Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hawa panas dan pengap langsung menyergap wajah Sora begitu ia mendorong pintu ganda kaca gelap di bagian depan Kasino Ruko Tiga Naga.
Aroma asap kretek murahan berpadu dengan uap arak beras, keringat ratusan pria yang berdesakan, dan bau minyak pelumas mesin slot murahan mengendap pekat di udara. Suara denting koin logam yang menghantam baki aluminium berpadu bising dengan sorakan para pejudi dadu koprok di sudut ruangan dan desau turbin kipas langit-langit yang berputar tanpa henti.
Lantai satu ruko itu penuh sesak. Sekitar seratus lima puluh orang berdesakan di antara barisan mesin slot bajakan berlayar tabung dan meja-meja judi dadu tripleks yang dilapisi karpet vinil hijau kusam. Sebagian besar dari mereka adalah buruh bongkar muat pelabuhan, kuli pasar ikan, dan sopir angkutan kota yang mempertaruhkan upah harian mereka.
Dua orang penjaga pintu bertubuh gempal mengenakan jaket bomber hitam berdiri di samping pos pemeriksaan detektor logam manual. Salah satu dari mereka memegang tongkat pemindai magnetik, menyapu dada dan pinggang Sora dengan tatapan malas.
Sora menundukkan kepala. Topi pet kanvas cokelatnya menaungi separuh wajah dari sorotan lampu neon putih yang menyilaukan. Kacamata berbingkai kawat tembaga pinjaman Dok Han dan bekas luka jahitan kasar di pelipis kanan serta dagunya berhasil menyamarkan garis mukanya. Di mata para penjaga pintu yang terbiasa melihat ratusan buruh kasar setiap malam, Sora hanyalah seorang klerk kapal rendahan yang baru gajian.
“Lantai satu cuma terima tunai minimal sepuluh ribu,” geram penjaga pintu pertama seraya mengibaskan tangannya, memberi jalan masuk tanpa memeriksa saku jaketnya lebih teliti. “Kalau mau tukar cip, loket kasir di samping tangga.”
“Terima kasih, Bang,” sahut Sora pelan, suaranya sengaja ia buat parau.
Ia melangkah masuk melewati tirai plastik tebal berbau debu, lalu menyusuri lorong sempit di samping deretan mesin slot.
Langkah kakinya tenang. Tangan kanannya terbenam santai di dalam saku jaket parka, menyentuh bungkusan uang dua juta rupiah tunai. Sementara tangan kirinya yang buntung ia biarkan tergantung rileks di samping paha, jemarinya bergerak-gerak kecil secara berkala untuk melatih kelenturan serabut saraf yang baru pulih dari kejang penalti kemarin malam.
Sora tidak langsung menuju tangga lantai dua.
Ia paham betul hukum bertahan hidup di tempat ini. Seorang pemain yang terburu-buru naik ke meja VIP tanpa bermain di lantai dasar akan langsung ditandai oleh pengawas kamera sebagai target audit mendadak.
Ia harus membaur dengan kerumunan sampai kehadirannya tersamar di antara para pecundang.
Sora mendekati loket penukaran kasir yang dipagari jeruji besi tempa hitam di sudut timur. Di balik kaca tebal yang penuh goresan koin, seorang kasir perempuan berambut sasak tinggi sedang menghitung tumpukan uang kertas lecek dengan mesin penghitung otomatis yang berderak cepat.
Sora meletakkan dua puluh lembar uang seratus ribu rupiah ke atas nampan geser aluminium.
“Tukar cip merah lantai satu,” kata Sora datar.
Kasir perempuan itu menarik nampan tanpa menatap wajah Sora, memasukkan uang ke dalam laci baja, lalu mendorong keluar baki kayu kecil berisi dua puluh keping cip plastik berwarna merah padam bertuliskan nominal seratus ribu rupiah dengan cap logo tiga naga melingkar.
Sora meraup dua puluh keping cip itu dengan tangan kanan. Jari-jarinya memutar keping plastik itu dengan cekatan, menyatukannya menjadi tumpukan rapi di telapak tangannya.
Ia menyelipkan tumpukan cip itu ke saku jaket, lalu berjalan santai menuju meja dadu koprok di tengah ruangan yang sedang dikerumuni selusin kuli pelabuhan.