Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi Jam Malam
Liana terpaku di tempatnya berdiri, jemarinya masih mencengkeram gagang pintu yang kini terasa dingin dan tak berguna. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah Morgan yang berdiri tegak di ambang pintu. Pria itu tampak mengerikan di bawah temaram lampu lorong; bayangannya jatuh memanjang di lantai kamar Liana, seolah-olah bayangan itu adalah rantai yang siap melilit lehernya.
"Sepuluh sentimeter," suara Morgan memecah keheningan, datar tanpa emosi. Ia mengangkat penggaris besi di tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat mekanis, ia menggeser daun pintu hingga menyentuh ujung penggaris tersebut. Krieet. Suara engsel pintu itu terdengar seperti jeritan kecil di telinga Liana.
"Kau ... kau gila," bisik Liana, suaranya bergetar antara amarah dan rasa takut yang mulai merayap. Ia melangkah maju, mencoba mendorong pintu itu agar tertutup, namun bahu Morgan yang kaku tetap bergeming seperti tembok baja. "Ini privasiku! Kau tidak bisa melakukan ini! Aku punya hak untuk mengunci pintu kamarku sendiri!"
Morgan menurunkan penggarisnya, lalu melipat tangannya di depan dada. Ia menatap Liana lurus-lurus, seolah sedang meninjau sebuah data statistik yang cacat. "Kau kehilangan hak privasimu saat kau melanggar protokol jam malam dan berbohong mengenai keberadaanmu. Privasi diberikan kepada mereka yang bisa dipercaya, Liana. Dan kau? Kau baru saja membuktikan bahwa kau butuh pengawasan konstan layaknya anak kecil yang belum tahu bahaya api."
"Aku bukan anak kecil!" teriak Liana. Ia menyentakkan tangannya ke udara, menunjuk ke arah ruang tamu. "Aku delapan belas tahun! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Derby menjagaku!"
"Derby tidak menjagamu. Dia memamerkanmu seperti piala murah di tempat bilyar kotor," balas Morgan, suaranya mendadak rendah dan tajam, menusuk tepat di ulu hati Liana. Morgan melangkah masuk satu tindak ke dalam kamar, membuat Liana terpaksa mundur hingga pinggulnya menabrak meja belajar. "Sekarang, duduk. Ada harga yang harus kau bayar untuk tiga jam yang kau sia-siakan bersama preman itu."
Morgan menarik kursi kayu di depan meja belajar dengan satu sentakan kaki yang presisi. "Duduk," perintahnya lagi.
Liana merasa matanya panas. Air mata kemarahan mulai menggenang, namun ia menolak untuk menangis di depan pria es ini. Dengan kasar, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi. "Puas? Kau mau apa sekarang? Memukulku? Mengadu pada Kak Liam?"
"Memukulmu adalah pemborosan energi. Mengadu pada Liam? Aku bukan pengecut seperti kekasihmu," ucap Morgan sambil meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam di atas meja, tepat di depan wajah Liana. Ia membuka map itu dengan gerakan jemari yang sangat tenang, mengeluarkan tumpukan kertas berisi tulisan bahasa Inggris yang rapat dan rumit.
"Apa ini?" tanya Liana, matanya menyipit membaca judul di bagian atas. The Impact of Fiscal Policy on Emerging Markets: A Longitudinal Study.
"Tiga jurnal ekonomi internasional," Morgan meletakkan sebuah buku catatan baru dan pulpen mahal di samping jurnal tersebut. "Rangkum ketiga jurnal ini. Tulis tangan. Tidak boleh ada satu poin pun yang terlewat. Aku ingin ringkasan ini selesai sebelum fajar menyingsing."
Liana ternganga. Ia menatap tumpukan kertas itu seolah-olah itu adalah tumpukan kotoran. "Kau bercanda? Ini masing-masing lebih dari tiga puluh halaman! Aku bahkan tidak mengerti istilah-istilah ini! Ini tugas mahasiswa tingkat akhir, bukan mahasiswa baru!"
"Maka belajarlah," Morgan membungkuk, menumpukan kedua tangannya di atas meja, mengurung Liana di antara tubuhnya dan meja belajar. Aroma maskulin yang bersih dan dingin dari tubuh Morgan mendominasi indra penciuman Liana, membuatnya merasa semakin terintimidasi. Morgan menatap mata Liana dari jarak yang sangat dekat, cukup dekat hingga Liana bisa melihat pantulan dirinya yang terlihat kacau di lensa kacamata Morgan.
"Kau punya waktu untuk bolos selama tiga jam, maka kau punya waktu untuk mengerjakan ini selama enam jam," bisik Morgan, suaranya terdengar seperti janji yang mengerikan. "Jika kau berhenti, atau jika aku melihat pintu ini tertutup lebih dari sepuluh sentimeter, aku akan menelepon Liam saat itu juga dan memintanya mengirimmu ke sekolah asrama di Swiss besok pagi. Kau tahu Liam tidak pernah main-main dengan ancamannya."
Liana mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. "Aku membencimu, Morgan Bruggman. Aku sangat membencimu sampai rasanya aku ingin mati."
Morgan berdiri tegak kembali, merapikan letak jasnya yang tidak berkerut sedikit pun. "Kebencianmu adalah variabel yang tidak relevan dalam kontrak ini. Mulailah menulis. Aku akan berada di ruang kerja tepat di seberang lorong. Aku bisa melihat bayanganmu dari sini."
Morgan berbalik, melangkah keluar kamar, dan berhenti sejenak di ambang pintu untuk memastikan celah sepuluh sentimeter itu tetap akurat. Tak. Tak. Tak. Suara langkah sepatunya yang menjauh terdengar seperti detak jam pasir yang menghitung sisa kebebasan Liana.
Dua jam berlalu.
Liana merasa tangannya mulai kaku. Ia sudah menghabiskan sepuluh lembar kertas, namun jurnal pertama pun belum selesai. Kepalanya berdenyut hebat. Istilah-istilah seperti 'Asymmetric Information' dan 'Market Volatility' menari-nari di depannya seperti monster yang mengejek. Setiap kali ia mencoba meletakkan pulpennya, ia teringat bayangan Morgan yang duduk di ruang kerja seberang lorong, terjaga dengan setumpuk buku tebalnya.
Liana melirik ke arah pintu. Celah sepuluh sentimeter itu seolah sedang mengawasinya. Ia merasa haus yang amat sangat. Dengan gerakan pelan, ia bangkit dari kursi, mencoba melangkah seringan mungkin menuju dapur. Ia berharap Morgan sudah tertidur.
Namun, saat ia melewati lorong, ia melihat pintu ruang kerja Morgan terbuka lebar. Morgan sedang duduk di balik meja besarnya, tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung. Pria itu tampak sedang memijat pangkal hidungnya, terlihat sangat manusiawi dan lelah untuk pertama kalinya.
Liana terpaku. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Rasa benci itu masih ada, namun terselip rasa bersalah yang amat tipis. Pria ini terjaga semalaman hanya untuk memastikan dia tidak melakukan kebodohan lagi.
Liana berbalik, berniat kembali ke kamar tanpa air minum, namun suaranya justru mengkhianatinya saat ia tanpa sengaja menyenggol guci hias di lorong. Ting!
Morgan seketika mendongak. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Liana. "Kenapa kau keluar?"
"Aku ... aku hanya haus," jawab Liana terbata.
Morgan bangkit, berjalan melewati Liana menuju dapur tanpa berkata apa pun. Liana hanya bisa mengekor di belakangnya. Morgan mengambil sebuah gelas kristal, mengisinya dengan air dingin, dan menyodorkannya pada Liana.
"Minum. Lalu kembali bekerja," ucap Morgan. Tangannya sempat bersentuhan dengan tangan Liana saat menyerahkan gelas. Liana tersentak; tangan Morgan sangat panas, kontras dengan suaranya yang dingin.
"Kau ... kau demam?" Liana memberanikan diri bertanya.
Morgan menarik tangannya kembali dengan cepat, seolah-olah kulit Liana adalah api. "Bukan urusanmu. Selesaikan tugasmu."
Liana meminum airnya dengan cepat, lalu berbalik menuju kamar. Namun, sebelum ia masuk, ia menoleh kembali. "Derby akan menjemputku besok pagi di kampus. Kau tidak bisa melarangnya."
Morgan yang baru saja hendak duduk kembali di ruang kerjanya, berhenti. Ia berbalik dan menatap Liana dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Liana berdiri. "Dia tidak akan menjemputmu, Liana. Karena malam ini, aku sudah mengirimkan bukti balapan liarnya ke pihak kepolisian. Jika dia cukup pintar, dia akan bersembunyi. Jika tidak, kau akan melihat kekasihmu itu diborgol di depan gerbang kampus besok pagi."
Liana membelalak. "APA?!"
Morgan tidak menjawab. Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintunya sendiri dengan dentuman keras, meninggalkan Liana dalam kegelapan lorong.
Liana berlari menuju meja belajarnya, ia ingin mengambil ponselnya untuk memperingatkan Derby, namun ia tersadar—ponselnya masih ada di tangan Morgan. Ia terjebak. Ia terkurung di kamar ini dengan jurnal ekonomi yang membosankan sementara kekasihnya dalam bahaya.
Liana mencoba mendorong pintu kamarnya hingga tertutup rapat, melanggar aturan sepuluh sentimeter itu karena rasa frustrasi yang memuncak. Ia bersandar di balik pintu, napasnya tersengal.
Tiba-tiba, dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki yang berat. Tak. Tak. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Liana.
"Liana Shine," suara Morgan terdengar sangat dekat, tepat di balik kayu pintu. "Kau baru saja menutup pintu ini sepenuhnya."
Liana menahan napas.
"Tiga detik," ucap Morgan dingin. "Buka pintunya, atau aku akan menelepon Liam sekarang dan memberitahunya bahwa kau bukan lagi tanggung jawabku karena kau tidak bisa dididik."
Liana menggigit bibirnya hingga berdarah. Dengan tangan gemetar, ia menarik pintu itu. Celah sepuluh sentimeter itu kembali terbuka.
Namun, bukan wajah marah Morgan yang ia temukan. Di balik celah itu, Morgan berdiri dengan ponsel milik Liana di tangannya. Ponsel itu sedang menyala, menampilkan sebuah pesan masuk yang baru saja diterima.
"Ada pesan dari Derby," Morgan menyodorkan ponsel itu melewati celah sepuluh sentimeter, namun ia tidak melepaskannya. "Dia memintamu keluar sekarang juga. Dia menunggumu di bawah apartemen ini dengan motornya."
Liana meraih ponsel itu, namun Morgan menahan pergelangan tangannya.
"Pilih, Liana," bisik Morgan, matanya berkilat misterius di bawah keremangan lorong. "Turun ke bawah sekarang dan lihat apa yang terjadi saat polisi datang menjemputnya, atau tetap di sini, selesaikan tugasmu, dan aku akan memastikan dia aman untuk malam ini saja."
Liana terpaku. Di satu sisi, ia ingin lari ke pelukan Derby. Di sisi lain, ia melihat kilat ancaman yang nyata di mata Morgan.
Liana menatap layar ponselnya. Derby baru saja mengirim pesan: "Aku di depan lobi. Ayo pergi dari monster itu sekarang!" Namun, di saat yang sama, Liana mendengar suara sirine polisi yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan di bawah sana. Ia menatap Morgan, pria yang kini memegang nadinya.
"Apa maumu, Morgan?" bisik Liana putus asa.
Morgan mendekatkan wajahnya ke celah pintu, senyum tipis yang mengerikan muncul di bibirnya. "Aku ingin kau mengatakan padanya melalui telepon ini, di depan telingaku ... bahwa kau tidak ingin bertemu dengannya lagi malam ini karena kau lebih memilih tinggal bersamaku."
Dapatkah Liana melakukannya demi menyelamatkan Derby, atau ia justru akan menjerumuskan kekasihnya ke dalam penjara?