NovelToon NovelToon
Sistem Kasino Realitas

Sistem Kasino Realitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.

Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.

Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.


Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Derap langkah kaki bersepatu bot laras baja menghantam anak tangga kayu ruko dengan dentum berat yang kian dekat. Suara getaran bordes tangga beradu dengan gemeretak cincin kuningan bergerigi di jemari Rusli.

Sora tidak membuang waktu. Dari lubang kisi ventilasi atap yang menganga, ia melompat turun ke lorong sempit di balik partisi tripleks lantai dua. Gerakannya gesit, mendarat di atas tumpukan karung goni bekas taplak meja kotor yang tersimpan di sudut lorong.

Di atas atap seng, Gani masih terpaku di balik cerobong dapur, gemetar mendengar gemerincing lonceng kuningan tadi.

“Bang, cabut!” bisik Sora tajam melalui lubang ventilasi di atas kepalanya. Tangannya mendorong rangka seng ventilasi agar menutupi kembali lubang atap. “Lompat ke atap toko kelontong di samping! Jangan tunggu aku!”

“Sora… kamu gimana—”

“Lari!”

Gesekan kain celana Gani di atas seng terdengar menjauh terburu-buru. Montir itu melarikan diri tepat pada waktunya. Namun bagi Sora, pintu pelarian ke atap telah tertutup. Sorot lampu senter berdaya tinggi dari ujung tangga membelah kegelapan lorong lantai dua, menyapu dinding papan dan rangka kayu dengan lingkaran cahaya putih menyilaukan.

Sora menarik tubuhnya ke bawah tumpukan kain taplak beludru merah kusam yang berbau apek. Debu kain yang terhirup menggelitik hidungnya, tetapi ia menahan napas sekuat tenaga.

Di ujung lorong, bayangan tubuh setinggi seratus delapan puluh sentimeter muncul di ambang pintu tangga.

Rusli melangkah masuk. Di tangan kanannya tergenggam senter patroli berbahan logam berat, sementara tangan kirinya bertumpu pada gagang parang pemotong daging yang terselip di sabuk kulitnya. Aroma minyak rambut murah dan keringat asam menguar dari tubuh algojo itu, mendahului langkahnya yang lambat dan awas.

Lampu senter di tangan Rusli menyapu setiap sudut lantai dua. Cahayanya menyinari Meja Rolet Nomor Tiga yang tertutup kain hijau, lalu bergeser ke arah partisi tripleks tempat Sora bersembunyi.

Tap. Tap. Tap.

Ujung sepatu bot Rusli menjejak karpet beludru, hanya berjarak empat langkah dari tumpukan taplak meja.

Tepat pada saat ketegangan memuncak, retina mata kiri Sora mendadak disengat kilatan cahaya merah menyala yang perih. Bukan cahaya lampu senter luar, melainkan proyeksi antarmuka sistem yang berkedip di dalam saraf penglihatannya.

...----------------...

...[SISTEM KASINO]...

...[Misi Infiltrasi: Batas Waktu Terlampaui]...

...[Deviasi Waktu: +02 Menit 14 Detik]...

...[Penalti Saldo: -4 Point Chip]...

...[Saldo Tersisa: 18 Point Chip]...

...[Penalti Fisik Aktif: Disfungsi Saraf Tangan Kiri]...

...[Durasi Penalti: 15 Menit]...

...----------------...

Waktu sepuluh menit peretasan Maya telah habis dua menit lalu akibat keterlambatan kawat lonceng mekanik. Sistem kasino tidak menerima kompromi. Begitu batas waktu terlewati, kontrak taruhan menagih bayaran seketika.

Rasa sakit itu menghantam tanpa aba-aba.

Bukan rasa perih luka jahitan biasa. Sensasi itu bermula dari pangkal kelingking kirinya yang buntung, lalu menjalar seperti aliran beku yang melumpuhkan jaringan saraf di pergelangan tangannya. Otot-otot telapak tangan kirinya mendadak kejang kaku, memelintir ke arah dalam dengan kekuatan paksa yang meremukkan persendian.

Krrrk.

Bunyi halus dari tulang-tulang jarinya yang terkunci paksa terdengar di bawah tumpukan kain. Empat jemari tangan kirinya menekuk rapat ke telapak tangan, membeku sekeras batu karang. Rasa sakitnya begitu intens, membakar hingga ke tulang hasta dan menjalar ke leher, seolah seluruh serabut sarafnya sedang diregangkan paksa.

Tubuh Sora tersentak menahan kejang di bawah tumpukan taplak meja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!