NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Nama yang Ditinggalkan

Raka menatap bata merah di tangan sang pertapa itu lama sekali.

Cahaya hangatnya berdenyut pelan, naik-turun, seperti napas makhluk hidup. Bunyi serangga di sekeliling pondok tiba-tiba terasa sangat jauh, dan yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri.

"Anda... dari zaman saya," katanya akhirnya. Itu bukan pertanyaan.

"Dulu," jawab Mpu Kalandara dalam bahasa Indonesia yang mulus. "Sekarang aku tak yakin zaman siapa yang kumiliki. Tapi ya, aku lahir di Klaten, tahun 1951, dan besar di Surakarta."

"Seribu sembilan ratus lima puluh satu," ulang Raka pelan. "Anda..."

"Namaku dulu Kalandaru Wicaksono. Dosen filologi di Universitas Sebelas Maret." Lelaki tua itu tersenyum kecil, dan untuk pertama kalinya Raka melihat sesuatu yang sangat manusiawi di wajah itu, semacam kerinduan yang telah lama disimpan rapat. "Nama itu sudah lama tidak diucapkan siapa pun. Di sini orang memanggilku Mpu Kalandara. Kurasa itu lebih mudah bagi mereka."

Raka tertawa. Tawa pendek, tidak percaya, hampir terdengar seperti terisak. "Saya pernah membaca tulisan Anda. Buku tentang kakawin Jawa Kuna, yang diterbitkan akhir delapan puluhan. Saya... saya pakai itu untuk skripsi."

Mpu Kalandara mengangkat alis. "Benarkah? Kupikir hanya tiga orang yang pernah membeli buku itu, dan dua di antaranya istri dan adikku."

"Saya yang ketiga."

Mereka berpandangan, dan sesuatu di antara keduanya, ketegangan yang sejak tadi menggantung, perlahan mencair. Mpu Kalandara tertawa, tawa serak seorang lelaki yang sudah lama tak punya alasan untuk tertawa, dan Raka ikut tertawa sampai matanya basah. Atau mungkin ia memang sedang menangis. Ia sendiri tak yakin.

Pertapa itu mengajaknya masuk ke pondok. Di dalamnya sederhana: sebuah tikar, sebuah pelita minyak, dan sebuah rak bambu yang penuh dengan gulungan lontar. Di sudut ruangan, tergantung sebuah kantong kain yang lusuh. Dan di atas meja kecil, ada sesuatu yang membuat Raka berhenti melangkah.

Sebuah arloji.

Arloji tangan tua bermerek Seiko dengan tali kulit yang sudah mengeras dan retak. Jarumnya berhenti pada pukul tiga lewat sepuluh.

"Hadiah dari istriku," kata Mpu Kalandara, mengikuti arah pandangan Raka. "Tahun delapan puluh tujuh. Baterainya mati sejak tahun pertama aku di sini. Tapi aku tak sanggup membuangnya."

Ia duduk di atas tikar dan mempersilakan Raka duduk di depannya. Seorang murid muda tiba-tiba muncul dari bilik belakang membawa dua cangkir air hangat berwarna kehijauan, meletakkannya tanpa suara, lalu menghilang lagi seperti bayangan.

"Silakan minum. Itu hanya teh daun jati. Menenangkan."

Raka menyesap. Rasanya pahit, sedikit manis, dan anehnya benar-benar menenangkan.

"Mpu," katanya hati-hati. "Kapan... Kapan Anda masuk?"

"Tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh satu. Bulan Juli." Pertapa itu menatap cangkirnya. "Aku sedang menelusuri sebuah naskah lontar yang konon berasal dari zaman Majapahit, disimpan oleh seorang tukang batik di Laweyan. Sebuah naskah yang tak pernah tercatat di katalog mana pun. Suatu sore, saat hujan reda, aku tersesat di gang-gang kecil. Dan aku menemukan gapura itu."

Raka tak berkata apa-apa. Kisahnya terlalu mirip.

"Aku menyentuh buatan batanya," lanjut Mpu Kalandara, "dan aku terbangun di hutan, di bawah sebatang pohon beringin. Tahun Saka seribu dua ratus lima puluh satu." Ia menghitung dengan jari. "Itu tahun tiga belas dua puluh sembilan Masehi. Dua puluh satu tahun yang lalu."

"Dua puluh satu tahun," bisik Raka.

"Ya."

"Dan selama itu Anda tidak..." Raka tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Mencoba pulang?" Mpu Kalandara tersenyum pahit. "Setiap hari, selama enam tahun pertama. Aku kembali ke tempat itu, ke beringin tua di Kalimati. Aku menyentuh akar-akarnya, menggali tanahnya, membacakan mantra dari setiap naskah yang pernah kubaca. Tak ada yang terjadi. Gerbangnya sudah menutup, dan tidak pernah terbuka lagi untukku."

Hening yang menyesakkan menyelimuti ruangan.

"Istri Anda..." Raka bertanya pelan.

"Namanya Sulastri. Kami punya dua anak. Anak sulungku sekarang pasti sudah..." Ia terdiam, menghitung dalam kepalanya, lalu menggeleng. "Sudah lebih dari seribu tahun usianya kalau dihitung dari zaman ini. Tidak. Kebalikannya. Dia belum lahir. Dia baru akan lahir enam ratus tahun lagi." Ia tertawa getir. "Kau lihat betapa tak masuk akalnya semua ini? Setelah dua puluh tahun, aku masih belum bisa berpikir lurus tentang waktu."

Raka menunduk. Entah mengapa, pikirannya melayang pada ibunya di rumah di Karanganyar, yang pasti sedang menunggu kabar. Pada teman-temannya yang mungkin sedang mencarinya di sekitar Laweyan. Pada tempat tidur, kamar mandi dengan air hangat, dan nasi goreng penjual keliling yang selalu terlalu asin.

"Saya tidak mau begini," katanya, nyaris tanpa suara. "Saya tidak mau terjebak di sini."

"Aku tahu."

"Anda bisa bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja?"

"Tidak." Mpu Kalandara menggeleng pelan. "Aku tidak akan berbohong padamu. Aku tak tahu apakah kau bisa pulang. Tapi aku tahu satu hal."

Raka mengangkat wajah.

"Gerbang itu terbuka untukmu. Bukan untuk siapa pun, melainkan untukmu. Itu artinya sesuatu telah berubah, dan itu memberiku harapan yang tak kumiliki selama dua puluh tahun." Ia mengangkat bata merah di tangannya. "Selama bertahun-tahun, bata ini dingin dan mati. Semalam, tiba-tiba menjadi hangat. Aku langsung tahu sesuatu telah terjadi."

"Jadi Anda mengirim surat ke istana."

"Aku mengirim surat kepada orang yang kupercaya, yaitu Wirabhaya. Ayahnya adalah salah satu sahabatku di istana dulu." Ia mengamati Raka. "Tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya, kecuali satu orang yang sudah wafat. Aku ingin menemukanmu lebih dulu sebelum orang lain."

"Orang lain?"

Mpu Kalandara tak langsung menjawab. Ia menggenggam bata itu lebih erat, lalu memejamkan mata.

"Ada sesuatu yang harus kau lihat," katanya.

Ia menaruh bata itu di atas tikar di antara mereka, lalu menaburkan sejumput bubuk halus berwarna abu-abu di atasnya. Bubuk itu bersinar redup, lalu menyebar di permukaan bata membentuk garis-garis tipis yang bercabang-cabang seperti peta sungai.

Raka mendekat. Di tengah garis-garis itu ada dua titik cahaya yang berdenyut.

"Yang ini," kata Mpu Kalandara, menunjuk titik pertama, "adalah kau. Di sini, di lereng Wilis. Aku mengenalinya karena ritmenya sama dengan yang kurasakan semalam."

"Dan yang itu?"

Titik kedua berada jauh di sisi utara, di antara garis-garis yang menyatu seperti simpul. Cahayanya lebih redup, namun berdenyut lebih cepat, tidak teratur, seperti jantung yang diburu rasa takut.

"Aku tidak tahu," jawab sang pertapa. Wajahnya tegang untuk pertama kalinya malam itu. "Titik itu muncul bersamaan denganmu. Di arah Trowulan."

"Maksud Anda..."

"Seseorang lain telah melewati gerbang, Raka. Pada malam yang sama denganmu."

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Dan kalau firasatku benar," lanjut Mpu Kalandara pelan, "dia bukan orang yang ingin ditemukan oleh kita."

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!