NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Bab Jatuhnya Sang Dalang

Pisau itu berhenti tepat sebelum menyentuh leher Rania, tertahan oleh gerakan cepat yang tidak diduga siapa pun di ruangan itu.

Aryasatya, meski tangannya masih terikat, telah melemparkan tubuhnya menabrak Paman Surya dari samping, mengganggu keseimbangannya cukup untuk membuat pisau itu meleset beberapa senti dari sasaran.

"LARI, WENING!" teriaknya, bergulat dengan Paman Surya meski kedua tangannya masih terikat di belakang.

Rania tidak sempat berpikir panjang. Dengan tangan yang masih terikat, ia menghentakkan diri mundur, menabrak salah satu penjaga yang mencoba menangkapnya, membuat orang itu terhuyung ke tanah gua yang basah.

Kekacauan di dalam gua semakin menjadi saat pasukan bala bantuan—dipimpin oleh jenderal senior Wanunggalih dan beberapa pengawal elite Arkapura—mulai menyerbu masuk, bertarung melawan penjaga Paman Surya satu per satu.

Rania berguling menjauh, mencoba melepaskan ikatan tangannya dengan menggesekkannya ke tepi batu tajam di dekatnya, matanya tidak lepas dari pertarungan antara Aryasatya dan Paman Surya yang semakin sengit.

Paman Surya, meski sudah tua, ternyata masih memiliki kekuatan dan kelincahan yang mengejutkan—hasil dari pelatihan bela diri bertahun-tahun yang tersembunyi di balik penampilannya yang selalu terlihat seperti penasihat tua biasa.

"Kau pikir ini akan menghentikanku?" desis Paman Surya, berhasil membanting Aryasatya ke tanah, pisaunya kembali teracung.

Namun sebelum ia sempat menyerang lagi, sebuah suara memanggil dari belakangnya.

"Surya."

Paman Surya membeku, mengenali suara itu. Ia menoleh perlahan, menemukan Nyonya Ratih—yang entah bagaimana sudah berhasil melepaskan diri dari ikatannya di tiang batu—berdiri dengan sebilah pedang yang diambil dari salah satu penjaga yang kalah, matanya menyala dengan tekad yang sudah lama terpendam.

"Kau menghancurkan hidupku," kata Ratih, suaranya bergetar namun penuh keberanian. "Tapi aku tidak akan biarkan kau menghancurkan hidup orang lain lagi."

"Ratih," Paman Surya mencoba membujuk, suaranya kembali ke nada manipulatif yang biasa ia gunakan. "Kita bisa selesaikan ini bersama. Seperti dulu."

"Tidak ada 'dulu' yang bisa diperbaiki," balas Ratih tajam. "Hanya ada sekarang, dan sekarang aku memilih untuk berhenti jadi bidakmu."

Paman Surya menatapnya lama, lalu tiba-tiba bergerak cepat, mencoba menyerang Ratih dengan pisaunya. Namun wanita itu—meski lemah dari hari-hari penahanan—berhasil menangkis dengan pedangnya, gerakannya canggung namun cukup untuk bertahan.

Di tengah pertarungan itu, Rania akhirnya berhasil melepaskan ikatannya. Ia bergegas membantu Aryasatya yang masih terbaring, dengan cepat melepaskan ikatan tangannya juga.

"Kau baik-baik aja?" tanya Rania cepat, memeriksa luka di sudut bibir Aryasatya akibat benturan tadi.

"Aku baik," Aryasatya menjawab singkat, matanya langsung tertuju pada pertarungan antara Ratih dan Paman Surya yang semakin intens. "Kita harus bantu dia."

Mereka berdua bergegas mendekat, namun sebelum sempat ikut campur, teriakan Paman Surya terdengar nyaring—Ratih berhasil menebas lengannya, membuat pisau itu terlepas dari genggamannya.

Paman Surya terhuyung mundur, memegangi lengannya yang terluka, wajahnya kini menampakkan ketakutan yang jarang sekali terlihat di sana.

"Ini belum berakhir," desisnya, mencoba melarikan diri menuju lorong gelap di belakang gua.

Namun langkahnya terhenti ketika sosok Raja sendiri muncul dari mulut gua, dikawal pasukan penuh yang berhasil melumpuhkan sisa penjaga Paman Surya.

"Surya," suara Raja menggelegar, penuh kemarahan yang telah lama terpendam. "Empat puluh tahun pengkhianatan berakhir di sini."

Paman Surya menatap sekelilingnya—jalan keluar sudah tertutup rapat oleh pasukan kerajaan, Ratih berdiri dengan pedang masih teracung, Rania dan Aryasatya sudah bebas dari ikatan mereka, dan kini Raja sendiri berdiri di hadapannya dengan wajah penuh murka.

Untuk pertama kalinya sejak Rania mengenalnya, Paman Surya terlihat benar-benar kalah.

"Visi besar butuh pengorbanan besar," gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku hanya... ingin mengembalikan kejayaan yang hilang."

"Kejayaan tidak dibangun di atas darah rakyat tidak bersalah," balas Raja tegas, memberi isyarat pada pasukannya untuk mengamankan Paman Surya.

Pria tua itu tidak melawan lagi saat ikatan dipasangkan di tangannya, tubuhnya merosot lemah—bukan hanya karena luka fisik, namun karena kekalahan total dari rencana yang telah ia susun selama puluhan tahun.

***

Setelah kekacauan mereda dan gua itu diamankan sepenuhnya, Rania duduk di luar, menghirup udara segar malam yang terasa seperti kebebasan sesungguhnya setelah ketegangan yang luar biasa.

Nyonya Ratih duduk di sampingnya, masih memegang pedang yang tadi ia gunakan, tangannya gemetar sekarang setelah adrenalin mulai mereda.

"Bibi," Rania menoleh, menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "makasih. Udah nyelametin kita."

Ratih menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum pertama yang benar-benar tulus sejak mereka bertemu pertama kali.

"Seharusnya aku yang berterima kasih," katanya pelan. "Kalian berdua yang akhirnya memberiku keberanian untuk berhenti jadi korban masa laluku sendiri."

Aryasatya mendekat, duduk di sisi lain Rania, wajahnya masih menunjukkan sisa ketegangan dari pertarungan tadi namun matanya penuh kelegaan.

"Ini belum sepenuhnya selesai," katanya, menatap ke arah gua di mana Paman Surya sedang digiring keluar oleh pasukan kerajaan. "Masih ada proses hukum, loyalis-loyalisnya yang mungkin masih tersebar, dan kepercayaan dewan yang harus kita bangun kembali."

Rania mengangguk, meski untuk saat ini, ia memilih untuk menikmati momen kemenangan kecil ini—mereka berhasil, Ratih selamat, dan dalang sebenarnya di balik semua kekacauan ini akhirnya tertangkap.

Ia menatap langit malam yang mulai menunjukkan tanda-tanda fajar, bintang-bintang perlahan memudar digantikan cahaya pertama matahari.

"Sistem," bisiknya pelan, lebih sebagai refleks daripada benar-benar mengharapkan jawaban.

[Ting!]

[Host... misi tambahan terdeteksi selesai. Pengkhianat utama berhasil ditangkap.]

"Akhirnya," gumam Rania, tersenyum lega. "Gimana stabilitas dunia ini sekarang?"

Hening sejenak sebelum sistem menjawab, suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya.

[Stabilitas membaik... namun ketidakpastian jangka panjang masih ada. Host disarankan untuk... menikmati waktu yang tersisa.]

Rania merasakan campuran lega dan sedih mendengar jawaban itu. Mereka berhasil menyelesaikan satu konflik besar, namun bayang-bayang soal waktunya di dunia ini masih menggantung, tidak pernah benar-benar hilang.

Aryasatya, yang memperhatikan perubahan ekspresinya, menggenggam tangannya lembut. "Apa pun yang sistem bilang," katanya pelan, "untuk sekarang, kita rayakan dulu kemenangan ini. Sisanya, kita hadapi nanti, bersama."

Rania menatapnya, hatinya dipenuhi kehangatan yang mengalahkan sementara semua kekhawatiran tentang masa depan yang tidak pasti.

"Bersama," ulangnya pelan, menggenggam tangan itu lebih erat.

Di kejauhan, matahari mulai terbit sepenuhnya di atas Wanunggalih, menyinari hutan dan gua yang baru saja menjadi saksi jatuhnya seorang dalang yang telah merencanakan pengkhianatan besar selama puluhan tahun—menandakan babak baru yang akan datang, meski dengan bayang-bayang waktu yang terus berdetak di latar belakang kebahagiaan mereka.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!