bersama istri dan kedua anaknya dengan mobilnya Cia. Karena Chan anak nomor dua mereka sudah tertidur.
"Mami, kakak senang."
"Senang??"
"Bisa main di lapangan. Mami besok kakak ikut papi ke kantor bisa?"
"Ijin ke papi terlebih dahulu ya sayang. Tetapi kalau pagi kakak sama mami dulu, nanti jam sepuluh kalau papi ijin, mami antar kakak."
"Papi, please....."
"Papi ijinkan, asal sesuai yang princes kita atur ya."
"Siap papi." Nuel langsung mencium maminya. Sikap romantis Nuel diturunkan dari papinya. Apa yang di perlakukan papinya kepada princes mereka itu yang dilakukan oleh Nuel, kelak Chan besar juga harus perlakukan demikian seperti papi dan kakaknya terhadap mami mereka.
Nuel langsung dimandikan oleh susternya, selesai mandi langsung makan siang bersama mami, papi dan adiknya. Langsung kedua anaknya bobo siang. Sebelum bobo, Cia membersihkan badan Chan anaknya.
"Mas ade mau ngomong." Ino melihat istrinya dengan senyuman. Ino begitu mengagumi istrinya, dia terlihat sangat cantik, apalagi saat dia berkeringat selesai berhubungan dengannya seperti saat ini.
"Mau ngomong apa, mas dengar."
"Kemarin, Max ke perusahaan."
"Buat apa??" Kedatangan Max ke A&R Grup di ketahui oleh Ino. Namun dia tahu, bahwa cinta seorang Gracia Anastasya hanya buat dirinya dan kedua anaknya.
"Ade ngak ketemu dengannya, dia hanya bertemu papi." Ino tahu, bahwa hubungan kekerabatan keluarga istrinya dengan keluarga Max itu sangat erat. Yang dia tahu pasti bahwa Cia tidak mungkin menghianati cinta mereka.
"Adek jujur sama mas."
"Iya adek ngak bohong mas."
"Tahu sayang, hal ini yang membuat mas ngak mau tugas disini. Tetapi karena amanat dari Tuhan mas jalani. Dan mas tahu bahwa apa yang Tuhan buat Indah. Dan mas juga sadar ini saat bagi adek ada bersama karyawan adek. Mas cemburu dan ngak mau kehilangan adek. Jika Max macam - macam, mas akan hukum dia. Mas ngak pandang orangtuanya."
"Mas.... Jangan sadis gitu."
"Kamu juga mas hukum."
"Adek??? Dihukum???"
"Mas akan buat adek ngak bisa jalan." Jika kata - kata itu keluar dari mulut Ino, Cia tahu seperti apa hukumannya. Ino langsung mencium istrinya. Dan memeluk erat.
"Kamu tahu sayang, mas ngak mungkin bisa menghukummu sayang. Kamu itu sayapnya mas. Mas bisa terbang sampai sekarang karena kamu istriku. Jadi jangan tinggalin mas ya."
"I love you mas. Love you more." Cia mencium bibir suaminya. Dia merasa sangat di perhatikan dan disayang. Cia bersyukur bahwa dia tidak salah memilih Martinus Revelino Rehata sebagai suaminya.