Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan yang di batalkan
Adrian berjalan santai menuruni tangga utama Akademi Bintang Terang. Tetapi saat sedang berbicara dengan asistennya, langkah kakinya mendadak terrhenti. Pandangannya langsung lurus tertuju ke lantai atas.
Di ujung koridor yang agak sepi, Ana lagi berdiri sendirian. Gaya cueknya kelihatan jelaskedua tangan dimasukkan ke saku celana hitamnya, menatap langit dari balik kaca jendela besar. Ekspresi wajahnya terlihat kusut, seperti sedang memikirkan masalah yang jauh lebih berat ketimbang drama kelas F yang baru aja bubar. Adrian malah tersenyum melihat Ana.
"Nah, ketemu," bisik Adrian.
Asistennya ikut melongok. "Eh? Tuan Muda, itu bukannya Ana Pramudia?"
"Pintar. Yuk, samperin."
Adrian langsung mempercepat langkahnya. Si asisten hanya bisa menghela napas pasrah, dia setengah berlari mengejar bos mudanya itu sambil berfikir dalam hati. Sudah ketebak. Tuan muda bela-belain datang ke sekolah ini pasti karena gadis itu.
Ana sendiri sama sekali belum sadar. Saat dia berbalik badan ingin berjalan kembali ke kelas F, langkahnya langsung dicegat dengan dua siswa.
"Ana."
Ana berhenti mendadak. "Apalagi sih?"
Siswa yang badannya lebih besar maju selangkah, dengan muka menantang.
"Sombong banget ya sekarang. Berani-beraninya ngomong kayak gitu ke aku?"
Ana hanya menatap siswa di depannya itu. Dengan tatapan kosong. "siapa ya?"
Seketika muka siswa itu langsung memerah karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum. "Pura-pura amnesia? Aku Aksa Aditama!"
Ana sempat diam beberapa detik.
Aksa Aditama. Anak Aditama. Memori Ana agak berputar ke belakang. Waktu mereka masih bocah ingusan dulu, keluarga mereka berdua memang sempat membuat komitmen perjodohan konyol.
Oh, jadi ini bocah yang katanya tunanganku itu, batin Ana.
Gara-gara keributan kecil itu, murid-murid yang tadinya lalu lalang di koridor langsung berhenti. Bisik-bisik diantara mereka mulai terdengar berisik di mana-mana.
Ana semakin menenggelamkan tangannya ke dalem saku.
"Kalau nggak ada yang penting, minggir. Aku mau lewat."
Aksa yang sudah kepancing emosi langsung menyentak dan nyengkerem lengan Ana kasar.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?!"
"Lepas." Suara Ana dingin.
Aksa akhirnya melepas cengkeramannya, dan memasang senyum merendahkan yang jijik.
"Dengar ya, nona besar. Aku udah tahu semua cerita busukmu di luar sana. Kau sering bermain dengan beberapa pria kan? Gila, seleraku nggak serendah itu buat nampung barang bekas kayak dirimu. Ogah banget dapet cewek kotor."
Detik itu juga, koridor langsung mendadak sepi senyap. Semua orang syok dengar omongan kasar Aksa.
"Jadi," lanjut Aksa semakin ngelunjak karena Ana hanya diam, "mulai detik ini, pertunangan kita batal!"
Ana hanya menaikkan alisnya sebelah, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Oh, ya udah."
Aksa terheran, jidatnya mengkerut bingung dengan reaksi Ana yang santai.
"Cuma 'oh' doang?!"
"Ya emang harusnya batal dari dulu." Ana sengaja maju selangkah biar jarak mereka semakin dekat. "Tapi biar lebih jelas yah bukan kamu yang mutusin. Tapi aku yang buang kamu."
Gila! Beberapa siswa yang menonton langsung diam.
Aksa tertawa hambar, mencoba menutupi rasa malunya. "Baru menghilang beberapa hari, sampah seperti dirimu sudah pinter ngegigit ya sekarang?"
Ana malah tersenyum tipis. "Sampah mana bisa gigit orang. Yang hobi menggonggong sama gigit orang mah anjing. Seperti kamu tuh."
"Kamu bener-bener cari mati ya—!"
Napas Aksa memburu. Tangannya sudah melayang di udara, siap melayangkan tamparan keras ke wajah Ana.
Plak!
Bukan suara tamparan, tapi pergelangan tangan Aksa keburu dikunci di udara oleh tangan lain yang cengkeramannya jauh lebih kuat.
"Cukup."
Ana langsung menoleh ke samping,
Adrian udah berdiri tegak di sampingnya. Wajahnya terlihat, tapi sorot matanya cukup tajam.
"Kamu lagi?" gumam Ana malas.
Aksa berusaha menarik tangannya yang terkunci rapat, tetapi gagal. "Heh, lepasin! Kau siapa?! Nggak usah sok pahlawan disini!"
Salah satu teman Aksa yang berdiri di belakang tiba-tiba wajahnya pucat. Badannya gemeteran dia mengenali pria yang barusan datang.
"Ak... Aksa... lepasin, Sa... Dia Tuan Muda Adrian..." bisik pria itu ketakutan.
Aksa langsung membeku di tempat. "Tuan... Tuan Muda Adrian dari keluarga sanjaya?"
Adrian langsung menghentakkan tangan Aksa kasar sampai pria itu terhuyung mundur beberapa langkah.
"Setahuku, para leluhur keluarga Aditama itu jenderal-jenderal perang yang terhormat. Tapi kok pewarisnya malah hobi main tangan dengan gadis di sekolahan?" Adrian menatap Aksa dengan senyum meremehkan.
"Kalau sampai orang luar tahu kelakuanmu ini, kira-kira nama baik keluargamu hancur nggak ya?"
Aksa menelan ludah, nyalinya langsung menciut total. "D-dia ini tunanganku. Dia keterlaluan di belakangku, makanya aku cuma mau kasih pelajaran."
"Tunangan?" Adrian melirik ke arah Ana sambil menaikkan sebelah alisnya, meminta konfirmasi.
Ana melipat kedua tangannya di dada dengan santai. "Kalau kupingnya nggak budek, harusnya dia denger kalau tadi hubungannya udah selesai."
Aksa yang gengsinya sudah habis langsung memotong perkataan Ana dengan nada tinggi. "Aku juga nggak bakal sudi! Ana, lihat aja nanti! Pulang dari sini aku bakal langsung minta Kakek buat resmiin pembatalan perjodohan sialan ini!"
Ana hanya mengangguk-angguk kecil. "Bagus deh. Buruan ya, jangan ditunda."
Jawaban super cuek dari Ana sukses membuat Aksa semakin malu setengah mati.
Dengan wajah merah karena malu, dia menunjuk Ana sekilas sebelum akhirnya balik badan dan kabur diikuti oleh temannya.
Di balik pilar ujung koridor, Jesika yang dari tadi mengintip langsung meremas tali tasnya kuat-kuat. Jantungnya berdegup kencang karena gelisah.
"Pria itu... sepertinya pengaruhnya gede banget," gumamnya pelan dengan tatapan mata cemas. "Bahkan pria sekelas Aksa saja bisa langsung diam."
Jesik melirik tajam ke arah Adrian yang masih berdiri di sebelah Ana.
"Kenapa sih... kenapa pria sesempurna itu harus selalu pasang badan buat Ana?"
Sementara itu, Adrian sama sekali nggak peduli dengan suasana sekitar atau bisik-bisik anak-anak lain. Fokusnya hanya tertuju ke Ana, lengkap dengan senyum misteriusnya yang susah ditebak.