Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — RAHASIA DI BALIK KERUDUNG
Saat matahari telah berdiri tegak di langit Kota Batu, menyebarkan cahayanya yang hangat namun tak membakar, seorang utusan datang menyeberang jalan dari Penginapan Sembulan — tempat yang semalam menjadi saksi pertempuran berdarah namun pagi ini tampak begitu tenang, seolah tak pernah ada pertumpahan darah di depannya.
Utusan itu menyampaikan undangan dengan sopan: pemilik tempat itu ingin berbincang, menyuguhkan secangkir teh siang sebagai tanda terima kasih.
Farel Kurniawan sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia tersenyum tipis, bangkit, dan berjalan menyeberang jalan. Matanya menyapu halaman depan yang kini tampak bersih seakan tak pernah disentuh kekacauan. Hanya sisa energi samar yang tertinggal di udara yang mengingatkannya bahwa malam itu bukan mimpi.
Ia dipersilakan masuk ke sebuah ruangan yang menghadap langsung ke taman pribadi yang asri. Kelopak bunga melati dan kamboja jatuh perlahan dari pohonnya, terbawa angin sepoi-sepoi yang masuk melalui pintu geser terbuka, mendarat lembut di atas meja kayu jati yang dipoles halus. Ruangan itu sederhana namun memancarkan keanggunan yang tenang — perpaduan harmoni antara seni ukir Jawa dan kesederhanaan yang menenangkan jiwa.
Di dalam ruangan itu, dua sosok menunggunya.
Di sisi duduk seorang wanita muda yang wajahnya tertutup kerudung halus berwarna krem keemasan, tersangkut pada sebuah mahkota sederhana namun indah yang teranyam dari emas tua di rambutnya. Hanya bibirnya yang berwarna merah alami dan dagunya yang terbentuk sempurna terlihat. Di sebelahnya duduk Ki Sembulan — pria tua yang ia temui semalam — yang kini melepas topeng kayunya, memperlihatkan wajah keriput namun tegas dengan mata yang tajam mengamati setiap gerak-gerik Farel. Di luar, di antara pepohonan taman, berdiri empat bayangan yang nyaris tak terlihat, dan dua penjaga bersenjata di depan pintu — diam, waspada, namun tidak mengintimidasi secara berlebihan.
"Selamat datang, Tuan Farel," suara wanita itu terdengar lembut, namun ada getaran halus yang menyiratkan kedudukan yang tidak sembarangan. Ia sedikit menundukkan kepala. "Izinkan saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas pertolongan Anda semalam. Mohon maaf jika kami datang terlambat, keadaan kami... mengharuskan kami berhati-hati."
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih, Tuan Farel," ucap Ki Sembulan sambil berdiri dan membungkuk hormat. Namun matanya tak lepas dari wajah Farel, penuh kewaspadaan yang tak disembunyikan.
Farel tersenyum, duduk di kursi yang disediakan tanpa canggung sedikit pun. "Tidak perlu terlalu berlebihan. Sejujurnya, jika saya tahu ada kecantikan sehalus sinar rembulan yang sedang dalam kesulitan, mungkin saya akan turun tangan lebih awal. Namun pada saat itu, mereka justru menghalangi jalanku pulang. Saya hanya membersihkan jalan yang tertutup."
Matanya menatap tepat ke arah kerudung itu — dan anehnya, seolah tembus pandang, seolah kerudung itu sama sekali tidak ada di sana. Wanita itu merasakan jantungnya berdebar kencang, seolah jiwanya sendiri sedang dipandang langsung.
"Bolehkah saya mengetahui nama tuan muda ini, serta dari mana asalnya?" tanya Ki Sembulan, sedikit berdeham, berusaha menarik perhatian agar tidak terabaikan.
"Saya Farel Kurniawan. Murid dari Istana Persatuan Yin Yang," jawabnya santai, baru melirik sekilas ke arah pria tua itu sebelum kembali menatap sosok berkerudung. "Dan bolehkah saya tahu dengan siapa saya sedang berbincang?"
"Itu..." Ki Sembulan hendak mencegah.
"Puspa Kinanthi."
Nama itu terucap lembut namun tegas. Ki Sembulan tersentak, matanya membelalak tak percaya.
"Nona... Yang Mulia..."
"Senang berkenalan dengan Anda, Nona Puspa," Farel menyambutnya seolah tak melihat kekagetan pria tua itu sama sekali.
"Silakan duduk. Teh akan segera tiba," Puspa Kinanthi berkata, suaranya sedikit lebih bergetar namun ia berusaha tetap tenang.
Seorang pelayan muda masuk membawa nampan berisi teko tanah liat yang masih mengepulkan uap dan piring-piring berisi kue talam, pisang goreng madu, dan kue serabi. Ia menyajikan teh kepada Farel dan Puspa, lalu hampir pergi tanpa menyajikan untuk Ki Sembulan sebelum kakek itu berdeham cukup keras. Pelayan itu tersipu malu, meminta maaf dengan cekatan, lalu segera menambahkan cangkir ketiga di meja sebelum pamit dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Farel dan Puspa sudah menikmati teh itu — pertama-tama menghirup aromanya yang menenangkan, lalu menyesapnya perlahan.
"Tuan Farel menyebutkan Istana Persatuan Yin Yang. Apakah itu perguruan pedang yang termasyhur?" tanyanya setelah beberapa saat menikmati keheningan yang nyaman.
Ki Sembulan yang baru saja akan membuka mulut menutupnya kembali. Ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk menyela, dan duduk di sana sambil berusaha tidak terlihat seperti orang asing di pertemuan ini.
"Bukan perguruan pedang," Farel tersenyum tipis. "Istana Persatuan Yin Yang adalah sekte kultivasi ganda. Tidak memiliki warisan pedang yang terkenal, dan tidak banyak dikenal orang luar wilayah Kediri."
Mata Puspa Kinanthi berkedip di balik kerudungnya. "Kultivasi ganda? Maafkan ketidaktahuan saya, saya belum pernah mendengar istilah tersebut sebelumnya. Apakah itu metode yang khusus?"
"Itu adalah jalan kultivasi yang membutuhkan kerja sama dua jiwa yang selaras — tidak bisa ditempuh sendirian. Namun biarkanlah itu menjadi penemuan yang menyenangkan jika suatu hari Anda menjumpainya," jawabnya dengan senyum yang menyiratkan lebih dari sekadar penjelasan biasa.
"Saya mengerti..." Puspa Kinanthi terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan rasa ingin tahu yang tulus. "Dan tempat Anda belajar pedang... saya diberitahu bahwa keahlian seperti yang Anda perlihatkan semalam tidak bisa dipelajari bahkan dalam ratusan tahun. Siapakah guru Anda?"
"Saya belajar dari seseorang yang sangat dekat denganku. Dan memang, butuh waktu yang sangat lama," jawabnya samar, namun ada kelembutan yang terlintas di matanya — seolah ia sedang mengenang seseorang yang jauh.
"Maafkan keingintahuan saya. Saya jarang sekali berpapasan dengan orang luar yang begitu luar biasa," ucapnya tulus, sedikit menunduk.
"Tidak perlu meminta maaf. Sebenarnya saya yang harus berterima kasih — percakapan dengan seseorang yang seanggun dan sebijaksana Anda membuat siang ini terasa jauh lebih berharga daripada sekadar beristirahat," jawab Farel dengan tulus, membuat pipi Puspa terasa hangat di balik kerudungnya.
Mereka berbincang lebih lama — tentang cuaca, tentang jalan raya menuju Kediri, tentang keindahan Gunung Panderman yang terlihat dari kejauhan, tentang jenis teh terbaik yang tumbuh di lereng gunung itu. Topik-topik sederhana, namun mengalir begitu hangat dan alami.
Hingga akhirnya Farel berdiri perlahan.
"Terima kasih atas keramahannya, Nona Puspa. Namun saya sebaiknya tidak berlama-lama. Rekan-rekan saya mungkin akan mencariku."
"Ah, waktu berlalu begitu cepat..." Puspa Kinanthi ikut berdiri. "Mohon maaf telah menahan Anda begitu lama. Saya jarang sekali dapat berbincang dengan orang luar dengan begitu nyaman. Semoga Anda tidak tersinggung."
"Sama sekali tidak. Sebelum saya pergi..." Farel berhenti di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sedikit lebih serius namun tetap lembut. "Kondisi tubuh Anda... jika tidak ditangani dengan benar, ia akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Jika suatu hari Anda tidak menemukan jawaban di tempat yang Anda tuju, dan jalan terasa buntu — datanglah ke Istana Persatuan Yin Yang di kaki Gunung Wilis. Cari saya. Saya akan membantu, sejauh yang saya mampu."
Seketika itu juga, udara di ruangan itu berubah dingin.
Niat membunuh yang tajam meledak dari keheningan — seolah muncul dari dinding itu sendiri. Ki Sembulan berdiri di samping Puspa Kinanthi, telapak tangannya bersinar dengan cahaya keemasan yang pekat, siap melepaskan serangan mematikan.
"Paman Sembulan! Jangan!" seru Puspa Kinanthi cepat.
"Anak muda! Berhenti di langkah itu!" ancam Ki Sembulan, suaranya berat dan penuh peringatan. "Kau terlalu jauh masuk ke dalam urusan yang bukan milikmu."
Farel berhenti, setengah berbalik. Matanya menatap kakek tua itu — dan dalam sekejap, aura yang ia pancarkan berubah. Tidak ada amarah, tetapi ada kedalaman yang menakutkan, seolah jurang terdalam baru saja terbuka di antara mereka.
"Saya hanya memberikan saran, bukan ancaman," ucap Farel tenang, namun setiap kata terasa menekan ke dalam tulang. "Jangan biarkan kecurigaan membuat Anda salah langkah seperti mereka yang jatuh semalam. Saya pergi dengan damai, dan biarkan kita berpisah dengan damai juga."
Seketika Ki Sembulan merasa seolah ada bilah pedang yang dingin menempel tepat di lehernya. Cahaya di telapak tangannya perlahan memudar, dan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia menyadari — jika Farel bermaksud buruk, ia mungkin sudah jatuh sebelum ia sempat mengangkat tangannya.
"Sampai jumpa, Nona Puspa. Semoga perjalanan Anda selamat," pamit Farel, lalu melangkah keluar seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Di dalam ruangan, Ki Sembulan menghela napas panjang, lemas seolah baru saja mengangkat beban gunung.
"Yang Mulia, Anda terlalu ceroboh," katanya dengan nada yang bercampur antara khawatir dan menegur. "Pemuda itu... dia seperti samudra yang tak berdasar. Kita tidak tahu apa yang tersembunyi di dalamnya. Dia sangat berbahaya."
"Saya tahu," jawab Puspa Kinanthi pelan, menatap pintu yang baru saja tertutup. "Tetapi ada sesuatu tentang dirinya... seolah saya sudah mengenalnya sejak lama. Seolah dia tidak akan menyakiti saya tanpa alasan. Dia bukan musuh kita, Paman Sembulan. Jika dia ingin mencelakai kita, kita sudah tiada sejak malam itu."
Ia terdiam sejenak, lalu menatap ke arah jendela yang menghadap ke gunung.
"Tentang kata-katanya... setidaknya sekarang kita memiliki satu harapan terakhir. Jika perjalanan ke Istana Taman Beku tidak membawa hasil, setidaknya ada satu tempat lain yang bisa kita tuju. Itu bukan hal yang buruk."
Sementara itu, Farel berjalan pulang menuju Penginapan Wilis Indah dengan langkah yang santai.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan tenang. Rara Sekar Arum Larasati masih menyempurnakan pencapaiannya yang baru, sehingga mereka memperpanjang masa tinggal dua hari lagi. Farel menghabiskan paginya duduk di taman dalam penginapan, mengamati alam, merenungi jalannya kultivasinya sendiri. Ia memanfaatkan waktu itu untuk menyempurnakan penyerapan obat-obatan atribut Yang yang ia miliki, memadukannya dengan Tubuh Dandang Konversi Yin Yang yang mulai ia pahami lebih dalam.
Saat Rara akhirnya selesai dan keluar dari pengasingan meditasinya, Farel telah mencapai level ke-8 Alam Transformasi Tubuh. Meridian-meridiannya yang tersumbat perlahan-lahan melebar, tubuhnya terasa jauh lebih padat, lebih kuat, dan lebih siap untuk langkah berikutnya — meskipun jalan di depannya masih sangat panjang.
BERSAMBUNG... 😊