Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Festival Teratai Musim Gugur
"Minggir! Beri jalan! Paha bebek Peking yang berkilau itu sudah ditakdirkan oleh langit untuk masuk ke dalam perutku!"
Shen Rui alias Yui bergerak secepat kilat membelah kerumunan meja perjamuan. Di tangan kirinya memegang piring kayu yang sudah diisi dengan gunungan daging, sementara tangan kanannya dengan siap menusuk tiga tusuk sate cumi bakar sekaligus.
Di sebelahnya, Lin Yue tidak mau kalah. Gadis berbaju kuning cerah itu menggunakan teknik meringankan tubuh tingkat dasar hanya untuk melompati kursi demi menjangkau mangkuk sup sarang burung dan sepiring besar ikan asam manis. Keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang iblis kecil kelaparan yang baru saja berhasil mendobrak segel kurungan seratus tahun.
"Yui! Ambilkan bakpao babi panggang yang di sudut sana! Jangan sampai keduluan paman-paman berjanggut itu!" teriak Lin Yue sambil mengunyah daging bebek dengan beringas.
"Tenang saja! Es-ku lebih cepat dari sumpit mereka!" balas Yui tak kalah heboh.
Melihat kelakuan dua makhluk astral di depannya, Shen Yuan hanya bisa berdiri mematung sambil memijat pelipisnya. Tekanan darahnya kembali naik.
"Kalian berdua, berhentilah mempermalukan diri sendiri!" omel Yuan, menarik kerah belakang jubah Yui . "Lihat piringmu itu, Shen Rui! Kau menumpuk bebek, sate pedas, manisan plum, dan kue teratai menjadi satu menara! Kalau kau makan sebanyak ini, perutmu akan meledak! Besok kau pasti akan merintih sakit perut dan berguling-guling di lantai asrama lagi!"
Yui menepis tangan kakaknya dengan raut wajah sok bijak. Mulutnya penuh dengan makanan. "Kak Yuan tersayang, kau terlalu memikirkan keadaanku. Ingat, rezeki pesta gratis tingkat dewa seperti ini hanya datang satu kali dalam setahun! Perutku ini adalah dimensi tanpa batas. Dan kalaupun besok aku sakit perut, aku tinggal membekukan ususku sendiri di dalam agar tidak terasa sakit! Praktis, bukan?"
Yuan terbelalak. "Membekukan usiamu sendiri?! Kau benar-benar bodoh atau murni idiot?! Kau bisa mati, idiot!"
"Biarkan saja, Kak Yuan," sahut Lin Yue cuek, menyodorkan paha bebek ke mulutnya. "Lebih baik mati kekenyangan di tengah festival daripada mati kelaparan saat dihukum Tetua Pertama."
Bicara soal hukuman, Yui mendadak terkekeh geli. Ia duduk di salah satu kursi batu, langsung dikelilingi oleh gadis-gadis Asrama Selatan yang memandangnya dengan penuh puja.
"Ah, ngomong-ngomong soal kakek tua galak itu," gumam Yui dengan senyum usil. "menurutmu, apa yang sedang dilakukan Tetua Pertama sekarang? Pasti dia sedang berpatroli dengan wajah merah padam, mencari kita ke seluruh lubang tikus di perguruan."
"Dia pasti akan mengubur kalian hidup-hidup di ladang Ginseng kalau tahu kalian sedang makan daging bebek para bangsawan sekarang," tambah Lin Yue sambil tertawa.
"Biar saja," Yui mengangkat bahu. "Yang penting malam ini kita bahagia."
Tiba-tiba, Su Yin mencondongkan tubuhnya dari samping. Wajah gadis itu bersemu merah saat ia menjepit sepotong manisan buah persik dengan sumpitnya. "Tuan Muda Yui, kau pasti lelah mengunyah. Buka mulutmu, biar kusuapi manisan ini. Ini sangat manis, cocok dengan senyummu."
"Wah, Nona Su Yin memang bidadari paling pengertian di seluruh Benua Timur," puji Yui tanpa tahu malu, langsung membuka mulutnya lebar-lebar menerima suapan itu. "Ah... rasanya seperti memakan awan surga."
Jia Li tidak mau kalah, ia segera menuangkan secangkir teh melati hangat. "Minum ini juga, Yui , agar tenggorokanmu tidak kering sehabis menceritakan kisah heroikmu melawan siluman!"
Yuan yang melihat adegan itu dari jarak setengah meter hanya bisa mengelus dada sambil merapatkan mantra penenang jiwa. Adik kembarnya benar-benar definisi dari malapetaka berjalan.
Beberapa saat kemudian, ketika piring-piring mulai kosong dan perut Yui sudah membuncit seperti semangka, suara gong raksasa kembali berbunyi.
TENG! TENG! TENG!
"Perhatian semuanya! Waktunya menerbangkan Lampion Gelembung Cahaya!" seru seorang pembawa acara dari atas panggung.
Suasana alun-alun seketika berubah magis. Ribuan orang' mulai mengalirkan sedikit energi Qu mereka ke telapak tangan, meniupkan udara ke dalam cairan getah pohon bercampur bubuk fosfor. Dalam sekejap, ribuan gelembung udara berukuran besar dan transparan yang bersinar keemasan tercipta, melayang perlahan ke angkasa.
"Ayo kita buat permohonan!" seru Lin Yue antusias.
Yui meniup gelembungnya dengan kekuatan elemen es, membuatnya berkilau kebiruan bak kristal. Yuan meniup gelembungnya dengan elemen angin yang tenang, menjadikannya melayang paling tinggi dan stabil. Bersama-sama, mereka melepaskan gelembung itu ke langit malam yang perlahan berubah menjadi lautan bintang buatan.
Tepat saat gelembung-gelembung itu menutupi langit, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah bukit timur.
DHUAR! BOOM! TRATATATAT!
Kembang api raksasa meluncur membelah kegelapan malam, meledak menjadi ribuan percikan cahaya yang membutakan. Bentuknya tidak sekadar bulatan biasa. Pada kultivator kembang api telah mencampurkan sihir ilusi ke dalamnya. Kembang api pertama meledak membentuk siluet Gunung Emas yang megah. Kemudian di susul dengan ledakan berwarna rubi yang membentuk Bunga Teratai Mekar selebar puluhan meter. Dan puncaknya, sebuah kembang api berwarna biru safir meledak, meliuk-liuk di udara membentuk siluet Naga Surgawi yang seolah sedang menari di antara awan.
"Wahhh! Indah sekaliiii!" jerit Lin Yue melompat-lompat kegirangan, wajahnya diterangi cahaya warna-warni dari langit.
Di sebelahnya, Tuan dan Yui terdiam membisu. Mata dua saudara kembar itu menatap langit dengan tatapan yang sulit diartikan. Mulut Yui sedikit terbuka, sementara genggaman tangan Yuan pada ujung jubahnya mengerat.
Seumur hidup mereka selama beberapa tahun tinggal di dalam Istana Kekaisaran mereka memang sering melihat kembang api. Namun, mereka selalu melihatnya dari balik terali balkon Paviliun Giok yang dingin. Mereka selalu dijaga ketat oleh puluhan Pengawal. Mereka tidak pernah berdesakan dengan rakyat biasa, tidak pernah mencium bau keringat bercampur parfum murah dan asap arak, tidak pernah tertawa lepas tanpa memikirkan tata krama kerajaan . Baru kali inilah, di tengah kekacauan pasar, perut yang kekenyangan, dan Omelan tentang hukuman, Yuan dan Yui merasa benar-benar hidup.
"Luar biasa, kan?" Lin Yue menyenggol lengan Yuan, menyadarkannya dari lamunan. "Tapi tunggu dulu! Jangan terus menatap ke langit, karena aku lupa memberitahu kalian sesuatu yang lebih seru!"
Yui menoleh cepat . "Lebih seru dari makanan dan naga kembang api? Jangan bilang ada festival minum arak untuk anak di bawah umur?"
"Tentu saja bukan, otak udang!" Lin Yue menepuk dahi Yui. "Sebelum kita pergi ke Kuil Kuno untuk memuja para Dewa, akan ada pertunjukan tarian tradisional malam puncak! Lihat ke panggung itu!"
Bunyi genderang dan seruling bambu mulai mengalun rancak, menggetarkan lantai batu alun-alun.
Lin Yue dengan semangat menjelaskan layaknya seorang pemandu wisata profesional. "Pertunjukan pertama adalah Tari Dewi Bulan Jatuh! Nanti akan ada puluhan penari wanita berbaju sutra putih yang melayang di udara menggunakan pita panjang, seolah mereka benar-benar bidadari yang turun dari bulan. Gerakan mereka selembut air mengalir!"
"Lalu," Lin Yue menunjuk ke arah sekumpulan pria berotot yang baru saja naik ke sisi panggung membawa pedang besar yang menyala-nyala. "Itu Tari Peda Api Seribu Bayangan! Mereka akan menyemburkan api sungguhan dari mulut mereka ke arah pedang! Senggolan sedikit saja bisa membakar jubahmu. Sangat gagah dan berbahaya! Para gadis biasanya berteriak histeris menonton bagian ini!"
Mata Yui berbinar terang. "Api? Hah, elemen esku jauh lebih keren dari trik kembang api murahan itu!" kilahnya dengan sombong meski matanya tak berkedip menatap panggung.
"Dan sebagai penutup sebelum kita mendaki ke kuil..." Lin Yue menurunkan suaranya, "Akan ada Tari Singa Berkepala Naga Awan! Bukan sembarang barongsai, penarinya adalah kultivator tingkat menengah yang akan melompat dari tiang setinggi lima tombak tanpa tali pengaman!"
Genderang ditabuh semakin cepat. Dentumannya seakan beresonansi dengan detak jantung Yuan dan Yui. Para penari wanita mulai melayang anggun dengan pita sutra mereka di bawah hujan percikan kembang api yang tersisa. Sorak-sorai penonton menggema, bersahut-sahutan menciptakan simfoni kebahagiaan yang riuh dan hangat.
Yui tersenyum lebar, senyum yang benar-benar lepas tanpa ada niat usil dibaliknya. Ia merangkul pundak kakaknya erat-erat, ikut bersorak bersama Lin Yue dan gadis-gadis lainnya. Dan untuk malam itu, bahkan seorang Shen Yuan yang sedikit es dan selalu dipenuhi rasa khawatir, membiarkan dirinya tersenyum tulus, menikmati malam paling bising, paling kacau dan paling membebaskan dalam hidup mereka berdua .
"Yuan! Yui!"
***
Like yaaaaa