Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Tiga
Sudah satu minggu terakhir Raisa merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya.
Pagi itu, perempuan itu bahkan masih betah berbaring di atas ranjang meskipun matahari sudah cukup tinggi. Selimut menutupi sebagian tubuhnya, sementara rambut panjangnya berantakan di atas bantal.
Kepalanya kembali terasa pusing. Raisa memejamkan mata sambil memijat pelipis.
“Kenapa akhir-akhir ini aku begini, sih?” gumamnya pelan.
Biasanya, Raisa adalah perempuan yang cukup memperhatikan penampilannya. Bangun tidur, mandi, merawat wajah, memilih pakaian, kemudian menjalani aktivitasnya.
Namun satu minggu terakhir semuanya berubah..Ia malas mandi dan tak ada selera makan. Ia juga malas keluar kamar. Bahkan beberapa sesi pemotretan terpaksa ia tinggalkan.
Ponselnya yang tergeletak di atas meja terus bergetar. Pesan dari manajer dan beberapa klien masuk silih berganti.
Raisa hanya melirik sekilas. Tidak ada tenaga untuk membalas.
“Besok saja," gumam Raisa. Ia kembali merebahkan tubuh.
Namun beberapa menit kemudian, rasa pusing itu membuatnya tidak nyaman. Raisa akhirnya bangkit dari tempat tidur.
Dengan langkah malas, ia berjalan menuju meja rias. Ia duduk di depan cermin sambil mengikat rambutnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.
Tangannya hendak mengambil sisir, tetapi pandangannya tiba-tiba tertuju pada kalender meja yang berada di samping cermin. Raisa mengernyit. Ia mengambil kalender tersebut. Matanya langsung terpaku pada angka yang tertera. Tanggal sembilan.
“Sudah tanggal sembilan?” tanya Raisa pada dirinya sendiri. Ia terdiam. Seketika pikirannya tertuju pada satu hal. Menstruasi. Biasanya ia datang bulan di akhir bulan. Tetapi sekarang sudah tanggal sembilan dan ia belum juga mengalaminya.
“Jangan-jangan .…” Raisa buru-buru menggeleng. “Enggak mungkin.”
Ia mencoba mencari alasan lain. Mungkin karena stres dan pola tidurnya berantakan. Mungkin juga karena terlalu lelah.
Tetapi kemudian ia mengingat kembali rasa pusing yang terus muncul, tubuhnya yang mudah lelah, serta rasa malas yang tidak biasa. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Raisa berdiri.
“Enggak. Aku harus memastikan," ucap Raisa.
Ia segera masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Raisa mengambil tasnya lalu keluar dari apartemen.
Tidak jauh dari tempat tinggalnya terdapat sebuah supermarket. Di sana, ia berjalan menuju bagian perlengkapan kesehatan. Matanya bergerak mencari sesuatu. Sampai akhirnya ia melihat kotak kecil yang sejak tadi membuat pikirannya kacau.
Tes kehamilan. Raisa berdiri mematung. Tangannya mengambil satu. Kemudian ia mengambil satu lagi.
“Kalau benar-benar positif bagaimana?” tanya Raisa pada dirinya sendiri. Raisa menarik napas panjang sebelum membawa kedua alat tes itu ke kasir. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya tidak berhenti bekerja.
Bagaimana kalau ia benar-benar hamil? Siapa ayahnya? Pertanyaan itu membuat perutnya terasa mulas.
Begitu tiba di apartemen, Raisa langsung masuk ke kamar mandi. Tangannya gemetar ketika membuka kemasan tes kehamilan. Ia mengikuti petunjuk yang tertera, kemudian meletakkan alat tersebut di atas meja.
Setelah itu ia hanya bisa menunggu. Beberapa menit, rasanya seperti berjam-jam. Raisa mondar-mandir di dalam kamar.
“Semoga negatif.” Ia berhenti. “Harus negatif.”
Namun ketika akhirnya ia mengambil tes tersebut dan melihat hasilnya, seluruh tubuhnya membeku. Dua garis merah. Raisa tidak berkedip. Ia menatap benda kecil itu seolah berharap garis kedua tiba-tiba menghilang.
Namun tidak. Tetap dua garis. Jelas dan nyata.
“Aku .…” Suara Raisa tercekat. Tangannya mulai gemetar. “Aku hamil?”
Ia mundur satu langkah. Tubuhnya terasa kehilangan tenaga. Raisa segera duduk di tepi ranjang. Tes kehamilan itu masih berada di tangannya. Matanya berkaca-kaca.
“Aku hamil .…” Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam. Tidak ada rasa bahagia. Yang ada hanya kepanikan. Karena satu hal langsung memenuhi kepalanya.
Siapa ayah anak ini?
Raisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikirannya berputar mengingat masa lalu. Ada tiga pria yang pernah tidur dengannya. Dan sekarang, ia tidak tahu siapa di antara mereka yang merupakan ayah biologis anak yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
“Gila .…” Raisa menarik rambutnya sendiri. “Siapa?”
Ia mencoba mengingat satu per satu. Namun tidak ada jawaban yang benar-benar bisa diyakini.
Raisa menggigit bibir. Kalau ia menghubungi salah satu dari mereka dan ternyata salah?
Bagaimana jika pria itu menolak? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang mau bertanggung jawab?
Air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku harus bagaimana?” tanyanya.
Raisa menatap perutnya. Belum ada perubahan apa pun. Namun di sana, mungkin sudah ada kehidupan kecil yang mulai tumbuh. Anak yang tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.
Raisa mengusap wajahnya. “Aku enggak bisa .…” Ia menggeleng. “Aku enggak tahu harus meminta pertanggungjawaban siapa.”
Kamar itu kembali sunyi. Raisa hanya duduk termenung. Sampai tiba-tiba sebuah nama muncul dalam pikirannya. Reatha.
Mata Raisa perlahan membesar. Reatha, kembarannya. Perempuan yang selama ini menggantikannya sebagai istri Azka.
Raisa terdiam cukup lama. Kemudian sebuah pikiran perlahan muncul. Awalnya terdengar gila. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa masuk akal.
Ia bisa pulang, kembali ke tanah air. Ia bisa mengambil kembali kehidupan yang pernah ia tinggalkan.
Raisa menatap tes kehamilan di tangannya. Sebuah senyum tipis mulai muncul di bibirnya.
“Ya …,” ujar Raisa. Ia mengusap perutnya perlahan. “Aku bisa kembali.”
Raisa lalu mulai mencari paspornya. Ia akan menghubungi kedua orang tuanya dan mengatakan kalau ia akan kembali dan menjadi istrinya Azka. Peran Reatha yang menjadi pengantin pengganti dirinya akan berakhir lebih cepat.
"Aku bisa mengatakan kalau ini anaknya, semoga Reatha belum hamil dan aku bisa mengaku baru hamil dengan pria itu. Azka," ucap Raisa dengan tersenyum.