Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ancaman Mengintai
Tok... Tok... Tok!
Suara nyaring pintu yang digedor kasar membuat Aura refleks mematikan kompornya. Perempuan itu tergesa melepas apron. Ketukan di pintu makin nyaring tanpa henti. Padahal ada bel di samping pintu, namun sang tamu justru mengetuk sekuat tenaga hingga membuat dada Aura berdebar cemas.
Aura mengintip lewat celah peephole, tetapi tidak terlihat siapa pun. Dengan jantung yang berdegup makin kencang, ia memberanikan diri memutar kunci.
Klek...
Belum sempat pintu terbuka sempurna, dorongan kuat dari luar langsung menghenyakkan daun pintu hingga terbuka lebar.
Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Kemejanya lusuh, celana jeans-nya robek di beberapa bagian, rambutnya dicat blonde kusam, dan sebatang rokok masih menyala terselip di sela jemarinya.
"Anakku... bolehin Ayah masuk, ya?"
Lutut Aura seketika lemas. Jantungnya berdentam liar dipagut ketakutan luar biasa. Pria di depannya adalah sumber trauma masa kecilnya—sosok yang paling ingin ia hapus dari ingatannya. Padahal Aura sudah mencoba segala cara untuk melarikan diri dan menyembunyikan jejak, entah dari mana pria itu mendapatkan alamat apartemennya.
"Ayah dengar kamu mau menikah dengan orang kaya. Harusnya kamu minta restu dulu sama Ayahmu dong," celetuk pria itu seraya tersenyum culas.
Aura menelan ludah susah payah. Ia baru mengerti mengapa pria itu bisa menemukannya, berita viral soal rencana pernikahannya dengan Darrel Gorge yang meledak di media sosial.
"B...bisa mundur tidak? Saya tidak mau Anda menginjakkan kaki di sini!" ujar Aura memberanikan diri, meski suaranya bergetar hebat.
Pria itu terkekeh sinis, melangkah maju tanpa peduli. "Bagi duit dong. Ayah kalah main judi, jadi harus bayar utang lagi."
"Tidak! Pergi sekarang! PERGIII!!!" jerit Aura histeris. Ia menunduk dalam-dalam sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Ia tak sanggup lagi menahan ingatan kelam itu. Kilas balik teriakan, caci maki, dan pukulan keras dari ayahnya mendadak terngiang nyaring di kepalanya, merobek pertahanan mentalnya hingga hancur.
Melihat teriakan histeris Aura yang berpotensi memancing perhatian para tetangga apartemen, pria paruh baya itu panik. Takut dilaporkan ke pihak keamanan gedung, ia menyumpah pelan lalu berbalik pergi meninggalkan koridor.
"Dasar Anak haram, kurang ajar! Menyusul lah dengan ibumu di dalam kubur!" ujar lelaki itu sambil menunjuk nunjuk Aura sebelum pergi.
.....
Pukul 21.00 WIB.
Tubuh lelah dan mental Aura yang terguncang terbaring pasrah di atas kasur. Botol obat di dalam laci masih utuh tak tersentuh. Lagi-lagi ia lupa menelan tablet penting itu. Sesak napas dan serangan cemas hebat sore tadi memaksa tubuhnya menyerah lebih awal hingga tertidur lelap.
Tepat satu jam kemudian, pukul 22.00 WIB, alarm di ponselnya berbunyi nyaring.
Alarm yang seharusnya menjadi pengingat untuk minum obat itu kini justru menjadi penanda kegagalan. Karena obat penenang tak masuk ke dalam sistem tubuhnya, ketegangan mental Aura justru memicu kepribadiannya yang lain untuk keluar.
Clara mengambil alih.
Perempuan itu terbangun, kelopak matanya terbuka lebar tanpa sisa kantuk sedikit pun. Ia langsung beranjak ke kamar mandi untuk merapikan diri. Namun, matanya seketika membelalak saat mendapati tumpukan gaun mahalnya berserakan di lantai.
"ASTAGA! My Chanel! Baju mahal begini diinjak-injak?! Gila banget sumpah!" omel Clara dengan nada dramatis sembari memunguti gaun-gaunnya.
Ia memasukkan kembali pakaian mewahnya ke dalam lemari dengan bersungut-sungut. Sebagai balasan, ia menyambar tumpukan pakaian sopan yang tak sesuai seleranya, lalu menghempaskannya begitu saja ke atas lantai.
"Baju jelek begini yang pantes dibuang!" gumamnya sinis.
.....
"Aduh Clara, ngapain kemarin absen? Bos Daffa ngamuk di sini!" cerocos Rose, sambil membuntuti langkah Clara dari belakang.
Clara yang mengenakan black dress ketat menghentikan langkahnya. Ia tidak membalikkan badan, hanya diam mengernyit heran. "Daffa? Aku tidak ingat apa-apa semalam. Apa aku memang tidak ke sini?"
Rose mendekat, menyamakan posisinya dengan Clara. "Nggak datang sama sekali! Dia bahkan hampir baku hantam sama Bos Andri saking emosinya nyariin kamu!"
Clara tersenyum tipis lalu kembali melangkah anggun menuju ruang VIP. "Mundurlah. Kayaknya dia bakal ngamuk lagi hari ini," ujar Clara santai pada Rose.
Rose mengangguk ketakutan lalu buru-buru berbalik arah. Sementara itu, Clara berjalan santai mendekati Daffa yang sedang bersandar sendirian di sofa VIP. Pria itu sudah menghabiskan dua botol minuman keras.
Clara mendudukkan diri tepat di samping pria itu.
"Clara..." panggil Daffa parau seraya tertawa sumbang.
"Daffa, aku lupa menemuimu siang tadi karena terlalu sibuk," sahut Clara halus.
"Sibuk sama Darrel?! Kenapa kamu bisa mau menikah dengannya?! Aku tidak akan pernah setuju!" bentak Daffa tiba-tiba.
Ia mencengkeram kasar pergelangan tangan Clara, menarik tubuh perempuan itu mendekat.
"Karena cuma aku yang mencintaimu, Clara..." bisik Daffa penuh obsesi. Aroma alkohol dan asap cerutu yang pekat berhembus dari napasnya, terasa memuakkan di paru-paru Clara.
Clara mencoba melepaskan cengkeraman Daffa perlahan, keningnya berkerut bingung. "Daffa, aku tidak mengerti sama sekali. Apa maksudmu? Siapa Darrel?"
Brak!
Pintu ruang VIP mendadak didobrak terbuka. Dua pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam menerobos masuk, lalu menyeret Daffa secara paksa keluar dari ruangan tersebut. Daffa memberontak, namun kekuatannya tak sebanding.
Clara hanya bisa terpaku, menatap adegan itu dengan raut terkejut dan bingung.
Tiba-tiba, salah satu pria berbadan tegap itu melemparkan sebuah ponsel yang tersambung dalam panggilan ke atas meja tepat di hadapan Clara. Suara dingin, anggun, namun sarat akan ancaman terpancar nyaring dari speaker ponsel tersebut.
"Aura... Saya akan datang menemui Anda. Jangan hanya berani menggoda suami saya. Hadapi saya langsung jika Anda punya keberanian."
Tut... tut... tut.
Panggilan terputus. Kaki Clara seketika lemas hingga ia terduduk kembali di atas sofa. Matanya menatap kosong ke arah ponsel di meja.
"Aura... Siapa dia?" gumam Clara lirih, untuk pertama kalinya menyadari keberadaan nama yang asing itu.