Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Pak Deni mengangkat tubuh istri nya yang sedang tak sadarkan diri, dia di bantu oleh Santi. Kedua nya membawa bu Santi ke rumah sakit, sedangkan para warga kampung tampak acuh dan tidak ada yang berniat untuk membantu mereka.
"Ibu, bangun bu!" Santi terus memanggil nama ibu nya sambil menepuk pipi bu Tuti.
"Ini semua gara - gara di Gibran sialan itu, sudah mandul masih saja bertingkah seenaknya!" Ujar Pak Deni dengan geram.
"Pak, ibu pasti sangat syok saat mendengar bahwa rumah kita di gadaikan!" Ucap Santi.
"Kenapa kamu sebodoh itu Santi? Sampai menggadaikan rumah kita sendiri, seharus nya kan biaya pernikahan di tanggung oleh Gibran dan keluarga nya!" Pak Deni memarahi Santi.
"Kami terpaksa pak, ibu nya mas Gibran sendiri yang bilang bahwa dia akan mengganti semua uang nya setelah pernikahan ini selesai!" Jelas Santi.
"Kalau sudah seperti ini, apa kamu yakin bahwa dia akan mengganti nya? Tidak Santi, dia tidak akan mengganti uang itu!" Omel pak Deni lagi.
Santi terdiam sambil menggigit bibir nya, apa yanh di katakan oleh ayah nya memang benar. Tidak mungkin bu Meri akan menebus rumah itu untuk mereka, apa lagi saat ini Gibran juga sudah pergi meninggalkan diri nya.
"Berapa uang yang kau dapatkan dari menggadai rumah kita?" Pertanyaan pak Deni membuyarkan lamunan Santi.
"100 juta pak!" Jawab Santi singkat.
"Apa semua uang nya sudah habis?" Kembali pak Deni mengajukan pertanyaan.
"Masih ada pak, tapi tinggal sedikit lagi. Mungkin bisa kita gunakan untuk biaya rumah sakit ibu!" Jawab Santi dengan suara lirih.
Tidak terasa mobil tua yang di kemudikan oleh pak Deni tiba di halaman sebuah rumah sakit, dia langsung turun dan memanggil para Suster yang sedang berjaga.
"Sus, tolong istri saya pingsan!" Pak Deni berkata dengan panik.
"Baik pak, akan segera kami tangani!" Jawab salah satu suster.
Suster itu dengan di bantu teman nya, mendorong sebuah brangkar ke arah mobil. Mereka membantu membaringkan tubuh bu Tuti di atas nya,
Brangkar di dorong ke dalam ruangan pemeriksaan, sedangkan pak Deni dan Santi di minta menunggu di luar.
"Semoga ibu baik - baik saja!" Ucap Santi penuh harap.
Mereka berdua menunggu pintu ruangan pemeriksaan terbuka.dengan dada yang berdegup tak menentu, kedua nya mencemaskan keadaan bu Tuti.
Setelah menunggu cukup lama, akhir nya pintu besar itu pun terbuka. Seorang laki - laki dengan seragam khusus nya keluar dari dalam ruangan itu, pak Deni dan Santi bergegas menghampiri nya.
"Dokter, bagai mana keadaan ibu saya?" Santi bertanya dengan nada khawatir.
"Saat ini beliau sudah baik - baik saja, dia mengalami serangan jantung. Jangan biarkan berita buruk membuat kondisi nya semakin buruk!" Dokter itu memberi saran.
"Terima kasih, dok. Boleh kah kami bertemu dengan nya?" Kembali Santi bertanya.
"Silahkan!" Jawab dokter itu ramah.
Pak Deni dan Santi langsung masuk ke dalam ruangan, mereka melihat bu Tuti sudah sadar.
"Ibu, bagai mana keadaan ibu?" Tanya Santi sambil meraih tangan ibu nya.
"Ibu baik - baik saja nak!" Jawab Bu Tuti dengan suara lirih.
"Bu, maafkan Santi bu. Ibu jadi begini gara - gara Santi!" Santi merasa bersalah setelah melihat keadaan ibu nya.
"Tidak papa nak, ibu cuma takut kita akan kehilangan rumah kita. Rumah itu adalah harga diri kita di mata orang - orang kampung!" Ujar Bu Tuti dengan tatapan kosong.
Suasana ruangan itu mendadak hening, jelas sekali saat ini mereka semua sedang kalut memikirkan hari esok. Selama ini, mereka hanya tinggal di rumah dan tidak pernah bekerja. Apapun kebutuhan mereka, semua nya di tanggung oleh Gibran. Tapi kini Gibran sudah pergi meninggalkan mereka, dan tidak akan mungkin kembali lagi.
"Nak, sebaik nya kita pulang saja!" Tiba - tiba suara bu Tuti memecahkan keheningan di antara mereka.
"Tapi, ibu kan sedang tidak sehat!" Santi menolak keinginan ibu nya.
"Tidak papa nak, ibu sudah lebih baik kok. Lagi pula kasihan Kevin, dia sendirian di rumah. Dia pasti bingung karena semua orang tidak ada di rumah!" Bu Tuti mulai memikirkan keadaan cucu satu - satu nya.
"Ibu mu benar nak, sebaik nya kita pulang saja dulu. Setelah tiba di rumah nanti, baru kita cari solusi dari smeua masalah ini!" Pak Deni setuju dengan apa yang di usul kan oleh istri nya.
"Baik lah pak, bapak di sini temani ibu dulu. Biar aku yang akan urus semua administrasi nya!" Ucap Santi.
Santi langsung pergi keluar, dia akan menyelesaikan administrasi rumah sakit ini. Santi tidak bisa membiarkan ibu nya di rawat lebih lama di sini, saat ini keadaan keuangan mereka sedang tidak baik - baik saja.
Santi dan keluarga nya yang selama ini terbiasa tinggal di rumah, semua kebutuhan nya dan orang tua nya di penuhi dengan baik oleh Gibran. Tapi sekarang semua nya sudah berubah, Gibran sudah pergi karena di bohongi oleh diri nya.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa kau harus berlutut di kaki nya mas Gibran, agar dia mau kembali lagi. Aku tidak bisa membiarkan keluarga ku kehilangan rumah itu, bisa hancur harga diri kami di hadapan seluruh warga kampung!' Batin Santi di dalam hati.
Santi langsung menyelesaikan semua administrasi ibu nya di sini, awal nya Dokter menolak mengizinkan bu Tuti pulang malam ini. Tapi karena Santi terus memaksa, akhir nya bu Tuti pun di izin kan pulang juga.
"Santi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya nak?" Tanya Bu Tuti saat mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Aku akan datang menemui ibu nya mas Gibran, aku akan menagih janji nya. Bukan kah dia sendiri yang berjanji pada ku, bahwa setelah pesta pernikahan ini selesai dia akan mengganti uang nya!" Jawab Santi.
"Apa kau yakin dia akan mengganti uang nya? Ibu takut mereka akan mengusir mu nanti!" Ucap Bu Tuti.
"Ibu tidak perlu takut, lagi pula aku cuma menagih hak ku. Bukan kah dia sendiri yang sudah berjanji, jadi ini saat nya menepati semua janji itu!" Santi berkata dengan yakin.
"Bapak akan ikut menemui mereka, mereka tidak bisa lepas tangan begitu saja!" Ujar pak Deni dengan geram.
Santi hanya mengangguk kan kepala nya, dia sendiri tidak yakin dengan langkah ini. Mengingat bu Meri sendiri sangat membenci diri nya, tapi Santi akan melakukan apa saja agar rumah ini bisa menjadi milik nya.
'Rumah ini milik ku, dan akan ku pastikan rumah itu akan selalu jadi milik ku selama nya!' Batin Santi di dalam hati.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah