Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba mengusir ketakutan yang membayang di mata elang Kak Ethan.
"Kemungkinan... kutukan itu tampaknya sudah patah, Kak. Karena buktinya, aku masih hidup dan bisa bernapas di depan Kakak sekarang," ucapku perlahan, berusaha membuat suaraku terdengar sepositif mungkin untuk menenangkannya.
Aku menarik tangan kiriku dari balik selimut putih rumah sakit, lalu membalikkan telapak tanganku ke atas. "Garis hitam dan tulisan tanggal itu... semuanya menghilang secara tiba-tiba dari telapak tanganku sebelum aku sadar kemarin."
Aku menyodorkan telapak tangan kiriku, menunjukkannya tepat di hadapan Kak Ethan. Kulitku kini benar-benar polos, hanya menyisakan bekas guratan kemerahan samar yang kian memudar di bawah temaram lampu ruangan.
Seketika itu juga, Kak Ethan terbelalak kaget. Pria yang biasanya selalu tenang dan sulit ditebak itu tampak membeku di tempatnya berdiri. Sepasang matanya menatap nanar kulit telapak tanganku, seolah sedang memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa keajaiban mistis ini benar-benar nyata terjadi.
Gengsi besar yang selama belasan tahun membentengi dirinya runtuh dalam sekejap. Napas Kak Ethan sempat tercekat sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lega yang teramat sangat, seakan-akan beban seberat gunung yang menghimpit pundaknya baru saja diangkat paksa dari dadanya.
"Apakah kamu bisa melihatnya mulai dari kecil?" tanya Kak Ethan. Sorot matanya beralih menatap wajahku, menuntut jawaban atas misteri yang mengurung hidupku selama ini.
"Ya, aku bisa melihatnya sejak kecil," jawabku pelan.
Kak Ethan menarik napas pendek, keningnya berkerut dalam seolah sedang memikirkan ketidakadilan takdir. "Kenapa cuma kamu yang bisa melihat hal itu? Kenapa kami tidak bisa melihatnya juga?"
Aku terdiam sesaat, merasakan dadaku mendadak berdenyut nyeri saat ingatan tentang wanita yang melahirkan kami kembali melintas. Aku menatap mata elang Kak Ethan dengan tatapan tulus.
"Bukan cuma aku yang bisa melihatnya, Kak ... Mama juga bisa melihatnya," ucapku lirih.
Mendengar nama Mama disebut, Kak Ethan seketika terbelalak kaget. Seluruh tubuhnya menegang kaku di samping brankarku. Wajah tegasnya memucat pasi, dan bibirnya bergetar hebat karena syok yang teramat sangat.
"Mama ...?" tanya Kak Ethan dengan suara terbata-bata, menolak untuk mempercayai apa yang baru saja didengarnya. "Maksudmu ... Mama juga bisa melihat hal mengerikan ini?"
Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mengusir kenyataan yang mendadak menghantam seluruh ingatan masa kecilnya.
"Mana mungkin ...mana mungkin Mama bisa melihatnya juga?! Pasti kamu sedang berbohong, kan, Bella?! Mama tidak pernah sekali pun membicarakan hal mengerikan seperti ini kepada kami!" cecar Kak Ethan lagi, suaranya naik satu oktav karena emosi dan rasa tidak percaya yang campur aduk di dalam dadanya.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak di dadaku sebelum melanjutkan penjelasan.
"Mama meninggalkan buku hariannya di dalam gudang lantai tiga, Kak," ucapku lirih, menatap mata elang Kak Ethan yang masih dipenuhi ketidakpercayaan. "Di sana ... di sana ditulis kalau Mama bisa melihat tanggal kematian di telapak tangan orang lain sejak beliau masih kecil. Mama menuliskan semua rahasia dan penderitaannya di dalam buku itu."
"Buku harian?" Kak Ethan mengulangi kalimatku dengan suara bariton yang bergetar hebat. Jantungnya bertalu-talu tidak keruan. Penemuan baru ini benar-benar menjungkirbalikkan seluruh kebenaran yang ia percayai selama belasan tahun. Ia condong ke depan, mencengkeram besi brankarku dengan sangat erat. "Di mana buku harian itu sekarang, Bella? Jawab aku! Aku juga ingin melihatnya!"
"Ada di bawah tempat tidur lipatku di gudang lantai tiga," ucapku pelan, menatap wajah cemasnya. "Disimpan di dalam sebuah kotak kayu kecil di sudut ruangan."
Mendengar petunjuk itu, Kak Ethan tidak membuang waktu lagi. Firasatnya yang tajam seolah berteriak bahwa isi buku harian mendiang Mama akan menjadi kunci jawaban atas kutukan yang selama ini menghancurkan keluarga Adipta.
"Aku akan pulang untuk mengambil dan melihatnya sekarang juga!" seru Kak Ethan tegas.
Tanpa menunggu balasan atau jawaban lanjutan dariku, ia langsung menyambar jas kantornya di atas sofa, berbalik arah, dan berlari lebar keluar dari kamar rawatku. Pintu kaca terhempas menutup dengan keras, menyisakan derap langkah kakinya yang tergesa-gesa yang perlahan-lahan menghilang di ujung koridor rumah sakit yang sunyi.
Aku menyandarkan punggungku pada bantal brankar yang empuk, menatap kosong ke arah langit-langit ruang rawat yang sunyi setelah kepergian Kak Ethan. Setitik air mata haru yang hangat perlahan luruh, melewati pipiku yang kian memucat.
"Selama bertahun-tahun hidup di dunia ini ... baru kali ini ada orang yang sabar mendengarkanku berbicara," ucapku lirih pada keheningan ruangan. Suaraku bergetar menahan luapan emosi yang begitu membubung di dada. Perhatian kecil Kak Ethan yang mau mendengarkan cerita kutukanku tanpa memotongnya dengan makian, terasa seperti mukjizat terbesar dalam dua puluh dua tahun hidupku yang kelam.
*****
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Adipta, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di depan lobi utama. Ethan melompat keluar bahkan sebelum mesin mobil mati sempurna. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan napas yang memburu, ia berlari menerobos pintu depan, langsung memacu kakinya menaiki anak tangga menuju ke lantai tiga rumah besar mereka.
Beberapa pelayan rumah yang sedang membersihkan koridor lantai dua seketika terbelalak kaget.
"Tuan Besar? Ada apa, Tuan?" tanya salah seorang kepala pelayan panik melihat sang majikan berlari seperti orang kesurupan. Namun, Ethan tidak memedulikan mereka. Ia terus melangkah lebar menaiki tangga kayu yang menuju ke lantai teratas. Karena didera rasa penasaran dan cemas, beberapa pelayan nekat bergegas mengekor di belakangnya.
Begitu menginjakkan kaki di lantai tiga, langkah Ethan seketika terhenti. Sepasang mata elangnya melebar, menatap tak percaya pada satu-satunya ruangan yang ada di ujung koridor yang remang-remang itu. Seluruh tubuhnya mendadak menegang kaku, dan udara di sekitarnya seolah mendadak membeku menjadi es.
"Ini ... ini kan bukan kamar? Ini adalah gudang," ucap Ethan dengan suara bariton yang terbata-bata karena syok yang teramat sangat.
Pikirannya mendadak berputar liar, dihantam oleh rasa ngeri yang luar biasa. Selama belasan tahun, ia dan adik-adik laki-lakinya selalu memerintahkan para pelayan untuk memindahkan semua barang Bella ke lantai tiga agar anak itu terisolasi dari interaksi keluarga. Namun, ia tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke lantai teratas ini untuk memeriksa hasilnya.
Melihat pintu kayu yang lapuk, tumpukan kardus berdebu di depan ambang pintu, serta ventilasi udara yang ditambal koran bekas di sudut ruangan, membuat dunia Ethan serasa runtuh seketika.
"Apa ... apa aku salah masuk ruangan, ya?" gumam Ethan linglung, menoleh ke arah barisan pelayan di belakangnya dengan wajah yang pucat pasi. Ia berharap tebakannya salah, menolak untuk memercayai kenyataan pahit bahwa adik perempuannya sendiri selama ini dipaksa tidur di dalam kerak sebuah gudang pembuangan yang tidak layak huni.
Bukankah waktu itu aku menyuruh Aaron untuk memindahkan Bella ke kamar samping? batin Ethan, menatap nanar pintu kayu yang lapuk di depannya.
Dada pria itu bergemuruh hebat. Ingatannya mendadak terlempar pada perintah yang pernah ia berikan kepada adik keduanya beberapa tahun lalu. Seharusnya Bella menempati kamar tamu yang layak di lantai dua, bukan terasing di kerak rumah yang pengap seperti ini.
Saat Ethan masih berdiri kaku bagai patung, seorang pelayan paruh baya berjalan mendekat dengan langkah ragu-ragu karena melihat sang majikan besar berada di lantai teratas rumah.
"Tuan Muda Ethan? Ada apa? Apa ada yang bisa Bibi bantu?" tanya sang pelayan dengan suara memelan, menunduk takzim di sampingnya.
Ethan menoleh perlahan. Wajah tegasnya tampak pucat pasi, kehilangan seluruh keangkuhannya. "Apakah aku salah tempat? Ini kan gudang. Kenapa Bella menyuruhku masuk ke sini? Apakah... apakah benar ini adalah kamar Bella selama ini?" tanya Ethan pada pelayan tersebut, suaranya terdengar serak menahan getaran ngeri di dadanya.
Mendengar pertanyaan itu, sang pelayan paruh baya menghela napas pendek dengan raut wajah penuh kesedihan."Tuan Muda tidak salah tempat. Memang benar ini adalah kamar Nona Besar Bella selama bertahun-tahun ini," jawab sang pelayan pelan, menatap pintu gudang tersebut dengan pandangan prihatin.
Ia menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada suara yang teramat hati-hati. "Dulu... setelah Nyonya dan Tuan Besar meninggal, Tuan Muda Ketiga langsung menyuruh Nona Besar untuk segera pindah ke sini. Dan sejak saat itu, tidak ada satu pun orang yang mengizinkan Nona Besar untuk turun atau menempati kamar yang layak lagi."
Mendengar pengakuan jujur dari pelayan tersebut, dunia di sekitar Ethan serasa runtuh seketika. Fakta bahwa Charles —adik ketiganya yang temperamental—telah bertindak melampaui batas tanpa sepengetahuannya laksana hantaman godam yang menghancurkan hatinya. Udara di koridor lantai tiga yang lembap ini mendadak terasa mencekik parunya. Penyesalan yang teramat sangat mulai membakar nuraninya, menyadari betapa kejam dan tidak manusiawinya penderitaan yang selama belasan tahun ini terpaksa ditanggung sendirian oleh adik perempuan yang telah mereka telantarkan.
"Jadi ... jadi maksudmu selama dua puluh tahun ini Bella tinggal di tempat seperti ini?!" bentak Ethan dengan nada suara yang menggelegar dipenuhi amarah dan keterkejutan yang luar biasa.
Suara baritonnya memantul keras di dinding lorong lantai tiga yang sunyi. Napas pria itu memburu hebat, dan sepasang matanya yang memerah menatap nanar ke arah pelayan paruh baya di hadapannya. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang kaku, menahan luapan emosi yang seolah siap meledakkan dadanya seketika.
Sang pelayan paruh baya seketika tersentak kaget. Ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar ketakutan melihat amukan sang majikan besar yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun ini.
"I-iya, Tuan Muda ...," jawab pelayan itu dengan suara terbata-bata nyaris berbisik. "Bibi tidak berani membantah perintah Tuan Muda Charles dulu. Selama dua puluh tahun ini, Nona Besar memang menempati gudang ini. Bahkan saat musim hujan tiba, atapnya sering bocor dan Nona Besar harus tidur di atas kasur lipat yang lembap."
Mendengar detail kenyataan yang jauh lebih mengerikan itu, seluruh kekuatan di kaki Ethan serasa menguap seketika. Hatinya laksana dihantam oleh godam besar yang tak kasat mata, menyisakan rasa perih dan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya.Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun adik perempuannya dipaksa hidup di dalam kerak sebuah gudang pembuangan yang pengap dan tidak layak huni, sementara dirinya dan adik-adik laki-lakinya tidur dengan nyaman di atas kasur sutra mewah di lantai bawah. Penyesalan yang teramat dalam mulai membakar nurani sang kakak sulung, menyadari bahwa ia telah gagal total menjadi kepala keluarga pelindung yang adil bagi adik-adiknya.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~