NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Kehangatan yang mengikis dingin

Di dalam ruang tengah kediaman utama, suasana yang biasanya sunyi dan kaku seperti museum barang antik, perlahan-lahan mulai berubah.

Hari ini adalah hari yang sangat spesial, hari ulang tahun Elang tepat yang ke-empat.

Selama tiga tahun terakhir, sejak mendiang istrinya tiada, Bayu hanya memiliki satu cara formal untuk merayakan hari kelahiran putranya: memesan mainan edisi terbatas dari luar negeri melalui Harris, membelikan pakaian bermerek, dan membiarkan para pengasuh menyerahkan hadiah-hadiah mahal itu di dalam kamar yang sunyi.

Tidak ada balon, tidak ada lilin yang ditiup bersama, dan yang paling menyedihkan, tidak ada tawa riang seorang anak kecil yang merayakan pertambahan usianya.

Namun tahun ini berbeda. Kemarin malam, sebelum naik ke ruang kerjanya, Bayu menghentikan langkahnya di depan Larissa dan berkata:

"Larissa, besok Elang berulang tahun yang keempat. Saya tidak tahu cara membuat pesta anak-anak. Jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu membimbing para pelayan untuk membuat perayaan kecil di rumah?"

Permintaan yang terdengar canggung namun penuh harapan dari sang pria es Megah Corp itu tentu saja tidak ditolak oleh Larissa.

Sejak pukul tujuh pagi, Larissa sudah menyingsingkan lengan blus pastelnya di dapur utama. Alih-alih memesan kue tart bertingkat yang dilapisi fondant kaku, Larissa memilih untuk membuatkan kue ulang tahun rumahan.

Dengan telaten, jemari lentiknya menakar tepung, mengocok mentega, dan mencampurkan cokelat premium kesukaan Elang. Aroma harum panggangan kue yang manis dan gurih perlahan menguar, memenuhi setiap sudut langit-langit rumah utama yang biasanya hanya berbau wewangian kayu cedar yang dingin.

Para pelayan dan juru masak paruh baya yang melihat Larissa bekerja di dapur tampak tersenyum lebar. Mereka dengan sukacita membantu Larissa meniup balon-balon berwarna biru muda dan putih, lalu menyusun dekorasi sederhana berupa bendera kertas kecil bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Elang" di ruang tengah.

Untuk pertama kalinya, rumah besar yang dingin itu terasa memiliki detak kehidupan yang nyata.

Pukul empat sore, deru suara mesin mobil sedan mewah Bayu terdengar memasuki pelataran depan. Pria itu sengaja mengosongkan jadwal rapat pentingnya demi bisa pulang lebih awal. Langkah kakinya yang tegap beritme tegas saat membelah pintu utama.

Tapi begitu melangkah masuk ke dalam area koridor menuju ruang tengah, Bayu seketika menghentikan langkahnya. Sepasang mata elangnya membelalak samar karena terkejut.

Langkah kaki tegapnya mendadak melambat. Bau pengap dokumen kantor dan parfum ruangan yang kaku yang biasanya menyambut kepulangannya, kini lenyap total, digantikan oleh aroma manis kue cokelat yang baru matang.

Dan yang paling membuat sudut hatinya bergetar adalah suara yang menggema dari ruang tengah, suara tawa melengking khas anak kecil yang begitu lepas dan bahagia, bersahutan dengan suara tawa lembut milik Larissa.

Bayu berjalan mendekat, berdiri di bawah bayangan pilar marmer besar.

Di tengah ruangan yang kini dipenuhi balon-balon biru, tampak Elang sedang memakai topi ulang tahun kertas berbentuk kerucut yang agak miring di kepalanya.

Wajah tampan bocah itu belepotan krim cokelat, dan dia sedang tertawa riang saat Larissa mencolek ujung hidungnya dengan sisa krim di tangannya.

"Papa!"

Pandangan tajam Elang langsung menangkap sosok tinggi Bayu yang berdiri di ambang ruangan. Dengan langkah kaki kecilnya yang belum sepenuhnya stabil, bocah empat tahun itu berlari kencang menubruk kaki Bayu, melingkarkan kedua lengan mungilnya di sekeliling lutut sang ayah.

Di tangan kanannya, Elang memegang sebuah piring kecil berisi sepotong kue cokelat yang dihiasi satu lilin angka empat yang sudah ditiup.

Bayu berlutut dengan satu kaki, menyamakan tingginya dengan sang putra. Sepasang tangan kekarnya memeluk tubuh mungil Elang dengan erat. "Selamat ulang tahun, jagoan Papa," bisik Bayu, suaranya terdengar serak oleh luapan emosi yang tertahan.

Bayu mendongak, menyodorkan piring kecil itu tepat di depan wajah ayahnya dengan mata bulat yang berbinar-binar penuh kebanggaan.

"Papa, ini kue paling enak yang pernah Elang makan! Mama Larissa yang membuatnya khusus untuk Elang! Mama Larissa juga yang pasang balon-balon ini!"

Deg.

Panggilan "Mama Larissa" yang keluar dengan begitu polos dan lancar dari mulut mungil Elang seketika membuat seisi ruangan besar itu senyap.

Para pelayan yang berdiri di sudut ruangan langsung menahan napas, saling melirik dengan wajah tegang. Di dalam rumah ini, posisi mendiang istri Bayu adalah sesuatu yang tabu untuk dibahas, dan tidak ada satu pun wanita yang pernah diizinkan masuk cukup dalam hingga dipanggil dengan sebutan "Mama" oleh Elang.

Harris yang berdiri di belakang Bayu bahkan sempat melirik Larissa dengan cemas, khawatir bosnya akan tersinggung atau ingatan masa lalunya akan memicu kemarahan.

Tapi Larissa yang duduk berlutut di atas karpet dekat meja kue tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia tidak mencoba meralat panggilan itu atau bersikap canggung, dia hanya menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tulus.

Dia melangkah mendekat, lalu ikut berlutut di samping Elang, mengusap sisa krim cokelat di sudut bibir bocah itu dengan jarinya secara lembut.

"Sama-sama, anak pintar," ujar Larissa, suaranya mengalun tenang, seolah ingin mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara. "Elang harus jadi anak yang kuat dan hebat seperti Papa, ya?"

Batu menatap lekat-lekat pada wajah Larissa dari jarak dekat. Pandangan matanya terkunci pada ketulusan yang memancar dari sepasang mata gelap wanita itu.

Tidak ada ambisi murahan untuk merebut posisi, tidak ada kepura-puraan demi menarik perhatiannya; Larissa benar-benar memberikan seluruh kasih sayangnya kepada Elang karena naluri seorang wanita yang juga pernah merindukan kehadiran seorang anak di dalam hidupnya.

Sudut rahang Bayu yang semula menegang perlahan mulai mengendur, digantikan oleh kehangatan yang asing yang kembali merayap halus di dalam dadanya.

Malam harinya, setelah perayaan kecil yang melelahkan namun penuh tawa itu usai, suasana rumah kembali tenang. Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Elang sudah tertidur lelap di dalam kamarnya, memeluk erat sebuah boneka beruang besar pemberian Bayu dengan gurat wajah yang sangat damai tanpa ada sisa-sisa mimpi buruk.

Larissa melangkah keluar dari koridor rumah utama, berniat kembali ke paviliun untuk beristirahat. Langkah kakinya yang beralaskan sandal santai terdengar halus menyusuri jalan setapak taman belakang yang menghubungkan kedua bangunan tersebut.

Langit malam terlihat begitu bersih, dihiasi hamparan bintang-bintang kecil yang berkilau di balik awan tipis.

"Larissa."

Sebuah suara bariton yang berat memanggilnya dari arah belakang.

Larissa menghentikan langkah kakinya, lalu memutar tubuhnya perlahan. Bayu sedang melangkah mendekat di bawah temaram lampu taman yang bernuansa keemasan.

Pria itu sudah melepas dasi dan menanggalkan jas kerjanya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan lengan kekarnya yang kokoh. Pembawaannya malam ini tampak jauh lebih santai, namun tidak mengurangi aura karismatiknya yang mengintimidasi sebagai seorang pria dewasa.

Bayu berhenti tepat dua langkah di hadapan Larissa. Angin malam yang berembus halus menerbangkan sebagian helai rambut hitam Larissa, membuat aroma harum kue yang samar dan wewangian tubuhnya menguar lembut, beradu dengan aroma kayu cedar dari tubuh Bayu.

"Pak Bayu? Ada hal penting lain yang perlu saya siapkan untuk besok?" tanya Larissa dengan nada mengalir yang tenang.

Bayu tidak langsung menjawab. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata gelap Larissa di bawah langit malam.

"Tidak ada urusan pekerjaan untuk malam ini, Ris," ujar Bayu. Pria itu menarik napas pendek, menatap lurus ke arah siluet paviliun sebelum kembali mengunci pandangannya pada wajah cantik Larissa

"Sudah tiga tahun sejak mendiang istri saya tiada," suara Bayu merendah hingga ke titik bariton yang paling dalam, sarat akan kejujuran emosional yang jarang dia tunjukkan pada dunia luar.

"Dan sepanjang tiga tahun itu, rumah ini tidak lebih dari sekadar tempat singgah yang mati bagi saya. Malam ini... ini adalah pertama kalinya saya melihat Elang tertawa sebahagia dan selepas itu di hari ulang tahunnya. Semua berkat kehadiranmu di sini."

Bayu melangkah maju satu langkah kecil, mengikis jarak di antara mereka hingga Larissa bisa merasakan kehangatan yang memancar dari postur tubuh tinggi besar pria itu.

"Terima kasih karena telah menjadi sosok 'ibu' yang nyata untuk putra saya," tambah Bayu, intonasi suaranya bergetar halus. "Kehadiranmu... telah mengembalikan bagian yang hilang dari hidup kami berdua."

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!