NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Bayang Masa Lalu yang Tak Pernah Hilang

Mobil melaju tenang membelah jalan raya yang mulai sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menjadi saksi perjalanan mereka menuju kediaman Gu Shiyu yang terletak di kawasan perbukitan, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Di dalam kabin yang senyap, udara terasa berat, seolah ada sesuatu yang mengambang di antara mereka — sesuatu yang tak terucap, namun terasa begitu nyata hingga membuat napas pun terasa tertahan.

Lin Muchen duduk tegak di kursi sebelah pengemudi. Matanya menatap lurus ke depan, namun pandangannya tak benar-benar melihat jalanan di hadapannya. Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa yang ia coba kubur sedalam-dalamnya. Setiap kali ia teringat wajah Gu Shiyu, setiap kali suara lembutnya terdengar di telinga, dinding pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun itu retak sedikit demi sedikit. Ia kira ia sudah melupakan semuanya. Ia kira ia sudah menjadi orang yang berbeda — dingin, tak tergoyahkan, tak terkalahkan. Namun ternyata, satu pertemuan saja sudah cukup untuk mengingatkannya: perasaan itu tidak pernah hilang. Ia hanya tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

“Kau terlihat seperti orang yang memikirkan sesuatu yang berat,” suara Gu Shiyu tiba-tiba terdengar dari kursi belakang, memecah keheningan.

Lin Muchen menoleh sedikit, menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Wajah wanita itu tampak tenang, namun matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan. Ia sedang menatap punggungnya, seolah berusaha mencari sesuatu yang hilang, sesuatu yang tersimpan di balik sikap kaku dan profesionalisme yang ia tunjukkan.

“Tidak ada apa-apa, Nona Gu,” jawabnya datar, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. “Hanya berkonsentrasi pada tugas.”

Gu Shiyu tersenyum tipis, senyum yang terasa sedikit sedih. “Kau selalu menjaga jarak sedemikian rupa, seolah takut jika kita berbicara lebih dari sekadar urusan pekerjaan, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Lin Muchen terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata itu begitu tepat hingga terasa menyakitkan. Ia memang takut — takut jika ia terlalu dekat, jika ia terlalu banyak bicara, ia akan tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menceritakan segalanya. Bahwa ia mengenalnya. Bahwa ia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Bahwa selama bertahun-tahun, wajahnya tak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.

Mobil perlahan memasuki gerbang rumah mewah yang berdiri di atas bukit itu. Pagar besi terbuka otomatis, menyisakan jalan luas yang diapit oleh pepohonan rapi dan taman yang tertata indah. Rumah itu besar, megah, namun bagi Lin Muchen, tempat ini terasa dingin — jauh berbeda dari halaman rumah sederhana tempat mereka bermain dulu, di mana udara selalu terasa hangat dan tawa terdengar setiap hari.

Mesin mobil dimatikan. Pengemudi turun lebih dulu untuk membukakan pintu, namun Gu Shiyu bergerak sendiri. Ia melangkah keluar, menghirup udara malam yang sejuk, lalu menatap ke arah Lin Muchen yang sudah berdiri tegak di samping mobil.

“Ikutlah masuk,” ucapnya singkat sambil melangkah menuju pintu utama. “Ada beberapa hal yang perlu kukatakan sebelum kau mulai bertugas secara penuh besok.”

Lin Muchen mengangguk dan mengikuti dari belakang. Langkah kakinya senyap, namun setiap langkah terasa berat seolah tertanam di tanah. Ia melintasi lorong yang luas, dikelilingi perabotan mewah dan lukisan-lukisan mahal yang tergantung di dinding. Semuanya tampak sempurna, namun tak ada satu pun yang terasa seperti rumah.

Di ruang tengah yang luas, Gu Shiyu berhenti. Ia berbalik menghadapnya, menatapnya lekat-lekat, seolah sedang mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajah itu.

“Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya,” ucapnya pelan, namun tegas. “Dan aku tidak akan memaksamu untuk bercerita jika kau tidak mau. Tapi aku ingin jujur darimu — sesuatu di dalam diriku merasa seolah kita sudah saling kenal. Bukan sekadar kenal sebentar, melainkan sangat lama.”

Jantung Lin Muchen berdegup kencang. Ia menelan ludah, berusaha menjaga agar wajahnya tetap tenang. “Itu mungkin hanya perasaan Anda saja, Nona.”

Gu Shiyu menggeleng pelan. “Bukan begitu. Ada cara pandangmu… cara kau menatapku… semuanya begitu akrab. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu, namun tak berani menyapa.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, “Kau tidak perlu menjawab sekarang. Tapi jika memang ada sesuatu yang ingin kau katakan, aku akan mendengarkan.”

Lin Muchen membuka mulutnya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Bagaimana mungkin ia mengatakannya? Bagaimana mungkin ia menceritakan masa lalu yang mungkin sudah lama ia lupakan? Dan lebih dari itu — bagaimana jika mengetahui kebenaran itu justru menyakiti keduanya?

“Terima kasih, Nona,” ucapnya akhirnya, suara terdengar berat. “Tapi sungguh, Anda salah paham. Saya hanya pengawal yang menjalankan tugas.”

Gu Shiyu menatapnya lama, seolah berharap ia akan menarik kembali kata-katanya. Namun ketika ia melihat ketegasan di wajahnya, ia akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau begitu, istirahatlah. Kamar tamu sudah disiapkan di lantai dua. Besok pagi pukul tujuh, kita berangkat ke kantor bersama.”

“Siap, Nona.”

Lin Muchen menunduk sedikit, lalu berjalan menuju lantai dua. Sesampainya di kamar yang disiapkan untuknya, ia menutup pintu rapat-rapat, menyandarkan punggungnya ke balik kayu yang kokoh itu, dan baru saat itulah ia membiarkan dirinya menarik napas panjang — napas yang terasa berat, penuh dengan kegelisahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Ia melangkah menuju jendela, membuka sedikit gorden, dan menatap ke luar. Kota di bawah sana tampak berkilauan, tak terhitung jumlah lampu yang menyala, masing-masing menyimpan kisahnya sendiri. Di antara ribuan cahaya itu, ia teringat pada sebuah halaman kecil di pinggiran kota, tempat di mana dua anak kecil berjanji akan selalu bersama.

“Muchen, nanti kalau kita sudah besar, kau mau tetap bermain denganku, kan?” suara kecil Gu Shiyu bergema di ingatannya, jernih dan tulus.

“Tentu saja! Aku akan selalu melindungimu. Tidak peduli apa pun yang terjadi,” jawab dirinya yang masih kecil dengan penuh keyakinan.

Senyum tipis terukir di bibir Lin Muchen, namun seketika itu juga hilang digantikan rasa perih yang menusuk dada. Janji itu diucapkan bertahun-tahun lalu, namun ia tidak sanggup menepatinya. Ia membiarkannya pergi. Ia membiarkan mereka berpisah. Dan sekarang, meski ia berdiri tepat di sampingnya, ia merasa mereka terpisah jauh — terpisah oleh waktu, oleh keadaan, oleh rahasia kelam yang mulai merayap ke permukaan.

Pikirannya beralih ke keluarganya. Ayahnya, sosok yang dulu ia kagumi, yang tiba-tiba berubah drastis tak lama setelah keluarga Gu pergi. Kegelapan yang menyelimuti rumahnya sendiri, pertengkaran yang tak pernah berhenti, rahasia yang dibisikkan di tengah malam — semuanya kembali berputar di kepalanya seperti pusaran yang tak terkendali. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya, sesuatu yang berkaitan langsung dengan kepergian keluarga Gu. Ia merasakannya, meski belum dapat membuktikannya. Dan perasaan itu semakin kuat setiap kali ia melihat Gu Shiyu.

Ada hubungan di antara masa lalu mereka yang belum terungkap. Dan ia takut mengetahui apa itu.

Malam semakin larut, namun tidur tak kunjung datang. Lin Muchen duduk di tepi tempat tidur, menatap bayangannya di cermin yang berdiri di sudut ruangan. Wajahnya tampak lelah, mata tajamnya menyiratkan beban yang tak terlihat. Ia yang dikenal sebagai orang yang tak terkalahkan, kini merasa begitu lemah — dikalahkan bukan oleh musuh, melainkan oleh masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia berdiri dan melangkah keluar kamar, berjalan senyap di lorong yang sepi. Ia berhenti di depan pintu kamar Gu Shiyu. Di balik pintu itu, wanita yang menjadi awal dan akhir seluruh perasaannya beristirahat. Ia ingin mengetuk pintu itu, ingin menceritakan segalanya, ingin meminta maaf atas semua yang terjadi, namun kakinya terasa berat. Ia belum siap. Ia belum tahu kebenaran sepenuhnya. Dan jika ia berbicara sekarang, ia takut justru akan membahayakan wanita itu.

Dengan berat hati, ia melangkah pergi, kembali ke tempatnya — menjadi bayangan yang menjaga dari kejauhan, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan segalanya. Namun takdir sepertinya tidak ingin menunggu.

Saat ia berbalik, ia melihat selembar foto tua yang tergeletak di meja kecil di ujung lorong, seolah sengaja diletakkan di sana. Hatinya berdegup kencang. Ia mendekat, mengambilnya perlahan. Di foto itu, terlihat dua keluarga berdiri bersama, tersenyum bahagia. Di samping ayahnya, berdiri sosok yang wajahnya ia kenal — ayah Gu Shiyu. Dan di antara mereka, dua anak kecil berdiri berpegangan tangan, tersenyum lebar ke arah kamera.

Lin Muchen menatap foto itu lama sekali, jemarinya mengusap wajah anak kecil yang ada di sampingnya. Air mata yang selama ini ia tahan nyaris jatuh, namun ia menahannya. Di sudut foto itu, tertulis tulisan tangan yang samar: “Sahabat selamanya — 15 Agustus, sepuluh tahun lalu.”

Namun di balik kebahagiaan yang terlihat di foto itu, ada sesuatu yang lain — sebuah jejak kecil yang selama ini tidak ia perhatikan. Di sudut bawah, ada goresan tinta yang samar, seolah sengaja dihapus, namun masih terbaca sebagian: “utang… dendam… akan dilunasi…”

Darah Lin Muchen terasa mendidih. Tangannya gemetar. Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu itu? Mengapa tulisan itu ada di sana? Dan siapa yang menuliskannya?

Ia menyimpan foto itu dengan hati-hati di saku baju, seolah itu adalah bukti berharga yang harus dijaga dengan nyawanya. Malam itu, ia menyadari satu hal: pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Semua ini sudah direncanakan, entah oleh siapa, sejak lama sekali. Dan ia tidak hanya datang untuk melindungi Gu Shiyu. Ia datang untuk menyelesaikan sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang mungkin merenggut segalanya darinya.

Di luar sana, angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon. Dan di dalam kamar yang remang itu, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan, kini berdiri di persimpangan jalan — satu arah menuju kebenaran yang menyakitkan, arah lain menuju keamanan yang semu. Ia tahu ia tidak bisa kembali. Ia harus melangkah maju, apa pun yang terjadi.

Bahkan jika langkah itu harus membawanya jatuh ke dalam jurang yang tak ada dasarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!