NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ketika Yasa Wijaya masih hidup, kedudukan Tetua Nata Wijaya di Keluarga Wijaya berada di puncak tertinggi—bahkan pemimpin Keluarga saat itu pun memperlakukannya dengan penuh hormat. Alasannya sederhana: bakat Yasa Wijaya pada masa itu memberinya potensi untuk menjadi salah satu ahli terkuat Keluarga Wijaya di masa depan.

Di dunia yang menjunjung tinggi kekuatan, sebagai ayah dari Yasa Wijaya, Tetua Nata Wijaya pun dipandang sangat tinggi.

Namun setelah kematian Yasa Wijaya, satu-satunya cucu Tetua Nata Wijaya justru terlahir dengan pembuluh tenaga dalam yang rusak.

Sekuat apa pun Tetua Nata Wijaya, siapa lagi yang benar-benar gentar kepadanya?

Putranya telah tiada, cucunya cacat, dan ia tidak memiliki penerus lain. Kedudukannya di Keluarga Wijaya pun merosot drastis.

Tetua Nata Wijaya tidak marah. Ia sudah terlalu sering mendengar sindiran seperti itu hingga perlahan menjadi kebal terhadapnya.

Dengan senyum tipis dan sikap acuh, ia berkata,

“Terima kasih atas kehadiran kalian semua hari ini. Silakan menikmati beberapa cawan anggur untuk merayakan peristiwa ini.”

Tetua Ketiga berdiri sambil berkata dengan nada santai,

“Aku sudah cukup memberi muka dengan datang langsung hari ini, jadi aku tidak perlu minum anggur lagi. Cucuku, Daru Wijaya, kini telah mencapai tingkat ketujuh Alam Tenaga Dalam Dasar. Aku sudah cukup lama berada di sini dan harus segera kembali untuk menstabilkannya.”

“Daru Wijaya sudah mencapai tingkat ketujuh Alam Tenaga Dalam Dasar?”

Ketiga tetua lainnya ikut berdiri dengan wajah penuh keterkejutan.

“Baru berusia tujuh belas tahun dan sudah mencapai pencapaian seperti itu—masa depannya benar-benar tak terbatas!”

“Tidak heran wajahmu tampak begitu berseri hari ini. Sungguh membanggakan!”

Meskipun berusaha menahan diri, kemarahan samar tetap tampak di wajah Tetua Nata Wijaya.

Dulu, keempat saudaranya selalu memperlakukannya dengan penuh hormat. Namun sejak kematian Yasa Wijaya dan kepastian bahwa pembuluh tenaga dalam Arka Wijaya rusak, sikap mereka berubah drastis.

Hampir tidak ada lagi rasa hormat yang tersisa.

Biasanya mereka hanya memamerkan pencapaian cucu-cucu mereka di hadapannya. Namun hari ini—bahkan di aula pernikahan cucunya sendiri—mereka tetap tanpa ragu menyombongkan prestasi masing-masing.

Dengan setiap pujian itu, mereka seakan sengaja mengorek luka terdalam di hati Tetua Nata Wijaya.

Suasana aula tiba-tiba menjadi menekan.

Pembawa acara, Dimas Wijaya, segera mempercepat jalannya upacara dan berseru dengan suara lantang,

“Pengantin pria dan wanita dipersilakan menuju kamar pengantin! Para tamu terhormat, silakan menuju jamuan makan!”

Di tengah dentingan gong dan tabuhan genderang yang meriah, pasangan yang menjadi pusat perhatian itu menyelesaikan rangkaian penghormatan mereka.

Setelah itu, mereka berjalan menuju halaman kecil milik Arka Wijaya.

Kamar pengantin sebenarnya adalah kamar yang biasa ditempati Arka Wijaya, namun kini seluruh ruangan telah dihias dengan warna merah menyala.

Karpet di lantai disulam halus dengan gambar naga dan phoenix yang terbang di antara awan, lambang keberkahan dalam pernikahan.

Di dalam ruangan yang dipenuhi kain sutra merah itu tergantung besar lambang “kebahagiaan ganda.”

Dua lilin merah menyala terang di sisi lampu emas dengan ukiran naga dan phoenix yang tampak menari dalam cahaya berkelap-kelip.

Pantulan cahaya lilin mengenai tirai berlapis kilap keemasan, menciptakan suasana samar yang terasa seperti mimpi.

Ruangan itu seakan terpisah dari dunia luar, memancarkan kehangatan yang menenangkan mata dan hati.

Pelayan Ratna Pradana, Ningsih, mengantarnya duduk di tepi ranjang, lalu tanpa suara melangkah keluar sambil menutup pintu.

Ruangan pun menjadi hening.

Hanya napas dua orang yang samar terdengar.

Ratna Pradana duduk dengan tenang tanpa bergerak.

Sementara Arka Wijaya tidak mendekatinya. Ia berdiri di dekat pintu sambil menatap ke luar dengan sorot mata suram.

“Kakekmu diperlakukan tidak hormat pada hari pernikahanmu sendiri. Kau pasti sangat tersinggung, bukan?”

Suara lembut dan jernih itu membuat Arka Wijaya sedikit terkejut.

Bukan karena kata-katanya—melainkan karena Ratna Pradana yang lebih dulu membuka percakapan.

Arka menoleh dan berkata ragu,

“Kau bisa melepas mahkota phoenix itu sekarang. Benda itu cukup berat. Jika dipakai terlalu lama pasti tidak nyaman.”

Menurut tradisi pernikahan di Benua Arcapura, pengantin pria seharusnya yang melepas mahkota pengantin wanita.

Namun sebelumnya, saat Arka hendak membantu Ratna Pradana turun dari kereta, gadis itu justru membekukan tangannya dengan aura dingin misterius.

Arka terlalu menjaga harga dirinya untuk mencoba menyentuhnya lagi.

Setelah jeda singkat, Ratna Pradana mengangkat kedua tangannya dan melepas mahkota phoenix itu sendiri.

Saat itulah—

wajah yang begitu indah hingga membuat napas tercekat muncul di hadapan Arka.

Ketika mata indahnya terangkat dan bertemu dengan tatapan Arka, ia langsung tertegun.

Sepasang mata yang luar biasa memikat menatapnya seakan menyimpan inti dari seluruh dunia.

Bahkan pelukis paling hebat atau kata-kata paling indah pun tidak akan mampu menggambarkan kecantikannya dengan sempurna.

Kulitnya selembut giok.

Wajahnya putih seperti salju dalam cahaya temaram.

Bibirnya laksana kelopak bunga paling lembut.

Hidungnya yang anggun seperti pahatan giok putih memancarkan kemuliaan alami.

“Reputasimu memang tidak berlebihan,” gumam Arka Wijaya tanpa berkedip.

Ratna Pradana menatapnya balik.

Seolah ada jurang gravitasi tak terlihat yang menarik seluruh perhatian dan pikirannya.

Arka bahkan kesulitan mengalihkan pandangannya.

Ratna Pradana dikenal sebagai kecantikan nomor satu di Kota Tirta Awan.

Namun jika ada yang mengatakan ia adalah kecantikan nomor satu di seluruh Kerajaan Surya Kencana, Arka tidak akan membantahnya.

Gadis di hadapannya baru berusia enam belas tahun—usia ketika seorang gadis bahkan belum sepenuhnya mekar.

Sulit membayangkan seperti apa ia beberapa tahun lagi.

Mungkin ia akan mencapai tingkat kecantikan yang hampir melampaui dunia fana.

Dan hari ini—

gadis itu telah menjadi istrinya.

Bahkan Arka sendiri hampir tidak percaya pada kenyataan ini.

“Dan kau juga tidak seperti yang digambarkan oleh rumor,” kata Ratna Pradana sambil berdiri.

Ia berjalan mendekati Arka dengan langkah anggun.

“Menurut rumor, pembuluh tenaga dalammu rusak sehingga kau hanya berada di tingkat pertama Alam Tenaga Dalam Dasar. Tubuhmu lemah, kau rendah diri, dan hampir tidak pernah keluar rumah.”

“Satu-satunya orang yang bisa disebut temanmu hanyalah bibi kecilmu, Lili Wijaya, dan adikku Banu Pradana.”

“Satu-satunya hal yang bisa dianggap sebagai kelebihanmu hanyalah wajahmu.”

Ratna Pradana berhenti tiga langkah di depan Arka.

“Aura tenaga dalammu memang lemah dan keruh, dan pembuluh tenaga dalammu benar-benar rusak.”

“Namun kepribadianmu sama sekali tidak seperti yang digambarkan oleh rumor.”

Tatapannya menembus langsung ke mata Arka.

“Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah merasakan kesombongan yang kau sembunyikan.”

Arka terperanjat.

Semua yang dikatakan Ratna Pradana tepat sasaran.

Dalam kehidupan sebelumnya di Benua Langit Biru, ia adalah salah satu panglima perang paling angkuh di dunia.

Meski kekuatannya kini merosot drastis, kondisi batinnya tetap sama.

Namun gadis berusia enam belas tahun ini justru mampu melihat menembus dirinya sepenuhnya.

“Pembuluh tenaga dalammu memang rusak,” kata Ratna Pradana perlahan.

“Tetapi itu bukan cacat bawaan.”

Ia mengangkat tangannya yang putih seperti giok dan menyentuh dada Arka dengan dua jari.

Aura dingin seketika menyebar ke seluruh tubuh Arka.

Lalu Ratna Pradana berkata dengan suara tenang,

“Kau kemungkinan besar diserang ketika masih sangat kecil.”

“Seseorang… telah menghancurkan pembuluh tenaga dalammu.”

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!