NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perban Ning Ummah Rembes Darah

Jam 11.30 malam tadi kami pikir semuanya sudah aman.

Ning Ummah tertidur, tangannya masih di perutku. Gus Azam di sofa, Ning Latifah di sebelah kiri sudah ngorok halus.

Aku juga hampir tertidur, perutku yang 6 minggu ini rasanya anget karena dielus Ning Ummah terus.

Tapi jam 01.55, aku kebangun karena dingin.

Bukan dingin AC. Dingin lembab.

Aku buka mata, lampu kamar remang. Gus Azam juga sudah bangun, dia berdiri di dekat infus.

"Gus... kenapa?" bisikku.

Gus Azam tidak jawab. Matanya fokus ke selimut Ning Ummah. Bagian bawah selimut, tepat di atas perut bekas operasi.

Ada bercak merah. Kecil, tapi melebar pelan.

Aku langsung duduk, jantungku jeduk jeduk.

"Ning Latifah... Latifah bangun..." bisikku pelan sambil goyangin bahu Ning Latifah.

Ning Latifah buka mata, lihat bercak itu, langsung tutup mulut biar tidak teriak.

Ning Ummah masih tidur, tapi keningnya berkeringat banyak. Nafasnya cepat.

Gus Azam langsung pencet bel suster. Cepat.

Ting... tong...

Tidak sampai satu menit, dua suster masuk lari.

"Suster... perbannya... perbannya rembes..." suara Gus Azam gemetar.

Suster pertama langsung buka selimut. "Ya Allah rembes nya banyak Gus." Suara Ning Latifah pelan menahan kaget.

Perban putih yang sore tadi bersih, sekarang di tengahnya ada warna merah segar. Tidak banyak, tapi suster langsung lihat satu sama lain.

"Bu, ini rembesan, kita harus ganti perban dan cek lagi, ya. Dokter jaga kita panggilkan."

Ning Ummah kebangun karena selimutnya dibuka. Dia lihat perutnya sendiri.

"Pendarahan lagi ya Sus?" suaranya pelan sekali, tapi tidak panik. Justru itu yang bikin kami panik. Ning Ummah terlalu tenang.

Suster senyum, "Tidak Bu Ning, ini wajar Bu, kadang ada rembesan sedikit pasca operasi pengangkatan rahim. Kita bersihkan ya."

Aku pegang tangan Ning Ummah kuat. Tangan Ning Ummah dingin.

"Ning... Ning lihat Piah ya... jangan lihat perbannya..."

Tapi Ning Ummah justru lihat aku, lalu lihat perutku.

"Piah... kalau Ummah pendarahan lagi... Piah jangan takut ya... kasian janin Piah..."

Astagfirullah, di saat perbannya sendiri rembes darah, yang dia pikirkan masih janinku.

Aku nangis lagi. Tidak bisa ditahan.

"Ning jangan ngomong gitu... Ning kuat... Ning kan Eyang Ummah-nya calon santri Piah..."

Dokter jaga datang, dokter perempuan muda. Dia cek perban, cek selang yang ada di samping perut Ning Ummah. Di selang itu ada darah juga.

"Rembesannya dari luka dalam, tapi tidak banyak. Mungkin karena Ibu tadi terlalu banyak gerak atau mengedan pas tidur. Kita ganti perban, kita kasih obat penguat pembuluh darah lagi lewat infus ya."

Gus Azam mengangguk cepat, "Iya Dok, tolong yang terbaik Dok... darah B Ummah tadi siang sudah banyak keluar..."

Dokter itu pasang obat tambahan ke infus. Ning Ummah meringis pas perban lamanya dibuka. Aku lihat sekilas, lukanya panjang.

Ning Latifah yang tadinya di kaki, sekarang pindah ke dekat kepala Ning Ummah, bacain sholawat pelan di telinga Ning Ummah.

"Shollallahu ala Muhammad... Shollallahu alaihi wasallam..."

Aku ikut, Gus Azam ikut. Kami bertiga baca sholawat pelan di kamar 203 jam 2 pagi, sambil suster ganti perban yang berdarah.

Jam 02.30, perban baru sudah terpasang. Putih bersih lagi. Obat sudah masuk.

Ning Ummah pucat lagi, tapi kali ini dia senyum ke aku.

"Piah... Eyang Ummah masih di sini kok... Eyang Ummah belum selesai gendongin perut Piah..."

Aku cium tangan Ning Ummah yang dingin itu lama.

"Jangan tinggalin Piah Ning... calon santri Piah masih butuh Eyang Ummah..."

Gus Azam dari belakang peluk kami berdua dari atas ranjang. Badannya gemetar.

"Ummah... Gus tidak mau kehilangan lagi... Gus sudah kehilangan rahim Ummah, Gus tidak mau kehilangan Ummah-nya..."

Ning Ummah elus kepala Gus Azam yang ada di bahunya.

"Gus... kalau Allah sudah ambil rahim Ummah, berarti Allah mau Ummah istirahat... biar Piah sama Latifah yang berjuang kasih anak... Ummah bagian doain aja ya..."

Jam 3 pagi, semua sudah tenang lagi. Perban tidak rembes lagi. Ning Ummah tidur lagi, kali ini lebih lelap karena obat nyeri dosis tinggi.

Aku, Gus Azam, Ning Latifah tidak tidur lagi sampai subuh. Kami bertiga duduk di lantai, bersandar ke ranjang Ning Ummah, jaga perban itu biar tidak rembes lagi.

Dan setiap 15 menit, aku cek perutku sendiri. Pastikan calon santriku masih aman, masih anget, masih ada di dalam, dijaga oleh doa Eyang Ummahnya yang perbannya baru saja di ganti.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!