NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Sabotase.

Lampu-lampu di dalam ballroom utama Hotel Grand Voss mendadak meredup, menyisakan sepasang lampu sorot (spotlight) putih yang mengarah tepat ke pintu utama. Alunan musik piano yang anggun mengiringi langkah Langit dan Aletha saat mereka berjalan beriringan membelah karpet merah menuju altar pertunangan.

Tangan mungil Aletha melingkar erat di lengan jas Langit. Di bawah tatapan kagum ratusan pasang mata tamu undangan, dada Aletha bergemuruh hebat. Namun, setiap kali ia melirik wajah tegap Langit yang berjalan tenang di sampingnya, rasa cemas itu perlahan memudar. Begitu mereka berdiri berdampingan di atas altar, MC mulai membuka suara.

"Hadirin sekalian, malam ini kita menjadi saksi penyatuan dua keluarga besar. Sebelum cincin disematkan, mari kita saksikan kilas balik perjalanan manis kedua calon mempelai kita di layar utama."

Aletha menoleh ke arah layar proyektor raksasa berukuran sepuluh meter di belakang mereka. Jantungnya mendadak berdesir aneh saat layar yang semula menampilkan foto-foto masa kecil mereka tiba-tiba berkedip hitam.

BZZZZT...

Suara distorsi audio yang bising bergema dari speaker ballroom. Detik berikutnya, gambar di layar berubah drastis.

Bukan foto romantis, melainkan rentetan dokumen medis rahasia, rekam jejak konseling psikologis Aletha saat SMP, hingga foto-foto lama Aletha yang sengaja dipotong (crop) secara manipulatif bersama Tommy di atas motor dengan narasi teks besar yang sangat menyudutkan:

'Calon Menantu Keluarga Voss: Mantan Narapidana Remaja & Korban Kekerasan Berandalan Liar.’

Keheningan total yang mencekik mendadak menyergap seisi ballroom selama dua detik, sebelum akhirnya ledakan kasak-kusuk dan bisikan histeris ratusan tamu undangan pecah seketika.

"Astaga! Berita apa itu di layar?!"

"Aletha punya masa lalu sekotor itu? Korban kekerasan geng motor?!"

Di barisan depan, Papa Baskoro langsung berdiri dengan wajah memerah menahan amarah yang luar biasa, sementara Mama Hanna menutup mulutnya syok. Om Wirawan dan Tante Karina mematung dengan rahang mengeras.

Dunia Aletha seolah runtuh seketika. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap. Air mata ketakutan dan rasa malu yang teramat sangat langsung tumpah membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar hebat, siap untuk ambruk ke lantai karena harga dirinya telah diinjak-injak di depan umum. Masa lalu kelam saat ia menjadi korban bullying ekstrem hingga harus ke psikolog dan terpaksa bergaul dengan Tommy demi perlindungan, kini ditelanjangi secara kejam.

Dari sudut aula dekat ruang operator, Valerie Clarissa berdiri menyilangkan tangan dengan senyum kemenangan yang paling iblis. Mampus lo, Kurcaci. Selamat menikmati kehancuran lo, batin Valerie puas.

Namun, di tengah kepanikan massal itu, sebuah tindakan yang sama sekali tidak terduga terjadi.

Langit sama sekali tidak melihat ke arah layar. Sorot mata hazel-nya yang semula tenang mendadak berkilat dipenuhi kemarahan yang teramat pekat. Tanpa memedulikan riuhnya ratusan tamu undangan, Langit membalikkan tubuh tingginya sepenuhnya menghadap Aletha.

Set.

Dengan satu gerakan protektif yang teramat tegas, Langit menarik bahu Aletha masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Tangan panjangnya mendekap erat kepala Aletha, menyembunyikan wajah menangis gadis itu di ceruk lehernya, memblokade Aletha dari tatapan ratusan mata yang menghakimi. Hawa mengintimidasi dari tubuh tegap Langit seketika memancar kuat.

Langit meraih mikrofon dari podium dengan satu sentakan tangan yang kuat. Ketika ia membuka suara, nada baritonnya yang berat, dingin, dan berwibawa langsung menggema memotong seluruh kegaduhan di dalam gedung.

"Bisa tolong matikan layarnya, atau perlu saya sendiri yang menghancurkan ruang operator malam ini?" desis Langit kata per kata dengan intonasi yang begitu menusuk. Detik itu juga, petugas operator yang ketakutan langsung mematikan layar menjadi hitam total.

Keheningan kembali menguasai ballroom. Semua mata kini tertuju pada Langit yang masih memeluk erat Aletha di atas altar.

"Hadirin sekalian," ucap Langit, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang mutlak.

"Apa yang baru saja kalian lihat di layar adalah bukti nyata dari rekam medis masa lalu Aletha saat dia menjadi korban kejahatan bullying di sekolah lamanya. Dokumen itu bersifat rahasia negara dan hukum."

Langit menatap lurus ke arah para tamu undangan, tatapan mata hazel-nya begitu tajam bagai silet.

"Sebagai tunangan sah dan calon suaminya, saya sudah tahu seluruh masa lalu Aletha sejak awal. Dan bagi keluarga besar Voss, masa lalu itu bukanlah sebuah aib, melainkan alasan utama mengapa malam ini saya berdiri di sini untuk memastikan tidak akan ada satu pun orang asing yang berani menyentuh atau menyakitinya lagi."

Mendengar pembelaan yang begitu absolut dan berkelas dari mulut sang juara umum, Baskoro dan Wirawan pelan-pelan mengembuskan napas lega. Tante Karina bahkan mulai meneteskan air mata haru melihat kedewasaan putranya. Bisikan menghakimi dari para tamu undangan mendadak senyap, berubah menjadi tatapan kagum atas ketegasan seorang Langit.

Langit menurunkan mikrofonnya sejenak. Ia merapatkan bibirnya di dekat telinga Aletha yang masih terisak di dadanya.

"Dengerin gue, Kurcaci. Buka mata lo. Lihat ke arah pintu keluar di sebelah kanan," bisik Langit lembut, nadanya melunak hanya untuk Aletha.

Aletha membuka matanya yang sembab dengan ragu. Di balik celah bahu tegap Langit, ia melihat dua orang petugas keamanan hotel berbadan kekar sedang menyeret Valerie Clarissa dan Reza keluar dari ballroom dengan paksa. Valerie menjerit tanpa suara, wajah cantiknya pucat pasi dipenuhi ketakutan luar biasa setelah menyadari bahwa Langit ternyata sudah mengetahui sabotasenya dan langsung mengerahkan keamanan hotel.

Langit melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Aletha. Tangan panjangnya bergerak lembut, menghapus sisa air mata di pipi Aletha dengan ibu jarinya yang hangat. Sebuah senyuman tipis, yang kali ini teramat tulus dan tampan, terukir di bibirnya.

"Gue udah janji kan semalam, badai apa pun yang datang, gue yang bakal jadi benteng lo," ucap Langit dengan suara rendah yang sukses membuat seluruh debaran di dada Aletha kembali menggila. Langit mengulurkan tangan kanannya ke depan dada Aletha.

"Sekarang... pasang cincinnya, Babu. Biar semua orang di ruangan ini tahu kalau lo resmi jadi milik gue seutuhnya."

Aletha menelan ludah dengan susah payah, air matanya kini berubah menjadi air mata kebahagiaan yang membuncah. Di atas altar pertunangan ini, di depan ratusan saksi mata, Aletha menyambut uluran tangan Langit dengan senyuman paling manis yang pernah ia miliki. Badai sabotase Valerie malam ini gagal total, dan di bawah perlindungan mutlak sang tiang listrik yang dingin, Aletha tahu... hatinya telah resmi terkunci di dalam labirin asmara yang sesungguhnya.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!