NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Pintu ruang rawat terbuka pelan. Suara tenang dari monitor detak jantung langsung menyambut mereka. Di atas ranjang, Nadia terbaring lemah dengan perban melingkar di kepala dan selang infus terpasang di tangannya.

Arvin menurunkan Kenzo di samping ranjang.

"Bunda... bangun..." panggil Kenzo pelan, air matanya menetes tanpa bersuara.

"Kenzo udah di sini, Bunda... Kenzo udah enggak nakal lagi..."

Kenzo berjinjit, meraih jemari tangan Nadia yang terbebas dari infus. Tangan ibunya terasa dingin di genggaman kecilnya. Ia menempelkan tangan itu ke pipinya sendiri yang basah oleh air mata.

"Bunda... kenapa tidur terus? Matanya buka, Bunda..." tangisnya mulai terdengar pilu.

"Biasanya kalau Kenzo panggil, Bunda langsung senyum... Kenzo mau dipeluk Bunda..."

Kenzo menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, persis di samping lengan Nadia, lalu terisak pelan.

"Bunda... Kenzo janji besok mau bangun subuh sendiri... Kenzo mau habiskan makanan Kenzo... Tapi Bunda bangun sekarang, ya? Jangan diam aja..." rengek Kenzo kepayahan.

Tiba-tiba, jemari tangan Nadia yang sedang digenggam Kenzo bergerak pelan. Kelopak mata Nadia bergetar perlahan, lalu perlahan-lahan terbuka.

Arvin yang berdiri di dekatnya tersentak kaget. Wajahnya dipenuhi rasa terkejut tak percaya saat melihat pergerakan kecil dari istrinya. Tanpa sadar, Arvin refleks mendekat, lalu menempelkan telapak tangannya dengan lembut mengusap pipi Nadia.

"Sayang...?" panggil Arvin refleks.

"Sayang, kamu dengar aku?"

Suara Arvin terdengar parau dan terbata-bata, menahan tangis kebahagiaan yang membuncah. "Sayang, tolong tatap aku... Kamu bisa dengar suara aku, kan?"

"Bunda..."

Arvin langsung memencet tombol darurat dan beberapa perawat dan dokter langsung datang. Arvin perlahan menuntun Kenzo keluar dari kamar rawat untuk memberikan ruang bagi dokter dan perawat yang bergegas masuk memeriksa kondisi Nadia.

Di luar ruangan, suasana terasa begitu hening. Haris, Ranti, Damian, dan Jovan berdiri mematung di sepanjang koridor, menunggu dengan dada berdebar-debar. Arvin duduk di kursi besi, merengkuh Kenzo ke dalam pangkuannya. Anak kecil itu menyandarkan kepalanya di dada Arvin, napasnya masih terengah-engah sisa menangis, namun jemari mungilnya menggenggam erat kemeja papanya.

"Papa... Bunda beneran udah bangun, kan?" bisik Kenzo.

Arvin mengusap lembut kepala Kenzo lalu mengecup dahi anak bungsunya itu lama. "Iya, Sayang. Bunda udah bangun. Sekarang Dokter lagi periksa Bunda sebentar biar Bunda makin sehat. Kenzo anak pinter, makasih ya udah panggil Bunda."

Di sudut koridor, Jovan menyandarkan punggungnya ke dinding dengan kepala menunduk dalam. Air matanya menetes pelan ke lantai. Damian melangkah mendekat, mengusap bahu adiknya dengan hangat.

"Semua akan baik-baik saja," bisik Damian.

Jovan mendongak pelan, menatap kakaknya dengan mata basah, lalu mengangguk pasrah.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba, pintu kamar rawat mendadak terbuka lebar. Beberapa perawat berlarian keluar dengan wajah tegang, lalu bergegas masuk kembali membawa peralatan medis darurat.

Kepanikan seketika melingkupi mereka semua. Arvin langsung berdiri tegak merengkuh Kenzo erat-erat, matanya membelalak menatap pintu yang kembali tertutup rapat. Ranti menutupi mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat, sementara Haris, Damian, dan Jovan terpaku dengan wajah pucat pasi.

"Dokter! Ada apa dengan istri saya?!" teriak Arvin panik, berusaha melangkah mendekati pintu kamar rawat sambil mendekap Kenzo yang kembali terkejut.

Seorang perawat sempat menahan Arvin di ambang pintu. "Mohon tunggu di luar dulu, Pak! Kondisi pasien mendadak drop, kami harus melakukan tindakan medis secepatnya!"

Pintu kembali ditutup rapat dari dalam. Suara ritme mesin monitor yang semakin cepat dan berdengung nyaring terdengar hingga ke koridor, merobek harapan yang baru saja tumbuh di hati mereka.

"Bunda! Kenzo mau ketemu Bunda! Papa, Bunda kenapa lagi?!" jerit Kenzo histeris.

Ranti hampir saja tumbang jika Haris tidak sigap menahan tubuh istrinya. "Ya Allah, Nadia... ada apa lagi ini, Ya Allah..." bisik Ranti gemetar, air matanya menetes deras.

Jovan membeku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi, matanya menatap kosong ke arah pintu yang tertutup.

"Gara-gara aku... ini semua gara-gara aku..." gumam Jovan parau.

Suara gumaman itu terdengar oleh Kenzo. Anak kecil itu mendadak berhenti meronta di pelukan Arvin. Ia menoleh, menatap Jovan.

"Turunin Kenzo, Pa... turunin!" rengek Kenzo terengah-engah.

Begitu kakinya menyentuh lantai, Kenzo melangkah cepat menghampiri Jovan. Tanpa ragu, tangan-tangan kecilnya mulai memukuli paha dan pinggang Jovan dengan sekuat tenaga.

"Jahat! Abang jahat!" jerit Kenzo histeris sambil terus memukul.

"Kenapa Abang bikin Bunda sakit?! Kenapa Abang bikin Bunda kaya gini?!"

Jovan diam mematung, membiarkan pukulan-pukulan kecil adiknya mendarat di tubuhnya. Air matanya menetes makin deras tanpa suara.

"Kenzo... udah, Dek, udah..." bujuk Damian.

"Gak mau! Kenzo benci sama Bang Jovan!" teriak Kenzo makin kencang, menepis tangan Damian dan kembali memukuli Jovan.

"Semua gara-gara Bang Jovan! Kalau Abang gak nakal, Bunda gak bakal di rumah sakit! Bunda gak bakal ketiduran lama kaya gini! Ini semua karena Bang Jovan!"

"Kenzo..." bisik Jovan parau.

"Maafin Abang, Kenzo... Maafin Abang..."

"Kenzo gak mau maafin Bang Jovan! Kenzo mau Bunda!" jerit Kenzo.

"Kembaliin Bunda! Kembaliin Bunda Kenzo!"

Arvin segera berlutut di samping mereka, menarik tubuh mungil Kenzo ke dalam pelukannya untuk meredakan amarah dan tangis anak bungsunya itu.

"Udah, Sayang... udah, ya. Jangan begini..."

Jovan menunduk dalam-dalam, menekan dahinya ke lantai koridor dingin. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi, mendengar jeritan pilu sang adik yang untuk pertama kalinya meluapkan amarah padanya.

Beberapa saat berlalu dalam kepanikan yang mencekam. Suara mesin di dalam kamar lambat laun mulai teratur kembali, walau ritmenya masih terdengar lemah.

Pintu kamar rawat akhirnya terbuka. Dokter keluar sambil mengusap keringat di dahinya dengan hembusan napas lega.

Arvin langsung menggendong Kenzo dan melangkah cepat menghampiri Dokter. Haris, Ranti, Damian, dan Jovan yang masih bersimpuh di lantai ikut mendekat dengan dada berdebar.

"Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Arvin.

Dokter menatap Arvin dan keluarga satu per satu. "Alhamdulillah, kondisi Bu Nadia sudah berhasil kami stabilkan kembali. Tadi terjadi lonjakan tekanan darah dan kejang singkat karena refleks tubuhnya kaget saat baru terbangun dari koma."

Ranti mengelus dadanya seraya mengucap syukur berkali-kali.

"Apakah istri saya sudah sadar sepenuhnya, Dok?" tanya Arvin lagi.

"Sudah, Pak. Bu Nadia sudah sadar sepenuhnya dan responsif. Tapi kondisinya masih sangat lemas, jadi tolong jangan dibikin stres atau kaget dulu ya. Boleh masuk, tapi bergantian dan tetap tenang," jelas Dokter sebelum pamit meninggalkan koridor.

Arvin menatap anak-anak dan orang tuanya. Ia lalu menepuk pelan bahu Jovan yang masih menunduk dengan mata sembap.

"Jov... bangun, Nak. Bunda udah sadar. Yuk masuk," panggil Arvin.

Jovan mendongak ragu, menatap Arvin dengan ketakutan. "Aku... aku boleh ikut masuk, Pa? Bunda gak bakal benci aku, kan?"

Arvin menggeleng pelan, lalu merangkul bahu anak tengahnya itu. "Bunda gak pernah benci kamu, Jov. Yuk."

Mereka melangkah masuk ke dalam kamar rawat. Nadia terbaring lemah, matanya terbuka sayu menatap pintu yang terbuka. Saat melihat suami dan anak-anaknya masuk, sunggingan senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat.

"Bunda..." bisik Kenzo lirih. Anak kecil itu meronta pelan minta turun dari gendongan Arvin.

Dengan langkah pelan dan ragu, Kenzo mendekati tepi ranjang. Nadia menggerakkan tangannya yang lemas, mengusap lembut pipi anak bungsunya.

"Kenzo... anak pinter Bunda..." suara Nadia terdengar sangat parau dan pelan.

"Bunda... maafin Kenzo ya, Bunda... Kenzo janji gak nakal lagi..." tangis Kenzo kembali pecah, menempelkan wajahnya ke telapak tangan Nadia yang hangat.

Nadia tersenyum tipis, mengusap kepala Kenzo dengan lembut. "Kenzo enggak pernah nakal, Sayang... Bunda enggak apa-apa..." bisik Nadia.

Arvin yang berdiri kaku di samping ranjang tampak serba salah dan canggung. Ia berdeham pelan memecah kecanggungannya sendiri.

"Kamu... mau minum?" tanya Arvin kaku.

Nadia menoleh pelan ke arah Arvin, lalu menganggukkan kepalanya lirih. "Iya..."

Arvin dengan sigap mengambil gelas berisi air hangat dan sedotan di meja samping ranjang, membantunya minum dengan sangat hati-hati.

Setelah Nadia meminum airnya, matanya beralih menatap Jovan.

"Jovan..." panggil Nadia sangat pelan.

Jovan membeku. Air matanya menetes makin deras saat langkah kakinya terayun mendekati ranjang ibunya.

"Bunda... maafin Jovan... Semua salah Jovan, Bunda... Maafin Jovan..." isak Jovan sesenggukan.

Nadia meraih jemari Jovan dengan sisa tenaganya, menggenggamnya lembut. "Gak ada yang salah, Nak... Bunda udah bangun... Jangan nangis lagi ya, Sayang..."

Arvin merangkul Jovan dan Kenzo di sisi ranjang Nadia, sementara Damian, Haris, dan Ranti menyaksikan momen hangat itu dengan derai air mata lega.

Di tempat lain, Mayang sedang duduk santai di ruang tamu sambil menonton TV. Ponsel di meja mendadak berdering, menampilkan nama besannya di layar.

"Halo? Ya Allah... beneran, Jeng? Nadia udah sadar?" seru Mayang.

"Alhamdulillah... lega banget dengarnya. Iya, nanti saya sama Vanya nyusul ke rumah sakit. Makasih ya kabarnya, Jeng."

Setelah panggilan ditutup, raut wajah Mayang seketika berubah.

"Bagus deh kalau sadar... Jangan mati dulu kamu, Nadia," bisik Mayang.

Ia mengibaskan tangannya pelan sambil mendesis. "Enak aja mau mati cepat-cepat. Kamu itu belum kasih apa-apa buat Ibumu ini sejak nikah sama Arvin. Udah dapet suami kaya raya, masa cuma dinikmati sendiri? Awas aja kalau nanti udah sembuh, jatah buat Ibu harus jalan terus."

1
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!