NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tit tit tit tit.

Suara ritmis dari monitor detak jantung menjadi hal pertama yang menyapa kesadaran Jiang Chen.

Aroma menyengat dari cairan antiseptik langsung menusuk rongga hidungnya.

Dia perlahan membuka kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat.

Cahaya lampu neon putih di langit-langit ruangan langsung memaksa matanya untuk menyipit kesilauan.

"Di mana aku sekarang?" gumam Jiang Chen dengan suara serak.

"Syukurlah kau sudah sadar, Anak Muda," ucap sebuah suara berat dari samping ranjang.

Jiang Chen menoleh perlahan ke arah sumber suara tersebut.

Seorang pria paruh baya mengenakan jas putih khas dokter sedang menatapnya dengan ekspresi yang sangat rumit.

Di tangan dokter itu terdapat sebuah papan berisi lembaran rekam medis.

"Ini di rumah sakit, kau baru saja dibawa kemari oleh ambulans sekitar dua jam yang lalu," jelas dokter itu.

Jiang Chen mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.

Ingatannya kembali pada momen mengerikan saat dia tergelincir dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

"Tunggu dulu, jatuh dari lantai dua puluh?" ucap Jiang Chen panik sambil langsung meraba seluruh tubuhnya.

"Aku belum mati? Apakah tulang punggungku hancur? Kakiku masih ada kan?" tanyanya bertubi-tubi.

Dokter itu memijat pangkal hidungnya sambil menghela napas panjang.

"Itulah masalahnya, Anak Muda."

"Masalah apa, Dokter? Apakah aku lumpuh total?" tanya Jiang Chen dengan wajah pucat pasi.

"Bukan begitu, masalahnya adalah kau sama sekali tidak terluka," jawab dokter itu dengan nada frustrasi.

Jiang Chen menghentikan gerakan tangannya yang sedang meraba dada.

"Apa maksudmu tidak terluka sama sekali, Dokter?" tanya Jiang Chen bingung.

"Maksudku adalah, hasil pemindaian sinar-x dan MRI milikmu baru saja keluar sepuluh menit yang lalu."

"Tidak ada satu pun tulangmu yang patah, retak, atau bahkan bergeser."

"Organ dalammu juga berfungsi dengan sangat sempurna tanpa ada pendarahan sedikit pun."

Dokter itu menatap Jiang Chen seolah sedang melihat sosok hantu di siang bolong.

"Secara teori medis manapun di dunia ini, jatuh dari ketinggian dua puluh lantai seharusnya mengubah tubuhmu menjadi daging giling."

"Tapi kau hanya pingsan, detak jantungmu bahkan lebih stabil daripada atlet maraton."

"Ini benar-benar sebuah keanehan yang sangat tidak masuk akal," gumam dokter itu sambil menggelengkan kepalanya.

Jiang Chen terdiam mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter tersebut.

Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan perasaan campur aduk.

"Apakah malaikat maut menolak menerimaku karena aku terlalu miskin untuk membayar biaya pemakaman?" batin Jiang Chen bingung.

Namun tiba-tiba sebuah rasa sakit yang tajam menusuk pelipisnya.

Argh.

Jiang Chen memegang kepalanya saat sekelibat ingatan asing kembali berputar di otaknya.

Jutaan baris teks tentang metode akupunktur, titik meridian, dan resep herbal kuno mengalir seperti sungai deras di kepalanya.

"Ada apa? Apakah kepalamu terasa sakit sekarang?" tanya dokter itu dengan raut wajah khawatir.

"Tidak apa-apa, Dokter, aku hanya sedikit pusing saja," bohong Jiang Chen cepat.

Dia tidak mungkin menceritakan bahwa otaknya baru saja diunduh paksa dengan perpustakaan medis kuno.

Dokter itu akan langsung mengirimnya ke poli jiwa kalau dia berani mengatakan hal gila seperti itu.

"Baiklah kalau begitu, kau istirahat saja dulu di sini."

"Aku akan pergi ke laboratorium untuk mengecek ulang sampel darahmu karena ini benar-benar tidak wajar."

Dokter itu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan rawat inap tersebut.

Cklek.

Suara pintu ditutup membuat Jiang Chen akhirnya bisa menghela napas lega.

Dia langsung menyibakkan selimut rumah sakit yang menutupi tubuhnya.

Jiang Chen menurunkan kedua kakinya ke lantai keramik yang dingin.

Dia berdiri perlahan untuk memastikan tubuhnya benar-benar tidak mengalami kelumpuhan.

"Wow, rasanya sangat ringan dan penuh tenaga," gumam Jiang Chen takjub.

Rasa lapar dan kelelahan yang sebelumnya menyiksa tubuhnya kini menghilang tanpa sisa.

Dia merasa aliran darahnya berdesir hangat, memberikan kekuatan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Namun kekaguman itu hanya bertahan selama beberapa detik saja.

Mata Jiang Chen langsung tertuju pada layar monitor dan berbagai peralatan medis canggih di sekeliling ranjangnya.

"Tunggu sebentar, ruang rawat VIP, pemindaian MRI, tes darah lengkap, dokter spesialis."

"Berapa banyak uang yang harus aku bayar untuk semua fasilitas mewah ini?!" teriak Jiang Chen tertahan.

Wajahnya yang tadinya kemerahan sehat langsung berubah pucat pasi.

Saldo di rekening bank miliknya bahkan tidak cukup untuk membeli semangkuk mie kuah di pinggir jalan.

Kalau rumah sakit ini menagih biaya perawatan VIP kepadanya, dia harus menjual salah satu ginjalnya.

"Tidak, tidak, aku harus segera kabur dari tempat ini sebelum tagihannya dicetak," batin Jiang Chen panik.

Dia segera mencabut jarum infus di punggung tangannya tanpa ragu sedikit pun.

Anehnya, luka bekas jarum itu langsung menutup dengan sendirinya dalam hitungan detik.

Jiang Chen mengabaikan keanehan tersebut karena otaknya sudah dipenuhi oleh kepanikan masalah uang.

Dia mengendap-endap menuju pintu ruangan dan membukanya sedikit untuk mengintip keadaan di lorong.

Lorong rumah sakit terlihat sepi dan tenang, khas area VIP.

Jiang Chen melangkah keluar dari kamarnya dengan sangat hati-hati layaknya seorang pencuri.

Dia berjalan menyusuri lorong sambil terus melihat ke kanan dan ke kiri.

Tujuannya adalah menemukan tangga darurat secepat mungkin dan menghilang dari gedung ini.

Brak.

Suara pintu ganda di ujung lorong tiba-tiba didobrak terbuka dengan sangat keras.

Jiang Chen langsung bersembunyi di balik sebuah pilar marmer besar di dekatnya.

Suara roda tempat tidur rumah sakit yang didorong dengan tergesa-gesa terdengar menggema di sepanjang lorong.

Tap tap tap tap.

Langkah kaki belasan orang berlarian memecah kesunyian malam di rumah sakit tersebut.

"Minggir! Minggir semuanya! Pasien ini mengalami henti jantung mendadak!" teriak seorang perawat wanita dengan panik.

"Siapkan ruang ICU sekarang juga dan panggil Dokter Kepala!" sahut seorang dokter pria yang berlari di samping tempat tidur.

Jiang Chen mengintip dari balik pilar dengan perasaan penasaran.

Matanya langsung membelalak lebar saat melihat siapa pasien yang terbaring di atas brankar tersebut.

"Bukankah itu wanita gila yang mau melompat dari atap tadi?" gumam Jiang Chen terkejut.

Wanita itu adalah Su Yuhan, sosok yang membuat Jiang Chen hampir mati malam ini.

Wajah Su Yuhan kini seputih kertas tanpa ada sedikit pun warna darah.

Bibirnya membiru, dan sebuah masker oksigen menutupi sebagian wajah cantiknya.

Seorang perawat sedang duduk di atas tempat tidur, terus melakukan kompresi dada atau CPR dengan sekuat tenaga.

1
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!