Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Dingin Sang Pewaris
Cahaya pagi yang masuk lewat celah tirai membangunkanku. Untuk sesaat aku bingung — di mana aku? Langit-langit kamar ini bukan langit-langit kamarku. Jendela besar ini bukan jendelaku. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada suara orang berbicara di jalan setapak. Hanya keheningan yang lembut, diselingi suara angin berhembus pelan di antara pepohonan yang jauh.
Aku duduk perlahan, menatap sekeliling ruangan yang kemarin terasa begitu asing. Sekarang, di bawah cahaya matahari pagi, tampak lebih jelas — lantai kayu yang berkilau, perabotan yang tertata rapi tanpa sedikit pun debu, meja kecil di sudut tempat aku meletakkan foto Ibu yang kubawa. Foto itu satu-satunya benda yang membuat tempat ini terasa sedikit seperti rumah.
Aku bangun, mencuci muka, lalu mengenakan pakaian sederhana yang kubawa — gaun berwarna krem yang biasa kupakai ke toko roti. Pakaian lain yang disiapkan di lemari terlihat indah, terbuat dari kain halus dengan potongan rapi, tapi rasanya belum waktunya untuk memakainya. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri selama masih bisa.
Langkahku pelan saat keluar dari kamar. Lorong itu panjang, sepi, lantai berkilau memantulkan bayanganku. Tidak ada orang yang terlihat. Suara langkah kakiku terdengar jelas, bergema pelan di dinding yang dipenuhi lukisan. Aku berjalan turun tangga perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara, berusaha tidak menarik perhatian.
Di ruang makan, seseorang sudah duduk di ujung meja yang panjang itu.
Arga.
Ia duduk tegak, memegang secangkir teh, menatap lurus ke depan seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat. Pakaiannya rapi, rambutnya tertata, namun wajahnya terlihat lelah — ada bayang-bayang halus di bawah matanya, seakan ia tidak tidur nyenyak semalaman.
Aku berhenti sejenak di ambang pintu, tidak tahu harus masuk atau kembali ke kamar. Namun ia seakan merasakan kehadiranku, menoleh perlahan, dan tatapan itu kembali — tajam, dingin, tanpa senyum.
“Selamat pagi,” sapaku pelan, suaraku terdengar kecil di ruangan luas itu.
Arga mengangguk samar, lalu kembali menatap ke depan. “Duduklah.”
Aku melangkah mendekat, memilih kursi yang agak jauh darinya, di sisi meja yang lain. Di hadapanku sudah tersedia sarapan — roti, buah, susu, semuanya tertata rapi di piring indah. Namun tidak ada yang terasa lezat saat duduk di hadapan seseorang yang menatapmu seakan kau adalah benda asing yang tiba-tiba muncul di ruangannya.
“Apakah kau tidur nyenyak?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menatapku.
“Cukup,” jawabku jujur. “Tempatnya… sangat tenang.”
Ia mendengus pelan, hampir tak terdengar. “Tenang atau sepi?”
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. “Keduanya, mungkin.”
Arga akhirnya menoleh sepenuhnya. Matanya menatapku tajam, seakan sedang mencoba membaca sesuatu di wajahku. “Dengar, Lia. Aku tidak akan berpura-pura bahwa ini akan indah. Kita menikah bukan karena kita saling memilih, tapi karena janji orang-orang yang sudah tiada. Aku menerima ini sebagai kewajiban. Dan aku berharap kau juga melakukannya.”
Setiap kata yang diucapkannya terasa tegas, tanpa keraguan. Dadaku terasa sesak, namun aku tidak menunduk. Aku menatapnya kembali, berusaha tetap tenang.
“Saya tahu,” jawabku pelan. “Saya juga tidak meminta ini. Tapi saya datang bukan untuk menuntut kebahagiaan, Arga. Saya datang untuk menepati janji Ayah. Dan saya berjanji akan berusaha sebaik mungkin.”
Arga tersenyum tipis — senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang penuh keraguan. “Berusaha? Di sini tidak cukup hanya berusaha, Lia. Ada aturan, ada orang yang memperhatikan, ada nama keluarga yang harus dijaga. Kau tidak bisa datang dengan kebiasaanmu dan mengubah semuanya.”
“Saya tidak bermaksud mengubah apa-apa,” jawabku lebih tegas dari yang kukira. “Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri.”
Ia diam sejenak, menatapku seakan terkejut mendengar jawaban itu. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya perlahan di meja. “Jadilah dirimu sendiri. Tapi jangan kaget jika orang lain tidak menerimanya. Dunia ini kejam pada mereka yang berbeda.”
Percakapan itu berhenti di situ. Kami makan dalam keheningan yang panjang. Arga makan sedikit, bergerak cepat, seakan tidak sabar pergi. Aku menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Kata-katanya tidak kasar, tapi dinginnya terasa menusuk lebih tajam dari kemarahan.
Setelah selesai, ia berdiri. “Hari ini Rina akan mengajarkanmu tata cara di rumah ini — siapa siapa, ruangan mana yang boleh dimasuki, cara menyapa tamu, cara berpakaian. Jangan lewatkan apa pun. Ini penting.”
“Saya mengerti,” jawabku.
Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. “Jangan berharap lebih, Lia. Itu akan menyakitimu.”
Dan ia pergi, meninggalkanku sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih luas dan lebih sepi dari sebelumnya.
Rina datang tak lama kemudian, tersenyum lembut seakan tahu apa yang baru saja terjadi. “Jangan ambil hati kata-katanya,” bisiknya saat kami berjalan menyusuri lorong. “Ia memang begitu. Menutup diri agar tidak terluka.”
Kami menghabiskan siang itu berkeliling rumah — ruang tamu besar yang jarang dipakai, ruang makan kedua, perpustakaan yang kemarin kulihat, kebun belakang yang luas dengan kolam jernih. Rina menjelaskan siapa saja yang bekerja di sini — koki, pengurus rumah, penjaga kebun, pengemudi — dan bagaimana menyapa mereka, kapan berbicara, kapan diam. Ada banyak aturan, banyak hal yang harus diingat. Aku mendengarkan saksama, mencoba menyimpan semuanya di kepala, meski sebagian terasa berat.
“Dan Arga?” tanyaku pelan saat kami berhenti di tepi kebun. “Bagaimana cara mendekatinya?”
Rina menghela napas pelan. “Tidak ada cara cepat, Lia. Ia kehilangan ibunya saat masih kecil. Ayahnya sibuk membangun usaha, jarang ada di rumah. Ia tumbuh dengan pengasuh, dengan buku, dengan kesepian. Belajar mencintai bukanlah hal yang pernah diajarkan kepadanya.”
Kata-kata itu membuatku melihatnya sedikit berbeda. Di balik wajah dingin itu, ada kesepian yang sama dengan yang kurasakan sekarang. Kami berdua sendirian, hanya saja ia sudah terbiasa dengan kesepiannya, sementara aku baru saja memulainya.
Sore itu aku duduk sendirian di bangku kayu di sudut kebun, tempat yang agak tersembunyi di balik pohon rindang. Aku memandang ke arah jendela kamar Arga yang tampak tertutup. Apakah ia sedang di sana? Apakah ia juga merasa sepi? Atau ia sudah terbiasa?
Aku teringat kata Ibu — hatimu adalah kekuatanmu. Bukan pakaian, bukan nama, bukan harta. Hati.
Matahari mulai turun, menyinari halaman dengan cahaya keemasan yang lembut. Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki. Aku menoleh. Arga berdiri di sana, tidak jauh dariku, mengenakan pakaian santai, rambutnya sedikit berantakan seakan baru saja melewati angin. Ia seakan hendak pergi ke arah lain, lalu melihatku dan berhenti.
Kami saling menatap dari kejauhan. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bergerak. Hanya tatapan — miliknya yang dingin namun tidak lagi tajam, milikku yang berusaha tetap teguh meski ragu.
Lalu ia berbalik perlahan dan pergi, menghilang di balik pepohonan. Namun kali ini, ia tidak terlihat menolak sekuat biasanya. Seperti ada celah kecil yang terbuka di balik dinding yang ia bangun tinggi-tinggi.
Malam itu aku tidur dengan perasaan yang sedikit berbeda. Tidak lebih tenang, tapi tidak seputus asa kemarin. Wajah dingin sang pewaris belum mencair, tapi aku mulai melihat apa yang ada di baliknya — seseorang yang terluka, yang takut, yang tidak tahu bagaimana cara membuka diri.
Dan aku menyadari satu hal: ini bukan sekadar menyatukan dua dunia yang berbeda. Ini tentang menemukan cara menyatukan dua hati yang sama-sama kesepian, yang sama-sama tidak pernah diajarkan cara mencintai.
Perjalanan ini masih sangat panjang. Namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, aku tidak merasa sendirian sepenuhnya. Sebab di ujung jalan itu, berdiri seseorang yang sama-sama menunggu — entah sadar atau tidak — agar seseorang datang dan mengajarkannya cara mencintai.