NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26: Diusir Dari Rumah Sakit

Tak butuh waktu lama, kami tiba di rumah sakit karena lokasi apartemen Spring Town tepat di belakangnya.

Begitu mobil berhenti, Hendra bahkan belum sempat mematikan mesin ketika Jefry sudah membuka pintu dan turun sambil menggendong Shinta.

Untung saja IGD-nya sepi, maklum, malam telah larut.

“Dok! Suster! Tolong! Teman saya kakinya terluka parah!” suara Jefry pecah.

Perawat jaga langsung menghampiri. “Sini, sini! Baringkan di sini!”

Au mengikuti Jefry masuk ke ruang IGD. Shinta diletakkan di atas ranjang periksa. Darah masih menempel pada kain hijab yang dililitkan tadi. Seorang dokter mendekat dengan cepat.

“Lukanya kenapa?” tanyanya.

“Nginjek pecahan kaca, Dok,” Jefry menjawab terburu-buru.

Dokter mengangguk singkat. “Baik, kita buka dulu ya. Mohon agak mundur sebentar.”

Jefry mengikuti, ia bergerak ke belakang beberapa langkah, tapi tetap menatap cemas. Suster membuka lilitan kain itu, pelan-pelan sampai kain terbuka sepenuhnya.

Dan saat itu juga dunia seperti tak henti memberi kejutan.

Telapak kaki Shinta.

Bersih.

Tak ada luka sama sekali.

Bahkan tanpa bekas lecet sekecil apapun.

Aku refleks bergumam, “Lho?”

Dokter mengerutkan kening. “Ini kalian yakin dia terluka?”

Suster yang lain bersedekap. “IGD bukan tempat main-main ya, Pak. Jangan bercanda di tempat seperti ini.”

Nada suaranya dingin, jelas menuduh.

“Gas? Kok bisa?” Jefry bertanya kepadaku, keheranan. “Saya tidak bercanda, Dok. Tadi beneran luka, itu lihat aja kainnya penuh darah.”

Suster itu mendengus. “Terus sekarang lukanya ke mana? Hilang begitu saja?”

Hendra datang, menepuk bahuku dari belakang. “Gimana, Gas?.”

Aku hanya menganggukkan kepala, minta agar Hendra melihat sendiri kaki Shinta yang tidak terluka. Ia langsung ikut keheranan.

Dokter memeriksa kaki Shinta lagi untuk memastikan. Ditekan, dilihat dari berbagai sudut. Ia melanjutkan pemeriksaan dengan alat stetoskop tergantung di lehernya. Lalu ia menatap kami.

“Saya bisa pastikan, tidak ada luka. Tekanan darah memang agak rendah, tapi relatif stabil. Dia hanya pingsan, mungkin karena syok atau kecapekan.”

Aku menelan ludah. Tanganku tiba-tiba terasa dingin. Aku menunduk, menatap pergelangan tanganku sendiri.

Gelang ini?

Aksesoris serabut berwarna coklat kusam.

Aku mengangkat tanganku perlahan.

“Jangan-jangan,” bisikku lirih dalam hati.

Untuk beberapa saat, aku terus menatap gelang itu. Tidak ada pergerakan atau reaksi, hanya terlihat seperti gelang biasa. Bahkan tidak keren untuk dipandang.

Hendra mulai mendekat. “Kok bisa, Bang?”

Tentu saja, Jefry pun tidak tahu apa yang telah terjadi.

Suster tadi langsung memotong, nada suaranya kaku. “Sudah, Pak. Kalau memang tidak ada luka, pasien biarkan istirahat saja dulu. Jangan bikin drama di IGD.”

Kami terdiam, tak bisa memberi pembelaan apapun. Faktanya kaki Shinta tidak ada luka.

“Tolong satu orang saja menunggu di sini, lainnya mohon keluar ya, silakan duduk di ruang tunggu sebelah sana,” kata Suster.

Aku dan Hendra beranjak keluar dari ruang IGD. “Kita tunggu di luar ya, Bang?” kata Hendra sambil menunjuk arah pintu.

Hendra duduk di sampingku, masih menatap dengan tatapan kosong. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.

“Gas,” suaranya pelan. “Tadi kita nggak salah lihat? Lo juga lihat jelas, kan? Kakinya Shinta luka, berdarah, nginjek kaca.”

Aku menelan ludah. “Iya, Bang. Gua juga lihat kok.”

“Terus? Sekarang kok bisa tiba-tiba kayak nggak ada apa-apa?” Hendra menatapku dalam. “Menurut lo kenapa bisa gitu?”

Jantungku terasa berat. Refleks aku melirik gelang di pergelangan tangan. Tapi, apa mungkin?

“Gua juga nggak yakin, Bang,” jawabku pelan. “Jangan dulu disimpulin.”

Hendra menghela nafas panjang. “Ini semua makin nggak masuk akal, Gas.”

Belum sempat aku merespons, tiba-tiba terdengar suara ribut dari dalam ruang IGD. Itu suara Jefry.

“Kenapa harus pindah?!” teriaknya. “Teman saya masih belum sadar, lho!”

Aku dan Hendra saling pandang. Kami kemudian beranjak masuk ke dalam ruangan IGD.

Jefry sekarang sudah tak berada di dekat ranjang Shinta. Ia berdiri di depan meja administrasi. Mata merah, wajahnya tegang karena emosi. Di depan, dokter dan dua suster seperti kebingungan, tapi juga ketakutan.

“Apa masalahnya?!” Jefry membentak. “Teman saya belum sadar! Dia masih sakit! Kenapa kalian malah nyuruh pindah rumah sakit?!”

Dokter itu menjawab dengan suara berusaha tenang, tapi terdengar kaku. “Maaf, Pak. Di sini sudah tidak ada yang perlu kami tangani. Silakan dibawa ke rumah sakit lain kalau dirasa masih merasa perlu.”

Hendra mulai ikut campur, “Maksudnya apa, Dok? Dia belum sadar. Kita belum tahu kondisinya. Masa sekarang tiba-tiba disuruh pergi?”

Suster ikut menimpali, wajahnya antara takut tapi menutupi dengan ekspresi jutek. “Pasien tidak dalam kondisi gawat darurat. Jadi, silakan bawa pulang saja.”

Jefry menepuk meja periksa keras. “Dipulangkan mata lo! Ini belum sadar, lho. Kalo di jalan ada apa-apa, lo semua mau tanggung jawab?”

“Pak, tolong jaga bahasanya ya, jangan marah-marah seperti itu. Ini ruangan IGD,” kata dokter lagi yang kini mulai menemukan celah alasan mengusir kami dengan tegas.

Tone suaranya bukan lagi profesional. Ada sesuatu yang aku yakin seperti terpaksa. “Intinya kami sudah tidak perlu menanganinya, silakan segera bawa pulang atau saya akan panggil sekuriti.”

“Panggil aja, lo kira gua takut?” tantang Jefry. “Gua viralin lo semua! Biar tahu rasa!”

Aku menatap wajah mereka satu-satu. Mereka terlihat berbisik-bisik dengan gestur mencurigakan. Saat itu aku mulai yakin, mereka bukan tidak mau.

Mereka takut.

Setelah berdiskusi selama beberapa detik, dokter mengatakan bahwa ia akan berusaha membangunkan Shinta. Tapi setelahnya, kami diminta untuk berjanji agar bisa segera pergi saat Shinta siuman.

“Bagaimana?” kata dokter.

Jefry tidak menjawab, aku dan Hendra pun juga hanya diam.

Memanfaatkan kebimbangan kami, dokter langsung bergerak menuju ranjang dimana Shinta terkulai lemas. Ia ditemani oleh dua suster, membawa beberapa peralatan.

Setelah sampai di sebelah ranjang, ia terlihat diam, tidak langsung memberi tindakan. Aku menyadari apa yang ia lakukan persis seperti dilakukan oleh Hendra sebelumnya.

“Membaca doa!”

Dugaan ku semakin kuat, mereka takut!

Dokter mengeluarkan sebuah botol cairan, memberikan kepada suster yang kemudian menempelkan ke dekat hidung Shinta. Selanjutnya, dokter menekan bagian dada tengah Shinta dengan cukup keras.

Ia melakukan berulang.

Dokter itu bahkan tidak berani menatap Shinta lama-lama. Ada bayangan aneh di matanya. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Seakan melihat hal tak terlihat oleh kami.

Jefry hanya memperhatikan dengan sinis.

Dokter menelan ludah. Lalu dengan suara lirih, ia kembali berucap, “Pak, saya minta tolong sekali, bawa saja pasien pergi dari sini. Itu lebih baik.”

Aku tercekat.

“Itu lebih baik?”

Apa maksudnya?

Belum sempat ada yang menjawab, dua petugas keamanan rumah sakit sudah masuk ke ruangan. Tatapan mereka sungguh tak biasa. Bukan tatapan orang sedang menjalankan prosedur, tapi seperti orang yang ingin cepat-cepat menyingkirkan kami.

“Kang Sigit, tolong. Pasien ini, dibantu keluar,” kata dokter, singkat memberi perintah.

Jefry kembali marah, ia tidak mengizinkan Sigit yang merupakan sekuriti menyentuh Shinta.

“Udah, udah, udah. Jangan sentuh teman saya. Memang brengsek kalian semua,” ketusnya.

Tapi kemudian, terdengar suara rintihan dari Shinta. Ia membuka matanya perlahan.

Sontak aja, Jefry mendekat lalu memegang tangannya. “Dek?”

Seketika itu juga, Shinta menangis. Ia mengeluh, “Bang! Kenapa lo tinggalin gua di apartemen sendirian? Gua takut, Bang!”

Ucapan Shinta membuat kami heran. Kenapa ia berkata demikian. Padahal kami tidak pernah meninggalkannya. Apakah ia bermimpi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!