NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Matahari siang menyengat begitu terik di atas gang sempit pemukiman padat tempat Maya tinggal.

Dengan langkah kaki yang berat dan bahu meluruh lelah, Maya berjalan menyusuri lorong semen sembari menjinjing dua kantong plastik besar berisi pakaian kotor milik tetangganya.

Pakaiannya sendiri tampak kusam, rambutnya diikat asal-asalan, dan garis-garis kelelahan tercetak amat jelas di wajah mudanya.

Begitu mendekati pos ronda di ujung gang, langkah Maya mendadak tertahan. Di sana, tiga orang tetangga wanita—Bu Rini, Bu Totok, dan Tante Ningsih yang merupakan kerabat jauh dari pihak almarhumah ibunya—sedang duduk berkumpul sembari mengupas bawang.

"Nah, itu dia orangnya datang," bisik Bu Rini pelan, namun suaranya masih cukup nyaring terdengar di telinga Maya.

Maya menundukkan kepala, mencoba mengabaikan pandangan mata mereka yang menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia berusaha berjalan lebih cepat, namun suara Tante Ningsih langsung menghentikan langkahnya.

"Maya! Sini sebentar!" panggil Tante Ningsih dengan nada memerintah.

Maya menghentikan langkah, memutar tubuhnya perlahan. "Iya, Tante Ningsih? Ada apa ya?"

Tante Ningsih mengibaskan tangannya ke udara, menatap pakaian lusuh Maya dengan raut wajah jijik. "Kamu itu dari mana jam segini? Bawa-bawa kantong cucian orang kaya pembantu begitu?"

"Saya baru selesai mengambil cucian dari rumah Bu Sandra, Tante. Mau langsung saya cuci di rumah," jawab Maya pelan, berusaha tetap sopan.

Bu Totok menyela sembari tertawa sinis. "Aduh, Maya, Maya... Kasihan banget hidup kamu ya. Masih muda, muka lumayan, tapi kelakuan kaya orang nggak punya pikiran. Mau-maunya kamu banting tulang setengah mati cuma buat ngurusin suami yang udah kaya mayat hidup begitu?"

"Iya, betul itu!" timpal Bu Rini cepat. "Buat apa coba kamu kerja tiga tempat sehari sampai kurus kering begitu? Si Bagas itu udah lumpuh, koma pula! Dokter juga udah bilang kan kalaupun dia bangun, dia nggak bakal bisa jalan lagi. Nggak bakal bisa nafkahin kamu!"

Dada Maya serasa dihantam batu besar. Jemarinya mencengkeram erat kantong plastik cucian di genggamannya. "Ibu-ibu, tolong jangan bicara seperti itu tentang Mas Bagas. Dia suami saya. Sudah kewajiban saya buat merawat dia."

"Kewajiban apa, May?!" Tante Ningsih berdiri dari duduknya, menghampiri Maya dengan berkacak pinggang. "Kewajiban itu ada batasnya! Kamu itu bodoh atau terlalu lugu, sih? Dulu beasiswa kuliah kamu lepas, sekarang uang kamu habis-habisan cuma buat bayar sewa mesin rumah sakit. Ibu kamu meninggal kemarin juga gara-gara kamu terlambat bawa ke rumah sakit karena sibuk urus si Bagas, kan?!"

Perkataan Tante Ningsih menusuk tepat di luka paling berdarah dalam jiwa Maya. Air mata seketika menggenang di pelupuk matanya.

"Bukan begitu, Tante..." suara Maya bergetar hebat. "Saya sayang sama Ibu, dan saya juga sayang sama Mas Bagas. Saya cuma berusaha melakukan yang terbaik buat keluarga saya."

"Keluarga apanya?!" bentak Tante Ningsih tanpa belas kasihan. "Bagas itu beban! Dia itu cuma pembawa sial di hidup kamu! Kalau kamu ceraiin dia dari kemarin-kemarin, kamu bisa cari laki-laki lain yang mapan, yang bisa ngasih kamu hidup layak. Lihat diri kamu sekarang! Kusam, bau detergen, nggak ada harga dirinya sama sekali!"

"Betul kata Tante kamu itu, May," sahut Bu Rini mengangguk-angguk. "Tetangga di sini itu udah pada gumun melihat kamu. Orang-orang pada bilang kamu itu istri paling bodoh se-kecamatan. Mau-maunya diperalat sama keluarga Bagas yang bahkan sekarang udah angkat tangan nggak mau bantu biaya."

"Mereka saja keluarga kandungnya udah nyerah, kok kamu yang cuma istri malah sok jadi pahlawan?" tambah Bu Totok dengan senyum mengejek. "Udah lah, lepas aja selang oksigennya si Bagas itu. Biar dia tenang, kamu juga bebas. Ngapain memelihara pria yang nggak ada gunanya lagi?"

"Cukup, Bu!" jerit Maya histeris, air matanya akhirnya tumpah tak terbendung lagi. Napasnya tersengal-sengal menahan amarah dan kepedihan yang membuncah.

Tiga wanita itu terkejut melihat Maya yang biasanya pendiam tiba-tiba berteriak.

"Tolong jaga bicara Ibu-ibu sekalian!" tegas Maya dengan mata memerah menatap mereka satu per satu. "Mas Bagas itu suami sah saya! Waktu dia sehat, dia bekerja keras siang dan malam cuma buat membahagiakan saya! Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun buat saya! Sekarang saat dia kena musibah dan terbaring tak berdaya, apa pantas saya tinggalkan dia begitu saja?!"

"Halah, sok suci kamu!" cibir Tante Ningsih.

"Saya tidak sok suci, Tante!" potong Maya cepat. "Saya cuma pakai hati nurani saya! Saya tidak minta uang dari Tante Ningsih, saya juga tidak minta makan dari Bu Rini atau Bu Totok! Semua uang yang saya pakai buat bayar rumah sakit Mas Bagas itu hasil keringat dan darah saya sendiri! Hasil saya mencuci, menyapu, dan memeras tenaga saya sendiri!"

Maya menyapu air matanya dengan lengan bajunya yang kasar, lalu menatap Tante Ningsih dengan pandangan tajam namun penuh ketegaran.

"Kalau semua orang di dunia ini menganggap saya bodoh karena bertahan sama Mas Bagas, biar saja! Biar saya jadi orang paling bodoh di mata kalian semua! Tapi saya tidak akan pernah membiarkan suami saya berjuang sendirian di rumah sakit!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Maya mengangkat kantong cuciannya tinggi-tinggi. Tanpa mempedulikan tatapan tajam dan bisik-bisik bisik sinis yang kembali terdengar dari belakang punggungnya, Maya melangkah pergi meninggalkan pos ronda dengan kepala ditegakkan.

Ia berjalan terus menyusuri gang menuju rumah kontrakannya yang sepi. Begitu pintu rumah terkunci rapat, tubuh Maya langsung ambruk di balik pintu. Ia memeluk lututnya dan menangis sesenggukan dalam kesendirian.

Hinaan, celaan, dan tuduhan 'bodoh' dari orang-orang di sekitarnya terasa amat membakar dadanya. Namun di antara derai air mata dan rasa lelah yang amat sangat, Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Aku nggak bakal nyerah, Mas..." bisik Maya lirik pada heningnya ruangan. "Biar satu dunia ngatain aku bodoh, aku bakal tetap jadi kaki dan tangan kamu sampai kamu bangun..."

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!