NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penemuan di TKP

Karena takut, Yanto langsung berlari keluar dari vila. Nahas, di luar, pria itu kembali melihat penampakan hantu pria menyeramkan tersebut.

“AAAA!!” teriak Yanto lagi.

Pria itu kembali masuk ke dalam vila. Dia terus berlari masuk ke dalam.

“AAAA!!” Teriakan Yanto kembali terdengar. Ke mana pun dia pergi, hantu pria itu selalu mengikutinya.

Lelah berlari, Yanto jatuh terduduk di lantai. Napasnya terengah dan keringat membasahi keningnya.

Yanto tahu bahwa makhluk yang menghantuinya barusan adalah Arga. Pria yang sudah dibunuh oleh Bimo di vila ini satu bulan yang lalu.

Lewat tengah malam, Yanto dihubungi Bimo. Pria itu meminta penjaga vila itu datang ke vila malam itu juga.

Saat sampai di vila, dia terkejut melihat Arga yang sudah terkapar bersimbah darah. Lantai ruang tengah sudah dibanjiri darah.

“Lo beresin tempat ini terus sembunyiin mayatnya,” perintah Bimo.

“S-Sembunyiin di mana, Mas?” tanya Yanto dengan gugup.

“Kamu pikirkan sendiri!” sentak Bimo dan semakin membuat Yanto gemetaran.

Setelah mengatakan perintahnya, Bimo langsung masuk ke dalam kamar. Tiga temannya yang lain juga pergi. Mereka juga terkejut Bimo memukuli Arga dengan brutal hingga kehilangan nyawanya.

Setelah semuanya pergi, hanya tinggal Yanto di ruang tengah. Seorang diri, Yanto mengurus mayat Arga.

Pria itu membungkus mayat Arga beserta patung singa kilin dengan dua plastik sampah, lalu menaikkannya ke troli. Yanto mendorong troli ke bagian belakang vila. Terdapat sebuah ruangan di halaman belakang.

Yanto membuka ruangan tersebut, lalu mendorong troli yang terdapat mayat Arga. Pria itu memasukkan mayat Arga ke dalam freezer yang terdapat di sana.

Setelah memastikan freezer menyala, barulah dia keluar. Yanto menggembok ruangan tersebut.

Selesai mengurus mayat Arga, Yanto mulai membersihkan genangan darah di lantai. Bau anyir darah sempat membuatnya mual. Pria itu sampai harus menutupi hidungnya dengan kain.

“Pak Yanto!” panggil Pradipta, membuyarkan lamunan Yanto. Pradipta bergegas mendekati Yanto yang terkulai lemas.

“Bapak kenapa?” tanya Pradipta, berpura-pura terkejut melihat wajah pucat Yanto.

Tidak lama kemudian, Gilang muncul. Pria itu langsung mengerem langkahnya begitu melihat penampakan Arga. “Kamu siapa?” tanya Gilang sambil melihat Arga.

Sontak Yanto langsung melihat Gilang. Dia ingat bahwa pria itu adalah seorang indigo. Yanto langsung mendekati Gilang sambil merangkak.

“T-Tolong usir dia pergi. Saya takut,” ujar Yanto dengan suara bergetar.

“Bapak kenal dia siapa? Dia bilang namanya Arga,” ujar Gilang.

“Saya nggak kenal. Sumpah.”

“Dia bilang Bapak yang ngurus mayatnya. Emangnya dia siapa?”

Pertanyaan Gilang semakin membuat Yanto ketakutan. Pria itu hanya melakukan perintah Bimo dan sekarang, dirinya yang dihantui arwah gentayangan tersebut.

Padahal Gilang hanya asal bertanya saja. Dia dan Pradipta sudah merencanakan ini untuk membuat Yanto membuka suara tentang kematian Arga.

“Saya nggak kenal,” jawab Yanto.

“Tapi dia bilang, Bapak yang ngurus mayat dia. Mana yang benar, nih? Masa iya hantu bohong? Setahu saya, hantu itu jujur. Cuma manusia yang tukang bohong.” Gilang terus mendesak Yanto.

“Nggak, itu nggak benar. Saya nggak kenal dia.” Yanto bersikeras dengan jawabannya. Dia memang tidak berbohong. Yanto tidak mengenal Arga, dia hanya diminta mengurus mayat Arga.

“Tapi kenapa dia ngedatangin Bapak? Bapak ingat, kan, film Suzanna. Sundel bolong selalu mendatangi orang yang sudah membunuhnya. Kalau yang tidak terlibat, paling cuma digangguin. Bokir… hihihi…”

Pradipta menepak belakang kepala Gilang. Sempat-sempatnya pria itu menyebut nama Suzanna dan Bokir. Padahal dalam briefing tadi, tidak ada rencana kedua nama itu disebut.

“Sumpah, saya nggak kenal. Tolong saya, Mas.”

“Saya bukan dukun, Pak. Saya nggak bisa ngusir dia. Mending Bapak jujur aja, daripada didatangin terus tiap hari.”

Seketika Yanto dilanda dilema. Jika jujur, dia takut dipecat oleh Cahyo. Bukan itu saja, bahkan bisa jadi dia yang akan dijadikan kambing hitam atas kematian Arga. Namun jika dia tetap diam, arwah Arga akan terus mendatanginya.

Di tengah kebingungan Yanto, terdengar suara sirine mendekat. Nino dan Asep sudah tiba. Bersama kedua pria itu ada juga mobil patroli dari Polsek setempat dan tim forensik.

Yanto yang terkejut, bergegas keluar. Pria itu semakin pucat saat mengetahui ada polisi mendatangi vila yang dijaganya.

“Selamat malam,” sapa Nino.

“Malam, Pak. A-Ada apa, ya?” tanya Yanto semakin gugup.

“Apa benar ini vila milik Cahyo Handika?” tanya Nino.

“B-Betul, Pak. Ada apa, ya?”

“Siapa nama Anda dan apa tugas Bapak di vila ini?”

“Saya Yanto, Pak. Saya penjaga vila ini.”

“Sebulan yang lalu, apa benar Bimo dan tiga temannya mendatangi vila ini saat tengah malam?”

“Pikirkan dulu jawaban Anda, Pak Yanto. Salah menjawab sedikit aja, bisa-bisa Bapak yang kami tangkap,” sambar Asep dan semakin membuat Yanto ketakutan.

“Apa benar Bimo dan teman-temannya ke sini sebulan yang lalu?” tanya Nino lagi.

“I-Iya, Pak,” jawab Yanto takut-takut.

“Udah langsung masuk aja, Bang! Kelamaan nanya dia mah. Kasihan si Arga, pengen mayatnya ditemuin!” seru Gilang yang muncul dari dalam vila.

Nino dan Asep segera masuk ke dalam bersama tim forensik. Gilang mengajak Nino dan Asep ke ruang tengah.

Pria itu menunjukkan di mana dia menemukan noda darah di tembok. Pradipta juga menunjukkan noda darah di sofa.

Tim forensik langsung bekerja. Mereka mengambil sampel darah di tembok dan sofa. Lalu menyemprotkan cairan luminol ke lantai dan sebagian dinding.

Begitu lampu dimatikan, warna kebiruan langsung terlihat. Pertanda memang ada jejak darah di sana.

Mereka langsung mengumpulkan sampel jejak darah tersebut.

Sementara itu, Nino dan Asep langsung menemui Yanto. Menurut Pradipta, penjaga vila itu tahu sesuatu. Setelah terus ditekan dan diintimidasi, akhirnya Yanto menyerah. Dia menunjukkan di mana menyimpan jasad Arga.

Yanto berjalan ke halaman belakang, lalu membuka gembok ruangan tersebut. Begitu pintu terbuka, Yanto menunjuk sebuah freezer yang ada di sana.

Nino langsung membuka penutup freezer. Begitu terbuka, di dalamnya terdapat plastik sampah berwarna hitam membungkus sesuatu.

Dibantu tim forensik, Nino dan Asep mengeluarkan kantong sampah tersebut. Begitu dibuka, jasad Arga langsung terlihat. Tubuh Arga masih utuh, belum mengalami pembusukan karena disimpan di freezer.

“Mending kita pulang aja sekarang. Tugas kita udah selesai menemukan Arga,” ujar Pradipta.

“Iya, Bang. Tapi, gue mau ambil foto Arga dulu, biar Indri percaya.”

Gilang mengambil gambar Arga yang sudah diletakkan di lantai. Setelah itu, barulah dia dan Pradipta meninggalkan vila.

Mereka membiarkan Nino dan Asep mengurus sisanya. Tidak lupa, Gilang mengajak Arga untuk ikut dengannya.

Waktu hampir tengah malam saat Pradipta dan Gilang kembali ke rumah. Prisa dan Jung Kook terus menemani Arga yang masih kebingungan.

“Kalau kamu mau melihat Indri, dia tidur di kamar itu.” Gilang menunjuk kamar yang ditempati Indri.

Karena sudah terlalu lelah, Gilang dan Pradipta memutuskan tidur. Mereka akan berbicara dengan Indri keesokan harinya.

Arga terdiam sebentar di depan pintu kamar yang ditunjuk Gilang. Arwah pria itu masuk ke dalam kamar. Pandangannya langsung tertuju pada Indri yang sudah tertidur pulas. Arga melayang, kemudian berhenti tepat di samping Indri.

Bibirnya menyunggingkan senyuman melihat kekasihnya yang sedang tertidur pulas. “Syukurlah kamu baik-baik aja, In,” gumam Arga.

***

Kok sedih ya, lihat Arga🤧

1
vania larasati
lanjut kak
Umma Ridwan
iiiiih kalo bener yang ngikutin Giana teh si Ruben, berarti yang gondal gandulnya segede uprit punya nya si Ruben donk 🤣🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kena sial dia 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
senasib🤣🤣
Ani
bisa iya bisa nggak sih tapi kok yo beneran diikuti 🤔🤔🤔🤔
Safitri Agus
kenapa lari gi, tendang aja biar kapok kan reflek itu ya pas terkejut 🤭
Safitri Agus
Oalah kasihan 🤭🤣
Safitri Agus
🤭🤣🤣🤣
Safitri Agus
bisa jadi
Safitri Agus
sadiz ya😱
tehNci
Dari motor trail ke sepeda BMX,..jauh bangettt seenggaknya motor bebek atau matic gitu, masih sama¹ motor😂😂😛😛😛
tehNci
Wuiiih keren banget. si Leya ini😍🤩
tehNci
kirain Kania...
tehNci
Kania bukan ya?
tehNci
Giana lagi cosplay jadi detektif😄
tehNci
Mau mengumpankan dirikah? Semoga hanya menyelidiki saja
tehNci
Dasar gila nih orang. Buang mayat manusia kayak buang kresek bekas gorengan aja
tehNci
Kalo sudah mati, arwahnya bisa jadi petunjuk buat Jungkook dan Prisa
Lina Suwanti
semoga yg meninggal bukan Anjani n arwah korban ketemu sm Prisa atau Jun Kok biar bisa jd petunjuk
Ria alia
Murah banget tuh rudal dikeluarin mulu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!