Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Aliansi yang Berdarah
Aula besar kediaman Duke Killian selalu terasa lebih dingin daripada suhu malam di luar mansion. Dinding-dinding batu hitam yang tinggi menjulang, dihiasi dengan kepala-kepala binatang buruan dan pedang-pedang kuno, memberikan kesan intimidatif bagi siapa pun yang berani melangkah masuk. Namun, bagi Elena, hawa dingin ini jauh lebih bersahabat ketimbang kobaran api sel penjara bawah tanah yang pernah melumat tubuhnya di kehidupan pertama.
Malam itu, Elena duduk di hadapan sang tirani. Sebuah meja kayu ek besar memisahkan mereka. Di atas meja tersebut, peta wilayah kekaisaran terbentang luas, dengan beberapa pion hitam dan merah yang menandai pergerakan pasukan serta kepemilikan tanah para bangsawan.
Duke Killian von Eisenhardt menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran. Jubah hitam beludrunya yang bertepuk bulu serigala sedikit tersingkap, memperlihatkan gagang belati perak yang selalu tersemat di pinggangnya. Mata elangnya yang beriris kelabu menatap Elena dengan intensitas yang sanggup membuat nyali seorang jenderal perang sekalipun menciut.
"Kau meminta tambahan tiga ratus prajurit bayaran dari wilayah barat, Nona Elena," suara Killian terdengar berat, bergema rendah di dalam ruangan yang sunyi. "Tidakkah kau pikir aliansi kita ini mulai menuntut terlalu banyak dari pihakku? Aku seorang pebisnis, dan aku tidak suka berinvestasi pada sesuatu yang belum menunjukkan hasil nyata."
Elena tidak gentar. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu yang mematikan itu. Senyum tipis yang penuh rahasia terukir di bibirnya.
"Investasi ini akan membawa kepala Gavin ke hadapan Anda lebih cepat dari yang Anda perkirakan, Yang Mulia Duke," jawab Elena dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan racun. "Tiga ratus prajurit itu bukan untuk menyerang. Mereka adalah umpan. Gavin adalah pria yang penuh curiga, namun dia juga seorang oportunis yang serakah. Saat dia melihat celah keamanan di perbatasan barat yang sengaja kita longgarkan, dia akan mengerahkan pasukan pribadinya untuk merebut jalur perdagangan itu."
Killian menaikkan sebelah alisnya. Ketertarikan mulai memercik di matanya. "Dan saat dia melakukannya?"
"Saat dia bergerak, wilayah tengah kekaisaran akan kosong. Di situlah kita akan memotong jalur logistiknya, membuat pasukannya kelaparan, dan menjatuhkan reputasinya di hadapan kaisar saat ini. Pria itu ingin naik takhta, bukan? Mari kita biarkan dia memanjat sedikit lebih tinggi, hanya untuk merasakan betapa sakitnya dihempaskan kembali ke tanah."
Killian terdiam sejenak. Ia meraih cawan perak berisi anggur merah di sampingnya, memutar-mutarnya perlahan sebelum menyesapnya sedikit. Sifat Elena yang dingin, penuh perhitungan, dan tidak lagi memiliki ketakutan terhadap kematian selalu berhasil mengejutkannya. Gadis naif yang dahulu rumornya rela memohon demi Gavin, kini telah menjelma menjadi iblis betina yang haus akan darah.
"Kau sungguh telah berubah, Elena," bisik Killian, meletakkan kembali cawannya. "Terkadang aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu hingga membuat domba yang penurut sepertimu tiba-tiba memiliki taring sebesar ini?"
Elena mengepalkan tangannya di bawah meja. Ingatan tentang putranya yang masih kecil menjerit di tengah kepulan asap, dan tawa mengejek dari adik tirinya saat api mulai membakar kulitnya, melintas secepat kilat. Rasa sakit itu nyata, membakar dadanya dengan kemarahan yang membara.
"Masa lalu adalah guru yang kejam, Yang Mulia," sahut Elena, menyembunyikan getaran di hatinya dengan sempurna. "Dan saya adalah murid yang belajar dengan sangat baik."
Killian tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka yang bisa membuat merinding siapa saja yang melihatnya. "Baiklah. Tiga ratus prajurit dari wilayah barat akan berada di bawah kendalimu besok pagi. Tapi ingat, Elena, jika rencana ini gagal... akulah yang akan memastikan kau menyesal karena telah terlahir kembali."
"Rencana saya tidak pernah gagal, Duke," balas Elena tegas.
Sementara itu, di kediaman megah milik keluarga Gavin, atmosfer yang tercipta berbanding terbalik. Ketegangan yang mencekam menyelimuti ruang kerja pria yang ambisius itu. Gavin berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman, meremas secarik kertas laporan intelijen dengan geram.
Di sofa ruangan itu, duduk adik tiri Elena, mengenakan gaun sutra mewah dengan riasan wajah yang tebal. Namun, kecantikannya malam itu tertutup oleh gurat kecemasan yang mendalam.
"Bagaimana bisa jalang itu mendekati Duke Killian?!" Gavin berteriak, membalikkan badannya dengan wajah memerah karena amarah. Ia melempar kertas yang diremasnya ke lantai. "Elena yang kukenal seharusnya merangkak memohon cintaku! Dia seharusnya menyerahkan sisa pengaruh keluarganya kepadaku! Kenapa dia tiba-tiba memalingkan wajahnya dan bersekutu dengan monster dari Eisenhardt itu?!"
Adik tiri Elena bangkit dari sofa, melangkah mendekati Gavin dan menyentuh lengan pria itu dengan lembut, mencoba menenangkan. "Tenanglah, Kak Gavin. Elena mungkin hanya menggertak. Dia hanyalah seorang wanita naif yang sakit hati karena kau lebih memilihku. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita yang tidak tahu apa-apa tentang politik kekaisaran? Duke Killian pasti hanya memanfaatkannya untuk memancingmu."
"Kau tidak mengerti!" Gavin menepis tangan wanita itu dengan kasar, membuat sang adik tiri terkejut. "Tiga jalur pasokan bisnis kita di utara baru saja diblokir oleh otoritas kekaisaran atas laporan anonim. Dan laporan itu... berisi detail keuangan yang hanya diketahui oleh orang dalam keluargaku dan keluarga Elena! Siapa lagi yang bisa membocorkannya kalau bukan dia?!"
Gavin berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Ambisinya untuk merebut takhta kekaisaran kini mulai menemui kerikil tajam. Ia mengira Elena akan selalu menjadi pion setianya yang bodoh, yang bisa dia buang kapan saja setelah tujuannya tercapai. Namun sekarang, pion itu justru bergerak sendiri, mengancam untuk menumbangkan raja.
"Aku tidak bisa membiarkan ini," gumam Gavin dengan tatapan mata yang kejam. "Jika Elena berniat menghancurkanku, maka aku harus melenyapkannya sebelum dia sempat menancapkan taringnya lebih dalam. Kirim pesan kepada para pembunuh bayaran di pasar gelap. Aku ingin kepala Elena dibawa ke hadapanku sebelum akhir pekan ini!"
Adik tirinya tersenyum licik mendengar perintah itu. "Pilihan yang sangat tepat, Kak Gavin. Biarkan aku yang mengatur pertemuan dengan mereka. Jalang itu memang sudah seharusnya lenyap sejak lama."
Kembali ke kediaman Duke Killian, malam semakin larut ketika Elena memutuskan untuk pamit undur diri ke kamarnya yang terletak di sayap barat mansion. Langkah kakinya terdengar teratur di koridor yang sunyi. Namun, instingnya yang telah terasah oleh penderitaan mendadak menangkap sesuatu yang janggal.
Udara malam itu terasa terlalu tenang. Angin yang berembus melalui celah jendela membawa aroma yang sangat tipis, namun asing—bau besi dan bubuk mesiu.
Elena menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor yang remang-remang. Matanya menyipit, menatap bayangan yang bergerak samar di ujung lorong.
Clang!
Sebuah anak panah berujung racun melesat cepat memecah kesunyian malam, mengarah tepat ke leher Elena. Dengan refleks cepat yang didorong oleh ingatan masa depannya, Elena menjatuhkan dirinya ke lantai, membiarkan anak panah itu menancap kuat pada dinding kayu di belakangnya.
"Siapa di sana?!" seru Elena sambil dengan cepat menarik belati kecil yang dia sembunyikan di dalam balik gaunnya.
Dari kegelapan koridor, tiga pria berpakaian serba hitam dengan topeng kain muncul. Mereka memegang pedang pendek yang berkilau di bawah sinar bulan. Tanpa membuang waktu atau mengeluarkan suara, ketiga pembunuh itu langsung menerjang ke arah Elena.
Elena memutar tubuhnya menghindar dari tebasan pedang pertama. Ia menggunakan momentum itu untuk menusukkan belatinya ke pergelangan tangan penyerang pertama, membuatnya memekik kesakitan dan melepaskan senjatanya. Namun, dua penyerang lainnya langsung menutup ruang gerak Elena, menyudutkannya ke arah dinding.
Di saat pedang penyerang kedua hampir mengenai dadanya, sebuah bayangan hitam besar melesat dari arah belakang Elena.
Sreeet!
Suara logam beradu dengan daging terdengar mengerikan. Kepala salah satu pembunuh bayaran itu terlempar ke lantai sebelum tubuhnya sempat ambruk. Darah segar menyembur, membasahi dinding koridor.
Duke Killian berdiri di sana. Pedang panjangnya yang bermata dua sudah berlumuran darah segar. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah-olah dia baru saja memotong rumput di taman, bukan mencabut nyawa seorang manusia.
Dua pembunuh yang tersisa tertegun melihat kehadiran sang tirani berdarah dingin. Ketakutan yang amat sangat langsung melumpuhkan akal sehat mereka. Mereka mencoba berbalik untuk melarikan diri, namun Killian bergerak lebih cepat dari bayangan. Dengan satu tebasan horizontal yang kuat, pembunuh kedua tumbang dengan luka menganga di perutnya.
Killian kemudian mengarahkan ujung pedangnya yang meneteskan darah ke leher pembunuh terakhir yang kini sudah gemetaran di atas lututnya.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Killian, suaranya dingin bagaikan es dari kutub utara.
Pembunuh itu melirik ke arah Elena, lalu ke arah Killian, sebelum akhirnya menggigit sesuatu di dalam mulutnya. Detik berikutnya, busa beracun keluar dari mulut pria itu, dan dia pun roboh tak bernyawa. Bunuh diri dengan racun tersembunyi.
Killian mendengus meremehkan. Ia menyeka pedangnya dengan kain sapu tangan sutra yang dia ambil dari kantongnya, lalu membuang kain bernoda darah itu ke atas mayat. Ia berbalik menatap Elena, yang masih terduduk di lantai dengan napas yang sedikit terengah-engah, namun matanya sama sekali tidak memancarkan ketakutan akan pertumpahan darah yang baru saja terjadi.
"Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanmu, Nona Elena," kata Killian sambil mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit untuk membantu Elena berdiri. "Gavin tampaknya sudah mulai panik."
Elena menyambut uluran tangan Killian dan bangkit berdiri. Ia merapikan gaunnya yang kini sedikit ternoda oleh cipratan darah musuh. Tatapan matanya menjadi sedingin es, dipenuhi oleh kepuasan yang kejam.
"Ini justru bagus, Yang Mulia," ucap Elena sambil menatap tiga mayat yang terkapar di koridor. "Orang yang panik akan membuat lebih banyak kesalahan. Gavin baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri. Besok, kita akan memulai babak baru dari permainan ini."
Killian menatap Elena dengan senyuman misterius. Aliansi ini, ia sadari, akan menjadi aliansi paling berdarah sekaligus paling indah yang pernah disaksikan oleh kekaisaran.