Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Yang Dibawa Lari Malam Itu
Sekar tidak menangis.
Itu yang paling membuat Raka khawatir. Ia mengira gadis itu akan marah, atau menyangkal, atau setidaknya gemetar. Tetapi Sekar hanya berdiri diam di tengah bengkel yang panas, menatap potongan lontar di tangan Raka seakan itu seekor ular yang bisa menggigit kapan saja.
"Dia bohong," katanya akhirnya, datar.
"Mungkin," kata Raka hati-hati.
"Dia bohong. Orang itu cuma ingin membuatku takut. Supaya aku ikut dengannya."
"Mungkin juga begitu."
"Ayahku bernama Dharma." Suaranya mulai bergetar. "Dia juru tulis di balai desa. Dia mengajariku membaca, dia menggendongku waktu aku demam, dia mengajariku menyulam benang..." Ia berhenti, menelan ludah. "Dia tak mungkin berbohong tentang namanya."
Tak seorang pun menjawab. Di sudut ruangan, tungku berderak, dan dentang palu dari bengkel sebelah terdengar seperti detak jantung yang tak mau diam.
Paman Landep, yang sejak tadi berdiri dengan tangan bersedekap di dekat pintu, tidak mengatakan apa-apa. Tapi Raka, yang berdiri paling dekat dengannya, melihat kerutan di sekitar matanya mengencang dan buku-buku jarinya memutih di sekeliling penjepit besi.
Lelaki itu tahu sesuatu.
Mpu Kalandara tiba menjelang tengah hari, ditemani seorang penunggang kuda tua yang dipinjamnya dari pasanggrahan. Wajahnya letih tapi matanya tajam. Setelah mendengar cerita singkat Wirabhaya, ia meminta potongan lontar itu dan memeriksanya lama di bawah sinar jendela.
"Tulisan ini baru," katanya. "Tintanya masih basah di bagian bawah. Tangannya rapi, tapi ada kekakuan pada lengkung-lengkungnya. Orang yang menulis ini terbiasa menulis dengan pena, bukan kuas lontar."
"Hendar," kata Raka.
"Hampir pasti." Mpu Kalandara menurunkan lontar itu. Matanya beralih pada Sekar. "Tapi ini bukan alasan untuk menganggap isinya kosong. Orang seperti dia tidak akan membuang kartu penting kalau tak punya dasar."
Sekar menegakkan tubuh. "Mpu pikir itu benar?"
"Aku pikir kita perlu bertanya pada orang yang mungkin tahu." Pertapa itu menoleh pelan ke arah pintu. "Bukan begitu, Landep?"
Semua mata beralih pada pandai besi itu.
Lelaki besar itu tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, lalu tungku, lalu tangannya sendiri, tangan yang penuh bekas luka bakar dan kapalan tebal, seakan mencari keberanian di sana.
"Sekar," katanya akhirnya, suaranya kasar seperti gesekan logam. "Kau tahu kenapa kau kusuruh datang kemari, bukan ke tempat lain?"
"Karena Paman kerabat jauh. Ibu bilang begitu."
"Ibumu berbohong." Landep menarik napas dalam. "Atau lebih tepatnya, dia hanya menceritakan separuh kebenaran. Aku bukan kerabatmu. Aku sahabat ayahmu."
"Sahabat Ayah?"
"Dari masa sebelum dia menjadi Ki Dharma."
Sekar menatapnya dengan mata melebar. Untuk pertama kalinya sejak tadi, topeng ketenangannya retak. "Apa maksud Paman?"
"Sebaiknya kau duduk, Nak."
"Aku tidak mau duduk."
"Sebaiknya kau duduk." Landep menarik sebuah bangku kayu dan menaruhnya di dekat tungku. Matanya melunak, penuh kesedihan yang tertahan sangat lama. "Dan sebaiknya mereka juga duduk. Karena cerita ini panjang, dan tidak akan menyenangkan."
"Kami bisa keluar kalau perlu," kata Wirabhaya.
"Tidak." Sekar menggeleng cepat. "Mereka tinggal. Mereka sudah jadi bagian dari ini."
Landep mengangguk pelan.
Mereka duduk melingkari tungku, dalam cahaya merah yang berkedip-kedip. Landep bersandar di dinding, matanya menerawang jauh ke masa yang sudah lama dikuburnya.
"Dua puluh dua tahun lalu," mulainya, "aku masih seorang prajurit Bhayangkara. Aku dan ayahmu bertugas bersama. Dia bukan juru tulis, Nak. Dia seorang perwira. Namanya Rakai Wiratanu. Orang yang paling jujur yang pernah kukenal."
Wirabhaya menegang di samping Raka. "Wiratanu? Pengawal pribadi Sri Jayanegara?"
"Ya." Landep memandangnya heran. "Kau tahu?"
"Ayahku pernah menyebutnya. Katanya dia menghilang pada malam yang kelam."
"Malam yang kelam itu," Landep mengangguk, "adalah malam Sri Jayanegara dibunuh."
Raka menahan napas. Ia tahu cerita itu dari buku-buku sejarah. Raja kedua Majapahit, Jayanegara, tewas pada tahun 1328 ditikam oleh tabib istananya sendiri, Tanca, yang kemudian dibunuh Gajah Mada. Salah satu peristiwa paling gelap dalam sejarah kerajaan.
Tetapi tak ada buku yang pernah menyebutkan seorang pengawal bernama Wiratanu.
"Malam itu kacau," lanjut Landep. "Istana dipenuhi teriakan. Raja tewas. Tabib itu tewas. Tak ada yang tahu siapa dalang di baliknya, atau siapa yang bisa dipercaya. Dan di tengah kekacauan itu, ayahmu menerima sesuatu dari seorang dayang yang berlari menembus lorong istana sambil menangis."
"Apa yang dia terima?" bisik Sekar.
"Seorang bayi."
Hening mencekam. Hanya bunyi bara yang pecah di dalam tungku.
"Bayi yang baru berusia beberapa pekan," kata Landep pelan. "Ibunya seorang selir muda yang tak pernah diakui. Dia sedang sekarat di kamar belakang, dan dengan napas terakhir ia memohon pada dayang itu untuk menyelamatkan anaknya. Dayang itu mencari orang yang bisa dipercaya, dan ia menemukan ayahmu."
Sekar membuka mulut tapi tak ada suara yang keluar.
"Ayahmu tahu betul apa artinya membawa anak itu lari. Kalau para pejabat yang mengincar takhta tahu ada anak raja yang masih hidup, anak itu tak akan bertahan semalam. Maka dia melarikan diri ke selatan dengan bayi dalam gendongannya, dan hanya satu orang yang tahu ke mana dia pergi. Aku."
"Paman..."
Landep menatap tangan Sekar. "Cincin di jarimu itu satu-satunya bukti garis keturunanmu. Dayang itu menyelipkannya di dalam kain gendonganmu, dan ayahmu memastikan lambang Surya Majapahit di atasnya tak pernah hilang."
Sekar menyentuh dadanya, di tempat ia menyimpan cincin itu. Jemarinya gemetar. "Ayahku... ayahku..."
"Dia bukan ayah kandungmu, Nak. Tapi dia mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri." Mata Landep berkaca-kaca. "Dia mengubah namanya menjadi Dharma, hidup sebagai juru tulis, menikah dengan Lastri supaya tak ada yang curiga, dan membesarkanmu sebagai anak desa biasa. Dia tahu satu hari kebenaran bisa menghancurkanmu. Karena itu dia memohon padaku untuk tak pernah membuka rahasia ini, kecuali kau yang bertanya."
Tak seorang pun bergerak. Bahkan Tarub, yang berdiri berjaga di pintu, mengerjap-ngerjap dengan mulut sedikit terbuka.
Mpu Kalandara memejamkan mata. "Aku sudah menduga," bisiknya. "Sejak melihat cincin itu."
Sekar menatap tangannya sendiri, jari-jari yang kasar karena memetik daun obat dan menumbuk jamu. Lalu perlahan ia mengangkat wajah, dan suaranya nyaris tak terdengar ketika berbicara.
"Paman. Katakan padaku. Siapa ayah kandungku?"
Landep menatapnya lama, lalu berlutut di hadapannya seperti seorang prajurit di hadapan junjungannya. Raka menyaksikan lelaki sebesar itu menunduk dengan mata basah.
"Nyai," katanya serak. "Kau putri Sri Jayanegara."
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.