Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Rencana Sebelum Pitching Film
Gerbong kereta cepat Whoosh terasa sangat sepi. Tidak ada orang lain selain kami.
Kami berempat duduk bersebelahan di satu baris kursi. Layar monitor menyala menampilkan sejumlah iklan dan informasi terkait kereta cepat.
Pada bagian dinding kereta terlihat masih tampak baru. Sampai kereta berangkat, tidak ada penumpang lain. Tidak ada suara berisik, hanya dengung halus mesin yang meluncur cepat di atas rel.
"Sepi banget," gumam Hendra sambil menoleh ke kanan-kiri. "Masih jarang yang naik ya?"
"Kereta baru," jawab Jefry santai. "Belum jadi kebiasaan orang."
Aku mengangguk, meski dalam hati ada rasa tidak nyaman. Sunyi seperti ini terasa bukan sekadar kosong biasa, mungkin aku hanya terlalu berburuk sangka. Tapi aku juga tidak bisa menampik perasaan, seakan gerbong memang disiapkan cuma untuk kami.
Di tengah pikiranku yang tak mengenal arah, Hendra mulai bicara serius sambil menyilangkan tangan. "Jadi, kita beneran cuma nawarin film Salah Gaul? Komedi doang?"
Jefry menoleh ke arahku. "Deck udah siap, Gas? Budgeting aman? Udah lo periksa semua?"
"Siap," jawabku. "Konsep, logline, target market, semua sudah gua rapikan, Bang."
Shinta ikut menimpali, "Angkanya realistis. Kita masih punya ruang negosiasi kalau investor minta penyesuaian."
Hendra memicingkan matanya, "Kalo kita sekalian lempar opsi horor, gimana?"
Aku langsung menanggapi dengan cepat.
"Cerita horor itu masih mentah," kataku. "Belum kuat secara struktur."
Jefry setuju, "Iya. Kita nggak mau kelihatan asal lempar ide."
Wajah Hendra berubah. "Justru horor lagi laku. Kalau ada opsi tambahan, pasti bagus"
"Nanti," potong Jefry. "Kita fokus dulu."
Udara di gerbong terasa menegang. Hendra terdiam, ekspresinya tidak puas. Tidak ada yang berbicara beberapa detik setelah itu.
Tiba-tiba, jendela kereta meredup karena memasuki lorong.
Anehnya, kemudian lampu kereta juga ikut mati secara mendadak.
Gelap sepenuhnya. Aku teringat situasi di toilet umum tadi.
Jendela yang tadinya memantulkan cahaya kini berubah menjadi hitam. Dengung mesin terdengar lebih dalam, seperti gema dari perut bumi.
Aku merinding.
Di saat itulah, sesuatu menyentuh tanganku. Reflek, aku tersentak.
Pegangan itu kuat. Jari-jarinya panjang, dingin, dan aku sangat yakin kulitnya kasar, seperti sisik kering yang menempel satu sama lain.
Bukan tangan manusia.
Nafas tercekat di tenggorokanku. Aku ingin menarik tangan, tapi genggaman itu menahan cukup keras. Rasanya seperti ingin memastikan aku sadar akan kehadirannya.
"Kok mati ya?" suara Shinta samar.
Aku tidak sanggup menjawab. Sentuhan itu bertahan beberapa detik.
Lalu menghilang.
Kereta keluar dari lorong, cahaya kembali normal.
Aku menoleh cepat ke sekeliling, hanya ada kami berempat.
Jefry duduk dengan tangan terlipat. Hendra bersandar ke kursi, langsung membuka handphone dari saku. Shinta menatapku dengan wajah pucat. Ia seperti menyadari sesuatu tapi enggan bercerita.
Aku menatap tanganku sendiri. Masih terbayang rasanya disentuh sosok tadi.
"Mas Bagas," bisik Shinta. "Tadi ngerasa juga ya?"
Tak ingin membuat drama, aku mengalihkan pembicaraan, "Nggak usah dibahas dulu, nanti aja."
Tapi aku tahu jawaban itu belum bisa menenangkan kami berdua.
"Kalian kenapa?" tanya Jefry yang curiga karena kami berbisik.
"N-nggak bang," jawabku ngeles.
Aku melamun, menghadap layar monitor digital yang memperlihatkan kecepatan kereta, 346 km/jam.
Namun, dalam pikiranku, apapun yang menyentuhku di lorong tadi, ia sengaja melakukannya.
Kereta cepat akhirnya melambat dan berhenti di Stasiun Tegalluar. Begitu pintu terbuka, udara Bandung yang lebih dingin menyapa wajahku. Namun entah kenapa, hawanya seperti merembes lebih dalam dan mengingatkanku pada sentuhan kasar yang tadi sempat menggenggam tanganku di dalam lorong gelap.
Kami memesan taksi online dan melaju menuju sebuah restoran yang sudah ditentukan oleh Jefry bernama "Waroeng Kayoe".
Dari luar, bangunannya seperti rumah kaca besar. Dinding transparan, memantulkan langit pucat, sementara di dalamnya tampak kursi dan meja kayu jati yang mengkilap, terlalu mewah untuk tempat yang katanya masih belum buka.
Begitu pintu kaca dibuka, sebuah lonceng kecil berdentang pelan. Suaranya memanjang seperti dihembus angin, padahal udara di dalam terasa hening.
Sepasang suami istri menyambut kami.
Damar, tenang, santai, seakan sudah sangat mengenal kami.
Sully, ramah, kalem, dengan senyum yang tak pernah benar‑benar hilang dari wajahnya.
"Silakan duduk. Anggap saja rumah sendiri," ucap Sully lembut.
Sebelum membicarakan soal film, mereka menyajikan makanan dan minuman. Anehnya, untuk restoran yang belum buka, pilihan menunya lengkap sekali.
Dari makanan tradisional, kue‑kue kecil, sampai kopi kekinian yang aromanya memenuhi ruangan. Kami makan sambil berbincang ringan.
Damar dan Sully bercerita tentang rencana soft opening restoran itu yang akan dilakukan dalam waktu dekat.
Suasananya terasa hangat.
Terlalu ramah, pikirku. Semua orang tertawa, bahkan Shinta yang biasanya kaku pun tampak rileks. Sesekali aku mendapati diriku ikut tertawa, hingga nyaris lupa pada firasat buruk yang Delia sebutkan sebelum aku berangkat.
Lalu Jefry mulai bicara.
Dengan nada santai namun penuh percaya diri, ia menjanjikan bahwa kami akan membantu proses soft opening restoran itu, menyusun konsep acara, promosi, sampai undangan tamu.
Kata‑katanya mengalir begitu saja, seakan memang itulah tujuan kami datang ke Bandung.
Aku menoleh pelan menatapnya, ini tidak pernah ada di rencana.
Kami datang untuk pitching film komedi berjudul 'Salah Gaul', bukan untuk mengurus restoran.
Shinta tampak ragu, tapi memilih diam. Hendra justru terlihat antusias, seperti sudah menghitung peluang lain di kepalanya. Damar dan Sully menyambut janji itu dengan senyum yang semakin lebar.
Ketika suasana sedikit lengang, aku memberanikan diri bertanya pelan pada Jefry.
"Bang, soal film kita, kapan mau mulai dibahas?"
Jefry hanya menepuk bahuku dengan ringan, "Tenang, Gas. Kita bikin mereka percaya dulu sama kita. Baru masuk ke film, ini strategi."
Aku menerima alasannya, tapi ada sesuatu yang terasa tidak selaras di logika. Seperti jalan yang perlahan bergeser dari arah seharusnya.
Angin tiba‑tiba menyentuh kaca besar di sisi ruangan. Lonceng kecil itu kembali berdenting, padahal tidak ada siapa pun yang masuk atau keluar. Refleks aku menoleh pada kaca, untuk sekejap, aku melihat bayangan kami berjumlah lima.
Namun setelah aku berkedip, bayangan itu kembali menjadi empat.
Senyum Damar dan Sully tetap sama ramahnya.
Dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan, aku merasa sambutan hangat ini seperti pelukan yang terlalu erat, sulit dilepaskan. Mungkin memang tidak ingin melepaskan kami sama sekali.
Ternyata Damar dan Sully sudah menyiapkan segalanya jauh sebelum, kami, rombongan dari Jakarta tiba. Di ruang belakang Waroeng Kayoe, mereka memperkenalkan seorang pria bertubuh sedang dengan kemeja hitam rapi yang selalu disisakan satu kancing terbuka di lehernya.
"Ini Jeje," kata Damar. "Leader tim lokal Bandung yang bantuin kita untuk soft opening."
Jeje tersenyum sopan.
Senyumnya tipis, tatapan matanya datar, ramah, tapi kelihatan sulit ditebak. Di belakangnya ada beberapa kru lokal yang tampak cekatan, mencatat sesuatu di buku kecil dan tablet. Aroma kayu dan kopi yang sebelumnya terasa hangat di ruangan kini terasa mulai dingin.
Mungkin karena langit yang mulai mendung.
Berlanjut ke diskusi perencanaan, Jeje memaparkan rencana mereka terkait undangan terbatas, pembagian sesi tamu, rundown yang rapi, sampai cara membuat sudut foto yang instagramable.
Semua kelihatan terstruktur, rasanya sudah aman, menurutku.
Tapi Jefry hanya menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangan disilangkan di dada. Senyum miringnya muncul, yang membuatku langsung merasa seperti ada sesuatu.
"Konsepnya, gitu-gitu aja ya," kata Jefry akhirnya, memotong penjelasan Jeje. "Kalau event beneran, harus ada experience yang beda. Gua tuh udah biasa handle event gede. Soft opening restoran kayak gini mah, kecil."
Ruangan langsung terasa lebih sempit. Jeje sempat terdiam sepersekian detik sebelum kembali tersenyum.
"Tentu saja kami terbuka untuk masukan, Kang Jefry," katanya tenang.
Tapi Jefry semakin menjadi.
Ia meluncurkan berbagai istilah keren seperti traffic flow, brand activation, emotional hook. Sambil berbicara, tangannya bergerak-gerak seperti sedang mengatur jalur tak terlihat. Ia bahkan sempat menepuk meja, pelan, seperti menandai kesimpulan yang tak terbantahkan.
"Kalau gua yang pegang, trust me, restoran ini bakal langsung meledak namanya. Timeline-nya gampang. Tiga hari preparation, satu hari rehearsal, hari kelima kita mulai buka."
Nada suaranya jelas, ia sedang menunjukkan keunggulan. Secara sadar, merendahkan semua orang di ruangan itu.
Aku menunduk, menatap jemariku sendiri.
Ada rasa tidak enak yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena sikap Jefry, tapi juga karena perasaan bahwa ruangan ini memperhatikan mereka. Mata-mata sinis dari anak buah Jeje yang terlihat kesal.
Sully saling pandang ke arah Damar. Alih-alih tersinggung, mereka justru kelihatan antusias dengan penjelasan Jefry.
"Kalau begitu," kata Sully pelan, "Mungkin kita bisa gabungkan rencana tim lokal dengan konsep Jefry?"
"Atau," potong Damar, "Kita langsung serahin ke Jefry aja sebagai event organizer?"
Jeje hanya bisa menyetujuinya dengan sopan. Tidak ada ekspresi kecewa, tanpa protes.
Justru ketenangan itu yang membuat aku merinding. Rasanya seperti Jeje telah mempersiapkan rencana lain untuk melawan secara diam-diam atas apa yang dilakukan Jefry barusan.
Aku kembali memperhatikan pintu kaca yang sedikit terbuka, dan untuk sepersekian detik aku merasa melihat bayangan seseorang berdiri di luar. Namun, lagi-lagi saat aku berkedip, bayangan itu lenyap.
"Bro," Jefry menepuk bahuku keras-keras. "Kita bakal sukses di sini, lo liat aja nanti."
Aku hanya menanggapinya dengan senyum karier. Di kepala ku sekarang, alarm kecil berdering, kata-kata yang diucapkan Delia terus terngiang, pelan, tapi terus-menerus.
Meski ragu, tapi aku semakin percaya akan ada sesuatu yang salah. Tapi, seperti biasa, aku tidak bisa berbuat banyak, semuanya sudah terlanjur berjalan.