NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

menjelang sore nampak seorang gadis cantik tengah mengikat sepatunya. Perempuan itu adalah Arabella Fathayra. Ia baru saja pulang dari bekerja. Ia bekerja di kafe kecil. Ya, walaupun gajinya tidak seberapa, tetapi itu cukup untuk kebutuhan dua adik kecilnya, Naur dan Tya, serta untuk membayar kosannya.

Saat ini ia ingin menyeberang jalan. Ia menunggu hingga lampu hijau berubah menjadi merah. Ia akan menyeberang jalan untuk bertemu sahabatnya, Althea, yang bekerja sebagai pegawai butik.

Lampu sudah berganti menjadi merah. Ia pun mulai berjalan kaki menyeberangi jalan. Tetapi saat hampir sampai di seberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju cukup kencang ke arahnya.

“Tin… Tin… Tin…”

Arabella terkejut. Ia mencoba mundur, namun tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga ia terjatuh di tengah jalan.

“Ah!” serunya kesakitan.

Mobil itu berhenti mendadak. Pintu mobil terbuka keras dan seorang laki-laki keluar dengan wajah kesal.

“Hei! Kalau menyeberang itu lihat jalan!” bentaknya.

Arabella yang masih memegang lengannya perlahan berdiri. Wajahnya langsung berubah kesal.

“Apa? Justru kamu yang hampir menabrak saya!” balasnya.

Laki-laki itu menggeleng sambil mendengus.

“Saya sudah klakson dari tadi. Kamu saja yang tidak dengar.”

Arabella menatapnya tajam.

“Lampunya sudah merah untuk mobil. Artinya kamu yang harus berhenti!”

Laki-laki itu melirik lampu lalu lintas sekilas, lalu kembali menatap Arabella

“Kamu juga tiba-tiba menyeberang begitu saja,” katanya dingin.

Arabella semakin kesal.

“Tiba-tiba? Saya sudah berjalan dari tadi! Kamu saja yang ngebut!”

Beberapa orang di trotoar mulai berhenti dan memperhatikan mereka.

“Saya tidak ngebut,” jawab laki-laki itu singkat.

Arabella mengangkat alis.

“Oh ya? Kalau tidak ngebut, kenapa saya sampai jatuh seperti ini?”

Laki-laki itu terlihat tidak sabar.

“Saya sudah mengerem, kan?”

Arabella menghela napas kesal.

“Itu karena kamu hampir menabrak saya!”

Laki-laki itu menyilangkan tangannya.

“Kalau kamu lebih hati-hati, hal seperti ini tidak akan terjadi.”

Mata Arabella langsung membesar karena marah.

“Jadi sekarang kamu menyalahkan saya?”

“Saya hanya bilang kamu juga harus lihat jalan.”

Arabella menunjuk lampu lalu lintas dengan kesal.

“Ini jalur penyeberangan! Pejalan kaki memang lewat sini!”

Beberapa orang mulai berbisik-bisik melihat mereka berdebat.

Arabella menggeleng tidak percaya.

“Benar-benar ya… bukannya minta maaf malah menyalahkan orang lain.”

Laki-laki itu hanya diam sejenak, lalu menghela napas panjang seolah tidak ingin memperpanjang masalah.

“Sudahlah,” katanya singkat.

Arabella semakin kesal.

“Sudahlah bagaimana? Kamu hampir menabrak orang!”

Namun laki-laki itu tidak menjawab. Ia hanya berbalik menuju mobilnya.

“Hei! Saya masih bicara!” seru Arabella.

Laki-laki itu membuka pintu mobil tanpa menoleh lagi.

“Dasar tidak bertanggung jawab!” kata Arabella dengan marah.

Mesin mobil menyala. Tanpa mengatakan apa pun, laki-laki itu langsung menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan Arabella di pinggir jalan.

Arabella berdiri terpaku beberapa detik sambil menahan kesal.

“Benar-benar menyebalkan…” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang, lalu kembali berjalan menuju seberang jalan, masih memikirkan kejadian barusan.

"bisa bisa nya ya ada orang seperti itu amit amit aku kalo ketemu dia lagi bisa sial terus aku , semoga gak ketemu dia lagi deh " ucap Arabella melanjutkan perjalanan nya menuju butik tempat Althea bekerja.

Arabella akhirnya sampai di depan butik tempat sahabatnya bekerja. Ia menarik napas panjang sebelum masuk. Rasa kesal dan lelah masih terasa setelah kejadian di jalan tadi.

Bel pintu berbunyi kecil saat ia membuka pintu butik.

“Ting…”

Seorang perempuan yang sedang merapikan baju di rak langsung menoleh.

“Bela!” seru perempuan itu dengan wajah senang.

Arabella tersenyum tipis. Perempuan itu adalah Althea, sahabatnya sejak lama.

“Kamu akhirnya datang juga,” kata Althea sambil berjalan menghampirinya. “Aku kira kamu tidak jadi datang.”

Arabella menghela napas panjang dan menjatuhkan dirinya ke kursi kecil di dekat meja kasir.

“Jangan ditanya…” gumamnya lelah.

Althea mengerutkan kening.

“Kenapa? Kamu kelihatan kacau.”

Arabella mengusap dahinya.

“Barusan aku hampir ditabrak mobil.”

“Apa?” Althea langsung terkejut. “Serius?”

Arabella mengangguk pelan.

“Tadi waktu menyeberang jalan ada mobil ngebut. Aku sampai jatuh.”

Althea langsung memeriksa tangan Arabella.

“Kamu tidak apa-apa kan?”

“Tidak parah,” jawab Arabella. “Cuma kaget saja… dan kesal.”

“Kesal kenapa?”

Arabella mendengus pelan.

“Pengemudinya bukannya minta maaf malah marah-marah. Kami sampai berdebat di tengah jalan.”

Althea menggeleng tidak percaya.

“Serius? Orang macam apa itu?”

“Orang yang sangat menyebalkan,” jawab Arabella cepat.

Althea tertawa kecil.

“Lalu bagaimana akhirnya?”

Arabella bersandar ke kursi.

“Dia pergi begitu saja. Bahkan tidak meminta maaf.”

Althea menghela napas.

“Ya sudah… yang penting kamu tidak kenapa-kenapa.”

Arabella terdiam beberapa saat. Wajahnya terlihat lebih serius.

Althea yang menyadarinya langsung bertanya,

“Ada apa lagi?”

Arabella menatap lantai.

“Belakangan ini keuanganku semakin sulit, Thea.”

Althea langsung duduk di kursi di depannya.

“Kenapa? Bukannya kamu masih kerja di kafe?”

“Iya… tapi gajinya tidak cukup.”

Arabella menghela napas panjang.

“Aku harus bayar kos, beli kebutuhan sehari-hari, dan juga kirim uang untuk Naur dan Tya.”

Althea mengangguk memahami.

“Biaya sekolah mereka juga naik,” lanjut Arabella pelan. “Aku benar-benar mulai kewalahan.”

Althea terlihat berpikir sejenak.

“Kalau begitu… kenapa kamu tidak cari pekerjaan tambahan?”

“Aku sudah coba,” jawab Arabella. “Tapi jadwalku di kafe sudah cukup padat.”

Althea tiba-tiba seperti teringat sesuatu.

“Tunggu…” katanya.

Arabella mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Aku pernah dengar tentang aplikasi yang cukup populer sekarang.”

“Aplikasi apa?”

Althea tersenyum sedikit.

“Di aplikasi itu orang bisa bekerja sebagai pacar sewaan.”

Arabella langsung menoleh ke arah Althea terdiam beberapa detik.

“Apa?” katanya tidak percaya.

Althea tertawa kecil melihat ekspresinya.

“Tenang saja. Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

“Orang-orang di sana biasanya hanya menyewa seseorang untuk menemani acara,” jelas Althea. “Misalnya datang ke pesta, makan malam, atau sekadar supaya tidak terlihat sendirian.”

Arabella masih terlihat ragu.

“Jadi… hanya menemani?”

“Iya. Tidak lebih dari itu.”

Arabella berpikir sejenak.

“Memangnya ada yang benar-benar melakukan itu?”

Althea mengangguk.

“Temanku pernah mencoba. Katanya bayaran per jamnya cukup besar.”

"Dan selain di sewa perjam jika orang nya kaya kau mungkin akan di sewa mingguan bisa juga bulanan dan harganya lumayan lah sesuai tawaran castemer nya" tambah Althea.

Arabella terlihat mulai mempertimbangkannya.

“Kalau benar begitu…” gumamnya pelan.

Althea tersenyum.

“Tidak ada salahnya mencoba, Bela.”

Arabella menatap sahabatnya.

“Namanya juga rekomendasi. Siapa tahu ini bisa membantu keadaanmu.”

Arabella masih terdiam, memikirkan kata-kata Althea.

Entah kenapa, saran itu terasa aneh… tetapi juga menarik.

Mungkin ini bisa menjadi solusi untuk masalah keuangannya.

Tanpa Arabella sadari, keputusan yang akan ia ambil nanti justru akan membawanya ke pertemuan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!