NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Sembilan

Azka masih berdiri di depan pintu kamar, sementara Reatha menatapnya dengan wajah bingung.

“Turun sebentar,” kata Azka.

Reatha mengerutkan kening. “Turun ke mana?” tanyanya.

“Ruang keluarga.”

“Buat apa?” tanya Reatha lagi.

Azka menghela napas. “Sudah, ikut saja.”

Reatha menatap pria itu beberapa detik. Sikap Azka malam ini benar-benar aneh. Baru saja pulang setelah pergi tanpa pamit, sekarang malah mengajaknya turun.

“Kenapa sih?” tanya Reatha lagi.

“Banyak tanya," jawab Azka.

“Lho, memangnya aku robot? Diajak pergi, ya boleh tanya dong," balas Reatha

Azka hampir tertawa. “Kamu ini .…”

“Apa?”

“Sudah, ayo.”

Akhirnya Reatha mengikuti Azka turun. Begitu sampai di ruang keluarga, Azka langsung menunjuk bungkusan yang ada di atas meja.

“Itu buka. Aku udah effort beli untukmu. Tapi dianggurin aja," ucap Azka.

Reatha berhenti di depan meja. “Sekarang?”

“Iya.”

Reatha mengambil bungkusan itu. Ia membuka pita dan kertas pembungkusnya pelan-pelan. Begitu kotaknya terbuka, matanya langsung membesar.

Sebuah tas cantik dengan logo brand ternama terlihat begitu elegan di dalam kotak. Reatha terdiam. Tangannya bahkan belum langsung menyentuh tas itu.

“Ini .…”

“Kenapa?” tanya Azka.

Reatha mengangkat wajah. “Ini buat aku?” tanyanya.

Azka mengangguk santai. “Iya.”

Reatha kembali menatap tas tersebut. Dalam hati, ia langsung menghitung. Ini pasti mahal banget. Bahkan mungkin harga tas ini lebih besar daripada gajinya selama beberapa bulan.

“Kenapa beli tas semahal ini?” tanya Reatha akhirnya.

“Buat kamu pakailah," jawab Azka.

Reatha menatap Azka tidak percaya. “Azka, aku tidak pernah beli tas bermerek.”

“Kenapa?” tanya Azka.

“Karena aku tidak terlalu peduli sama gengsi. Yang penting fungsinya," jawab Reatha.

Azka mengangkat alis.

Reatha melanjutkan, “Gaji aku sebulan saja cuma dua juta. Kalau harus beli tas semahal ini, bisa-bisa aku makan nasi sama garam sebulan.”

Azka terdiam. Entah kenapa jawaban itu membuatnya ingin tertawa.

“Serius?”

“Serius.”

“Bukannya kamu model?” tanya Azka kemudian.

Jantung Reatha seketika berdegup sedikit lebih cepat. Azka menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Masa tidak pernah beli tas bermerek? Aku pernah lihat foto kamu dari mama, kamu tampil glamor," ucap Azka.

Reatha terdiam. Astaga, hampir saja ia lupa. Bukankah dirinya sedang berperan menggantikan kakak kembarnya?

Raisa adalah model yang terbiasa tampil dengan pakaian mahal, tas bermerek, dan segala sesuatu yang terlihat mewah.

Sementara dirinya? Jangankan membeli tas puluhan juta, membeli tas seharga lima ratus ribu saja harus berpikir berkali-kali. Kedua orang tuanya tak pernah memberi uang lebih.

Reatha segera tersenyum. “Itu cuma buat penampilan saja,” jawabnya.

Azka masih memperhatikannya. Sedikit merasa heran.

“Sebenarnya aku tidak terlalu suka barang bermerek. Mending uangnya ditabung. Kalau sudah banyak, bisa dipakai buat usaha," balas Reatha.

Azka terdiam lagi. Kali ini bukan karena tidak percaya. Ia justru semakin heran. Sejak kapan Raisa berpikir seperti itu?

Selama ini yang ia tahu, Raisa sangat memperhatikan penampilan. Bahkan untuk urusan tas dan pakaian, wanita itu bisa menghabiskan banyak uang.

Namun malam ini, wanita yang berdiri di depannya justru bilang bahwa ia lebih suka menabung dan membangun usaha.

“Ambil saja,” kata Azka akhirnya.

Reatha menggeleng pelan. “Tapi—”

“Aku memang sengaja membelikannya buat kamu.”

“Tapi harganya .…”

“Tidak usah dipikirkan. Kamu istriku, pantas dapat itu," jawab Azka. Jawaban pria itu membuat Reatha terdiam sesaat lalu tersenyum.

“Terima kasih," ucap Reatha.

Azka mengangguk.

Namun sebelum Azka berbalik, Reatha tiba-tiba berkata, “Tapi lain kali jangan suka menghamburkan uang cuma buat barang yang tidak penting.”

Azka langsung menoleh. “Tidak penting?” tanyanya.

Reatha menunjuk tas tersebut. “Iya. Tas kan cuma buat bawa barang.”

Azka memandangi tas mahal itu, lalu memandang Reatha. “Jadi menurutmu tas ini tidak penting?”

“Penting kalau memang butuh tas.”

“Kalau tasnya mahal?” tanya Azka lagi.

“Belum tentu bikin kita lebih bahagia.”

Azka terdiam. Reatha kemudian duduk di sofa.

“Kita tidak tahu ke depannya bakal seperti apa. Apa kita masih bisa jaya seperti sekarang atau tidak. Roda itu berputar," ucap Reatha.

Azka memperhatikannya.

“Jadi menurutku, jangan terlalu boros cuma karena sekarang punya banyak uang," ujar Reatha selanjutnya.

Reatha tersenyum. “Semoga kamu dan keluarga selalu diberi rezeki. Tapi jangan lupa disimpan juga.”

Azka mengangguk pelan. “Terima kasih doanya.”

“Sama-sama.”

Suasana mendadak hening. Azka menatap Reatha yang sekarang sibuk merapikan kembali kotak tas tersebut.

Aneh. Ia tidak pernah membayangkan bakal mendapat nasihat soal keuangan dari istrinya sendiri. Dan yang lebih aneh lagi, ia justru merasa nyaman mendengarnya.

Beberapa detik kemudian, Reatha berdiri. “Aku tadi masak buat makan malam.”

Azka menatapnya. Menunggu ucapan selanjutnya.

“Aku kira kamu tadi mau pulang jam makan malam. Sudah jam sepuluh, jadi kupikir kamu pasti sudah makan. Aku makan dulu," ujar Reatha.

“Kamu masak buat makan malam?” tanya Azka.

Reatha mengangguk. “Iya.”

Ia berjalan beberapa langkah menuju dapur.

“Perutku lapar. Tadi aku pikir kamu bakal pulang. Mau makan bareng," ucap Reatha.

Reatha berhenti sebentar dan menoleh. “Kalau tahu begini, aku makan saja dari tadi.”

Azka mengerutkan kening. “Kenapa kamu nunggu?”

“Karena aku pikir suamiku bakal pulang.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Azka terasa sedikit sesak. Reatha kembali melanjutkan langkahnya.

“Lain kali kalau pulang telat, kabari. Biar aku tidak nunggu," ujar gadis itu.

Azka hanya diam. Wanita itu berjalan menuju dapur.

Tas mahal yang baru saja diberikan Azka tadi ia letakkan di atas meja ruang keluarga. Ia bahkan tidak terlihat terlalu tertarik untuk terus memandangi barang tersebut.

Baru beberapa langkah, suara Azka terdengar. “Raisa.”

Reatha langsung menghentikan langkah. Ia menoleh. “Ada apa?” tanyanya.

Azka berdiri dari sofa. “Boleh aku ikut makan?”

Reatha mengerutkan kening. “Bukannya tadi sudah makan?”

“Sudah.”

“Terus?”

“Perutku lapar lagi.”

Reatha menahan senyum.

“Lapar lagi?” tanyanya.

Azka mengangguk dengan wajah serius. “Iya.”

“Padahal tadi kamu sudah makan malam.”

“Aku tahu.”

“Terus sekarang lapar?” tanya Reatha.

“Iya.”

Reatha akhirnya tertawa kecil. “Ya sudah.” Ia melanjutkan langkahnya.“Bukannya uangnya juga dari kamu?”

Azka terdiam sebentar. Kemudian ia berjalan menyusul. “Benar juga.”

Reatha meliriknya. “Makanya jangan banyak protes.”

“Aku tidak protes.”

“Bagus.”

Keduanya berjalan berdampingan menuju dapur. Langkah Azka terasa ringan.

Ia menatap punggung Reatha yang berjalan beberapa langkah di depannya. Wanita itu tidak pernah menuntut banyak.

Tidak minta dibelikan barang mahal. Tidak marah saat ditinggalkan. Dan tidak banyak bertanya.

Bahkan ketika dirinya pulang terlambat, wanita itu masih menyiapkan makanan untuknya.

Azka menghela napas pelan. Ada sesuatu yang perlahan berubah. Sesuatu yang belum bisa ia beri nama..Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari satu hal.

Mungkin selama ini ia terlalu sibuk mengejar seseorang yang ia cintai, sampai tidak sadar ada seseorang yang telah halal menunggunya di rumah.

Azka menatap Reatha sekali lagi. Dalam hati, ia berkata, Maafkan aku, Raisa. Aku akan berusaha adil. Kamu istriku, sedangkan Vania juga tanggung jawabku.

1
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
Sugiharti Rusli
dan sejatinya hati nurani si Azka masih jalan sih, dan cinta yang selama ini dia rasa buat Vania, bisa jadi bukan cinta sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi keberadaan Raisa/Reatha di sisi Azka selama beberapa bulan ini bisa mendekatkan mereka, meski tidak ada sentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
terkadang manusia yah terlalu percaya pada dirinya sendiri sih, padahal yang menggenggam hati manusia tuh Sang Pencipta,,,
Ass Yfa
ada yak..adil buat istri dan pacar
...nikahin tuh si Vania lepasin Raisa /Reatha
Ass Yfa
kok aku pingin alurnya dicepetin..setahun kemudian🤭...ini bahkan belum sebulan....
falea sezi
nunggu lu nangis darah aska🤣🤣 pas Reta pergi🤣🤣 duh cpet ini donk thor
falea sezi
cpet donk setahun🤣 g sabar liat muka aska pas menyesal🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!