NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Jejak Darah di Balik Kebenaran

Malam itu tak lagi sama. Sejak memegang foto tua itu, tidur tak lagi menyapa Lin Muchen. Ia duduk di tepi tempat tidur, cahaya lampu tidur yang remang jatuh menimpa kertas usang di tangannya — foto yang kini terasa seperti kunci sekaligus pintu neraka yang siap terbuka. Jemarinya mengusap goresan tinta samar di sudut bawah itu berulang-ulang, berusaha memahami makna yang tersembunyi di baliknya. Utang… dendam… akan dilunasi… Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk ke dalam ingatannya, memaksa ia menggali hal-hal yang selama ini ia abaikan.

Ia teringat kembali pada masa-masa terakhir keluarganya utuh. Ayahnya yang dulu selalu tersenyum, yang sering menggendongnya ke pundak besarnya sambil bercerita tentang keberanian dan keadilan, perlahan berubah menjadi sosok yang pendiam, sering terjaga hingga dini hari, dan sesekali pulang dengan wajah pucat penuh kekhawatiran. Suara pertengkaran pelan antara ayah dan ibunya mulai terdengar dari balik pintu kamar tertutup — tentang uang, tentang janji, tentang keluarga yang disebut “Gu”. Setiap kali nama itu disebut, nada bicara ibunya naik sedikit, lalu diturunkan kembali dengan cemas, seolah takut didengar orang lain.

Saat itu ia masih anak-anak. Ia tidak mengerti. Ia hanya merasa sedih melihat ayahnya yang semakin kurus, yang suatu hari duduk di beranda sendirian menatap langit senja, matanya berkaca-kaca namun tak setetes pun air mata jatuh.

“Pa, ada apa?” tanyanya waktu itu, memegang ujung baju ayahnya.

Ayahnya menoleh, tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. “Tidak ada apa-apa, Nak. Hanya… ada hal yang orang dewasa harus selesaikan.”

“Apakah ada hubungannya dengan Shiyu?” tanyanya polos.

Wajah ayahnya seketika mengeras. Tangan yang menepuk kepalanya berhenti. “Jangan sebut nama itu lagi, Muchen. Lupakan saja mereka.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu tegas, begitu dingin, hingga hingga kini masih terngiang di telinganya. Lupakan. Bagaimana mungkin melupakan orang yang pernah menjadi bagian terindah di masa kecilnya? Namun ia menurut, setidaknya di depan ayahnya. Ia berhenti bercerita tentang Gu Shiyu, berhenti menantikan kedatangannya, berhenti berlari ke halaman rumah itu setiap sore. Hingga suatu hari, berita itu datang — keluarga Gu pindah, tanpa pamit, tanpa pesan, seolah dihapus dari peta hidupnya.

Dan tak lama kemudian, ayahnya jatuh sakit. Penyakit yang tak diketahui namanya, yang perlahan menggerogoti tubuhnya hingga tak sanggup bangkit lagi. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ayahnya sempat memegang tangannya erat-erat, napasnya tersengal-sengal, berusaha menyampaikan sesuatu yang berat di ujung lidah.

“Muchen… jangan… percaya… semua yang terlihat…” suaranya nyaris tak terdengar, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar. “Dan… hati-hati… mereka… bukan… apa yang kau pikirkan…”

Siapa yang dimaksud “mereka”? Apakah keluarga Gu? Atau orang lain yang menyembunyikan diri di balik bayang-bayang? Pertanyaan itu menggantung selama bertahun-tahun, tak terjawab, dan kini kembali menghantui dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.

Lin Muchen menyimpan foto itu ke saku bagian dalam, menempel dekat dadanya. Ia harus tahu. Ia tidak bisa terus hidup dalam kegelapan, menjaga orang yang mungkin terlibat dalam kehancuran keluarganya sendiri. Namun di saat yang sama, hatinya perih memikirkan kemungkinan itu. Bagaimana jika benar? Bagaimana jika sosok yang ia rindukan selama ini, wanita yang ia janjikan perlindungan, ternyata berasal dari pihak yang menghancurkan dunia kecilnya?

Pagi tiba lebih cepat dari yang ia duga. Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.

“Tuan Lin, sudah pukul tujuh,” suara pelayan terdengar dari luar.

“Aku tahu,” jawabnya singkat, berdiri dan merapikan pakaiannya. Wajahnya kembali tenang, seolah tak ada badai yang mengamuk semalam. Ia adalah pengawal. Ia tidak boleh memperlihatkan kelemahan.

Saat ia turun ke ruang makan, Gu Shiyu sudah duduk di sana. Ia mengenakan pakaian kerja yang rapi, rambutnya tertata sempurna, namun wajahnya tampak kurang tidur — lingkar samar di bawah matanya, tatapannya agak sayu. Saat melihat Lin Muchen, ia berhenti memegang cangkir teh, menatapnya sejenak seolah ingin memastikan sesuatu.

“Kau terlihat lelah,” ucapnya pelan, bukan sebagai atasan, melainkan sebagai seseorang yang peduli.

Lin Muchen mengangguk sedikit, menjaga jarak. “Hanya menyesuaikan diri, Nona Gu.”

Gu Shiyu menunduk, mengaduk teh di cangkirnya perlahan. “Semalam aku bermimpi aneh. Tentang masa kecil. Tentang seorang anak laki-laki yang selalu menemaniku bermain. Namaku dipanggilnya dengan cara yang tak ada orang lain lakukan.” Ia berhenti, menelan ludah, lalu menatapnya langsung. “Suaranya mirip sekali denganmu.”

Dada Lin Muchen terasa sesak. Ia ingin berteriak, mengaku, memeluknya dan menceritakan semuanya. Namun foto di saku bajunya terasa berat, mengingatkannya pada kenyataan yang belum terpecahkan. “Mungkin hanya kebetulan, Nona Gu.”

Gu Shiyu tersenyum pahit. “Kau selalu begitu. Selalu menutup pintu rapat-rapat.” Ia berdiri, meraih tas kerjanya. “Ayo berangkat. Ada rapat penting pagi ini — membahas kerja sama dengan perusahaan yang dulu pernah bekerja sama dengan ayahku.”

Kalimat itu membuat jantung Lin Muchen berhenti sejenak. “Perusahaan apa?”

Gu Shiyu menyebutkan namanya, dan dunia seakan berputar di tempatnya. Itu adalah nama perusahaan tempat ayahnya bekerja terakhir kali, tempat di mana semua masalah bermula.

Di perjalanan menuju kantor, suasana di dalam mobil terasa lebih berat dari kemarin. Gu Shiyu sibuk dengan dokumen di tangannya, namun Lin Muchen tahu pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ia sesekali melirik ke arahnya, ragu-ragu, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan namun tertahan. Sementara itu, pikiran Lin Muchen berputar cepat. Kerja sama ini bukan sekadar urusan bisnis. Ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu keluarganya.

Sesampainya di gedung perusahaan Gu, suasana sibuk langsung menyambut mereka. Langkah kaki terdengar berkejaran, telepon berdering di mana-mana, namun bagi Lin Muchen, semua itu seakan jauh. Ia berjalan di samping Gu Shiyu, matanya memindai setiap orang yang mereka temui, mencari tanda-tanda bahaya, namun yang paling ia waspadai justru berdiri tepat di sampingnya.

Rapat dimulai. Di ruangan yang luas itu, duduk beberapa orang — direktur, pengacara, dan satu pria paruh baya dengan wajah yang langsung dikenali Lin Muchen. Pria itu tersenyum ramah pada Gu Shiyu, namun di balik senyum itu tersembunyi sesuatu yang dingin dan licik. Namanya Zhang Hua — orang yang dulu menjadi atasan ayahnya, orang yang terakhir terlihat berurusan dengannya sebelum ia jatuh sakit.

“Senang sekali bisa bekerja sama dengan putri dari sahabat lamaku,” ucap Zhang Hua dengan suara berat, menyalami Gu Shiyu. “Ayahmu pasti bangga melihatmu sekarang.”

Gu Shiyu tersenyum sopan, namun ada keraguan di matanya. “Terima kasih, Pak Zhang. Saya hanya berusaha melanjutkan apa yang ayah mulai.”

Zhang Hua tertawa pelan. “Benar-benar anak yang berbakti. Seperti ayahmu, orang yang jujur… meski sayang sekali, ia terlalu mudah percaya pada orang lain.”

Kalimat itu menusuk tepat ke sasaran. Lin Muchen menegang. Ia melihat perubahan kecil di wajah Zhang Hua — kilatan pandangan yang tajam, seolah ia sengaja mengucapkan itu untuk didengarnya.

Sepanjang rapat, Zhang Hua berbicara dengan lancar, mengajukan syarat-syarat yang tampak menguntungkan namun menyembunyikan jeratan halus. Lin Muchen memperhatikan setiap gerakannya, setiap kata yang diucapkannya, dan semakin lama, semakin yakin: pria ini tahu. Ia tahu siapa dirinya. Ia tahu mengapa ia ada di sini.

Saat rapat selesai, Zhang Hua berjalan keluar terakhir. Saat melewati Lin Muchen, ia berhenti sejenak, menatapnya lekat-lekat dengan senyum tipis yang mengerikan.

“Kau tumbuh besar, Nak,” bisiknya pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. “Wajahmu persis seperti ayahmu. Sayang sekali dia tidak sempat melihatmu sukses.”

Darah Lin Muchen mendidih. Tangannya mengepal erat, kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit. “Apa yang kau tahu tentang ayahku?”

Zhang Hua tersenyum lebih lebar, menepuk bahunya pelan — sentuhan yang terasa penuh ancaman. “Banyak hal. Hal-hal yang akan mengubah seluruh pandanganmu tentang siapa yang sebenarnya bersalah. Tunggu saja.” Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Lin Muchen yang berdiri mematung, badannya gemetar menahan amarah yang meluap-luap.

Di sudut ruangan, Gu Shiyu melihat semuanya. Ia tidak mendengar kata-kata itu, namun ia melihat perubahan drastis pada wajah Lin Muchen — kemarahan yang begitu dalam, kesedihan yang begitu nyata, seolah dunia barusan runtuh di hadapannya. Ia mendekat perlahan.

“Lin… apa yang dikatakannya padamu?” tanyanya lembut.

Lin Muchen menoleh, napasnya memburu. Ia menatap Gu Shiyu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan apa-apa. Di matanya terlihat kepedihan yang tak terkatakan.

“Nona Gu,” suaranya bergetar, “ada hal yang harus kukatakan padamu. Hal tentang masa lalu kita. Tentang ayahku. Tentang ayahmu.”

Gu Shiyu menatapnya, matanya membelalak perlahan, menyadari apa yang baru saja akan diucapkan. Namun sebelum ia sempat menjawab, telepon di meja berdering nyaring, memecah ketegangan itu. Gu Shiyu melangkah mundur sedikit, bingung antara rasa ingin tahu dan ketakutan.

“Katakan padaku nanti,” ucapnya pelan, lalu berbalik menjawab panggilan itu.

Lin Muchen berdiri sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sempit. Ia tahu tidak ada jalan kembali. Rahasia itu sudah mulai terbuka, dan sekali terungkap, tidak ada yang bisa sama lagi. Dendam yang ia coba tolak perlahan menariknya masuk, menyeretnya ke jalan yang mungkin tak bisa ia kembali dari sana.

Ia menyentuh foto di saku bajunya. Aku akan mencari tahu kebenarannya, Ayah, janjinya dalam hati. Aku akan tahu siapa yang sebenarnya bersalah, apa pun harganya.

Dan di luar sana, bayangan masa lalu semakin panjang, menanti saat yang tepat untuk menelan mereka berdua utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!