Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Badai Konspirasi dan Janji Suci di Atas Patah Hati
Fajar menyingsing lemah di atas langit Jakarta, membawa warna keemasan yang remang menembus tirai jendela kamar rumah sakit. Suasana ruangan yang semula hening pasca-shalat subuh berjamaah mendadak goyah. Naya, yang masih mengenakan mukena putih bersih, duduk bertafakur di atas sajadah. Tangannya masih gemetaran memegang jemari Gavin. Rasa hangat dari telapak tangan suaminya adalah satu-satunya benteng yang menahannya agar tidak runtuh di tengah badai keputusasaan.
Namun, kedamaian sejenak itu buyar ketika dering ponsel Gavin berbunyi keras, menggetarkan meja kaca di samping pembaringan.
Gavin meraih ponselnya dengan alis bertaut rapat. Nama Evan, asisten pribadinya, tertera di layar. Dengan cepat Gavin menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Bicara, Evan," perintah Gavin pendek, suaranya kembali dingin dan terukur.
"Tuan Gavin..." suara Evan di seberang telepon terdengar sangat cemas dan terengah-engah. "Anda harus melihat berita pagi ini. Nyonya Besar Eleanor telah menggelar konferensi pers darurat bersama seluruh jajaran dewan komisaris Ardiansyah Group di Gedung Utama."
Gavin mendengus kasar. "Apa yang dilakukan Ibu?"
"Nyonya Eleanor secara resmi membekukan seluruh akses eksekutif Anda atas Ardiansyah Group. Beliau mengumumkan bahwa Anda mengundurkan diri karena alasan pribadi. Tapi bukan itu yang terparah, Tuan..." Evan menghentikan kalimatnya sejenak, ragu untuk melanjutkan. "Nyonya Besar menyebarkan salinan dokumen masa lalu Nyonya Naya ke media nasional. Kasus penggelapan dana ayah Naya sepuluh tahun lalu, pemalsuan identitas, hingga tuduhan bahwa Nyonya Naya adalah spionase bisnis yang dikirim Rian untuk merusak keluarga Ardiansyah... semuanya menjadi berita utama nomor satu pagi ini."
Cengkeraman tangan Gavin pada ponselnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat memancarkan kemarahan gila yang amat dahsyat. "Ibu benar-benar sudah melampaui batas..."
Naya yang mendengarkan percakapan itu—walau hanya dari sayup-sayup suara Evan—merasakan seluruh darahnya tersedot habis dari wajahnya. Pucat pasi, ia mencengkeram dada mukenanya. Dunia yang baru saja ia rasakan hangat kini mendadak runtuh kembali. Publik kini tahu. Seluruh Indonesia kini membaca identitas aslinya: Anindya Naya, anak seorang penjahat, wanita yang hidup di atas tumpukan kebohongan.
"Gavin..." bisik Naya, air mata hangat merembes cepat membasahi pipinya. "Media... masyarakat... keluarga besarmu... mereka semua..."
Gavin langsung mematikan sambungan telepon dan melempar ponselnya ke sembarang tempat. Pria itu berlutut di hadapan Naya, menangkup kedua pipi istrinya dengan amat lembut, mengabaikan luka lebam di jemarinya sendiri.
"Dengarkan aku, Naya. Tatap mataku!" tekan Gavin penuh penekanan, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus kepedihan. "Jangan dengarkan kata orang luar. Jangan baca berita itu. Aku tidak peduli dengan Ardiansyah Group! Aku tidak peduli dengan opini publik! Biarkan mereka menghujat, biarkan seluruh dunia membelakangi kita. Kamu hanya perlu menatapku, Naya. Hanya aku."
"Tapi namamu hancur karena aku, Gavin!" tangis Naya pecah, melengking pilu memenuhi sudut ruangan. "Pengorbananmu terlalu besar! Kamu kehilangan posisi pimpinan, kamu dimusuhi ibumu sendiri, kamu dihina oleh relasi bisnismu... hanya demi membela wanita penipu seperti aku! Aku ini pembawa sial dalam hidupmu!"
"Tutup mulutmu, Anindya Naya!" Gavin memotong tegas, matanya mengkilat oleh air mata yang tak sanggup ia tahan lagi. Rasa cintanya yang berbalut obsesi suci mendidih di dalam dada. "Kamu bukan pembawa sial! Kamu adalah doa yang dijawab Tuhan! Kamu pikir aku mencintaimu karena namamu? Karena latar belakang keluargamu?! Tidak, Naya! Aku mencintaimu sejak detik pertama aku melihat matamu yang penuh ketakutan tiga tahun lalu. Aku tahu kamu menyimpan rahasia, aku tahu ada luka yang kamu sembunyikan, tapi aku memilih untuk menutup mataku karena aku hanya menginginkan jiwamu!"
Gavin merengkuh Naya ke dalam pelukan erat, menenggelamkan wajah istrinya di dada bidangnya yang basah oleh air mata. Naya terisak-isak di sana, merasakan detak jantung Gavin yang berdegup kencang bagaikan genderang perang.
Di tengah keharuan yang menyayat hati itu, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini bukan dengan dorongan kasar, melainkan perlahan. Evan masuk dengan wajah tegang, membawa dua set pakaian sipil dan dokumen-dokumen penting.
"Tuan Gavin, wartawan sudah mengepung lobby utama rumah sakit. Beberapa awak media bahkan mencoba menyusup lewat tangga darurat," ujar Evan seraya menyerahkan kunci mobil pribadi yang tidak terdaftar atas nama Ardiansyah Group. "Saya sudah menyiagakan mobil cadangan di pintu keluar basement khusus medis. Kita harus evakuasi Nyonya Naya sekarang sebelum situasi semakin tidak terkendali."
Gavin mengangguk pelan. "Bagus, Evan. Terima kasih."
Dengan sigap, Gavin membimbing Naya mengganti pakaian perawatannya dengan gamis hitam bersahaja dan hijab lebar yang menutup rapi bagian lehernya yang berperban. Gavin mengenakan jaket kasual gelap, membuang semua atribut kemewahan yang biasa melekat pada dirinya sebagai presiden direktur Ardiansyah Group. Pagi itu, ia bukan lagi seorang konglomerat terpandang; ia hanyalah seorang suami yang siap membawa istrinya lari ke ujung dunia.
Mereka menyusuri lorong-lorong rahasia rumah sakit dalam diam. Naya menggenggam erat jemari Gavin, menyembunyikan wajahnya di balik bahu kokoh suaminya. Setiap kali langkah kaki petugas atau suara bising terdengar dari kejauhan, tubuh Naya gemetar hebat—trauma masa lalu saat ayahnya diseret polisi kembali membayangi pikirannya. Namun, remasan hangat jemari Gavin selalu berhasil menariknya kembali ke alam sadar.
Mereka berhasil mencapai basement dan masuk ke dalam sebuah SUV hitam yang tak mencolok. Evan mengemudikan mobil meluncur mulus meninggalkan rumah sakit melalui jalur evakuasi belakang, melewati kerumunan wartawan yang berkumpul di pintu depan tanpa disadari oleh seorang pun.
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan semalam. Di jok belakang, Naya menyandarkan kepala di dada Gavin. Gavin merangkul bahunya rapat-rapat, sesekali mengecup puncak hijab Naya dengan ketulusan yang mengalirkan rasa hangat ke dalam relung jiwanya yang dahaga.
"Kita mau ke mana, Gavin?" bisik Naya lirih, menatap jalanan di luar kaca jendela yang buram oleh embun pagi.
"Ke tempat di mana tidak ada Ardiansyah Group, tidak ada media, dan tidak ada ancaman," jawab Gavin lembut, mengusap punggung tangan Naya. "Sebuah rumah kecil di pinggiran Bogor. Rumah itu atas namaku pribadi, dibeli dari hasil usahaku sendiri sebelum aku memegang perusahaan keluarga. Di sana kita akan memulai segalanya dari nol, Naya."
Air mata Naya kembali menetes, namun kali ini bukan air mata ketakutan, melainkan air mata keharuan dan penyesalan yang manis. Ia mengubur wajahnya di leher Gavin. "Maafkan aku... membuatmu harus hidup sederhana dan meninggalkan kemewahanmu..."
"Kemewahanku yang sesungguhnya adalah ketika aku bisa mendengar helaan napasmu di sampingku saat bangun tidur, Naya," bisik Gavin pasrah, menyatukan kening mereka. "Harta dan jabatan bisa dicari, tapi jika aku kehilanganmu... jiwa dan imanku akan mati."
Perjalanan selama dua jam mengantarkan mereka ke sebuah rumah berarsitektur kayu yang asri, dikelilingi oleh pepohonan hijau dan udara pegunungan yang sejuk di kawasan kaki Gunung Salak. Suasana di tempat itu begitu tenang, amat kontras dengan hiruk-pikuk dan intimidasi yang baru saja mereka tinggalkan di Jakarta.
Namun, ketenangan itu hanyalah ketenangan di permukaan.
Sementara Gavin sedang mengurus kepindahan barang-barang darurat di halaman depan bersama Evan, Naya berjalan masuk ke dalam kamar utama rumah kayu tersebut. Di atas meja nakas tua, sebuah amplop cokelat tanpa nama tergeletak rapi.
Naya mengerutkan keningnya. Siapa yang meletakkan amplop ini di rumah rahasia Gavin?
Dengan jemari gemetar, Naya membuka perekat amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto tua yang tampak menguning, salinan dokumen audit keuangan Ardiansyah Group dari sepuluh tahun lalu, serta sebuah surat bertuliskan tangan dengan tinta hitam yang tegas.
Naya membuka surat itu dan membaca baris demi baris. Semakin bawah ia membaca, semakin henti jantungnya berdetak.
Untuk Anindya Naya,
Kamu berpikir bahwa Rian adalah satu-satunya iblis dalam hidupmu? Kamu salah besar, Naya.
Tahukah kamu siapa yang sebenarnya menjebak ayahmu dalam kasus penggelapan dana sepuluh tahun lalu? Tahukah kamu siapa yang memalsukan tanda tangan ayahmu hingga beliau membusuk dan meninggal di dalam penjara?
Bukan orang lain, melainkan mendiang ayah Gavin—Baskoro Ardiansyah—dengan bantuan penuh dari Eleanor! Mereka mengorbankan ayahmu sebagai kambing hitam untuk menutupi kebangkrutan lini bisnis Ardiansyah Group saat itu.
Gavin tahu rahasia ini. Dia tahu sejak awal bahwa kamu adalah putri dari pria yang dihancurkan oleh keluarganya sendiri. Pernikahan ini bukan sekadar cinta... ini adalah bentuk rasa bersalah dan obsesi gila Gavin untuk menebus dosa keluarganya padamu!
Tanyakan padanya tentang berkas audit tahun 2016. Jika dia mencintaimu, minta dia membuka brankas pribadinya.
— S.
Foto-foto yang terselip di dalam amplop menampilkan gambar ayah kandung Naya yang sedang menandatangani berkas di bawah tekanan Baskoro Ardiansyah muda, serta dokumen transfer dana ilegal yang jelas-jelas mengalir ke rekening pribadi keluarga Ardiansyah.
BRUKK!
Lutut Naya lemas seketika. Surat dan foto-foto itu terlepas dari genggamannya, berhamburan di atas lantai kayu. Dunia Naya serasa berputar dahsyat. Dada Naya terasa amat dihantam oleh kenyataan yang puluhan kali lebih kejam daripada tuduhan Eleanor di rumah sakit tadi.
Bukan sekadar kebohongan identitas... tapi pernikahan ini berdiri di atas darah dan penderitaan ayah kandungnya sendiri.
Gavin... tahu? Gavin menikahiku karena rasa bersalah keluarganya?
Pikiran Naya melayang pada kenangan tiga tahun lalu, saat Gavin pertama kali mendatanginya dengan pandangan mata yang begitu intens, seolah-olah pria itu sudah mengenalnya sejak lama. Pria itu selalu melindunginya, selalu memanjakannya, selalu menatapnya dengan pandangan sarat obsesi dan rasa sakit yang mendalam. Selama ini, Naya mengira itu adalah cinta murni pada pandangan pertama... namun apakah itu semua hanyalah penebusan dosa?
"Naya?"
Suara Gavin terdengar dari ambang pintu kamar. Pria itu melangkah masuk dengan senyuman hangat di wajahnya, membawa segelas air hangat untuk istrinya. Namun senyuman itu seketika pudar saat mata tajam Gavin menangkap lembaran kertas dan foto-foto yang berserakan di lantai, serta wajah Naya yang sudah bersimbuh air mata dengan tatapan kosong yang amat mengerikan.
Gelas di tangan Gavin terlepas, pecah berkeping-keping di atas lantai.
"Naya... dari mana kamu mendapatkan berkas itu?!" suara Gavin bergetar hebat, kepanikan murni meledak di matanya. Pria itu maju selangkah, hendak meraih tangan Naya.
"JANGAN MENDEKAT!" jerit Naya histeris, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu. Air matanya mengalir bagaikan air bah, menyapu seluruh kedamaian yang baru saja bersemi. "Jangan sentuh aku, Gavin! Demi Allah... jangan sentuh aku!"
Gavin membeku di tempatnya, matanya merah padam oleh kepedihan yang tak tertahankan. "Naya, dengarkan aku dulu... tolong, biarkan aku menjelaskan..."
"Apakah ini benar?!" seru Naya dengan suara melengking, menunjuk foto-foto di lantai dengan jari bergetar hebat. "Apakah ayahmu yang menjebak ayahku hingga almarhum meninggal di penjara dalam kehinaan?! Dan apakah kamu... apakah kamu menikahiku hanya karena rasa bersalah atas dosa keluargamu?!"
Gavin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya yang tegar tampak berguncang. Tidak ada bantahan yang keluar dari bibirnya. Keheningan Gavin adalah jawaban paling mematikan yang meremukkan seluruh jiwa dan raga Naya.
"Ya Tuhan..." tangis Naya pecah, wanita itu bersimpuh di lantai, memeluk lututnya dengan tubuh yang berguncang hebat. "Pernikahan apa ini...? Cinta apa ini?! Aku belajar mencintai agamamu, aku belajar menjadi istri yang taat, aku mengubur seluruh penyesalanku... tapi ternyata aku menikah dengan anak dari pria yang menghancurkan hidup ayahku?!"
"TIDAK, NAYA! TIDAK SEPERTI ITU!" Gavin berteriak, merobohkan tubuhnya berlutut di atas pecahan kaca gelas yang tajam, tak peduli pada telapak kakinya yang tertusuk dan mengeluarkan darah segar. Gavin merangkak mendekati Naya, mencengkeram kedua lengan Naya dengan keputusasaan yang gila.
"Persetan dengan dosa ayahku! Persetan dengan rasa bersalah itu!" raung Gavin, air matanya menetes deras membasahi wajah istrinya. "Awalnya... ya, awalnya aku mencarimu karena aku ingin bertanggung jawab atas kejahatan almarhum ayahku! Tapi begitu aku melihatmu... begitu aku mengenal hatimu yang lembut... aku jatuh cinta setengah mati padamu, Naya! Rasa bersalah itu berubah menjadi obsesi gila! Aku mencintaimu bukan karena kasihan, tapi karena kamu adalah jiwaku!"
"Tapi kamu membohongiku!" jerit Naya tepat di depan wajah Gavin. "Selama tiga tahun kita menikah, kamu membiarkan aku merasa bersalah karena kebohonganku, sementara kamu menyimpan rahasia berdarah ini dariku! Kamu membuatku merasa kotor di sampingmu, padahal keluargamu yang meminum darah ayahku!"
Naya memukul-mukul dada bidang Gavin dengan sisa kekuatannya, menumpahkan seluruh air mata pernikahan, kekecewaan, dan patah hati yang teramat dahsyat. Gavin tidak melawan sedikit pun. Ia membiarkan Naya memukulinya, membiarkan istrinya meluapkan seluruh emosi dan rasa sakit yang menghancurkan dada mereka berdua.
"Bunuh aku, Naya... Jika ini bisa mengurangi rasa sakitmu, bunuh aku sekarang juga..." bisik Gavin parau, menyodorkan pisau kecil yang selalu ia bawa di saku jaketnya ke tangan Naya. "Tapi jangan pernah minta aku untuk melepaskanmu... Karena aku lebih baik mati daripada harus hidup tanpa dirimu."
Naya menatap pisau di tangannya, lalu menatap mata Gavin yang dipenuhi oleh kegilaan cinta, rasa sakit, dan kepasrahan total. Tangan Naya gemetar hebat. Pisau itu terjatuh ke lantai kayu dengan denting yang nyaring.
Naya menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis terisak-isak di atas sajadah yang sempat ia bawa dari rumah sakit. Di tengah badai patah hati yang paling kelam dalam hidupnya, Naya menyadari satu hal: ia sudah terlalu dalam mencintai Gavin, namun dinding darah di antara keluarga mereka terasa terlalu tinggi untuk dilompati.
Di luar rumah kayu, di balik semak-semak hutan yang rimbun, sebuah lensa kamera jarak jauh memantau percekcokan dramatis di dalam kamar tersebut. Sosok misterius berjaket hitam tersenyum dingin seraya mengirimkan rekaman video dan foto-foto percekcokan itu ke sebuah nomor rahasia.
Di sebuah ruang sidang pribadi di Jakarta, Eleanor Ardiansyah menerima pesan tersebut. Wanita anggun itu tersenyum puas saat melihat keretakan total di antara putra kesayangannya dan Naya.
"Permainan baru saja dimulai, Naya," gumam Eleanor dingin seraya menyesap teh hangatnya. "Kamu tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarga Ardiansyah. Jika Gavin tidak mau meninggalkanmu, maka kebenaran tentang kematian ayahmu yang akan menghancurkanmu dari dalam."
Sanggupkah ikatan cinta dan keimanan Naya bertahan tatkala fakta kelam masa lalu menghantam fondasi rumah tangganya hingga berkeping-keping? Dan akankah Gavin mampu membuktikan bahwa cintanya murni di atas obsesi dan dosa masa lalu keluarganya, ataukah ini adalah awal dari perpisahan paling berdarah dalam hidup mereka?
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘