NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Dual kultivasi

Pintu ruang kultivasi tertutup rapat, mengunci dunia di luar sana. Udara di dalam ruangan terasa pengap. Aroma dupa cendana yang terbakar habis menyisakan jejak tipis di indra penciuman. Lampu minyak di sudut meja batu bergetar kecil, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding batu yang dingin.

Ye Chan duduk bersila di atas tikar anyaman tipis. Kedua tangannya bertumpu tenang di atas lutut. Napasnya dijaga agar tetap stabil. Namun, tatapannya terkunci pada sosok Zhan Ya di depannya.

Zhan Ya menatapnya balik dalam diam. Ia menunggu.

"Kalau kau tidak yakin, kita tidak perlu melakukannya," ujar Zhan Ya pelan. Suaranya pecah, tipis sekali.

Ye Chan memahami mekanisme kultivasi ganda. Penyatuan tenaga dalam bukan sekadar duduk berhadapan. Aliran Qi harus benar-benar selaras. Ritme napas wajib disamakan tanpa ada keraguan sedikit pun. Jika pikiran bercabang, meridian mereka bisa hancur berantakan.

Namun, bukan risiko fisik itu yang menahan napasnya.

"Kalau aku menerima," kata Ye Chan hati-hati. "Hubungan kita tidak akan pernah kembali seperti semula."

Zhan Ya tersenyum tipis. Ia mencondongkan tubuh ke depan.

"Hubungan kita sudah hancur sejak hari pertama kau kembali," balas Zhan Ya.

Ia mengulurkan tangannya lebih jauh ke depan. "Kalau kau masih melihatku sebagai seorang senior, berhentilah sekarang."

Ye Chan menatap mata perempuan itu lekat-lekat. Ia mencari kejujuran di sana.

"Dan kalau aku menolak melihatmu seperti itu?" tanya Ye Chan.

Binar lembut terpancar dari netra Zhan Ya. "Kalau begitu, duduklah lebih dekat."

Ye Chan menggeser duduknya. Lutut mereka nyaris bersentuhan sekarang. Zhan Ya mengangkat tangan dan menyentuh telapak tangan Ye Chan. Kulit mereka bersatu. Panas menyengat merambat dari sana, kontras dengan dinginnya dinding batu ruangan itu.

Aliran tipis Qi mulai berpindah dari tubuh Zhan Ya menuju jalur meridian Ye Chan. Rasanya seperti benang sutra hangat yang menyusuri setiap celah sempit di tubuhnya.

"Pelan-pelan," desis Ye Chan. Energi itu masuk terlalu cepat.

"Aku tahu," jawab Zhan Ya. Ia tidak melepaskan tatapannya sedetik pun. "Qi milikmu terlalu mendominasi jalur meridian ini."

"Kalau begitu, jangan biarkan aku mendominasimu."

Satu putaran Qi selesai. Dua putaran berlalu. Meridian Ye Chan yang sebelumnya rusak perlahan merekat kembali. Namun fokus mereka mulai buyar. Napas Zhan Ya yang hangat menerpa kulit wajahnya, mengaburkan konsentrasi yang susah payah dibangun.

Ye Chan membuka mata. Perempuan itu sedang memperhatikannya dengan jarak yang sangat tipis.

Zhan Ya menggerakkan jarinya, menyentuh lembut punggung tangan Ye Chan. Aliran Qi di antara mereka langsung tersendat.

"Fokus," tegur Ye Chan lirih.

"Aku sedang fokus," balas Zhan Ya. "Tapi bukan pada kultivasi."

Jarak itu lenyap. Bibir mereka bersentuhan. Lembut, dalam, penuh rindu yang bertahun-tahun terkubur. Ciuman itu berubah menjadi gelombang panas ketika lidah saling menyentuh. Qi meledak di antara mereka.

Ketika berpisah, keduanya terengah. Zhan Ya menyentuh bibirnya sendiri. "Kau..."

"Aku juga tidak tahu kenapa," potong Ye Chan.

Mereka kembali duduk bersila, kini tanpa sekat lagi. Qi mengalir lebih lancar dari sebelumnya. Malam terus merangkak naik, mengabaikan pergantian jam di luar dinding.

Hari-hari berikutnya, kultivasi ganda berlangsung lebih lama. Kecanggungan perlahan menguap, digantikan oleh ritme yang sudah mereka pahami. Energi mereka semakin menyatu dalam setiap napas.

Pada hari keempat, hujan turun mengguyur kota. Suara rintik air menabrak atap bangunan menciptakan irama monoton yang menenangkan. Ye Chan berdiri di dekat jendela. Zhan Ya melangkah mendekat. Tubuh mereka bersentuhan.

"Aku tidak ingin kita kembali seperti dulu," bisiknya. "Senior dan junior. Dua orang yang terus berpura-pura buta."

Ye Chan mengangguk pelan. "Tidak akan."

"Mulai hari ini, jangan panggil aku senior," ucapnya. "Panggil namaku. Zhan Ya."

Ye Chan mengangkat tangan, menyentuh helaian rambutnya. "Zhan Ya."

Perempuan itu merengkuhnya dalam pelukan hangat.

Malam itu, mereka kembali ke ruang kultivasi. Lampu minyak berkelip lembut. Mereka duduk saling berhadapan, lutut bersentuhan. Tangan saling menjalin. Qi mulai mengalir. Pelan, indah, seperti tarian kuno dua naga yang saling melilit.

Napas mereka selaras. Putaran demi putaran, energi semakin dalam. Zhan Ya menggeser tubuhnya lebih dekat. Paha mereka saling menekan. Tangan Ye Chan naik ke pinggangnya, merasakan getaran meridian di bawah kulit yang halus.

"Lebih dekat," bisik Zhan Ya. Suaranya serak, penuh tuntutan.

Kain longgar bergeser. Kulit bersentuhan langsung. Qi tidak lagi hanya mengalir lewat telapak tangan. Kini energi itu merambat lewat dada yang saling menekan, lewat napas yang saling berbagi. Ye Chan merasakan kehangatan tubuh Zhan Ya menembus setiap pori.

Zhan Ya mengangkat diri perlahan, duduk di pangkuannya. Jarak terakhir lenyap. Kemaluan mereka saling menyentuh. Hangat, basah, berdenyut oleh aliran energi yang membara. Ye Chan menahan napas ketika ujungnya menyentuh kelembutan Zhan Ya. Qi keduanya bereaksi hebat. Seolah merayakan penyatuan yang sempurna.

Dengan gerakan lambat penuh seni, Zhan Ya menurunkan dirinya. Tubuh mereka menyatu. Ye Chan masuk pelan, dalam, hingga merasakan setiap denyut di dalam sana. Desahan lembut keluar dari bibir Zhan Ya, bercampur dengan aliran Qi yang kini berputar di antara mereka bagai pusaran kuno.

"Aku di sini," bisik Ye Chan. Tangan menahan pinggangnya. Ia menggerakkan tubuh dengan ritme yang selaras dengan putaran energi.

Setiap dorongan membawa gelombang Qi yang lebih dalam. Meridian mereka bergetar bersama. Zhan Ya mengerang pelan. Jari-jari mencengkeram bahu Ye Chan. Tubuhnya naik-turun dalam gerakan yang indah dan panas. Desahan mereka memenuhi ruangan. Lembut, dalam, penuh nafsu yang terbungkus keanggunan seni kultivasi kuno.

Qi meledak dalam klimaks yang lembut namun membara. Tubuh Zhan Ya bergetar di atasnya. Dinding dalamnya mengetat, menarik Ye Chan lebih dalam lagi. Ye Chan menyusul. Ia melepaskan segalanya dalam gelombang panas yang menyatu sempurna dengan aliran energi. Mereka saling menahan. Saling menyerahkan diri. Hingga malam menjadi saksi penyatuan yang tak terlupakan.

Setelahnya, mereka tetap saling berpelukan. Qi masih mengalir lembut di antara tubuh yang basah oleh keringat dan sisa kepuasan.

Keesokan paginya, Ye Chan terbangun dengan Zhan Ya dalam dekapannya. Rambut hitam terurai di bahunya. Wajahnya tampak sangat damai.

Zhan Ya membuka mata perlahan. "Kau menatapku?"

"Tidak."

"Kenapa kau tidak berkedip sejak tadi?"

Ye Chan terdiam. Zhan Ya tertawa pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. "Bagaimana kondisi meridianmu?"

"Sudah jauh lebih stabil. Bukan hanya karena teknik kultivasi ganda."

Zhan Ya tersenyum. "Baiklah, aku terima pujian itu."

Hari-hari berikutnya dilalui dengan kehangatan yang sama. Kultivasi ganda kini menjadi ritual intim yang elegan. Setiap malam tubuh mereka menyatu. Qi dan nafsu saling melengkapi dalam tarian kuno yang indah dan panas.

Pada hari ketujuh, Zhan Ya membawa kotak kayu kecil. Di dalamnya terbaring satu butir Pill Penerobosan Inti.

"Aku tahu risikonya," katanya sambil menyodorkan kotak itu. "Kau membutuhkan ini sekarang."

Ye Chan menerima benda itu. "Terima kasih."

"Pulanglah kepadaku setelah urusanmu selesai."

"Aku akan kembali."

Hari kedelapan, fajar menyingsing dengan warna kemerahan di ufuk timur. Mereka berdiri di batas jalan setapak, tepat di depan gerbang utama. Jari-jari mereka bertaut erat untuk terakhir kalinya sebelum berpisah.

"Aku pergi," ucap Ye Chan.

Zhan Ya mengangguk. Matanya tidak beralih. "Jangan terlalu lama."

Ye Chan melangkah pergi. Ia merasakan beban pill di cincin penyimpanannya.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti. Ye Chan menoleh. Zhan Ya masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya lurus. Ia mengangkat tangan sesaat. Zhan Ya membalas dengan senyuman tipis yang tulus.

Ia kembali melangkah menyusuri jalan setapak yang mulai ramai. Pill Penerobosan Inti tersimpan aman.

Ia tidak lagi merasa sendiri. Kini ia memiliki seseorang yang menunggu kepulangannya ketika ia telah menyelesaikan pondasi kekuatannya.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!