NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Menuju NavaPark BSD city

Setelah berbincang singkat mengenang masa lalu, Yuda berpamitan dengan Dewi.

Semua orang sudah dewasa dan sibuk kerja, jadi tidak ada waktu untuk mengenang lama-lama.

Apalagi keduanya hanyalah kenalan biasa, jadi, mereka berdua juga tidak punya banyak topik.

Namun, sebelum pergi berpamitan, Yuda berinisiatif meminta nomor kontaknya dengan alasan hubungan pertemanan.

Dia meminta kontak juga bukan untuk sesuatu yang lain, lebih ke ingin lebih dekat dengannya.

Soalnya pada saat pindai status Dewi, skor Penampilan 89 hampir 90.

[Informasi Target]

Nama: Dewi Larasati

Umur: 23 Tahun

Penampilan: 89

Isi Daya: 0.5

Favorability: 40

Dari tampilan, Favorability tampak normal.

Tapi ada yang aneh dengan statusnya, yaitu dibagian isi dayanya 0,5.

Ini sangat membingungkan.

Mengingat kembali sosok Dewi, memakai pakaian kantor yang membentuk lekuk tubuh indahnya.

Dada besarnya juga terlihat sesak, bahkan kancingnya tampak akan copot setiap bergerak.

Yuda menarik nafas dalam-dalam, "Mari fokus Mbak Risa dulu, seperti kata pepatah Jawa, Alon-alon asal kelakon."

"Ngomong-ngomong, tidak ada yang ketinggalan lagi kan?" ia mulai mengingat kembali rencana awalnya.

"Beli motor? Kayaknya besok aja dah belinya, dan..... kalau tak salah ingat, sepertinya aku punya sesuatu yang penting...."

Selang beberapa detik, ia menampar kepala motor beatnya.

"Ah, benar. Aku punya aset di Botanic Villa NavaPark, BSD City. Ke sana aja dulu."

Mesin motor menderu, membawanya meluncur membelah jalanan.

...----------------...

Sementara itu di Toko Patek Philippe...

Dua staf wanita lainnya segera mendekati Dewi dengan wajah dipenuhi rasa ingin tahu.

​"Dewi, cepat beri tahu kami. Siapa pria tampan dan kaya itu? Kekasihmu?" Nia bertanya, nadanya sedikit antusias.

"Ya ya, Nia benar, apa kamu punya hubungan dengan pria tadi? cepat beritahu kami." Mila mengangguk cepat menatap Dewi merasa penasaran.

Wajah Dewi seketika berubah merah, "Kalian.... Bukankah sudah ku bilang Yuda dan aku hanya tetangga desa, cuman kenalan biasa."

Nia dan Mila saling pandang, lalu senyum licik muncul disudut mulut keduanya.

"Hehehe jadi namanya Yuda? Tetangga Desa?Dewi, tidak kusangka kamu akan menyembunyikan pria tampan dan kaya itu dari kami berdua begitu lama." Suara Nia terdengar kecewa, raut wajahnya berubah pura-pura sakit.

"Pantas saja banyak pria yang mendekat selalu kau tolak," tambah Mila sembari melipat lengan. "Ternyata standarmu sudah setinggi ini."

Ekspresi Dewi berubah panik, ia cepat-cepat melambaikan kedua tangannya berusaha menyangkal.

"Jangan mengarang cerita! Aku dan dia benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Kami bahkan tidak sedekat itu."

Ia berusaha mempertahankan penjelasannya, meskipun suaranya mulai terdengar tidak setegas sebelumnya.

Nia dan Mila kembali saling pandang.

Kali ini, senyum keduanya terlihat semakin lebar.

"Kalau begitu..." Nia menopang dagunya dengan satu tangan. "Kalau memang kamu tidak punya hubungan apa-apa dengan Yuda, seharusnya tidak masalah, kan?"

Dewi mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Mila langsung mendekat sedikit. "Begini. Kamu tadi bertukar kontak dengannya, kan?"

Dewi mengangguk cepat.

​"Nah, karena kalian tidak punya hubungan khusus..." Nia memiringkan kepala, "bagaimana kalau kau kenalkan dia pada kami?"

"Hah?" Dewi membelalakkan mata.

Mila tertawa kecil. "Kamu bilang sendiri kalian cuma kenalan biasa. Jadi tidak ada masalah, kan?"

"Kalian..." Dewi mulai memahami maksud keduanya.

Mereka ternyata tertarik pada Yuda.

Nia segera menyambung, "Aku penasaran dengan dia. Jarang ada pria semuda itu yang datang ke sini dan membeli jam semahal itu dengan santai."

"Aku juga, dia pria tampan dan kaya, idamanku banget" tambah Mila. "Kalau kamu memang tidak ada hubungan dengannya, jadilah jembatan untuk kami."

Dewi terdiam.

Entah kenapa, mendengar mereka mengatakan hal itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Bayangan Yuda yang baru saja berdiri di hadapannya kembali muncul di pikirannya.

Wajahnya yang sudah jauh lebih dewasa daripada yang ia ingat.

Senyumnya. Cara bicaranya. Bahkan tatapan matanya saat mereka mengenang masa lalu.

Perasaan yang sejak tadi berusaha ia abaikan kembali muncul.

Dan sebelum sempat berpikir panjang—

"Jangan!"

Seruan itu meluncur begitu saja, jauh lebih keras dari yang ia maksudkan.

Hening seketika menyelimuti ketiganya.

Nia dan Mila terpaku, sementara Dewi sendiri tertegun menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

Nia perlahan mengangkat sebelah alisnya.

Sorot mata Mila pun berubah penuh selidik.

​Menyadari tatapan mereka, Dewi mulai salah tingkah. "Maksudku... bukan begitu..."

Namun semakin ia berusaha mencari alasan, semakin sulit menemukan kata-kata yang tepat.

Nia akhirnya tersenyum tipis. "Oh..."

Mila ikut tersenyum. "Begitu rupanya."

Wajah Dewi kini merah padam. "Apa maksud kalian?"

Tidak ada jawaban.

Kedua wanita itu hanya saling pandang, lalu menatap Dewi dengan senyum penuh arti.

Dewi semakin salah tingkah.

"Kalian jangan berpikir macam-macam. Aku benar-benar tidak punya hubungan apa pun dengan Yuda."

"Iya, kami mengerti," jawab Nia santai.

​"Sangat mengerti," tambah Mila.

​Cara mereka menjawab justru membuat Dewi semakin malu hingga ia memalingkan wajah dan menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak bisa lagi mengelak; bahkan jauh di dalam lubuk hatinya, ia harus mengakui bahwa benih ketertarikan itu memang mulai tumbuh.

...----------------...

Dalam perjalanan menuju BSD city, Yuda merasa sangat haus ditengah teriknya matahari.

Ia mampir ke alfa sebentar membeli air putih dingin.

Dia memilih beristirahat dulu di teras alfa, duduk di jok motornya.

Membuka botol mineral lalu meneguknya beberapa kali.

Dinginnya air membuatnya merasa segar kembali, "Nikmatnya~~"

Yuda menyipitkan matanya menatap matahari di atas langit cerah, "Hari ini panas sekali tidak seperti biasa, untung saja hari ini minggu, libur, jadi tidak usah antar paket."

Sesaat setelah mengucapkan itu, ia sedikit tertegun, "Tunggu sebentar... aku sekarang punya sistem, punya uang hampir 100 miliar... Apa aku mengundurkan diri aja?"

Yuda memikirkan sesaat untuk mengundurkan diri, "Tapi.... benar apa kata diriku yang tadi, tetap jadi kurir paket tapi mode santai, anggap aja sebagai kegiatan waktu luang."

Ia mengangguk pelan, "Ok sudah diputuskan. Sebelum itu, besok beli motor sport dulu lah ditoko sistem."

Merasa cukup beristirahat, Yuda kembali memakai helmnya lalu memutar gasnya dan motornya meluncur menyatu dengan arus jalan ramai.

15 menit berselang, Yuda memasuki kawasan eksklusif BSD City.

Ia mengendarai motornya perlahan menuju pos penjagaan gerbang utama Botanic Villa NavaPark.

​Dari kejauhan, seorang petugas keamanan sudah mengerutkan kening melihat kedatangannya.

Pandangan petugas itu langsung tertuju pada penampilan Yuda yang sangat kasual, jauh dari kesan penghuni kawasan mewah tersebut.

Seketika pandangannya tertuju pada pakaian biasanya.

"Hah? Pria itu..."

Sesampainya di pos penjaga, Yuda di hentikan satpam.

"Permisi pak, ada keperluan didalam?" Satpam itu bertanya, tapi tatapannya masih menilai Yuda.

Lalu ia terkejut saat melihat tas belanja di motor, dia mengenalinya dalam sekali pandang tas itu.

Sebuah pemikiran perkiraan identitas pria didepannya seperti makin jelas.

'Pakaiannya meski rapi, terlihat murahan, dan.... Tas belanja Armani sama Huawei, nilainya pasti kurang lebih ratusan juta kan?'

'Orang kaya mana yang pakai jasa antar paket senilai ratusan juta begitu santainya lewat kurir biasa?'

Dia sudah bekerja sebagai penjaga gerbang selama bertahun-tahun, tapi ini adalah pertama kalinya menjumpai seorang kurir biasa mengantar paket senilai ratusan juta.

Seingatnya, paket senilai ratusan juta biasanya dikirim pakai mobil khusus.

Ya, satpam itu salah paham dan mengira Yuda sebagai kurir paket, hanya berdasarkan penilaian melihat pakaian, sandal murahan dan motor beat.

Yuda mendengar pertanyaan itu tersenyum menjawab santai, "Saya mau ke Botanic Villa NavaPark, Unit No.1"

“Botanic? Unit No. 1?” Satpam itu mengulang jawaban Yuda sambil mengangguk kecil.

Dalam pikirannya, semuanya mulai masuk akal.

'Oh... jadi barang-barang mahal itu pesanan dari penghuni Botanic Villa Unit No. 1.'

​"Baik, mohon tunggu sebentar." ​Petugas itu masuk ke dalam pos.

Tak lama kemudian, ia kembali dengan raut wajah bingung.

​"Mohon maaf, Pak," ucapnya. "Untuk Unit Nomor Satu, kami tidak menerima pemberitahuan adanya jadwal pengiriman atau kedatangan kurir hari ini."

Yuda terdiam sesaat. “Pengiriman?”

Satpam itu mengangguk.

"Iya, Pak. Bukankah Bapak sedang mengantarkan pesanan barang ke sana?"

Barulah Yuda memahami kesalahpahaman tersebut.

Ia melirik tas belanja yang masih tergantung di motornya, lalu menatap pakaian dan sandal jepit yang dikenakannya.

'Oh... dikira kurir rupanya.... Eh, sepertinya tidak salah, karena aku memang bekerja sebagai kurir.'

Yuda hampir tertawa, sebab tebakan satpam itu sangat jitu, tetapi akhirnya hanya tersenyum.

“Bukan, Pak. Saya disini bukan untuk mengantar paket.”

Satpam itu tampak semakin bingung.

“Kalau begitu, Bapak ada keperluan dengan penghuni Unit No. 1?”

Yuda menggeleng santai. “Saya tidak ada keperluan dengan penghuni.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Karena saya sendiri pemiliknya.”

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!