Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Pembuktian di Sirkuit.
Jalan Baru pada pukul sebelas malam berubah menjadi lautan manusia. Aspal lurus sepanjang dua kilometer yang baru selesai dibangun dan belum diresmikan oleh pemerintah itu kini dipadati oleh ratusan remaja. Deru mesin motor bersahut-sahutan, beradu dengan kepulan asap knalpot dan sorot lampu neon warna-warni yang membelah kegelapan malam.
Di ujung garis start, Tommy sedang duduk santai di atas tangki motor Kawasaki Ninja hitamnya. Di sekelilingnya, Reza dan puluhan anggota geng motor Griffin melipat tangan di dada dengan angkuh.
Mereka tertawa-tawa, yakin bahwa anak rumahan seperti Langit tidak akan berani memunculkan batang hidungnya malam ini.
"Mana si anak borjuis itu? Takut? Palingan sekarang lagi nangis di ketiak mamanya," cibir Reza sambil meludah ke samping, memicu tawa riuh dari anak-anak geng lainnya.
Tommy hanya tersenyum sinis. Ia memutar-mutar kunci motor di jarinya, matanya sesekali melirik jam tangan. Tinggal dua menit lagi. Kalau dia nggak datang, satu sekolah bakal tahu kalau musuh bebuyutan Aletha itu cuma pengecut bermulut besar.
BRUMMMM... BRUMMMMM!
Sebuah raungan suara mesin yang teramat berat, padat, dan mengintimidasi tiba-tiba memotong riuhnya suara motor dua tak di area tersebut. Suara itu begitu dominan, mirip singa yang sedang mengaum di tengah kawanan serigala. Perlahan namun pasti, ratusan penonton yang memadati pinggir jalan mendadak terdiam. Mereka otomatis membuka jalan, membelah kerumunan demi memberi ruang bagi sebuah kendaraan yang baru saja datang.
Sebuah Ducati Panigale V4 berwarna hitam legam melaju pelan, membelah lautan manusia. Cahaya lampu jalan memantul di atas bodi karbonnya yang berkilat mewah. Motor sport spek dewa seharga ratusan juta rupiah yang biasanya hanya bisa dilihat di sirkuit MotoGP atau majalah otomotif mahal itu kini nyata berdiri di depan mata mereka.
Tawa di bibir Tommy mendadak lenyap. Kunci motor di jarinya terjatuh ke aspal tanpa ia sadari.
Reza dan seluruh anak buahnya melotot sempurna dengan rahang yang hampir jatuh ke tanah. Mereka syok berat. Ekspektasi mereka yang mengira Langit akan datang menggunakan mobil mewah sopir pribadi atau motor matik rumahan hancur lebur dalam sekejap.
Di atas jok tinggi Ducati itu, Akalangit Sagara Voss duduk dengan begitu tegap dan dominan. Ia mematikan mesin, lalu melepas helm full-face hitamnya dengan gerakan santai. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuat aura bad boy-nya terpancar kuat di bawah temaram lampu jalan.
Tak lama kemudian, seorang gadis bermulut mungil dengan jaket hoodie kebesaran turun dari jok belakang sambil memegangi helm putihnya dengan tangan gemetar.
"L-Letha?!" gumam Tommy patah-patah.
Dadanya mendadak terasa dihantam godam melihat pacarnya atau mungkin sekarang mantan pacarnya turun dari motor cowok lain dengan posisi yang kelewat dekat.
Langit turun dari motornya, menyampirkan helm di spion, lalu melangkah maju mendekati Tommy. Jaket kulit hitamnya bergeser mengikuti langkah tegapnya. Wajahnya tetap sedingin es, tanpa riak ketakutan sedikit pun.
"Gue nggak telat, kan?" tanya Langit datar, melirik jam tangan pintarnya sekilas sebelum menatap langsung ke manik mata Tommy yang masih mematung.
Tommy buru-buru menguasai rasa syoknya. Ia turun dari motornya, mencoba menegakkan punggung demi menyeimbangkan tinggi badan mereka, meski nyatanya ia tetap harus sedikit mendongak menghadapi Langit.
"Lo... dari mana lo dapet motor kayak gini, hah?! Jangan bilang lo cuma bisa sewa demi pamer di depan gue!" tuduh Tommy, suaranya agak meninggi untuk menutupi rasa minder yang mendadak menyerang.
Langit tidak membalas tuduhan murahan itu dengan kata-kata. Ia hanya menaikkan satu alisnya, lalu merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah STNK berlogo resmi yang sempat ia kibaskan di depan wajah Tommy sebelum memasukkannya kembali. Sebuah tamparan tak kasat mata yang telak bagi harga diri Tommy.
"Nggak usah banyak omong. Taruhannya masih sama, kan?" desis Langit dingin. "Kalau gue menang, jauhin Aletha dan jangan pernah sentuh dia lagi. Tapi kalau lo yang menang... gue bakal turutin kemauan lo."
Tommy mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan rasa cemburu yang membakar dadanya membuat akal sehatnya menguap.
"Oke! Jangan menyesal lo, anak manja! Di atas kertas motor lo menang spek, tapi di atas aspal jalanan ini, gue rajanya!"
"Kita lihat nanti," sahut Langit tenang. Ia berbalik, menatap Aletha yang berdiri beberapa meter di belakangnya dengan wajah pucat pasi. Langit berjalan mendekati gadis itu, lalu menepuk puncak helm di tangan Aletha dengan pelan.
"Tunggu di pinggir jalan. Jangan merem kalau lo mau lihat gimana cara gue menang."
"Langit... lo hati-hati," bisik Aletha pelan, suaranya hampir tertelan deru angin malam.
Mendengar bisikan cemas dari Aletha, sudut bibir Langit sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang kali ini terasa hangat.
"Gue nggak akan kalah demi barang milik gue, Kurcaci."
Aletha merengut.
“Eh tiang listrik! Gue bukan barang lo!” Cicitnya pelan.
__________________
Kedua motor kini sudah sejajar di garis start. Ducati hitam milik Langit bersanding dengan Ninja dua tak hitam milik Tommy. Suasana di sekitar Jalan Baru mendadak berubah menjadi sangat tegang. Ratusan pasang mata tertuju pada kedua cowok yang sedang mencengkeram tuas gas masing-masing.
Brummm... BRUMMM!
Trenggg... TRENGGGG!
Raungan mesin Ducati yang berat beradu dengan lengkingan nyaring motor Ninja Tommy. Di pinggir jalan, Aletha meremas kedua tangannya dengan sangat erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia kesulitan bernapas. Di satu sisi, ia takut hubungan rahasianya dengan Langit membuat Tommy nekat berbuat celaka. Namun di sisi lain, saat ia melirik ke arah tatapan mata Langit yang fokus menatap lurus ke depan dari balik kaca helmnya, ada sebuah keyakinan absolut yang membuat dadanya berdesir aneh.
Seorang cewek bergaun mini berjalan ke tengah jalan, mengangkat sebuah bendera merah tinggi-tinggi ke udara.
Kedua pembalap menundukkan tubuh mereka, menempel pada tangki motor. Ketegangan memuncak hingga ke titik didih.
SATU...
DUA...
TIGA!
Bendera dihentakkan ke bawah dengan cepat.
ZUTTTT!
Kedua motor melesat bak anak panah yang lepas dari busurnya, membelah malam dengan kecepatan yang luar biasa tinggi. Tommy memimpin di setengah detik pertama karena akselerasi motor dua taknya yang lincah di jalur pendek. Namun, begitu Langit mengoper gigi dua dan membuka penuh katup gas Ducati Panigale-nya, tenaga brutal dari mesin empat silinder itu langsung meledak.
Motor hitam Langit melesat maju, memangkas jarak dalam sekejap dan langsung menyalip motor Tommy di meter keseratus dengan kecepatan yang mengerikan. Angin malam yang berembus kencang akibat laju motor mereka menerbangkan debu-debu di jalanan.
Tommy yang melihat ekor motor Ducati Langit mulai menjauh panik setengah mati. Ia memutar gasnya sampai mentok, mencoba mengejar di tikungan pertama Jalan Baru. Namun, Langit menunjukkan kemampuan berkendara yang sangat matang. Ia merebahkan tubuh tingginya bersama motor Ducati-nya di tikungan dengan sangat presisi, sebuah teknik cornering kelas profesional yang tidak mungkin dikuasai oleh amatiran.
"Gila! Si Langit beneran bukan manusia!" teriak Reza dari garis start saat melihat layar monitor sirkuit portabel yang memantau balapan.
Di lintasan lurus menuju garis finish, Langit semakin tidak tersentuh. Jarak di antara kedua motor itu kini sudah terpaut hampir sepuluh meter. Tommy berusaha mengejar dengan nekat, namun kestabilan Ducati dan ketenangan mental Langit di atas motor spek dewa itu membuat perbedaan kelas di antara mereka terlihat sangat nyata.
Dengan satu hentakan gas terakhir, Ducati hitam milik Langit melewati garis finish sebagai pemenang mutlak, meninggalkan raungan mesin yang menggema dan kepulan asap tipis di belakangnya. Di atas aspal malam ini, Langit Sagara Voss baru saja meruntuhkan kerajaan jalanan milik Tommy berkeping-keping.