NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 : Dewi-Dewi Khayangan

Kereta kuda logistik Sekte Cang Yue akhirnya berhenti dengan sentakan keras di gang belakang pusat pasar alun-alun kota. Tiga penumpang gelap di balik terpal kanvas bernapas lega. Ini saat yang tepat untuk menyelinap pergi sebelum Paman Lao dan Xiao Cui menyadari muatan mereka bertambah berat.

Shen Yuan memberi isyarat dengan jarinya. Tiga... dua... satu!

Mereka bertiga serentak mendorong terpal kanvas dan melompat keluar. Namun, karena kaki mereka sudah terlalu kebas akibat duduk berdesakan berjam-jam, keseimbangan mereka hancur total.

BRUK! GUBRAK! KLENTANG!

Bukannya mendarat dengan gaya elegan ala pendekar terbang, ketiganya malah terjerembab saling menimpa menabrak keranjang-keranjang kosong. Shen Rui yang oleh orang-orang pasar lebih akrab dipanggil Yui jatuh tengkurap dengan Lin Yue mendarat tepat di atas punggungnya, sementara wajah Yuan mendarat mulus mencium karung beras.

Xiao Cui, yang baru saja turun dari kursi depan, menjerit histeris hingga keranjang belanjanya terlempar. Paman Lao nyaris terjengkang karena kaget.

"T-T-Tuan Muda Shen Yuan?! Tuan Muda Yui?! Dan... Nona Lin Yue?!" jerit Xiao Cui dengan mata melotot, menunjuk tiga remaja yang sedang mengaduh kesakitan di tanah itu secara bergantian. "Apa yang kalian lakukan di sini?! Bukankah kalian sedang dihukum oleh Tetua Pertama?!"

Yui buru-buru bangkit, membersihkan debu dari jubah hanfu biru mudanya, lalu memberikan senyuman paling manis dan tak berdosa yang bisa ia buat.

"Ah, Kak Cui yang cantik jelita! Kebetulan sekali kita bertemu di sini," sapa Yui santai, mengabaikan fakta bahwa mereka baru saja berguling keluar dari kereta yang sama. "Kami dikirim oleh alam semesta untuk mengawalmu berbelanja. Kau tahu kan, di hutan tadi banyak preman? Kami diam-diam melindungimu dari belakang!"

"Melindungi apa?! Kalian menyelinap! Kalian kabur dari asrama!" teriak Xiao Cui panik, wajahnya pucat membayangkan kemarahan Tetua. "Mati aku... kalau Tetua tahu aku membawa tiga pembuat onar ke kota, aku pasti disuruh mencuci piring seluruh sekte selama setahun!"

Yuan meringis, memegangi dahinya yang memerah. "Xiao Cui, dengar, ini murni paksaan—"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! LARI!" teriak Yui memotong ucapan kakaknya. Tanpa membuang detik berharga, Yui menyambar pergelangan tangan Yuan dan Lin Yue, lalu menyeret keduanya berlari secepat kilat membelah lautan manusia, meninggalkan Xiao Cui yang masih menjerit-jerit memanggil nama mereka.

Begitu berhasil menyusup ke jalan utama pasar, ketiganya terengah-engah. Namun, napas lelah itu seketika tergantikan oleh rasa takjub.

Keadaan pasar pagi itu sungguh luar biasa padat dan semarak. Ratusan lampion merah dan emas membentang di atas jalanan batu. Ribuan orang berlalu-lalang mengenakan hanfu sutra bermacam warna, dengan jubah lengan lebar yang berkibar anggun tertiup angin musim gugur. Para wanita memakai hiasan rambut buyao yang bergemerincing setiap kali melangkah, sementara para pria mengikat rambut mereka dengan mahkota giok guan. Aroma harum rempah-rempah, kuah kaldu daging, gula cair, dan teh melati menguar kuat di udara, menciptakan godaan yang mustahil ditolak.

Namun, godaan itu membawa petaka bagi Shen Yuan.

Karena Yui sudah sering bolos dan kabur ke pasar ini untuk mencuri makanan, wajah tampan nan tengilnya sudah masuk ke dalam daftar hitam para pedagang lokal. Sialnya, Yui dan Yuan adalah saudara kembar yang memiliki wajah sangat mirip. Saat mereka sedang asyik berjalan, seorang bibi pedagang bakpao bertubuh gempal tiba-tiba menerjang maju membawa penggilas adonan dan langsung mencengkeram kerah belakang Yuan.

"Kena kau, anak nakal! Kembalikan bayaran lima bakpao daging yang kau curi bulan lalu!" teriak si Bibi galak.

Yuan terbelalak panik. "Bibi! Salah orang! Saya belum pernah ke pasar ini! Saya Shen Yuan, bukan Shen Rui!"

"Alah, alasan! Wajahmu ini persis seperti si pencuri kecil Yui itu! Walaupun raut wajahmu dibuat sok dingin dan kaku, aku tidak akan tertipu! Bayar sekarang atau kupukul kepalamu!"

Sementara Yuan sibuk menghindar dari sabetan penggilas adonan sambil mempertahankan sisa-sisa martabat kultivatornya, Yui justru bersembunyi di balik pilar kedai teh, tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya. "Hahaha! Penderitaan yang sangat menghibur! Bagus, Kak Yuan, alihkan perhatian mereka, aku akan mencari makanan!"

Lin Yue yang berdiri di samping Yui ikut terkikik geli. Gadis itu lalu menunjuk ke arah panggung kayu raksasa yang sedang dibangun di tengah alun-alun.

"Kalian tidak perlu mencuri, Yui," kata Lin Yue dengan nada yang mendadak terdengar sangat berwibawa dan penuh pengetahuan. "Nanti malam, di pusat alun-alun itu akan ada pesta perjamuan besar-besaran untuk merayakan puncak festival. Semua makanan yang disajikan di meja panjang itu sepenuhnya gratis! Sate pedas, bebek peking, ikan asam manis, semuanya bisa kita makan sepuasnya setelah gong dibunyikan!"

Mata Yui berbinar. "Gratis?! Surgawi sekali! Kalau begitu kenapa kita tidak langsung makan sekarang?"

"Tentu saja karena pestanya belum mulai, bodoh," sahut Yuan yang baru saja berhasil melarikan diri dari amukan si Bibi bakpao dengan rambut sedikit acak-acakan. Ia menatap Lin Yue dengan sisa napas terengah. "Lalu apa lagi yang kau tahu tentang festival ini, Nona Tahu Segalanya?"

Lin Yue tersenyum bangga. "Pesta ini hanya diadakan setahun sekali. Nanti malam, para petinggi sekte dan bahkan perwakilan dari kerajaan-kerajaan tetangga akan hadir mengenakan jubah kebesaran mereka. Di saat para tetua dan bangsawan dewasa bersulang meminum Arak Pir Manis yang sudah difermentasi ratusan tahun, langit akan dipenuhi kembang api sebesar gunung!"

Yui menelan ludah mendengar kata arak. "Arak pir manis ratusan tahun? Ugh, kenapa kultivasiku tidak mempercepat umurku saja? Aku sungguh ingin cepat dewasa agar bisa duduk di meja kehormatan dan menenggak arak itu dari gucinya langsung!"

"Mimpimu terlalu tinggi, Yui. Kau ditugaskan menyeimbangkan Qi dasar saja malah melompat tali," sindir Yuan dingin. Namun dalam hati, Yuan menatap Lin Yue dengan pandangan berbeda. Gadis yang selama ini selalu terlihat polos, rakus, dan kekanak-kanakan ini ternyata menyimpan wawasan luas. Ia tahu jadwal festival, tradisi kerajaan, hingga detail arsitektur kuil.

'Anak perempuan ini sebenarnya sangat cerdas dan punya ingatan fotografis,'*batin Yuan kagum. 'Sangat jauh berbeda dengan adikku yang otaknya hanya berisi trik licik dan makanan gratis.'

"Lalu setelah makan dan minum, kita akan melakukan ritual puncak!" lanjut Lin Yue riang. "Kita akan menggunakan Qi kita untuk membuat Lampion Gelembung Cahaya! Kita merapal permohonan di dalam gelembung itu dan menerbangkannya ke udara, lalu kita akan pergi ke Kuil Kuno di atas bukit untuk memuja para Dewa."

"Aku akan memohon agar Tetua Pertama tiba-tiba amnesia besok pagi," gumam Yui serius.

Belum sempat Yuan mengomeli adiknya lagi, Lin Yue tiba-tiba melambaikan tangannya tinggi-tinggi sambil melompat-lompat girang.

"Ah! Kakak Mei Lin! Su Yin! Jia Li! Aku di sini!"

Tujuh orang gadis cantik mengenakan hanfu sutra berwarna pastel serasi berlari menghampiri mereka. Mereka adalah teman-teman satu asrama Lin Yue yang sejak semalam panik mencari Nona Muda mereka yang mendadak hilang dari ranjangnya.

"Lin Yue! Kau ini dari mana saja?! Kami mencarimu ke seluruh pelosok asrama!" seru Mei Lin, gadis berwajah tirus yang paling dewasa di antara mereka. Namun, omelannya seketika terhenti ketika matanya, beserta enam pasang mata gadis lainnya, terpaku pada dua pemuda yang berdiri di belakang Lin Yue.

Meskipun Yui dan Yuan mengenakan jubah divisi luar yang sederhana, ketampanan alamiah dari darah bangsawan mereka tidak bisa disembunyikan. Yuan berdiri tegak dengan punggung lurus, wajahnya sedingin es namun memancarkan aura maskulin yang sangat berwibawa. Sementara Yui... Yui langsung bereaksi layaknya bunga matahari yang melihat matahari pagi.

Sifat gatal Yui langsung kumat. Ia melangkah maju, merapikan rambutnya dengan gaya cool, lalu membungkuk sopan dengan senyuman maut yang bisa membuat bunga teratai layu mekar kembali.

"Selamat pagi, Bidadari-bidadari Asrama Selatan," sapa Yui dengan suara serak-serak basah yang sengaja dibuat-buat. Matanya mengedip pelan ke arah Su Yin dan Jia Li yang langsung bersemu merah. "Sungguh sebuah takdir yang indah mempertemukan hamba dengan tujuh dewi kahyangan di pasar fana ini. Apakah kalian tersesat saat turun dari surga? Jika iya, izinkan saya, Shen Rui, menjadi pemandu jalan cinta kalian."

Ketujuh gadis itu seketika menahan napas, terpesona oleh karisma sang pemuda es.

Namun, sebelum Yui sempat melancarkan rayuan gombal tahap kedua, sebuah pukulan keras mendarat mulus di puncak kepalanya.

PLETAK!

"ADUH!" Yui meringis, memegangi kepalanya yang dijitak tanpa ampun oleh Yuan.

"Berhenti mempermalukan keluarga Shen," desis Yuan dengan tatapan membunuh yang sedingin kutub utara. "Simpan gatalmu itu atau aku benar-benar akan membekukan mulutmu di depan dewi-dewi kahyanganmu ini."

****

Likeeeeeew

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!