Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Yang Diteror Suara
Lorong pembuangan pendingin server terasa begitu sempit, dingin, dan membekukan. Bau oli mesin tua bercampur aroma belerang menyengat membakar rongga hidung Faris saat ia merayap di belakang Maya. Setiap beberapa meter, dentuman rendah dari generator cadangan gedung bergetar hebat menembus dinding seng saluran, mengocok isi perut dan menggetarkan selaput dada mereka.
BZZZZT!
Seketika, seluruh pengeras suara darurat (paging speaker) yang terpasang di sepanjang lorong interior gedung Senjaya Telecom menyala secara serentak. Suara yang keluar bukan petunjuk evakuasi darurat atau sirine kebakaran standar, melainkan suara desis statis berfrekuensi rendah yang amat memuakkan:
Tek... tek... tek...
Suara ketukan kuku beruntun itu tidak lagi terdengar dari satu arah. Gelombang suaranya memantul liar di dalam lorong besi penyejuk udara, bergema berulang-ulang hingga menciptakan ilusi horor seolah-olah ribuan jemari tak berwujud sedang memukul-mukul dinding seng dari luar, mencoba mencari celah untuk masuk.
"Rapatkan kain penutup telinga kalian! Jangan pernah memproses irama suaranya di otakmu!" jerit Maya berbisik seraya terus merangkak cepat menuju ujung lorong pembuangan.
Faris merapatkan kupluk jaket tebalnya, menggemeretakkan gigi menahan rasa sakit luar biasa yang mendadak menghantam batok kepalanya. Kain uis gara merah yang melilit tas modul Sigaik Begu di dada Faris mendadak memancarkan pendar keunguan halus—seseka menahan gelombang suara ghaib itu agar tidak sepenuhnya melumpuhkan jaringan saraf otaknya.
Sementara itu di luar gedung, suasana Kota Medan yang gulita makin runtuh dalam teror yang tak kasatmata.
Di jalan-jalan protokol yang tak berpenghuni, pengeras suara di pos-pos polisi lalu lintas, klakson otomatis kendaraan yang terparkir, hingga speaker toa di gedung-gedung perkantoran yang kehilangan daya utama mulai berderit dan menyemburkan desis frekuensi ELF yang sama. Suara garukan dan ketukan kuku bergema dari langit-langit kota yang tertutup kabut tebal, seolah-olah seluruh atmosfer Medan telah diubah menjadi sebuah kotak suara raksasa yang siap mengeksekusi pendengarnya.
Di kawasan perumahan padat, warga yang terbangun dalam kegelapan mulai meraba-raba mencari telepon pintar mereka yang bergetar tanpa henti. Layar-layar ponsel pintar berkedip-kedip merah serentak, menampilkan satu panggilan masuk tanpa identitas nama, hanya empat angka yang berkedip kaku di kegelapan kamar: 0-0-0-0.
"Mereka sudah mengunci frekuensi suara kota lewat jaringan audio darurat dan sinyal BTS sekunder," panggil Maya begitu mereka berhasil mencongkel kisi-kisi pembuangan di ujung lorong dan melompat turun ke lantai ruang kontrol bawah tanah.
Ruang kontrol bawah tanah (Sub-Level 1) itu amat luas, dipenuhi deretan rak server raksasa yang menyala dengan pendar lampu indikator merah pekat. Di tengah ruangan, tiga teknisi berseragam Senjaya Telecom tergeletak kaku di atas lantai semen dengan telinga yang terus mengeluarkan darah segar—korban dari lonjakan frekuensi awal yang dipancarkan sistem internal.
Faris mendarat keras di atas lantai ubin yang dingin, menggenggam erat tas modul pembalik frekuensi. "Kita ada di lantai berapa sekarang, Kak?"
"Ini Sub-Level 1," jawab Maya cepat sembari memeriksa Peta Akses Gedung yang tertempel di dinding semen dekat panel daya. "Antena transmisi utama terhubung langsung ke Master Server Room di lantai sepuluh. Tapi semua lift mati total karena blackout jaringan. Satu-satunya jalan adalah menaiki tangga darurat interior!"
Brak!
Pintu besi tangga darurat di ujung lorong terhempas terbuka keras. Tiga sosok pengikut Jamiah Frekuensi Nol melangkah keluar dari kegelapan lorong tangga. Mata mereka seluruhnya berwarna putih polos tanpa pupil, dan di leher mereka yang memar menghitam, kabel-kabel jaringan serat optik telah tertanam menyatu melukai kulit.
Dari mulut ketiga inang terkutuk itu, meluncur gema suara kolektif yang dingin dan parau—bukan lagi suara manusia biasa, melainkan gabungan puluhan frekuensi yang terdistorsi:
"Empat puluh menit lagi... seluruh kota akan menjawab panggilan ini. Tidak ada telinga yang bisa berpaling dari frekuensi nol."