NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29— Setahun Penuh Debu dan Telur Dadar

Waktu bergulir dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tanpa terasa, tiga ratus enam puluh lima hari telah berlalu sejak hari pertama Maya dan Adrian dipasangkan sebagai partner cleaning service.

Satu tahun itu benar-benar mengubah atmosfer lantai dasar gedung raksasa tersebut. Maya tidak lagi menjadi anak baru yang tegang, dan Adrian... yah, Adrian tetaplah Adrian yang menyebalkan, namun dengan satu perbedaan besar: ia kini menjadi bagian paling menyenangkan dalam hari-hari Maya.

Bahkan, hal yang paling membuat Maya kesal adalah julukan "Gadis Kecil" itu benar-benar menular bagai wabah virus. Karena Adrian memanggilnya begitu setiap hari dengan suara keras, kini dari Pak Budi si supervisor, Pak Satpam di depan, hingga ibu-ibu kantin ikut memanggilnya "Gadis Kecil". Maya sudah lelah memprotes dan akhirnya hanya bisa pasrah.

Bagi Maya, tahun ini adalah tahun pertama dalam hidupnya di mana ia tidak pernah meneteskan air mata kesedihan. Tidak ada ketakutan, tidak ada rasa terancam. Hanya ada rutinitas yang hangat, omelan ibunya yang menyehatkan di pagi hari, dan pertengkaran-pertengkaran konyol bersama Adrian.

Siang itu, jam istirahat baru saja berbunyi. Maya duduk di kursi pojok ruang istirahat basement. Ia membuka kotak bekal hijau pudarnya. Isinya tidak pernah berubah mewah: nasi putih tebal, sepotong telur dadar yang pinggirannya agak gosong (ciri khas Clara kalau memasak terburu-buru), dan sedikit oseng kacang panjang.

Baru saja Maya memegang sendok, sebuah botol minuman susu cokelat dingin mendarat tepat di samping kotak bekalnya.

Maya mendongak. Adrian sudah duduk di depannya, menopang dagu dengan kedua tangan sambil tersenyum manis yang dibuat-buat.

"Minuman cokelat untuk Gadis Kecil kesayangan divisi kebersihan," ucap Adrian riang.

Maya menyipitkan mata penuh selidik. Ia melirik susu cokelat itu, lalu menatap kotak bekalnya sendiri yang secara otomatis ia geser mundur menjauhi jangkauan Adrian. "Kamu mau apa? Jangan coba-coba menyuapku. Aku tidak mau mengerjakan jatah shift mengelap kaca jendela lobimu."

"Ya ampun, suuzan sekali!" Adrian memegang dadanya dengan gaya dramatis. "Aku ini tulus memberi. Tapi... kebetulan sekali aku lupa bawa bekal hari ini. Uang sakuku juga habis. Jadi..." Adrian melirik telur dadar di kotak Maya dengan tatapan lapar seekor serigala.

"Tidak. Boleh," potong Maya tajam. "Kemarin kamu bilang lupa bawa bekal. Dua hari lalu alasanmu dompet tertinggal. Sebenarnya uang gajimu kamu pakai untuk apa sih?" (Tentu Maya tidak tahu kalau Adrian sebenarnya dilarang membawa kartu hitamnya oleh sang ayah dan hanya diberi uang saku pas-pasan agar tahu susahnya hidup).

"Beli susu cokelat untukmu, tentu saja!" jawab Adrian pantang menyerah. "Ayolah, sedikit saja telurnya. Ujungnya yang gosong itu saja tidak apa-apa."

"Tidak."

"Setengah dari ujung yang gosong?"

"Adrian!" Maya memelototinya.

Namun, seperti yang terjadi setiap hari selama setahun terakhir, pertahanan Maya pada akhirnya runtuh melihat wajah melas temannya itu. Sambil bersungut-sungut, Maya membelah telur dadarnya menjadi dua bagian yang tidak rata, lalu menyodorkan bagian yang lebih besar ke tutup kotak bekal untuk Adrian.

"Wah! Terima kasih, Gadis Kecil! Kamu memang bidadari penyelamat perutku!" seru Adrian girang, langsung melahap telur itu. Entah sihir apa yang dipakai ibu Maya, tapi bagi lidah pewaris takhta ini, telur dadar sederhana itu selalu terasa seratus kali lipat lebih enak daripada wagyu A5 di restoran bintang Michelin.

Maya memutar bola matanya sambil meminum susu cokelat pemberian Adrian. "Kamu benar-benar beban, tahu tidak?"

"Beban yang sangat tampan, tolong catat itu," balas Adrian dengan mulut penuh.

"Tampan dari mana? Tadi pagi saja kamu mengepel koridor eksekutif sampai lantainya terlalu licin. Pak Manajer HRD hampir terpeleset sampai sepatunya melayang!" Maya mulai mengomel, mengingat kejadian konyol tadi pagi yang membuat mereka berdua dimarahi habis-habisan oleh Pak Budi.

Adrian tertawa terbahak-bahak sampai tersedak. Ia buru-buru meminum air mineralnya. "Itu bukan salahku! Cairan pembersihnya yang terlalu licin. Lagipula, kamu harus akui gerakanku saat menangkap Pak Manajer tadi sangat heroik."

"Heroik apanya? Kamu malah ikut jatuh menimpanya!" Maya ikut tertawa lepas, matanya melengkung menyerupai bulan sabit.

Adrian menghentikan tawanya sejenak. Ia memandangi wajah Maya yang sedang tertawa cerah. Tidak ada lagi gurat ketakutan yang sesekali ia lihat saat pertama kali mereka bertemu setahun yang lalu. Gadis ini selalu memancarkan energi yang luar biasa kuat, hangat, dan murni.

Adrian terdiam. Di dalam hatinya, ada jarum jam yang terus berdetak mundur. Masa hukuman magangnya sudah genap satu tahun. Kemarin malam, tangan kanan ayahnya sudah menelepon, memberitahukan bahwa Tuan Muda harus segera bersiap kembali ke London untuk mengambil alih posisi direksi muda.

Ia harus pergi. Namun, melihat tawa Maya di depannya, Adrian merasa berat. Terlalu berat.

"Gadis Kecil," panggil Adrian tiba-tiba, suaranya sedikit lebih pelan dan serius dari biasanya.

"Hm?" sahut Maya, masih tersenyum sambil menyuap nasinya.

"Kamu... belum pernah liburan ke luar kota, kan?"

Maya menatapnya bingung. "Liburan? Buat makan dan bayar kontrakan saja ibuku harus kerja keras di toko buku, boro-boro mikir liburan. Ke pasar malam di ujung jalan saja bagiku sudah liburan."

Adrian tersenyum penuh arti. Matanya berkilat jahil namun menyimpan sebuah rencana besar. "Bersiaplah. Karena sebentar lagi, kamu akan liburan sungguhan."

Maya mengerutkan kening. "Jangan mengigau di siang bolong, Adrian. Habiskan telurmu dan cepat kembali mengepel lantai."

Adrian tertawa dan menurut. Namun di kepalanya, rencana konyol paling spektakuler abad ini sudah tersusun rapi. Ia tidak akan pergi begitu saja tanpa memberikan sesuatu yang luar biasa untuk partner sekaligus gadis yang tanpa sadar telah mengisi ruang hatinya ini.

Keesokan paginya, ruang loker kebersihan gempar.

Maya baru saja selesai memasang celemeknya ketika Adrian masuk dengan gaya bak seorang pemenang lotre. Di tangannya, ia melambai-lambaikan dua lembar amplop tebal berlogo emas resmi perusahaan.

"Pengumuman! Pengumuman untuk Gadis Kecil!" seru Adrian lantang.

Maya membalikkan badan, berkacak pinggang. "Berisik. Masih pagi. Ada apa dengan amplop itu?"

Adrian melangkah maju, meletakkan amplop itu di atas meja dengan gaya dramatis. "Buka dan bacalah surat takdirmu."

Dengan wajah sangat curiga, Maya membuka amplop tersebut. Matanya menyapu deretan kalimat yang diketik sangat rapi dengan stempel basah direksi.

Dengan hormat,

Berdasarkan undian tahunan Karyawan Terbaik dalam rangka Ulang Tahun Perusahaan, kami mengucapkan selamat kepada:

Adrian

Maya

Anda berdua berhak memenangkan perjalanan liburan eksklusif selama 4 Hari 3 Malam ke Pulau Pribadi Fasilitas Direksi, lengkap dengan akomodasi kapal pesiar mewah.

Maya membaca surat itu dua kali. Tiga kali. Lalu ia meletakkan surat itu di meja dan menatap Adrian dengan wajah paling datar yang bisa ia buat.

"Kamu memalsukan dokumen perusahaan? Ini tindak pidana, Adrian."

"Aku tidak memalsukannya!" Adrian protes keras. "Itu stempel asli! Kita menang undian, Gadis Kecil!"

Maya mendengus sarkas. "Adrian, tolong pakai otakmu. Undian Karyawan Terbaik? Karyawan terbaik apa? Kamu dua hari lalu memecahkan vas bunga di lobi. Kemarin kamu membuat Manajer HRD nyaris gegar otak karena lantai licin. Dan kita, dua orang cleaning service paling sering dimarahi Pak Budi, tiba-tiba menang liburan eksklusif mengalahkan manajer pemasaran yang mendatangkan untung miliaran? Masuk akal dari mana?"

Adrian sudah menduga interogasi ini akan terjadi. Ia sudah menyiapkan argumen yang sangat masuk akal (setidaknya menurutnya).

"Dengar, ini bukan dipilih berdasarkan prestasi!" Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik seolah ini rahasia. "Ini sistem undian acak, random number generator! Namanya juga program Corporate Social Responsibility (CSR) tahunan. Perusahaan ingin menunjukkan bahwa mereka peduli pada kaum bawah seperti kita. Jadi sistem sengaja mengacak ID karyawan divisi bawah, dan boom! Nama kita yang keluar!"

Maya memicingkan mata, menimbang-nimbang logika omong kosong Adrian. "Sistem acak?"

"Sangat acak! Dan karena kita partner, sistem menganggap kita satu tim. Lagipula, semuanya gratis, ditanggung perusahaan. Kamu mau menolak rezeki? Menolak liburan gratis, makan enak gratis?" bujuk Adrian dengan nada godaan tingkat tinggi.

Mendengar kata 'gratis' dan 'liburan', pertahanan Maya goyah. Ia memang belum pernah melihat laut apalagi pergi ke pulau.

"Benar-benar gratis?"

"Seratus persen gratis!"

Maya menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi aku harus minta izin pada ibuku dulu. Kalau ibuku bilang tidak, aku tidak akan pergi."

"Katakan padanya ini perintah tugas perusahaan berkedok liburan. Ibumu pasti setuju!" Adrian bersorak dalam hati. Rencananya berhasil sempurna.

Malam harinya di toko buku.

Clara duduk mematung di balik meja kasir. Di hadapannya tergelar surat resmi perusahaan (yang sudah dipastikan asli stempelnya oleh Clara karena ia tidak tahu Adrian memalsukan konteksnya).

"Pulau pribadi? Kapal pesiar?" Clara memijat pelipisnya.

"Iya, Bu. Kata Adrian ini program CSR perusahaan. Semua gratis. Boleh ya, Bu?" Maya menatap ibunya dengan mata berbinar-binar memohon.

Clara menatap Maya. Selama lima belas tahun hidupnya, anak ini belum pernah ke mana-mana selain pasar, toko buku, dan gedung tempatnya mengepel lantai. Ada rasa bersalah yang menusuk dada Clara.

"Baiklah. Kamu boleh pergi," ucap Clara akhirnya.

Maya langsung melompat kegirangan. "Terima kasih, Ibu!"

"TAPI!" Clara mengangkat jarinya. "Ibu yang akan menyiapkan tasmu."

Keesokan paginya, saat Maya bersiap berangkat menuju pelabuhan, ia menatap horor pada sebuah ransel gunung raksasa yang besarnya hampir setengah dari tinggi badannya.

"Ibu... ini apa?" Maya menunjuk tas itu dengan gemetar.

Clara berdiri dengan tangan berkacak pinggang, menatap bangga hasil karyanya. "Itu tas bertahan hidupmu."

"Bertahan hidup? Bu, aku mau pergi ke pulau pesiar fasilitas direksi, bukan mau wajib militer!"

"Pulau tetaplah pulau. Laut tetaplah laut," jawab Clara mutlak. "Ibu sudah memasukkan tiga kotak obat P3K, obat flu, obat maag, obat alergi. Ada tali tambang lima meter."

"Tali tambang?! Buat apa?!"

"Untuk mengikat barang kalau ada badai. Lalu Ibu masukkan tiga jas hujan tebal, senter raksasa, kompas, pisau serbaguna, pemantik api, dan payung."

Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ibu... ada jas hujan tiga, kenapa harus bawa payung lagi?"

"Kalau jas hujannya robek tertiup angin laut, kamu pakai payungnya!" balas Clara dengan logika ibu-ibu yang tidak bisa dibantah. "Bawa tasnya. Jangan sampai ada yang tertinggal."

Dengan pasrah dan punggung yang terasa mau patah, Maya mengangkat ransel raksasa itu. "Iya, Bu..."

"Dan ingat pesan Ibu!" Clara menunjuk wajah Maya. "Kalau Adrian, temanmu yang aneh itu, mulai berbuat macam-macam, pukul kepalanya pakai senter raksasa itu. Mengerti?"

Maya tertawa terbahak-bahak. "Mengerti, Bos!"

Beberapa jam kemudian, di pelabuhan.

Adrian yang datang hanya membawa satu tas punggung kecil modis, hampir pingsan karena tertawa melihat Maya berjalan tertatih-tatih mirip seekor kura-kura ninja dengan tempurung ransel raksasa.

"Astaga naga, Gadis Kecil! Kamu mau liburan atau mau membuka toko kelontong di pulau?!" Adrian memegangi perutnya yang kram karena tertawa.

Maya melempar tatapan membunuh dari bawah beban tasnya. "Satu kata lagi keluar dari mulutmu, senter raksasa ibuku akan melayang ke kepalamu, Senior!"

Adrian langsung menutup mulutnya rapat-rapat, namun bahunya masih bergetar hebat menahan tawa. Di hadapan mereka, sebuah kapal pesiar mewah berwarna putih berkilau sudah bersandar anggun, siap membawa mereka pada liburan "karyawan terbaik" yang penuh dengan kebohongan manis, tanpa mereka ketahui bahwa liburan ini akan berubah menjadi pertaruhan nyawa yang mengerikan esok harinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!