Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sring.
Mata Identifikasi Tingkat Dewa ikut aktif memindai tumpukan kertas kebanggaan sang profesor.
[Objek: Draf Jurnal Akademis Profesor Sudirja]
[Status: Manipulasi data tingkat tinggi, 40% kutipan diambil dari penelitian usang tahun 2015 tanpa pembaruan konteks]
[Kelemahan: Mengabaikan variabel suku bunga bank sentral terbaru yang membuat seluruh kesimpulannya tidak valid]
Senyuman miring yang sangat meremehkan perlahan mengembang di sudut bibir Bima.
Dia bahkan tidak butuh waktu sepuluh detik untuk menemukan cacat di karya ilmiah tersebut.
"Waktumu terus berjalan, Dosen Pengganti," ejek Profesor Sudirja sambil melipat tangan di dada.
"Tidak bisa menjawab? Sudah kuduga otakmu sekosong dompetmu."
Bima menghela napas panjang lalu menatap lurus ke dalam mata Profesor Sudirja.
"Kelemahan fatal teori ekspansi kuantitatif di perusahaan rintisan bukanlah pada arus kasnya, Prof."
Suara Bima terdengar sangat tenang namun memancarkan otoritas akademis yang membuat semua orang merinding.
"Kelemahannya ada pada variabel suku bunga bank sentral acuan yang Anda abaikan sepenuhnya di bab empat jurnal Anda ini."
Mata Profesor Sudirja langsung membelalak lebar, seolah baru saja disambar petir di siang bolong.
"Bagaimana... bagaimana kamu tahu isi bab empat padahal kamu belum menyentuhnya sama sekali?" gumam Profesor Sudirja dengan suara bergetar.
Bima tidak mempedulikan kebingungan sang profesor dan terus melanjutkan analisis mematikannya.
"Anda menggunakan basis data inflasi tahun dua ribu lima belas untuk memproyeksikan likuiditas pasar digital hari ini."
"Itu ibarat menggunakan peta zaman penjajahan untuk mencari alamat restoran cepat saji di pusat kota masa kini."
Beberapa dosen muda di ruangan itu tanpa sadar menganggukkan kepala mereka setuju dengan analogi tajam Bima.
"Jika Anda menyerahkan jurnal ini ke komite penguji internasional besok, mereka tidak akan mempublikasikannya."
Bima mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengetuk sampul jurnal itu dengan jari telunjuknya.
"Mereka akan menjadikan jurnal ini sebagai bungkus kacang goreng karena kesimpulannya seratus persen tidak valid."
Keheningan yang sangat mencekam turun menyelimuti Ruang Dosen Utama tersebut.
Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara, bahkan tarikan napas pun terdengar sangat jelas.
Profesor Sudirja mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak ujung meja kerjanya sendiri.
Wajahnya memucat seketika dan keringat dingin mulai membasahi kerah kemeja batiknya yang mahal.
Kritikan Bima barusan benar-benar menelanjangi kelemahan terbesar penelitiannya yang selama ini dia tutupi dari kampus.
"I-itu fitnah! Analisis dataku sudah melalui perhitungan algoritma yang rumit!" sangkal Profesor Sudirja dengan suara panik yang pecah.
"Buka halaman empat puluh dua paragraf ketiga, Prof," potong Bima tanpa ampun.
"Anda mengutip rasio likuiditas dari perusahaan yang sudah dinyatakan pailit tiga tahun lalu tanpa mencantumkan status kebangkrutannya."
"Apakah itu yang Anda sebut sebagai algoritma rumit? Atau sekadar plagiasi malas dari internet?"
Profesor Sudirja buru-buru membuka jurnalnya dengan tangan gemetar ke halaman yang disebutkan Bima.
Matanya terbelalak menatap deretan angka di sana yang persis sama dengan apa yang dibongkar oleh Bima.
Sang profesor kebanggaan fakultas itu langsung jatuh terduduk di kursi kerjanya dengan sisa tenaga yang menguap.
Harga dirinya sebagai akademisi elit baru saja dihancurkan hingga rata dengan tanah oleh seorang dosen berpakaian flanel.
Para dosen lain yang awalnya meremehkan Bima kini menatap pemuda itu dengan pandangan penuh rasa hormat bercampur takut.
Mereka menyadari bahwa pria di depan mereka ini memiliki otak seorang jenius tingkat dewa yang bersembunyi di balik penampilan sederhananya.
Bima berjalan santai melewati Profesor Sudirja yang masih membatu di kursinya.
Dia menemukan sebuah bilik kosong di sudut ruangan dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di sana.
"Pakai baju rapi sedikit memang penting untuk menjaga etika," ucap Bima memecah keheningan ruangan.
Dia meletakkan kedua kakinya ke atas meja dengan gaya santai dan melipat tangannya di belakang kepala.
"Tapi memastikan isi kepalamu tidak lebih usang dari bajumu jauh lebih penting, Prof."
Tidak ada satu pun dosen yang berani menegur sikap Bima yang meletakkan kaki di atas meja.
Mereka semua kembali sibuk menghadap layar komputer masing-masing, berpura-pura tidak terjadi apa-apa untuk menyelamatkan harga diri mereka sendiri.
Ting.
Suara mekanis dari sistem terdengar jernih di dalam kepala Bima.
[Sistem Pekerjaan Impian: Evaluasi Kinerja Akademis]
[Host berhasil mendominasi hierarki pengajar di Fakultas Bisnis melalui debat intelektual sepihak]
[Kemajuan Tugas: Penguasaan Kelas 20%, Penguasaan Reputasi Kampus 30%]
[Hadiah Tambahan: Kefasihan lima bahasa asing bisnis telah ditambahkan ke dalam memori Host]
Bima memejamkan matanya menikmati aliran kosakata bahasa asing yang masuk ke dalam otaknya secara otomatis.
Mandarin, Jepang, Jerman, Arab, dan Prancis kini bisa dia ucapkan selancar bahasa aslinya sendiri.
'Sistem ini sepertinya sangat mengerti kalau aku akan segera membutuhkan bahasa asing untuk ekspansi bisnis hotelku nanti,' batin Bima puas.
Dia melirik jam dinding di ruangan tersebut yang menunjukkan pukul dua siang.
Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kelas sorenya dimulai.
Bima memejamkan matanya berniat tidur siang sejenak di kursi empuknya tanpa mempedulikan tatapan segan dari rekan-rekan dosennya.