Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
.
“Kamu dari mana?” tanya Raka ketika Aisyah baru saja menapakkan kaki di atas teras. Pria itu berdiri di depan pintu, menatapnya penuh tanya.
Aisyah menoleh sekilas sambil menuntun Fatimah. “Kamu tidak.lihat aku datang sama Fatimah?” tanya Aisyah. “Ya tentu saja dari sekolah Fatimah.”
Raka melirik putri kecil itu. “Di sekolah Fatimah dari pagi sampai sekarang?” tanya Raka tak percaya.
“Iya. Daripada bolak-balik naik taksi, mending aku nunggu di sana sampai jam pulang,” ucap Aisyah terdengar santai. “Lagi pula enakan nunggu di sana. Ada banyak ibu-ibu bisa jadi teman ngobrol. Daripada aku diem di rumah cuma bengong.”
Alis Raka berkerut. Alasan Aisyah memang masuk akal. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengusik hatinya. Sebersit rasa curiga yang tak biasa. “Lalu kenapa ponselmu tidak aktif?”
“Masa sih?” Aisyah seakan tidak percaya. Wanita itu membuka tasnya dan melihat ponsel yang tentu saja layarnya gelap karena dia memang sengaja menonaktifkan ponsel. “Oh… baterainya habis kali.”
Jawaban wanita itu terdengar begitu tenang, hingga Raka tak menemukan celah untuk bertanya lebih jauh. Ia pun mengulurkan tangan meraih tas kecil di bahu istrinya.
“Sini, aku bawakan.” Raka mengulurkan tangannya meraih tas yang dibawa oleh Aisyah. Pria itu yang beberapa menit lalu masih gusar karena Aisyah yang tak kunjung pulang, kini mencoba bersikap lembut agar Aisyah tak lagi marah.
“Tidak perlu,” tolak Aisyah pelan sambil menarik tasnya sedikit. “Tidak berat. Aku bisa sendiri.” ucap Aisyah lalu berjalan masuk bersama Fatimah.
Raka mengikuti dari belakang, keningnya masih berkerut. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Biasanya Aisyah akan merasa senang jika dirinya menunjukkan sikap perhatian. Bahkan biasanya wanita itu sering menyerahkan tasnya tanpa diminta. Kini, Aisyah benar-benar seperti orang yang tak butuh dirinya.
Lalu Raka melihat punggung Fatimah yang juga melangkah masuk. Gadis kecil itu sejak melihatnya ada di rumah itu bahkan belum menyapanya. Kenapa? Apakah Fatimah juga mulai ingin menjauh darinya.
“Aisyah…” panggil Raka tak lagi bisa menahan diri.
Aisyah yang masih menggandeng tangan Fatimah menghentikan langkahnya. Wanita itu menundukkan kepalanya menatap ke arah Fatimah yang ikut berhenti.
“Fatimah ganti baju sendiri, ya? Bisa, kan?” ucap Aisyah lembut.
“Bisa dong, Bu. Fatimah kan sudah besar?” Gadis itu menepuk dadanya bangga lalu melepaskan genggaman pada tangan ibunya, kemudian berlari kecil ke arah kamarnya.
“Ada apa?” tanya Aisyah setelah punggung Fatimah menghilang ditelan pintu kamarnya.
“Kenapa sikap Fatimah seperti itu?” tanya Raka dengan wajah gusar. “Apa kamu mengajarkan dia untuk menjadi anak durhaka?”
Aisyah terbelalak tak percaya mendengar pertanyaan dengan nada tuduhan itu. Wanita itu menunjuk ke arah dadanya sendiri. “Aku?” Aisyah menggeleng tak percaya. “Apa menurutmu aku orang seperti itu?”
“Lalu kenapa dia sama sekali tidak menyapaku?” Suara Raka sudah naik satu oktaf. “Biasanya dia selalu memeluk kakiku jika aku datang. Tidak mungkin dia bersikap seperti itu jika tidak ada yang mengajari. Sikapnya barusan sama persis dengan sikapmu belakangan ini. Dan sikap Rangga juga berubah. Pasti gara-gara kamu yang mendidik seperti itu!”
“Astaghfirullah…” Aisyah beristighfar dalam hati. “Jadi kamu berpikir aku seperti itu?” Aisyah menatap wajah Raka datar. “Apa kamu tidak mencoba bertanya pada dirimu sendiri, apa masalah nya?”
“Apa maksudmu?” tanya Raka bingung. Dia yang seharusnya marah kenapa malah Aisyah ikut marah?
“Kamu tahu kenapa dia marah?” tanya Aisyah dan Raka hanya menggelang. “Pagi ini dia menunggu kamu pulang untuk mengantar ke sekolah. Kami bahkan berangkat di ambang waktu, sampai sekolah nyaris terlambat hanya karena dia bersikeras menunggumu. Sudah susah payah aku dan Rangga membujuk supaya dia mau sekolah dan sekarang kamu malah menuduhku seperti itu?”
Raka menggeleng cepat, dia tidak bermaksud seperti itu. Kenapa jadi seperti ini. Raka menatap ke arah Aisyah dengan raut bersalah. “Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Tapi kamu sudah berkata seperti itu.” Aisyah melanjutkan langkahnya tanpa peduli lagi.
Raka segera mengejar langkah Aisyah yang sudah sampai di kamar. Dengan hati-hati ia memeluk wanita itu dari belakang saat Aisyah berniat menyimpan tas nya di lemari. Aisyah tidak meronta, tapi juga tidak membalas pelukan.
“Aku minta maaf,” ucap Raka. “Kemarin itu Nabila benar-benar sakit. Aku tidak tega untuk meninggalkan dia sendirian.”
Tidak ada jawaban dari Aisyah selama beberapa detik membuat Raka melepaskan pelukan dan memutar tubuh wanita itu hingga mereka berhadapan. Raka menatap wajah istri pertamanya dengan wajah sendu. Tak ada perubahan pada raut wajah Aisyah. Tidak da kemarahan atau apa pun membuat Raka jadi semakin tak tahu harus berkata apa.
“Kamu masih marah?” tanya Raka sedih.
Aisyah menatapnya beberapa detik tanpa berkedip. “Kenapa harus marah?” tanya wanita itu dengan raut tanpa ekspresi.
“Aku tahu aku salah telah menuduhmu seperti itu. Maafkan aku, ya?” ucap pria itu sambil menggenggam tangan Aisyah.
Aisyah menarik nafas dalam lalu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Sudahlah, aku mau ganti baju. Gerah.” Aisyah kemudian mengambil daster rumahan untuk mengganti gamis panjang yang sudah berkeringat karena dipakai sejak pagi.
Raka mengangguk. “Aku akan minta maaf sama Fatimah,” ucapnya lalu keluar dari kamar.
Aisyah bernafas lega setelah pintu tertutup. Wanita itu segera mengambil tas yang berisi dokumen perjanjian sewa ruko dan menyimpannya di tempat yang aman.
“
Sore berganti malam. Aisyah masih menunggui anak-anaknya belajar sambil memeriksa berkas toko yang belum sempat selesai tadi siang karena keberadaan Raka di rumah.
Lalu Raka? Pria itu yang sebelumnya sudah berjanji pada Fatimah akan mengantar ke sekolah besok, dan sebelumnya sudah akan menginap di rumah itu karena memang sekarang jadwalnya berada di rumah Aisyah, akhirnya kembali ke rumah Nabila saat seorang yang mengaku tetangga rumah mereka menelpon dan mengatakan Nabila pingsan.
Aisyah tahu itu adalah sandiwara yang sengaja dilakukan oleh Nabila, tapi ia sama sekali tidak peduli. Baginya akan lebih baik jika Raka tidak ada di rumah. Jadi ia tidak harus mencari alasan agar tidak tidur bersama pria itu.
Hanya Fatimah yang menangis saat Raka hendak pergi. Namun, Aisyah berhasil membujuknya.
“Kamu sendiri yang mulai menjauh dari anak-anak, Mas,” batin Aisyah. “Jangan salahkan anak-anak jika suatu saat mereka menjauh darimu.”
Baginya Raka hanya pria yang bodoh. Bagaimana bisa tidak menyadari bahwa Nabila hanya berpura-pura?