Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Kesalahpahaman yang Meluas
Berita bahwa Arga mungkin kembali menyelesaikan urusan di rumah lama menyebar cepat, dan seperti yang sering terjadi, kebenaran ikut terdistorsi di sepanjang jalan. Apa yang sebenarnya adalah niat untuk berbicara dan mencari kejelasan, berubah menjadi ribuan versi di mulut orang-orang yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Yang pertama kudengar adalah dari tetangga — dengan nada berbisik, seakan takut didengar — bahwa Arga menyesal telah meninggalkan segalanya demi aku. Bahwa ia sadar ia telah salah, dan kini berencana kembali sendirian, meninggalkanku di sini. "Itu wajar," katanya pelan, seakan menghibur. "Harta dan keluarga tidak bisa dibuang begitu saja demi seseorang yang baru dikenal sebentar."
Kata-kata itu seperti benih yang jatuh ke tanah yang sudah lembap oleh keraguan. Aku tidak ingin mempercayainya, tapi ia menancap juga. Kemudian datang versi lain — bahwa ia akan kembali, bukan sendirian, namun untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia benar, dan jika tidak diterima, ia akan pergi lagi, tanpa menoleh. Bahwa ia tidak memikirkan perasaanku, hanya gengsinya sendiri.
Dan yang paling menyakitkan — bahwa ia tidak pernah benar-benar bebas dari masa lalunya. Bahwa di dalam hatinya, ia masih merindukan tempat yang dulu ia tinggalkan, dan aku hanyalah pelarian sesaat. Bahwa suatu hari nanti, ia akan memilih dunianya, dan aku akan ditinggalkan di tempat yang asing, sendirian.
Kesalahpahaman itu meluas bukan karena satu orang berbohong, tapi karena setiap orang menambahkan sedikit dari ketakutan mereka sendiri ke dalam cerita itu. Yang takut kehilangan menambahkan keraguan. Yang iri menambahkan kebencian. Yang tidak mengerti menambahkan asumsi. Dan perlahan, cerita yang sebenarnya menjadi kabur, tertutup oleh bayang-bayang yang dibuat-buat.
Aku melihat perubahan pada Arga juga. Ia menjadi lebih diam, lebih sering melamun, lebih banyak duduk sendirian sambil memegang surat-surat itu. Saat aku bertanya, ia menjawab singkat, seakan tidak ingin membebaniku. Aku mengerti — ia sedang berjuang sendiri, mencoba menyusun kepingan yang berantakan. Tapi diamnya itu justru memperkuat apa yang dibisikkan orang-orang. Lihat, ia tidak lagi terbuka padamu. Ia menyembunyikan sesuatu.
Suatu sore, kami berencana pergi bersama ke rumah lama — hanya untuk berbicara, untuk menjelaskan, untuk menenangkan mereka sekaligus menenangkan diri. Namun sesaat sebelum berangkat, telepon berdering. Arga menerima panggilan itu, wajahnya berubah, lalu ia berkata, "Aku harus pergi dulu. Ada hal yang mendesak. Tunggu aku di sini."
"Bisakah aku ikut?" tanyaku.
Ia terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Tidak kali ini. Biarkan aku menyelesaikannya dulu sendiri. Agar tidak ada yang memanfaatkan kehadiranmu untuk menuduh sesuatu. Aku akan kembali. Janji."
Ia pergi sendirian. Dan sejak saat itu, keraguan tumbuh tak terkendali. Jam berganti menjadi berjam. Sore berubah menjadi malam. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Setiap suara kendaraan yang lewat membuatku menoleh. Setiap langkah di luar membuatku berdiri dari tempat duduk. Pikiranku berputar ke tempat yang paling gelap — ia tidak kembali. Ia memilih mereka. Ia menyadari aku bukan bagian dari dunianya.
Sementara itu, di tempat lain, cerita semakin meluas. Ada yang melihat mobilnya berhenti di rumah kerabat, dan berita itu berubah menjadi — ia sudah kembali, sudah berdamai, dan sudah sepakat untuk tidak membawaku ke sana. Ada yang mendengar ia berbicara tegas, dan dikatakan ia marah karena telah terjebak bersamaku. Semakin lama ia tidak pulang, semakin banyak cerita lahir, dan semakin meyakinkan terdengarnya.
Malam semakin larut. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk diriku sendiri, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kesalahpahaman ini hanya ada di kepalaku? Atau ada kebenaran yang tersembunyi di balik semua itu? Apakah ia benar-benar berjuang untuk kami, atau hanya berjuang untuk kembali ke tempat yang seharusnya ia tinggali?
Pintu terbuka. Arga masuk, wajahnya lelah, matanya sayu, seakan telah melewati hari yang terberat. Ia melihatku, ingin tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Maafkan aku," ucapnya pelan. "Sangat terlambat. Ada banyak hal yang harus diselesaikan."
Aku berdiri, suaraku bergetar, bukan karena marah, tapi karena takut. "Mereka bilang kau tidak ingin aku ikut. Mereka bilang kau sudah kembali ke pihak mereka."
Arga menghela napas panjang, menutup matanya sejenak. "Banyak yang mengatakan banyak hal. Tidak semua benar."
"Tapi kau tidak menyangkalnya," kataku. "Kau tidak memberi tahu aku apa yang terjadi. Kau pergi sendirian, diam saja, membiarkan mereka berbicara apa saja."
Ia mendekat, ingin menyentuhku, namun aku mundur selangkah. "Aku tidak diam karena setuju, Lia. Aku diam karena aku tidak ingin menarikmu ke dalam kekacauan ini. Aku ingin melindungimu."
"Melindungiku dengan menyembunyikan segalanya?" mataku berkaca-kaca. "Itu bukan perlindungan, Arga. Itu membuatku merasa seperti orang asing — bahkan darimu."
Kata-kata itu terucap, dan keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan. Kami berdua lelah — lelah dihakimi, lelah berlari, lelah berjuang sendirian. Kesalahpahaman yang meluas bukan hanya soal apa yang dikatakan orang lain, tapi juga apa yang tidak kami ucapkan satu sama lain. Di antara kami sendiri, ada jarak yang perlahan terbentuk — dibangun oleh ketakutan yang tidak diungkapkan, oleh keraguan yang tidak dibicarakan, oleh keinginan untuk melindungi yang justru memisahkan.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa," akunya akhirnya, suaranya rendah dan penuh keputusasaan. "Jika aku bersikap tegas, mereka marah. Jika aku lembut, mereka menganggap aku lemah. Jika aku membawamu, mereka menyalahkanmu. Jika aku pergi sendiri, kau mencurigai aku. Aku tersesat, Lia. Aku benar-benar tersesat."
Aku mendekat perlahan, menyentuh tangannya yang dingin. "Kita tersesat bersama, Arga. Bukan sendirian. Dan kita tidak akan menemukan jalan kembali jika tidak saling berbicara jujur — apa pun yang terjadi, apa pun yang dikatakan orang lain."
Ia menatapku, air mata akhirnya jatuh di pipinya. "Aku takut menyakitimu. Aku takut salah memilih. Aku takut pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar puas — terutama kau."
"Kesalahpahaman itu tumbuh karena kita membiarkannya," kataku lembut namun tegas. "Mulai sekarang, kita hadapi bersama. Tidak ada rahasia. Tidak ada yang ditanggung sendirian. Apa pun yang terjadi, kita hadapi berdua."
Ia mengangguk pelan, memelukku erat seakan takut jika melepaskanku, aku akan lenyap bersama keraguan itu. Namun aku tahu — kesalahpahaman itu belum hilang sepenuhnya. Ia masih ada, di luar sana, menunggu celah untuk kembali masuk. Tapi setidaknya sekarang, kami berdiri bersama, menghadapinya dari dalam. Dan itu adalah langkah pertama — yang paling penting — untuk menyatukan kembali apa yang sempat terpisah.