NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI TOMBAK PERAK

​Udara di dalam Kuil Cahaya Runtuh tidak lagi sekadar menipis; ruang dan waktu di sekitar altar pualam itu seolah membeku sepenuhnya. Setiap kali ujung sepatu bot perak Valeria menyentuh lantai, kristal es merambat secara radial, mengubah uap air di udara menjadi debu berlian yang tajam.

​Di retina Andre, rentetan peringatan Sistem yang sebelumnya buram kini mulai menemukan fokusnya seiring dengan semakin dekatnya sang National Protection. Angka-angka merah menyala menembus pandangannya, membawa fakta yang melumpuhkan akal sehat.

​[Pembaruan Pemindaian Mutlak!]

[Identitas: Valeria - The Silver Spear (National Protection Peringkat ke-3)]

[Estimasi Level: 184]

[Peringatan: Perbedaan stat menembus batas rasional. Opsi melarikan diri tidak tersedia.]

​Andre mengertakkan gigi, merasakan tekanan gravitasi yang jutaan kali lipat lebih berat daripada saat ia berhadapan dengan Astaroth. Di ranah para penguasa dunia—baik itu sepuluh National Protection, sepuluh Calamity monster, sepuluh Pilar Iblis, maupun sepuluh Seraphim surga—angka peringkat bukanlah sekadar pajangan kompetisi. Perbedaan satu peringkat saja, misalnya antara peringkat kesembilan dan kesepuluh, berarti jurang statistik yang begitu masif hingga sang peringkat kesembilan bisa membunuh peringkat kesepuluh tanpa perlu mengeluarkan senjata utama.

​Astaroth, Sang Pilar Kedelapan yang baru saja mereka bunuh, berada di kisaran level 150-an. Dan kini, wanita yang berdiri di depannya adalah Peringkat ke-3 dari umat manusia. Level 184. Di kehidupan lalunya, sebagai Peringkat Pertama dengan level di atas 200, Andre selalu melihat Valeria sebagai rekan yang setara. Namun dengan tubuhnya saat ini yang baru menyentuh Level 92, perbedaan sembilan puluh level itu bagaikan semut yang mencoba menatap langsung ke arah matahari.

​Di belakang Andre, suara hantaman keras terdengar. Bastian, sang Tanker mutlak yang mampu menahan meteor Raja Iblis, kini berlutut dengan kedua tangan menopang perisainya ke lantai. Darah segar menetes dari hidung Bastian. Zirah legendarisnya berderit pilu, nyaris retak hanya karena berada di dalam radius pasif aura Valeria. Di sebelahnya, Marvin sudah tertelungkup tak sadarkan diri, sistem sarafnya dipaksa mati sementara oleh Sistem untuk melindunginya dari kehancuran otak akibat tekanan mana yang terlalu ekstrem.

​"Level 92," suara Valeria memecah keheningan yang membeku. Matanya yang berwarna perak bersinar di tengah badai salju. Ia memiringkan kepalanya, menatap Andre dengan campuran rasa takjub dan curiga. "Di usia semuda ini, kau telah melampaui batas Fourth Job. Tapi yang lebih tidak masuk akal adalah caramu berdiri tegak di bawah auraku. Hanya sepuluh orang di dunia ini yang bisa menatap mataku tanpa berlutut, dan kau bukan salah satu dari mereka."

​Valeria memutar tombak peraknya dengan anggun. Udara di sekitarnya berdesir, membentuk ribuan tombak es kecil yang melayang di udara, mengarah tepat ke tubuh Andre.

​"Kutanya sekali lagi," ucap Valeria, nadanya berubah menjadi ancaman absolut. "Siapa yang mengajarimu membunuh dengan efisiensi monster seperti itu? Dan mengapa aura yang kau sembunyikan itu... memancarkan resonansi yang sama dengan kawan lamaku yang telah tiada?"

​Andre tidak mencabut Nocturne. Ia tahu persis, dalam baku hantam murni, kecepatan refleks Level 184 akan memenggalnya bahkan sebelum pedangnya keluar dari sarung. Ia hanya memasukkan satu tangan ke dalam saku jubahnya, menatap lurus ke arah badai salju mematikan tersebut.

​"Kawan lama?" Andre tersenyum sinis, sebuah senyuman yang menyembunyikan ribuan lapis kalkulasi pertempuran. "Jika kau menganggapnya kawan, mengapa kau membiarkan wilayahmu ini dipakai sebagai jalur komunikasi antara pengkhianat dan para Seraphim untuk membunuhnya?"

​Pertanyaan itu menghantam Valeria lebih keras daripada sihir fisik mana pun. Mata perak sang Pahlawan Nasional membelalak. Sedetik kemudian, keterkejutannya berganti menjadi kemarahan murni. Badai salju di dalam kuil itu meledak.

​"Jangan berani-berani menyebut kematiannya dengan mulut kotormu!" raung Valeria.

​Sang Tombak Perak menghilang. Ia tidak menggunakan teleportasi bayangan; murni kecepatan fisiknya yang menembus batas kecepatan suara. Dalam seperseribu detik, Valeria sudah berada di udara, tepat di atas Andre, mengayunkan tombak peraknya dalam satu tusukan lurus yang membawa tekanan setara dengan jatuhnya sebuah benua.

​Kematian datang begitu cepat.

​Namun, Andre adalah Kaisar Kilat. Statnya mungkin terbatas, tetapi pemahamannya tentang hukum ruang adalah milik seorang dewa.

​Di saat tombak itu berjarak satu milimeter dari tengkoraknya, stigmata mahkota hitam di dada Andre berdenyut ganas. "Black Lightning: Absolute Evasion."

​Sebuah ledakan petir hitam pekat menyambar tubuh Andre. Ia tidak menghindar secara fisik, melainkan memecah eksistensinya ke dalam partikel petir berbalut bayangan, merembes melewati bilah tombak mematikan tersebut tepat pada titik nol.

​BLAAARRR!

​Tombak Valeria menghantam lantai pualam. Separuh dari dimensi kuil yang melayang itu hancur berkeping-keping dan membeku seketika. Gelombang kejutnya nyaris mementalkan Bastian dan Marvin ke dalam ruang hampa jika Andre tidak muncul tepat waktu di depan mereka, mencabut Nocturne, dan menggunakan efek Devour Light untuk membelah gelombang kejut tersebut.

​Meski berhasil menyelamatkan rekan-rekannya, Andre terdorong mundur hingga sepuluh meter. Tangannya yang memegang Nocturne bergetar hebat. Retakan halus muncul di tulang lengannya. Hanya dari menangkis sisa gelombang kejut seorang Level 184, tubuh Level 92 miliknya sudah menjerit meminta ampun.

​Valeria perlahan bangkit dari kawah es yang ia ciptakan. Matanya kini tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan syok yang melumpuhkan akalnya. Ia menatap sisa-sisa partikel petir hitam yang masih berdesis di sekitar tubuh Andre.

​"Itu... bukan sihir bayangan biasa," bisik Valeria dengan suara gemetar, tombaknya perlahan turun. "Kecepatan itu... transmutasi elemen itu... tidak ada seorang pun yang bisa meniru teknik itu. Tidak ada."

​Andre membuang napas, uap dingin keluar dari mulutnya saat suhu di ruangan itu perlahan kembali normal akibat Valeria yang menarik auranya tanpa sadar. Pemuda berbaju hitam itu menyarungkan kembali Nocturne ke pinggangnya, lalu berdiri tegak, membiarkan auranya sebagai seorang mantan pemimpin umat manusia mengambil alih.

​"Tombakmu masih terlalu condong ke kiri saat kau marah, Val," ucap Andre dengan nada datar yang sangat familier. "Aku sudah mengatakannya padamu sepuluh tahun yang lalu di Kawah Naga, bukan? Jika kau menghadapi Calamity tipe kelincahan, kebiasaanmu itu akan membuat rusuk kananmu hancur."

​Kalimat itu sederhana, tanpa sihir, tanpa tekanan aura. Namun bagi Valeria, kata-kata itu lebih menghancurkan daripada kiamat itu sendiri.

​Tombak perak legendaris yang tidak pernah terlepas dari genggaman sang Pahlawan Nasional itu jatuh berdenting ke lantai es. Valeria menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kaki yang selama sepuluh tahun berdiri tegak menahan invasi malaikat dan monster di Benua Utara itu kini melemas, memaksanya jatuh berlutut di atas reruntuhan kuil pualam.

​Air mata, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh dunia dari seorang Silver Spear, mengalir deras dari mata peraknya.

​"B-bos...?" isak Valeria, panggilannya di masa lalu untuk sang Peringkat Pertama kembali terlontar dari bibirnya yang bergetar. "Benarkah ini... ini benar-benar kau? Tapi bagaimana... aku melihat mereka merobek jantungmu... aku melihat tubuhmu menjadi abu..."

​"Aku kembali dengan wadah yang baru, Val," jawab Andre melembutkan suaranya. Ia berjalan mendekati wanita yang usianya kini jauh lebih tua darinya secara fisik, namun di dalam jiwanya, Andre tetaplah sang komandan yang melindunginya. Pemuda itu meletakkan tangannya di atas kepala Valeria, menepuk rambut perak wanita itu seperti menenangkan seorang adik. "Dan sepertinya, kau telah bekerja sangat keras menjaga wilayah ini selama aku tidak ada. Level 184. Kau sudah sangat kuat."

​Valeria menangis histeris. Selama belasan tahun, ia memikul beban kehilangan sang Kaisar Kilat, pilar utama yang menopang harapan seluruh umat manusia. Ia membantai ribuan malaikat di Benua Utara hanya untuk melampiaskan rasa frustrasinya atas kegagalannya datang tepat waktu di hari penyergapan itu.

​Setelah beberapa menit yang emosional, Valeria perlahan menguasai dirinya. Ia mengusap air matanya dan menatap Andre dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kesetiaan yang kembali menyala-nyala.

​"Aku merasakannya saat membaca laporan anomali di Gurun Kematian," ucap Valeria sambil berdiri, mengambil kembali tombaknya. "Asosiasi mungkin bisa dibohongi dengan cerita tambang kristal, tapi kami, para National Protection, tahu persis bahwa Astaroth baru saja dibunuh. Peringkat 9 dan Peringkat 8 bahkan sudah bersiap terbang ke Sektor Pusat untuk mencari tahu siapa monster baru yang menumbangkan Pilar Iblis itu."

​Andre menyipitkan matanya. Fakta bahwa jatuhnya Astaroth telah memancing perhatian para National Protection lain adalah sesuatu yang sudah ia perhitungkan, namun juga harus dikelola dengan sangat hati-hati.

​"Biarkan mereka mencari. Aku belum siap menunjukkan diriku secara terbuka kepada mereka semua," potong Andre tegas. Ia kemudian menunjuk ke arah sisa-sisa debu emas dari para komandan Dominion yang tadi ia bantai. "Aku datang ke mari bukan untuk reuni, Val. Malaikat rendahan itu mengaku bahwa faksi mereka berkonspirasi dengan manusia menggunakan relik suci di wilayahmu ini. Saat aku disergap sepuluh tahun lalu, mereka tahu persis kelemahanku. Ada pengkhianat di jajaran petinggi kita."

​Wajah Valeria berubah dingin dan kelam. Ia memandang berkeliling ke arah reruntuhan kuil yang melayang. "Aku telah membunuh setiap malaikat yang berani masuk ke Benua Utara, namun aku tidak bisa mengawasi seluruh elit militarku dua puluh empat jam sehari. Jika memang ada komunikasi yang bocor dari wilayahku, itu berarti seseorang dengan otoritas Peringkat 5 ke atas memanipulasi pos perbatasanku."

​Valeria menatap Andre dengan sorot mata penuh amarah yang tertahan. "Kita akan mencabut akar kebusukan ini, Bos. Beri aku nama. Siapa yang paling kau curigai di antara sembilan pahlawan yang tersisa?"

​Andre menatap langit biru artifisial di dalam dimensi Impossible tersebut. Bayangan tentang hari terakhirnya kembali berputar. Saat formasi pertahanannya diretas, hanya ada segelintir orang yang mengetahui algoritma formasi tersebut.

​"Orang yang mewarisi otoritas tertinggiku setelah aku tiada," bisik Andre pelan, membiarkan petir hitam bergemeletuk di ujung jarinya. "Peringkat Pertama yang baru. Kita akan mulai penyelidikan ini dengan menguliti segala hal tentang Sang Hakim Suci."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!