Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.milik saya
Malam harinya, jarum jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Suasana kamar utama mansion Diksara mendadak hangat dan agak menegang.
Naya sedang berdiri di depan cermin raksasa, mengikat rambut panjangnya menjadi model high ponytail yang sporty namun tetap elegan. Ia mengenakan atasan blazer santai berwarna putih dengan dalaman hitam dan celana jins yang pas memeluk kakinya.
Di seberang guling pembatas, Damar duduk di tepi kasur berpura-pura sibuk membaca dokumen kantor di tabletnya. Namun, lirikan matanya berulang kali terlempar ke arah Naya. Setiap kali Naya mengoleskan lipstik atau membetulkan kancing bajunya, jari-jari Damar mendadak mengetat di pinggiran tablet.
"Kamu mau ke mana?" tanya Damar akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang diberatkan seolah tak peduli.
Naya memutar tubuhnya di depan cermin, mengibaskan rambutnya seraya menatap Damar lewat pantulan kaca. "Mau keluar sebentar, Mas Kulkas. Cari udara segar sambil beli cemilan."
Damar langsung mematikan layar tabletnya dengan suara klik yang cukup keras. Ia berdiri tegak, membetulkan kemeja hitamnya yang santai. "Saya tidak izinkan."
Naya berbalik badan, menatap suaminya dengan alis terangkat dan cengiran jenaka. "Aduh, Mas Damar... Saya cuma mau beli es krim dan martabak manis di depan kompleks loh. Bukannya mau nemuin si Bagas di kafe. Katanya tadi Mas mengamankan 'aset investasi', masa asetnya mau beli martabak aja dilarang?"
Telinga Damar mendadak memerah. Pria itu berdeham kaku, memalingkan wajahnya sebentar demi menutupi rasa salah tingkah karena tebakannya meleset.
"Saya... tidak bilang dilarang," elak Damar kaku. "Saya cuma bilang tidak boleh pergi sendiri. Banyak angin malam, dan keselamatan kamu tanggung jawab saya."
"Terus?" goda Naya seraya memajukan wajahnya satu langkah.
Damar merapikan lengan kemejanya dengan gerakan lambat yang sangat dibuat-buat demi mempertahankan sisa-sisa gengsinya. "Saya yang antar. Anggap saja ini tugas pengawalan dari suami sah."
Naya hampir menumpahkan tawa renyahnya. Pengawalan dari suami sah jarnya! Bilang aja cemburu dan takut gue beneran nekat ketemu mantan! batin Naya bersorak puas.
Sepuluh menit kemudian, mobil sport hitam Damar meluncur membelah jalanan malam. Namun, bukannya menuju ke kedai martabak di depan kompleks, Naya justru menunjuk ke arah jalan utama kota yang agak ramai.
"Mas, belok kanan deh. Ada kafe baru yang hits banget, katanya es krim dan kue di sana enak-enak," ujar Naya polos.
Damar tidak banyak protes dan menuruti petunjuk arah dari istrinya. Namun, begitu mobil mereka berhenti di depan area parkir kafe bernuansa kaca tersebut, garis rahang Damar mendadak mengetat keras.
Di balik dinding kaca kafe, duduk seorang pria muda berjaket kulit yang tampak gelisah sambil berulang kali melihat jam tangannya. Di atas mejanya terhidang dua cangkir kopi yang sudah dingin.
Itu Bagas.
Damar langsung menoleh pada Naya dengan tatapan mata yang dingin menusuk dan sarat akan kekecewaan. "Kamu membohongi saya, Naya? Kamu tetap nekat menemui dia?"
Naya yang melihat perubahan raut wajah Damar tidak panik sedikit pun. Ia justru tersenyum tenang, menatap Damar lurus-lurus.
"Mas Kulkas, dengerin dulu," ujar Naya santai. "Saya enggak membohongi Mas. Saya tahu Bagas nunggu di sini karena dia ngirim alamat kafe ini di surat tadi. Saya ajak Mas ke sini bukan buat balikan sama dia, tapi buat ngasih pelajaran biar parasit satu ini enggak berani ngusik hidup saya dan rumah tangga kita lagi!"
Damar tertegun. Kata "rumah tangga kita" yang diucapkan Naya dengan sangat lancar mendadak menyenggol sudut terlembut di dalam dadanya. Kilatan marah di matanya perlahan luluh, berganti menjadi tatapan protektif yang sangat dalam.
"Kamu tidak perlu mengotori tangan kamu untuk melayani pria seperti dia," desis Damar pelan namun tegas.
"Tenang aja, Mas. Biar saya yang selesaikan," jawab Naya penuh percaya diri. "Tapi Mas harus ikut di belakang saya ya. Biar si Bagas tau bedanya kualitas CEO Diksara Group sama kualitas parasit kurang gizi!"
Sebelum Damar sempat menjawab, Naya sudah melangkah keluar dari mobil. Damar mengembuskan napas panjang, lalu turun dari mobil dan mengekor di belakang istrinya dengan langkah tegap, siap menjadi benteng pelindung jika terjadi apa-apa.
Naya mendorong pintu kaca kafe. Suara denting bel menyambut kedatangannya. Bagas yang sedang duduk langsung berdiri dengan wajah berbinar-binar gembira saat melihat Naya berjalan mendekat.
"Naya! Aku tahu kamu pasti datang!" seru Bagas sok mesra, hendak meraih tangan Naya. "Kamu pasti rindu kan sama aku? Kamu pasti menderita tinggal sama CEO dingin itu—"
TAK!
Naya menepis tangan Bagas dengan sangat kasar dan tanpa rasa segan. Wajah ramah Naya mendadak berubah menjadi dingin dan penuh penghinaan.
"Jaga jarak ya, Mas Bagas yang terhormat!" gertak Naya dengan suara lantang hingga beberapa pengunjung kafe menoleh. "Jangan sembarangan pegang-pegang tangan istri orang!"
Bagas melongo kaget. "N-Nay? Kamu kok bicara begitu? Dulu kamu—"
"Dulu saya bodoh dan gampang dibohongin sama cowok parasit kayak kamu!" potong Naya tajam tanpa memberi celah. "Dulu waktu saya susah dan enggak punya siapa-siapa, kamu buang saya kayak sampah! Sekarang pas tahu saya tinggal di mansion mewah dan jadi istri Damar Diksara, kamu mendadak datang sok gila ngajak balikan?!"
Muka Bagas mendadak merah padam menanggung malu karena ucapan Naya terdengar jelas oleh orang-orang di sekitar mereka. "Naya! Kamu jangan ngomong sembarangan ya! Aku ini tulus mau nyelamatin kamu dari pernikahan kontrak itu!"
Tepat saat Bagas menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan tinggi menjulang melangkah maju dari balik punggung Naya.
Damar berdiri tepat di samping Naya. Tubuhnya yang tegap, setelan kemeja mewahnya, dan aura intimidasi yang sangat kuat langsung memancar memenuhi ruangan. Damar merangkul pinggang Naya secara posesif, menatap Bagas dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat merendahkan.
"Menyelamatkan istri saya?" bisik Damar dengan suara beratnya yang sangat dingin dan mematikan. "Memangnya pria kelas teri seperti kamu punya kemampuan apa untuk menyentuh milik Damar Diksara?"
Bagas membeku di tempat. Wajahnya mendadak pucat pasi bagai mayat saat berhadapan langsung dengan CEO yang namanya sangat disegani di seluruh pelosok kota ini. Tekanan aura Damar membuat lutut Bagas terasa lemas seketika.
"P-Pak... Pak Damar..." gagap Bagas ketakutan, melangkah mundur satu tapak.
"Dengar baik-baik," lanjut Damar, makin mempererat pelukannya di pinggang Naya hingga tubuh cewek itu menempel hangat di sisinya. "Sekali lagi kamu mengganggu istri saya, mengirimkan sampah ke rumah saya, atau menampakkan wajah kamu di depan Naya... saya pastikan seluruh bisnis kecil kamu hancur dalam waktu dua puluh empat jam. Paham?"
Bagas menelan ludah dengan susah payah, tidak berani menjawab sepatah kata pun. Ia hanya bisa mengangguk-angguk pasrah dengan wajah yang penuh rasa malu dan ketakutan.
Naya menepuk-nepuk dada tegap Damar pelan sambil tersenyum savage ke arah Bagas. "Tuh, dengerin kata suami sah saya! Dahhh Mas Bagas, selamat menikmati kopi dinginnya ya!"
Dengan gaya sangat anggun dan penuh kemenangan, Naya memutar tubuhnya dan melangkah keluar kafe bersama Damar yang tetap merangkul pinggangnya dengan sangat posesif.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Naya tidak bisa menahan tawa gigihnya. Ia menatap Damar yang sedang menyetir dengan wajah yang kembali disetrum sok datar dan kaku.
"Wah, Mas Kulkas... Akting Mas tadi keren banget loh! 'Milik Damar Diksara', aduhhh seksi banget kalimatnya!" goda Naya seraya mencolek lengan Damar.
Damar berdeham keras, memalingkan wajahnya ke luar jendela untuk menutupi rasa hangat di pipi dan telinganya yang kembali memerah terang gara-gara gengsinya terancam runtuh.
"Itu bukan akting," desis Damar ketus dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar. "Saya cuma menegaskan kepemilikan aset."
Naya tertawa terpingkal-pingkal. "Iya deh, iya! Aset dua miliar yang paling berharga kan, Mas?"
_Bersambung