Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Tiga hari berada di vila membuat suasana di antara Gavin dan Dara berubah sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi kecanggungan yang terlalu kaku seperti saat pertama menikah. Mereka mulai terbiasa mengobrol, berjalan berdampingan, bahkan sesekali saling menggoda dengan hal-hal sederhana. Meski begitu, setiap kali tanpa sengaja bersentuhan, keduanya tetap sama-sama gugup.
Namun, ada satu hal yang terus memenuhi pikiran Gavin sejak percakapannya dengan Sherly pagi tadi.
"Buat Dara jatuh cinta sama kamu."
Kalimat itu terus berputar di kepala Gavin. Ia memang belum tahu bagaimana caranya membuat Dara mencintainya. Ia juga tidak ingin memaksa atau terburu-buru. Baginya, cinta tidak bisa diminta.
Akan tetapi untuk satu hal, Gavin sudah sangat yakin. Ia tidak ingin kehilangan perempuan sederhana yang tanpa disadarinya perlahan telah mengisi setiap sudut hatinya.
Menjelang sore, langit berubah jingga. Matahari perlahan turun menuju garis cakrawala. Cahaya keemasannya memantul di permukaan laut, membuat ombak tampak berkilau seperti ditaburi ribuan serpihan emas.
"Aa." Dara menghentikan langkahnya. "Lihat, indah sekali!"
Gavin ikut menoleh ke arah laut. "Iya."
Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan menikmati pemandangan itu. Angin pantai berembus pelan, memainkan rambut panjang milik Dara.
Entah mendapat keberanian dari mana, Gavin perlahan mengeluarkan ponselnya. "Dara."
"Iya?" Dara menoleh ke arah suaminya.
"Mau foto bersama?" Gavin mengangkat ponsel pintar miliknya.
Dara langsung tersenyum. "Boleh."
Mereka berdiri menghadap laut. Gavin mengangkat ponselnya. Lalu, dengan gerakan yang masih terlihat canggung, ia perlahan merangkul pinggang Dara.
Tubuh Dara sedikit menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menoleh sekilas ke arah Gavin. Pria itu justru tampak lebih gugup darinya. Telinganya bahkan mulai memerah.
Melihat wajah suaminya yang kikuk, Dara tersenyum kecil. Pelan-pelan, tanpa banyak berpikir, ia ikut merangkul pinggang Gavin.
Kini justru Gavin yang membeku. Matanya membulat beberapa detik.
"Dara."
"Iya?"
"Ka-kamu ...."
"Aku juga harus merangkul Aa, kan?" jawab Dara polos. "Kalau tidak, nanti fotonya aneh."
Gavin tidak bisa menahan senyumnya. "Iya."
Suara kamera berbunyi beberapa kali. Hasil fotonya sederhana. Namun, bagi Gavin, foto itu terasa jauh lebih berharga daripada semua penghargaan yang pernah diterimanya.
Setelah puas mengabadikan momen matahari terbenam, Gavin dan Dara berjalan pulang menuju vila. Langkah mereka pelan menyusuri jalan setapak yang berada di atas tebing. Di sisi kanan, hamparan laut membentang luas, sementara suara deburan ombak terdengar silih berganti, menciptakan suasana yang tenang dan menenangkan hati.
Tanpa mereka sadari, tangan Gavin yang sejak tadi merangkul pinggang Dara sama sekali belum dilepaskan. Begitu pula Dara. Tangan kirinya masih melingkar malu-malu di pinggang suaminya. Keduanya terlalu menikmati kebersamaan itu hingga lupa melepaskan rangkulan.
Sesekali bahu mereka saling bergesekan. Angin sore yang sejuk membuat suasana terasa semakin nyaman. Tidak ada percakapan panjang di antara mereka. Hanya senyum-senyum kecil yang sesekali muncul tanpa alasan yang jelas.
Beberapa langkah kemudian, Dara memecah keheningan.
"Aa."
Gavin menoleh sambil tetap berjalan di samping istrinya. "Hm?"
Dara tersenyum malu sebelum melanjutkan ucapannya. "Kalau begini rasanya hangat."
Gavin sedikit mengernyit, belum memahami maksud perkataan itu. "Apanya yang hangat?"
Dara menundukkan kepala sejenak. Wajahnya mulai memerah.
"Jalan berdua."
Dara berhenti sejenak, lalu melirik tangan mereka yang masih saling merangkul. Pandangan perempuan itu kemudian beralih kepada lengan Gavin yang masih melingkari pinggangnya.
"Lalu, dirangkul seperti ini." Senyum Dara semakin lebar. "Sekarang aku mengerti kenapa banyak pasangan suka jalan-jalan bersama sambil saling merangkul."
Mendengar ucapan polos itu, sudut bibir Gavin perlahan terangkat. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Ternyata kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Berjalan berdampingan dengan perempuan yang dicintainya saja sudah cukup membuat hatinya tenang.
"Aku juga," jawab Gavin pelan.
Keduanya kembali melanjutkan langkah sambil menikmati pemandangan laut yang mulai berubah gelap. Langit jingga perlahan berganti menjadi biru tua. Lampu-lampu vila di kejauhan mulai menyala satu per satu.
Tak lama kemudian mereka tiba di vila. Suasana rumah terlihat sangat sepi. Pasangan suami istri penjaga vila rupanya sedang pergi ke desa untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Hanya suara angin dan deburan ombak yang menemani suasana sore itu.
Gavin meletakkan kunci vila di bufet yang ada di ruang tamu, lalu menoleh ke arah Dara yang sedang menyimpan sandal di rak. "Dara."
Perempuan itu segera mengangkat wajah. "Iya, Aa?"
Gavin terlihat berpikir beberapa saat sebelum berbicara. "Malam ini, boleh masak?"
Mata Dara langsung berbinar. Ia tersenyum lebar.
"Tentu boleh. Aa mau makan apa?"
Gavin mengangkat bahu pelan. "Apa saja." Tatapannya tertuju pada Dara. "Asal masakanmu."
Jawaban sederhana itu membuat pipi Dara memerah. Ia menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
"Kalau begitu aku masak yang sederhana saja."
"Yang penting enak," balas Gavin.
Tak lama kemudian, dapur vila kembali ramai.
Dara mengenakan celemek berwarna krem, lalu mulai mengeluarkan berbagai bahan makanan dari lemari pendingin. Tangannya bergerak lincah mencuci sayuran, mengupas wortel, lalu memotongnya dengan ukuran yang rapi.
Sementara itu, Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memegang ponsel. Diam-diam ia membuka mesin pencarian. Beberapa detik kemudian muncul sebuah artikel berjudul, "Cara Mendekatkan Diri dengan Istri."
Alis Gavin sedikit terangkat. Ia mulai membaca satu per satu. Poin pertama langsung menarik perhatiannya.
[Bantu istri memasak di dapur.]
Gavin mengangguk pelan. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menghampiri Dara.
"Dara."
"Iya, Aa?"
"Aku bantu, ya."
Dara menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dengan wajah sedikit heran. "Aa bisa memasak?"
Gavin terdiam beberapa detik. "Tidak, eh, tepatnya belum bisa."
"Lalu, Aa mau membantu apa?"
sukses selalu utk kak author 🤗