NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang Tidak Seharusnya Dilihat

Rachel duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak dan tangannya terlipat di pangkuan. Kalimat Liam malam itu kembali berulang di kepalanya, secara jelas dan tidak bisa disalahartikan. Ia tidak pernah berbicara soal uang. Ia juga tidak pernah menyebutkan soal angka. Yang ia katakan adalah bahwa yang ia butuhkan adalah Rachel.

Saat itu Rachel akhirnya memahami bahwa ini bukan sekadar transaksi biasa, bukan juga soal utang yang bisa dilunasi. Ini adalah bentuk kepemilikan, keterikatan penuh, dan kehadiran yang tidak bisa ditarik kembali sesuka hati. Dan yang paling membuatnya gelisah bahwa harga itu bukan hanya tubuh, tapi juga kebebasan, harga diri dan hak untuk pergi kapan pun ia mau tanpa harus meminta izin.

Rachel jelas tidak siap untuk itu. Ia tidak siap menjadi sesuatu yang dimiliki. Apalagi semua itu tidak didasarkan oleh perasaan yang murni.

Karena itulah sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah menyusun alternatif, dengan pelan dan hati-hati, seolah setiap kemungkinan harus diuji di kepalanya lebih dulu. Dan, malam ini ia akan mencoba bernegosiasi dengan Liam, setelah beberapa hari menunggunya pulang dari urusan yang harus diselesaikan.

Jika Liam menginginkan kehadirannya, maka ia akan hadir sebagai sesuatu yang berguna, bukan sebagai barang yang harus dimiliki. Ia ingin mengubah relasi yang timpang itu. Ia mungkin bisa menjadi pelayan, asisten rumah tangga atau apapun, selama tidak ada sentuhan personal, juga tidak ada klaim atas tubuh atau perasaannya. Itu memang bukan solusi ideal. Tapi itu adalah satu-satunya celah yang bisa ia lihat. Dan dengan begitu, ia masih punya jarak, sedikit kendali, dan sedikit ruang untuk bernapas.

Rachel memilih malam hari karena sejak pagi tadi Liam masih sibuk dengan urusannya. Dan malam ini, Rachel tidak ingin menundanya lagi. Keberaniannya mungkin akan rapuh jika ia menunggu terlalu lama. Sebab ia tahu bahwa dirinya mungkin akan mengurungkan niat.

Rumah malam itu terasa sunyi. Tidak ada suara langkah pelayan, tidak ada cahaya yang keluar dari ruang kerja Liam, dan para penjaga berdiri di luar rumah, seperti biasa, dalam diam dan waspada.

Rachel berjalan menyusuri lorong lantai atas dengan langkah penuh perhitungan. Ia tidak tahu bahwa malam itu ia akan menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat, dan tidak akan bisa ia lupakan begitu saja.

Kini ia sudah berdiri tepat di depan pintu besar kamar Liam yang entah kenapa malam ini tampak tanpa penjagaan seperti biasanya. Ia mengetuk pintu kamar itu sekali, namun tidak ada jawaban. Hingga, ia mengetuk lagi lebih pelan, tapi tetap tidak ada suara. Rachel menarik napas, lalu memutar gagang pintu. Ia masuk dengan asumsi Liam sedang sendirian di dalam sana, atau mungkin bahkan tidak ada di dalam. Namun, asumsi itu runtuh dalam satu detik. Ia berhenti tepat di depan pintu, di dalam kamar, begitu pintu di belakangnya tertutup rapat.

Di dalam kamar itu, Liam tidak sendirian. Ia bersama seorang perempuan yang tentu saja tidak Rachel kenal. Adegan itu jelas bukan sesuatu yang Liam rencanakan untuk dilihat Rachel. Namun ketika mata mereka bertemu, ketika Rachel terpaku di tempatnya, Liam tidak menghentikan apa pun. Justru sebaliknya, ia memilih melanjutkannya. Bukan karena hasrat, tapi karena kesempatan untuk membuat jarak antara dirinya dan Rachel.

Perempuan itu berada terlalu dekat dengan Liam—tepat di atas pangkuannya. Tubuhnya yang polos bergerak dengan ritme yang membuat udara di kamar terasa berat. Sementara itu, Liam sendiri tampak pasif. Tidak ada ciuman yang terjadi di sana, juga tidak ada keintiman yang hangat. Ia tidak menyentuh perempuan itu dengan cara yang berarti. Ia hanya duduk, membiarkan dirinya dilayani, seolah itu rutinitas yang sudah terlalu biasa.

Rachel menelan ludah, dan dadanya terasa sesak. Ini bukan tentang seks yang sedang berlangsung tepat di hadapannya. Melainkan tentang jarak yang sengaja diciptakan oleh Liam terhadapnya.

“Aku...maaf,” kata Rachel cepat dan refleks. Ia berbalik dengan gerakan cepat, ingin keluar.

“Jangan,” suara Liam terdengar datar, menghentikannya. “Kau sudah terlanjur di sini.” lanjutnya, membuat Rachel lantas berhenti.

“Bukankah kau datang karena ingin bicara? Lanjutkan,” lanjutnya, tenang, tanpa sedikit pun tanda terganggu.

Aktivitas yang sedang berlangsung itu tidak berhenti. Liam menyuruh perempuan itu melanjutkan aktivitasnya, setelah ia sempat berhenti sejenak saat Rachel datang. Kini perempuan di pangkuannya itu masih bergerak, napasnya terdengar samar di ruangan yang tertutup, bersama desahan yang terdengar cukup intens.

Rachel merasa kulitnya meremang, bukan karena dingin, tapi karena rasa risih yang menekan dadanya.

“Katakan,” ujar Liam. “Apa yang ingin kau sampaikan.”

Rachel masih berdiri kaku dan jari-jarinya mengepal. Setiap kata terasa lebih berat untuk diucapkan di tengah situasi seperti ini. Matanya tidak tahu harus ke mana. Ia tidak ingin melihat, tapi juga tidak bisa sepenuhnya mengalihkan pandangan.

Dan di saat itu, Liam tahu bahwa ia sepertinya berhasil, terlihat dari Rachel yang tampak merasa risih dan tidak nyaman dengannya. Saat ini ia tampak terguncang dan terdesak untuk mundur. Bahkan mungkin setelah ini akan semakin menjaga jarak dengan Liam, persis seperti yang ia inginkan.

Rachel menarik napas dalam sebelum lanjut berbicara. Udara di kamar itu terasa tebal, seolah setiap kata harus menembus lapisan yang terasa tidak ramah. Ia tahu ini ruang yang salah, waktu yang salah dan situasi yang membuat siapa pun kehilangan pijakan. Tapi jika ia pergi sekarang, ia mungkin akan kembali dengan sesuatu yang lebih buruk daripada rasa malu, yakni penyesalan.

“Aku tahu,” katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih stabil daripada yang ia rasakan, “kau bilang kau menginginkanku.”

Ia berhenti sejenak. Matanya tidak berani menatap langsung, bukan karena adegan di depannya, tapi karena ia takut kehilangan fokus. Ia memaksa dirinya melanjutkan perkataannya. “Tapi aku tidak siap… menyerahkan diriku.”

Kata-kata itu keluar apa adanya. Tidak terdengar defensif dan dramatis, melainkan hanya kejujuran dan sedikit keputusasaan.

“Kalau yang kau butuhkan adalah diriku,” lanjut Rachel, “biarkan aku membayarnya dengan cara lain.” Ia menelan ludah. “Aku bisa bekerja. Apa pun, yang dibutuhkan di rumah ini.”

Itu tawaran rasional untuk masalah yang jelas tidak rasional baginya, dan Rachel tahu itu. Namun, saat ini logika adalah satu-satunya alat yang ia miliki untuk bertahan. Ia tidak sedang meminta belas kasihan, dan juga tidak memohon. Ia hanya sedang mencoba menggeser makna harga menjadi sesuatu yang masih bisa ia sanggupi.

Liam tidak langsung menjawab tawarannya. Tapi ia juga tidak tampak menunjukkan kemarahan, tidak menyela, dan tidak juga menghentikan apa yang sedang berlangsung di ruangan itu. Ekspresinya tetap datar, seolah pembicaraan itu adalah sesuatu yang ia dengar dari jarak yang aman.

“Kau menganggap ini soal fungsi,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan terkontrol. “Atau tentang peran.”

Rachel mengangkat kepala sedikit. “Bukankah itu yang paling masuk akal?”

“Masuk akal untukmu,” jawab Liam, disertai desahan yang tertahan. “Tidak untukku.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh, tidak membantah panjang lebar, dan tidak merendahkan. Justru sikap itu yang membuat dada Rachel terasa semakin sempit. Tidak ada ruang untuk menawar di sana, dan rasanya tidak ada celah untuk bernegosiasi.

Liam membiarkan Rachel melihat dan mendengar tentang kenyataan yang ia ciptakan malam itu. Bahwa dunia yang ia jalani tidak beroperasi dengan sebuah kompromi kecil. Bahwa apa yang ia minta bukan sesuatu yang bisa ditawar sesuka hati.

Rachel menyadari sesuatu yang pahit bahwa Liam tidak sedang menghukumnya. Ia sedang memaksa Rachel membuat keputusannya sendiri, untuk mundur, menjauh, dan berhenti mencoba mendekat dengan logika yang tidak akan pernah ia terima.

Rachel benar-benar merasa tidak nyaman dan terdesak. Kehadirannya di ruangan itu terasa seperti kesalahan yang terlalu nyata untuk diabaikan. Lalu, Rachel mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia tidak ingin keluar dengan air mata dan tidak ingin memberi kepuasan emosional apa pun. Jika ini harus berakhir malam ini, ia ingin setidaknya menjaga dirinya tetap utuh.

“Kurasa,” katanya pelan, “ini benar-benar bukan waktu yang tepat.”

Ia melangkah mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi.

“Sebaiknya aku pergi,” lanjutnya. “Dan mungkin kita bisa membicarakannya lagi… lain kali.”

Tidak ada jawaban yang menahannya di sana. Tidak ada persetujuan, dan tidak ada juga penolakan. Di sana hanya ada keheningan yang terasa berat, dan itu sudah cukup sebagai jawaban agar ia segera mengakhiri percakapannya dan pergi.

Rachel berbalik dan berjalan keluar dari kamar Liam yang sejak tadi terasa menyesakkan. Langkahnya terjaga, tapi begitu pintu tertutup di belakangnya, sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan. Itu bukan sebuah tangisan, melainkan kesadaran yang tampak dingin dan jelas.

Malam ini, Ia keluar dari kamar Liam tanpa keputusan dan kesepakatan apapun. Dan di lorong yang kembali sunyi, Rachel akhirnya memahami satu hal yang selama ini ia hindari bahwa harga yang diminta Liam mungkin bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Meskipun begitu, Rachel tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus terus mencobanya. Ia harus tetap mempertahankan kendali dan harga dirinya. Meskipun mungkin jalan yang harus ia lewati untuk mendapatkan keinginannya itu tidaklah mudah.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!