Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan
Diam-diam, Giana merekam aktivitas Ruben. Pria itu bukan pelayan ataupun juga barista. Entah apa jabatannya di kedai kopi ini. Yang jelas, Ruben terlihat sibuk mendatangi para pengunjung, terutama pengunjung wanita.
Setelah selesai merekam, Giana langsung mengirimkan video itu kepada Pradipta.
Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan pesanannya. Giana memanfaatkan kesempatan itu untuk mengorek informasi tentang Ruben.
“Mbak, Mas yang di sana, lagi bagiin apa sih?” tanya Giana seraya menunjuk Ruben.
“Mas Ruben lagi mendata pelanggan, Mbak. Nah, pengunjung yang sudah mengisi data diri nanti dapat voucher gratis minum kopi di sini.”
“Dia pegawai di sini?” tanya Giana lagi.
“Bukan, Mbak. Dia itu konsultan marketing dan humas. Pemilik kedai ini menggunakan jasanya untuk menaikkan penjualan kedai ini.”
“Ooh … gitu. Saya bisa dapat voucher gratis, nggak?”
“Bisa, Mbak. Nanti saya bilang ke Mas Ruben,” jawab pelayan itu seraya tersenyum.
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama.”
Sambil menyeruput kopinya, Giana terus memperhatikan Ruben. Kali ini, pria itu sedang mendatangi tiga pengunjung wanita muda. Cukup lama dia berbincang di sana. Sesekali terdengar tawa mereka.
Perhatian Ruben teralihkan ketika pintu kedai terbuka. Dari arah luar, masuk seorang gadis dengan postur tubuh tinggi semampai.
Meski hanya mengenakan celana jeans, dipadu dengan kaus berwarna putih yang dilapisi kemeja flanel, gadis itu tetap terlihat menawan.
Sebuah tas ransel tersampir di bahunya. Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang saat gadis itu berjalan.
Setelah memesan minuman, gadis itu berjalan menuju meja yang kosong. Letak meja yang dipilihnya tidak jauh dari meja Giana.
Melihat perempuan muda itu, Ruben beranjak dari tempatnya lalu mendekati gadis tersebut.
“Selamat siang,” sapa Ruben seraya tersenyum manis.
Perhatian gadis itu teralihkan dari ponsel di tangannya begitu mendengar suara seseorang menyapanya. Dia memandangi Ruben yang berdiri di hadapannya tanpa ekspresi sedikit pun.
“Saya boleh duduk di sini?” tanya Ruben seraya menarik kursi di dekat gadis itu.
“Nggak,” jawab gadis itu singkat, padat, dan jelas. Ucapannya menghentikan gerakan Ruben yang sedang menarik kursi.
“Sebenarnya saya ke sini hanya untuk mendata pengunjung. Yang bersedia mengisi data diri, nanti akan diberikan voucher minum kopi di sini,” bujuk Ruben.
“Nggak minat. Gue nggak butuh voucher. Gue masih punya duit buat beli kopi,” jawabnya acuh tak acuh.
“Kami hanya ingin mensurvey pendapat pengunjung,” kilah Ruben.
“Kalau cuma survey, nggak harus isi data diri, kan?” gadis itu balik bertanya.
“Iya,” jawab Ruben sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya menahan kedongkolan terhadap gadis cantik di hadapannya. Pria itu kemudian memberikan tablet di tangannya. “Silakan diisi.”
Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk mengisi survey. Dia segera memberikan kembali tablet kepada Ruben.
Ruben segera meninggalkan gadis itu. Kali ini, dia menuju meja yang ditempati Giana. Sambil melemparkan senyuman, Ruben memulai pembicaraan. Tidak seperti gadis di meja sebelah, sikap Giana jauh lebih ramah.
“Tolong diisi data dirinya ya,” ujar Ruben.
“Oke,” jawab Giana cepat. Sikap polos Giana membuat Ruben duduk agak lama bersama gadis itu.
Giana segera mengisi data diri sesuai permintaan Ruben. Namun, tidak semua data yang diisi benar adanya.
Kemudian, terbersit ide di kepala Giana untuk mengisi alamat apartemen tempat tempat Anjani tinggal sebagai alamat tempat tinggalnya.
Setelah selesai, dia menyerahkan kembali tablet kepada Ruben. Saat membaca alamat tempat tinggal Giana yang berada di gedung apartemen, Ruben tersenyum.
“Terima kasih,” ujarnya sambil meninggalkan meja Giana.
“Harusnya kamu nggak memberikan data diri kamu sembarangan,” ujar gadis yang berada di meja sebelah.
Giana hanya diam. Gadis itu mengambil tas dan minumannya, lalu berpindah ke meja sebelah.
“Terima kasih buat sarannya. Tapi, aku nggak sebodoh itu memberikan data asliku,” ujar Giana dengan suara berbisik.
Gadis itu tersenyum mendengar jawaban Giana.
“Aku Giana,” ujar Giana seraya mengulurkan tangannya.
“Leya,” jawab gadis di hadapannya. “Kamu masih kuliah?” tanya Leya.
“Emangnya aku seimut itu sampai disangka masih kuliah?” tanya Giana sambil tersenyum. “Aku udah kerja di Prada Trace.”
“Apa tuh Prada Trace?” tanya Leya penasaran.
“Apa ya? Kayak kantor detektif swasta gitu. Tapi, kita khusus cari orang hilang.”
“Wah keren tuh. Udah lama kerja di bidang itu?” tanya Leya antusias.
“Belum. Baru beresin satu kasus. Sekarang lagi nanganin kasus kedua. Hehehe.” Giana terkekeh setelahnya.
“Kamu sendirian kerjanya?”
“Nggak. Kita bertiga, satu atasan dan satu rekan kerjaku. Kamu sendiri kerja di mana?”
“Aku ini traveler. Aku sering posting perjalananku di blog.”
“Wah, berarti kamu sering jalan-jalan, dong. Udah ke mana aja?”
“Udah ke banyak tempat sih. Surabaya, Bali, Padang, Medan, Serang, masih banyak lagi sih.”
“Pakai modal sendiri, apa dimodalin?”
“Pakai modal sendiri. Makanya aku jalan-jalannya mode ngirit.”
Dalam waktu singkat, kedua gadis itu langsung akrab. Perbincangan mereka berlangsung seru. Giana tampak antusias saat Leya menceritakan pengalamannya mengunjungi tempat-tempat indah yang belum sempat terekspos.
Tak terasa, cukup lama waktu yang mereka habiskan di kedai kopi. Akhirnya mereka berpisah saat waktu berganti sore. Sebelum berpisah, mereka bertukar nomor telepon terlebih dahulu.
Leya segera naik ke motor trail yang menjadi tunggangannya. Setelah mengenakan helm, gadis itu segera melajukan motornya.
“Keren banget Leya. Pengen juga bisa nyetir motor trail kayak gitu,” gumam Giana penuh kekaguman.
Giana memang ingin sekali bisa mengendarai motor trail. Ayahnya pernah memiliki motor tersebut. Maksud hati ingin mengendarainya, tetapi apa daya kaki tak sampai.
Alhasil, gadis itu harus berakhir di rumah sakit, dan motor trail kesayangan ayahnya harus masuk bengkel.
Sejak saat itu, Giana hanya diberi sepeda BMX saja untuk dikendarai. Sampai sekarang, gadis itu tidak bisa mengendarai motor.
Lamunan Giana buyar saat ojek online yang dipesannya tiba. Gadis itu segera naik dan kendaraan roda dua itu meluncur pergi.
Sesampainya di kantor Prada Trace, Giana langsung melaporkan hasil observasinya di The Taste. Gadis itu curiga bahwa Ruben adalah bagian komplotan penculik.
Giana juga menceritakan pembagian voucher dilakukan setelah pengunjung menuliskan data diri mereka.
“Aku tadi ngisi kalau alamatku di apartemen tempat Anjani tinggal. Kalau benar Ruben bagian dari komplotan, dia pasti ngincar aku. Gimana kalau malam ini aku pura-pura pulang ke apartemen itu?”
“Nggak! Kalau kamu diculik beneran gimana?” Pradipta menolak keras usulan Giana.
“Ini satu-satunya cara menemukan mereka dengan cepat. Waktu sangat penting untuk menemukan korban penculikan. Terlambat sedikit aja, bisa-bisa mereka udah meninggal. Makanya aku rela jadi umpan.”
Pradipta terdiam. Apa yang dikatakan Giana masuk akal. Namun, membiarkan wanita itu menjadi umpan, memiliki risiko yang terlalu besar.
“Kalian bisa kasih aku alat pelacak biar kalian bisa menemukan aku kalau aku beneran diculik.”
“Ide Giana boleh juga, Bang. Selain kasih dia alat pelacak, aku juga bakalan minta Jung Kook atau Prisa ngikutin dia. Jadi pengamanan ganda.”
Karena Giana bersikeras, Pradipta menyetujuinya meski dengan berat hati. Mereka pun segera menyusun rencana yang akan dijalankan malam ini juga.
***
Giana turun dari mobil yang dikemudikan Pradipta. Pria itu berpura-pura menjadi sopir taksi online. Tidak jauh dari sana, Gilang sudah mengintai.
Karena hari sudah sangat malam, jalanan di sekitar apartemen juga sudah sepi. Giana berjalan menyusuri trotoar.
Tidak berapa lama kemudian, muncul seorang pria mengenakan hoodie warna hitam. Dia mengikuti Giana dengan langkah pelan.
Giana segera menghentikan langkahnya, lalu perlahan berbalik. Begitu gadis itu berbalik, pria yang mengikutinya menurunkan celananya dan memperlihatkan rudal mininya.
“Aaaaa!!!” teriak Giana kencang. Setelah itu, dia berlari memasuki area parkir gedung apartemen.
***
Nah berarti benar tuh Ruben terlibat
semoga neng Giana baik baik aja 🙏