Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mata Rizky melebar maksimal seolah bola matanya mau melompat keluar.
Nafas pemuda itu terhenti seketika mendengar pengakuan gila dari mulut kakaknya sendiri.
"Kakak... Kakak yang menyuruh Bos Toni?" gumam Rizky dengan suara gemetar tak percaya.
"Tidak mungkin, Kak Rio pasti bohong kan untuk menakut-nakutiku?" bantah Rizky mencoba mencari sisa harapan.
Rio melepaskan cengkeramannya dari kerah jas Rizky dengan kasar.
Pemuda berjas putih itu kembali terjerembab ke lantai marmer yang dingin.
"Buat apa aku berbohong pada sampah sepertimu?" jawab Rio menatap jijik ke arah adiknya.
"Aku sudah tahu semua rencanamu sejak Nadia memberikan laporan pertama tentang pernikahan ini."
Rio merapikan lengan jasnya yang sedikit kusut akibat ulah Rizky.
"Bos Toni itu anjing peliharaanku, dia tidak akan berani meminjamkan uang miliaran tanpa persetujuanku," bongkar Rio dengan senyum miring.
Rizky merasa kepalanya seakan dihantam palu godam raksasa.
Dunia yang dia bangun dengan kebohongan kini benar-benar runtuh menimpanya.
"Kakak jahat! Tega sekali Kakak menjebak adik kandung Kakak sendiri!" teriak Rizky menangis memukul-mukul lantai.
"Kenapa Kakak kembali hanya untuk menghancurkan hidupku hah?!" rutuk Rizky menyalahkan Rio.
Bugh.
Rio menendang pelan bahu Rizky membuat pemuda itu terguling ke belakang.
"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu, keserakahanmu sendirilah yang menghancurkannya," desis Rio tajam.
"Kamu yang memilih menipu ibumu, mencuri uangnya, dan menggadaikan rumahnya."
Santi yang duduk di kursi terkesiap mendengar fakta tentang rumahnya.
"Rizky, kamu gadaikan rumah peninggalan bapakmu nak?" tanya Santi dengan suara parau yang menyayat hati.
Rizky tidak berani menatap wajah ibunya dan hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang babak belur.
"Maafkan Rizky Bu, Rizky butuh uang itu untuk menikah," isak Rizky masih mencoba mencari pembenaran.
"Dasar anak durhaka! Ibu tidak sudi punya anak sepertimu!" tangis Santi memalingkan wajahnya dengan dada sesak.
Di sisi lain Tuan Wijaya masih berlutut sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Ponsel di saku celananya berdering tanpa henti sejak sepuluh menit yang lalu.
Itu adalah panggilan dari para pemegang saham yang panik karena saham Grup Makmur anjlok drastis ke titik terendah.
"Tuan Rio, saya mohon ampuni perusahaan saya, putri saya batal menikah dengan penipu ini," rengek Tuan Wijaya merangkak mendekati Rio.
"Kami juga korban penipuan Tuan, tolong jangan hukum kami seberat ini," mohon pria paruh baya itu tanpa rasa malu.
Rio menatap Tuan Wijaya dengan pandangan sedingin es di kutub utara.
"Kamu menghina ibuku di depan mataku, dan kamu masih berani meminta pengampunan?" ejek Rio tersenyum sinis.
Tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu masuk utama lobi hotel.
Tap tap tap.
Suara ketukan tongkat kayu berpadu dengan langkah puluhan sepatu pantofel menggema memecah suasana.
Belasan pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam berjalan berbaris rapi mengamankan jalan.
Di tengah-tengah barisan itu berjalan seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya.
Meskipun usianya sudah senja namun postur tubuhnya masih tegap dan auranya sangat menekan.
Dia adalah Bramantyo Sentosa sang pendiri Grup Sentosa sekaligus orang tua angkat Rio.
"Tuan Besar Sentosa!" pekik beberapa tamu undangan yang langsung menepi memberikan jalan.
Tuan Wijaya seolah melihat dewa penolong turun dari langit.
Dia buru-buru bangkit berdiri dan berlari menghampiri Bramantyo.
"Tuan Besar Bramantyo! Tolong bantu saya Tuan Besar!" teriak Tuan Wijaya menghadang langkah pria tua itu.
"Direktur muda Anda ini bertindak sewenang-wenang menghancurkan Grup Makmur tanpa alasan yang jelas!" adu Tuan Wijaya mencari keadilan.
Bramantyo menghentikan langkahnya dan menatap Tuan Wijaya dengan sebelah alis terangkat.
"Singkirkan sampah ini dari jalanku," perintah Bramantyo datar tanpa basa-basi.
Dua orang pengawal bertubuh raksasa langsung maju dan mendorong kasar tubuh Tuan Wijaya hingga terpental.
Bruk.
Tuan Wijaya kembali jatuh ke lantai sambil meringis kesakitan.
"Tuan Besar, kenapa Anda malah menyuruh pengawal memukul saya?" protes Tuan Wijaya tidak terima.
Bramantyo mendengus pelan dan kembali berjalan melewati Tuan Wijaya begitu saja.
"Rio Dirgantara adalah penguasa mutlak Grup Sentosa saat ini," ucap Bramantyo dengan suara serak yang menggelegar.
"Apapun keputusan yang dia buat adalah keputusanku juga."
"Kalau dia bilang perusahaanmu harus hancur hari ini, maka perusahaanmu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi," tegas Bramantyo menutup harapan Tuan Wijaya selamanya.
Tuan Wijaya langsung lemas tak bertenaga seolah nyawanya baru saja dicabut dari raganya.
Cynthia hanya bisa menangis sesenggukan di sudut ruangan meratapi nasibnya yang tiba-tiba menjadi gembel.
Bramantyo terus melangkah menghampiri Rio yang berdiri di dekat kursi tempat Santi duduk.
Rio langsung membungkukkan badannya dengan sangat hormat menyambut kedatangan pria tua itu.
"Kakek, kenapa Kakek datang kemari? Udara di luar tidak bagus untuk kesehatan Kakek," tegur Rio dengan nada khawatir.
Bramantyo tersenyum hangat dan menepuk pelan bahu Rio.
"Aku ingin melihat langsung wanita hebat yang sudah melahirkan cucu kesayanganku ini," jawab Bramantyo menatap ke arah Santi.
Santi menunduk kikuk karena merasa tidak pantas berhadapan dengan orang terkaya di negara ini.
Dia menyembunyikan tangannya yang kasar ke balik celemek kotornya.
Bramantyo melangkah maju lalu melakukan hal yang membuat semua orang kembali menahan nafas.
Pria tua yang sangat dihormati itu membungkukkan badannya di hadapan Santi.
"Terima kasih Ibu Santi, Anda telah membesarkan seorang putra yang luar biasa hebat," ucap Bramantyo tulus.
"Rio adalah cucu terbaik yang pernah Tuhan berikan untuk saya di masa tua ini."
Santi buru-buru berdiri dari kursinya dan balas membungkuk dengan canggung.
"Tuan Besar jangan begitu, saya yang harusnya berterima kasih karena Anda sudah menyelamatkan nyawa Rio dulu," balas Santi dengan air mata yang kembali menetes.
"Saya pikir anak saya sudah mati malam itu Tuan, saya benar-benar berterima kasih Anda memberinya jantung baru," isak Santi teringat masa lalu.
Bramantyo tersenyum dan meminta pengawalnya membawakan kursi roda yang sangat mewah.
"Sudah cukup penderitaan Anda selama ini Ibu Santi, mulai hari ini Anda adalah tamu paling terhormat di keluarga Sentosa," kata Bramantyo lembut.
"Rio, bawa ibumu pulang ke rumah utama sekarang, jangan biarkan dia kedinginan memakai baju basah itu," perintah Bramantyo pada Rio.
Rio mengangguk patuh lalu membantu ibunya duduk di atas kursi roda tersebut.
"Ayo kita pulang Bu, rumah Rio sangat besar dan Ibu tidak perlu mencuci piring lagi seumur hidup Ibu," bisik Rio tersenyum bahagia.
Santi mengangguk lemah namun hatinya terasa sangat penuh dan damai.
Dia tidak peduli dengan kemewahan, yang dia pedulikan hanyalah dia bisa kembali bersama anak sulungnya.
Rio bersiap mendorong kursi roda ibunya menuju pintu keluar.
"Kak Rio! Bawa aku juga Kak! Tolong jangan tinggalkan aku di sini!" jerit Rizky merangkak mendekat menahan roda kursi tersebut.
"Aku ini adik kandung Kakak! Ibu tolong bawa aku pulang Bu!" mohon Rizky menatap ibunya dengan wajah memelas.
Santi memalingkan wajahnya tidak sanggup melihat wajah anak yang sudah mengusirnya tadi.
Rio menendang tangan Rizky hingga terlepas dari kursi roda ibunya.
"Rumahku tidak menerima penipu dan anak durhaka," tolak Rio dingin.
"Besok pagi Bos Toni akan datang mencarimu untuk menagih utang satu koma dua miliar itu."
Rio menunduk sedikit menatap mata adiknya yang kini dipenuhi ketakutan luar biasa.
"Selamat menikmati kehidupan barumu di jalanan Rizky," bisik Rio memberikan salam perpisahan yang kejam.
Rio mendorong kursi roda ibunya menjauh tanpa menoleh lagi ke belakang.
Bramantyo dan puluhan pengawalnya ikut berjalan keluar mengikuti langkah Rio.
Nadia sang asisten pribadi berhenti sejenak dan menatap sisa-sisa kehancuran di lobi itu.
"Tuan Wijaya, tagihan ganti rugi pemutusan kontrak sepihak dari semua kolega bisnis akan dikirimkan ke rumah Anda sore ini," lapor Nadia dengan senyum profesional.
"Semoga Anda dan keluarga bisa bertahan hidup di luar sana," tutup Nadia lalu berbalik menyusul bosnya.
Pintu kaca lobi hotel tertutup rapat meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam sana.
Tuan Wijaya meraung marah dan langsung menerjang tubuh Rizky yang masih syok.
Bugh bugh bugh.
Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah pemuda itu.
"Mati kau penipu sialan! Kembalikan perusahaanku!" teriak Tuan Wijaya seperti orang gila.
Cynthia ikut memukuli Rizky menggunakan sepatu hak tingginya tanpa ampun.
Rizky hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya dari amukan mantan mertua dan calon istrinya.
Tangisannya menggema di ruangan mewah yang kini menjadi saksi bisu kehancurannya.
Masa depannya sudah tamat dan besok nyawanya akan menjadi buruan lintah darat paling kejam di kota ini.