"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN: Mahkota Ilusi (Bagian 1)
“Silakan dibuka halaman sembilan! Di situ sudah dijelaskan secara rinci mengenai target pelaksanaan proyek kita. Ada batas waktu...” presentasiku terhenti ketika kudapati saku celanaku bergetar. Seingatku aku sudah pamit pada Ara jika akan ada meeting pagi ini. Kutatap layar sentuh teleponku. Nomor asing.
“Silakan dicermati dulu dan apabila ada yang sekiranya mengganjal di pikiran teman-teman terkait dengan penjelasan sederhana saya mengenai target proyek, I’m open to any questions or suggestions. Excuse me!” dengan segera aku keluar ruangan dan mengangkat telepon yang masih bergetar itu.
“Halo!”
“Ah, halo! Izang, ini Vanya,” suara di seberang menyambutku. Ian mengikutiku dari kaca ruang meeting dengan pandangan ingin tahu.
“Oh, ada apa?” aku menyandarkan punggungku di dinding. Mengamati peserta meetingku yang sepertinya mulai melemparkan pertanyaan pada Ian.
“Bisa tolong jemput aku nggak? Ban mobilku bocor dan aku harus ke kantor secepatnya buat ketemu kak Vanno,” ada suara bising di sela-sela suara Vanya. Sepertinya dia meneleponku di pinggir jalan raya.
“Wah, aku lagi mimpin meeting proyek nih sekarang.”
“Mm...si Ian?” tanyanya lagi.
“Si Ian juga lagi sama aku, dia asistenku di proyek ini,” tuturku sambil mengerling ke arah orang yang dimaksud Vanya.
“Aduh! Nggak bisa ditinggal bentar? Bengkelnya nggak jauh dari kantor kok. Di deket The Stone,” ujar Vanya nyaris tak terdengar karena suaranya tenggelam oleh suara klakson-klakson kendaraan.
“Hm...hold on a second!” aku memasuki ruangan meeting dengan tergesa. Kubalikkan kursi Ian ke arahku. Dia mengedipkan matanya beberapa kali.
“Ian, bisa tolong gantiin aku untuk presentasi? Aku harus cabut bentar.”
“Lah? Mau kemana?” Ian terlihat terkejut. Wajar sih, karena meninggalkan meeting memang bukan kebiasaanku.
“Mau jemput Vanya, dia lagi di bengkel,” aku menuliskan beberapa catatan tambahan di kertasku sebelum menyorongkannya pada Ian.
“Seriusan? Dia nggak bisa nunggu aja apa? Atau naik taksi gitu?” usul Ian masuk akal. Tapi entah kenapa aku enggan mengiyakannya.
“Cuma bentar kok. Bengkelnya deket sini juga,” tuturku santai. Ian menatapku lekat-lekat. Menghela napas dalam-dalam sembari menyahut sorongan kertas presentasiku.
“Well, sure! Toh, emang tinggal penutup sama sesi diskusi saja. Mau jemput pakai mobil kantor?” jawabnya. Aku mengangguk sembari menepuk punggung kembaranku itu dan keluar ruangan dengan setengah berlari. Beberapa orang yang bersisipan denganku sampai memilih minggir karena melihatku sedikit terburu-buru.
“Vanya?” panggilku di telepon.
“Yes, gimana?”
“On my way, Princess!”
...***...
“Seriusan pacarmu nggak pernah ke sini?” gadis berkucir kuda di sampingku tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Nope,” aku menggeleng.
“Nah, kenapa? Kan kamu bisa aja bayarin dia buat ke main ke Bandung,” celoteh Vanya. Bukan kebetulan aku bertemu dengan gadis berlesung pipit ini. Dia yang merencanakan untuk pergi bersamaku dan Ian dengan dalih ingin membalas budi atas bantuan yang kami berikan padanya selama melakukan penelitian di kantor. Awalnya aku menolak. Tapi dia terus merengek di telepon agar aku bersedia ikut. Daripada dia menerorku dengan suara manjanya itu, akhirnya kuiyakan saja permohonannya. Aku pun setuju untuk menemuinya di TSM dan agak kecewa karena Ian tidak bisa datang. Vanya mengatakan jika Ian mendadak sakit perut sebelum berangkat. Aku mendengus, bocah itu pasti makan sembarangan. Meskipun enggan, aku tak enak hati membatalkan jalan-jalan ini apalagi Vanya terlihat all out dalam berdandan. Tak dipungkiri, semua barang yang menempel di tubuhnya adalah barang brand internasional. Bukan sosialita saja yang bisa baca merek, oke? Aku juga bisa kalau itu sekadar Gucci, Dolce & Gabbana, Louis Vuitton, atau Prada. Terima kasih untuk Ian yang selalu membelikan isi lemariku dengan hal-hal seperti miliknya. Setidaknya aku jadi tidak terlihat bodoh-bodoh amat soal brand luar negeri.
“Aku yang nggak enak kalau ganggu jadwal kuliahnya dia. Jadi, mending aku aja yang ke Malang.”
“Ya ampun, masa weekend dia ada kuliah sih? Sekali-kali dia yang ke sini barang dua-tiga hari kan nggak apa-apa,” memang akan menyenangkan sih jika Ara di sini. Tapi, dengan ketidakpastian proyekku yang biasanya menyita libur saat weekend? Hm, sebaiknya tidak deh.
“Nggak, ah. Nanti aku bingung mau nidurin dia dimana,” aku ngeles sambil melipat lengan jaket jeansku. Kudengar Vanya tertawa terbahak-bahak.
“Seriously? Zang, don’t act like a holy guy! Dia tidur di apartemenmulah.”
“Kamu tau dari mana aku ada apartemen?” aku berpura-pura terkejut.
“Siapa lagi kalau bukan Ian,” Vanya tersenyum malu-malu. Mungkin menyadari jika ternyata kekepoannya tentangku difasilitasi dengan baik oleh Ian.
“I see,” jawabku singkat melihat tingkah Vanya yang seperti maling tertangkap basah.
“Lagian cewek macam apa yang nggak pernah nengokin cowoknya? Jatim-Jabar bisa kali naik pesawat. Nggak sampe dua jam juga udah nyampe,” lagi-lagi Vanya dengan sinis mengungkit soal Ara.
“Cewek yang bukan anak dirutlah, Vanya,” jawabku sekenanya. Toh, itu benar.
“Sial!” gadis berkulit putih itu meninju lenganku pelan. Aku baru akan melontarkan pertanyaan untuknya ketika kudengar suara Katy Perry mengalun dari dalam tasnya. Vanya lantas mengubek-ubek isinya sebelum memberi tanda menunggu untukku.
“Halo, Pa!” sapanya ceria.
“Oh, aku lagi di BSM ini,” aku memandangnya sekilas sambil tetap berjalan pelan di sisinya.
“Nggak, nggak sendiri. Sama Izang kok.”
“Okay. Bye, Pa!” Vanya menutup panggilan itu dengan cepat.
“Papamu?” tanyaku retoris.
“Yep. Semacam kena sindrom ‘takut anak perempuannya jalan sendirian’ gitu. Padahal nggak mungkin banget aku sendirian ke BSM. Bisa ilanglah yang jelas,” jawaban itu terdengar berlebihan di telingaku.
“Lebay, deh! Kayak di Singapura nggak pernah belanja sendiri aja.”
“Bedalah, Chan! Di sana mah jarang banget ada kriminal, nggak kayak di sini,” aku menghentikan langkahku dengan tiba-tiba. Gerakanku itu membuat Vanya menoleh dan melihatku dengan kebingungan.
“Could you please stop call me with that name?” aku tak mempermasalahkan keingintahuan Vanya yang besar terhadapku. Tapi aku tak bisa menoleransi kejadian barusan.
“Kenapa emang? Bukannya itu nama panggilanmu juga?” tanyanya polos.
“Yes, it is. But I told you that’s a babe’s name stuff. Cuma Ara yang boleh manggil aku dengan panggilan itu,” tegasku lagi.
“Oh, come on!” Vanya memutar bola matanya.
“I’m fucking serious,” rahangku mengeras usai mengatakannya.
“Alright, sorry. Aku nggak ngerti kalau kamu akan segini keselnya cuma karena nama panggilan.”
“It’s fine. But don’t do it again!” tegasku.
“Promise!” Vanya dengan seenaknya mengaitkan kelingkingnya di jariku. Aku terlambat mengelak. Setidaknya itu caraku untuk menerima permintaan maafnya.
“Eh, mau beli es krim nggak? Mumpung antreannya dikit,” Vanya menunjuk booth es krim mahal yang hanya dikerubuti beberapa pelanggan. Aku berdeham sebentar.
“Boleh. Kutunggu di sini ya?” dengan segera gadis itu berlari kecil ke arah booth. Membuat kucir kudanya berayun ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakannya. Vanya baru sampai di antrean nomer lima ketika perhatianku teralihkan oleh lagu Blink 182 yang mengalun sedang di kantongku. Ah, si bengal!
“Yo, bro. Kamu di mana?” seperti biasanya, Ian selalu mendahuluiku bicara.
“Pakai nanya lagi, aku di TSM nih! Kamu kenapa pakai acara sakit segala sih? Udah baikan belum? Udah ke dokter?” aku memberondong kembaranku itu persis seperti senapan.
“What? Kamu ngomongin apaan, Zang? Kok aku bingung,” keningku terlipat. Kulihat layar teleponku untuk memastikan nama peneleponku. Dan aku memang tidak salah orang.
“Lho? Bukannya kamu lagi sakit di rumah?”
“Ha? Kata siapa? Nggak tuh, aku sehat-sehat aja. Ini aku nelpon kamu karena mau ngajakin jalan ke Ciwalk. Eh kamu malah udah di TSM aja. Sama siapa?” seperti tersambar petir, aku tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat.
“Oh, ngg...sendiri aja kok.”
“Mau kusamperin?” Ian menawarkan.
“Nggak usah, nggak usah. Nanti malam aja kita ke Ciwalknya, gimana?” buru-buru aku mengingatkan Ian ke tujuan awalnya.
“Boleh aja sih, kalau kamu nggak capek.”
“Nggaklah, abis ini juga pulang kok,” tuturku sambil melirik jam tanganku.
“Ya udah deh, kabarin aja nanti,” tutur Ian setuju.
“Oke, see you later!” aku mengakhiri panggilan itu dengan menatap kejauhan. Kulihat Vanya sudah mendapat pesanannya dan tengah berjalan ke arahku dengan membawa dua es krim ukuran jumbo di masing-masing tangannya. Kuamati wajah gadis itu lamat-lamat.
Did she just fucking lie to me?
...***...