Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Liora berdiri di depan cermin kamar mandi, menyisir rambut panjangnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia tidak ingin kembali ke kamar. Tidak ingin berada di dekat Maelric. Kemarahan itu masih membara di dadanya, dan ia tidak berniat menyembunyikannya sedikit pun. Maelric telah memutuskan untuk memutus kontaknya dengan keluarga, satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.
"Lama sekali, Sayang," suara Maelric terdengar dari balik pintu kamar mandi. Ia mengintip masuk, wajahnya tampak santai seolah tidak ada yang terjadi. Lima menit. Hanya lima menit Liora mendapat ketenangan. "Aku sampai khawatir kamu nekat masuk ke bak mandi meski sudah kularang. Tidak mau kamu terpeleset lagi dan membentur kepala."
Dan sekarang ia berpura-pura peduli. Liora menahan diri untuk tidak mendengus. Maelric berlagak seolah segalanya baik-baik saja, seolah ia benar-benar menyayanginya. Namun Liora tahu, itu tidak lebih dari sandiwara.
"Aku masih harus mengoleskan krim wajah, lalu masker. Butuh sekitar satu setengah jam. Tidurlah duluan," katanya dengan nada datar. Tubuhnya memang lelah luar biasa, hampir tidak sanggup berdiri, tapi ia lebih memilih berdiri di sini seharian daripada berbaring di sisi Maelric.
Maelric melangkah masuk, semakin mendekat. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih sisir dari tangan Liora dan meletakkannya di atas rak. Jari-jarinya menyingkap rambut Liora ke bahu kiri, lalu bibirnya mulai menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sisi kanan lehernya.
"Kamu cantik. Malam ini kamu tidak perlu semua itu." Tangannya naik, menggenggam, memijat. "Sudah lewat pukul satu malam, dan aku sudah tidak sabar. Aku merindukanmu."
Liora menelan rasa muaknya dalam-dalam. Ia tahu, apa pun yang Maelric lakukan malam ini, ia tidak akan menyerah. Tidak akan. Amarahnya terlalu besar untuk dilunakkan oleh sentuhan semacam itu.
"Berlebihan," ucapnya dingin, menepis tangan Maelric dari tubuhnya. Ia berjalan menuju rak sebelah, membuka laci, dan dengan sengaja mengeluarkan sebotol krim wajah beserta selembar masker kain, sekadar mempertegas alasannya.
"Kalau begitu, nanti aku sendiri yang bawakan krimnya supaya kamu bisa mengoleskannya setelah selesai," Maelric tidak menyerah. Liora mengenal caranya, ia tidak akan memaksa secara kasar dulu. Ia akan terus merayu sampai kehabisan kesabaran. Biarlah. Aku akan mengulur waktu sampai ia menyerah dan tertidur sendiri.
"Tidak akan sama rasanya," jawab Liora singkat, kembali menghadap cermin. Ia memasang bando kosmetik dan membuka tutup botol krim.
Namun sebelum tangannya sempat menyentuh wajah, Maelric sudah merampas botol itu.
"Liora." Suaranya berubah, lebih berat, lebih serius. "Aku menginginkanmu. Bukan besok, sekarang. Marilah ke kamar. Aku janji tidak akan marah, meski tadi kamu benar-benar membuatku naik darah."
Liora menghela napas panjang. Pelan-pelan ia melepas bando dari kepalanya, tidak peduli rambutnya kembali acak-acakan. Ia melangkah keluar dari kamar mandi tanpa sepatah kata, lalu di kamar ia mulai melepas pakaiannya dengan cepat. Ingin segera menyelesaikan ini.
"Aku yang ingin melepasnya," kata Maelric dengan nada sedikit kecewa. Tangannya sudah menyusuri punggung Liora. "Sulit bagiku untuk benar-benar marah padamu, meski hari ini kamu layak mendapatkannya."
"Mengunjungi keluargaku bukan kejahatan." Kata-kata itu meluncur begitu saja sebelum Liora sempat menahannya.
Maelric terdiam seketika. Tangannya berhenti bergerak. Ia belum juga terbiasa dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang berani membantahnya.
"Bukan," jawabnya akhirnya, suaranya terkendali namun dingin. "Tapi tidak mengangkat teleponku, itu sudah berbeda ceritanya. Setelah apa yang baru saja terjadi, aku punya alasan untuk khawatir."
"Kamu bisa menelepon ke rumah."
"Dan aku melakukannya!" Nada suaranya naik sebentar sebelum kembali ditekan. "Yang hanya memberi kepuasan bagi dia dan membuatku semakin marah. Lagipula, Liora ini rumahmu sekarang. Kamu tidak akan pernah kembali ke tempat itu."
Sebelum Liora sempat membalas, Maelric mendorongnya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Liora terjatuh ke atas kasur. Liora tertegun. Baru kali ini ia memperlakukannya seperti itu.
Jadi inilah wajah aslinya. Akhirnya mulai terlihat juga.
"Sepertinya kamu tidak akan tidur malam ini, Sayang," suara Maelric terdengar saat ia melepas pakaiannya sendiri. Liora cepat-cepat membalik tubuhnya menghadap ke atas, ia tidak suka diambil dari belakang. Sakit.
"Aku tidak mau," ucap Liora pelan namun jelas.
Ia tahu kata-kata itu tidak akan mengubah apa pun. Tapi setidaknya, ia sudah mengatakannya. Setidaknya, ia masih punya suara.
"Sudahlah," jawab Maelric, seolah Liora sedang merengek soal hal sepele.
***
Keesokan paginya, Liora sengaja memindahkan piring dan gelasnya ke ujung meja yang jauh dari tempat biasa Maelric duduk. Ia menyesap kopinya dalam diam, menatap keluar jendela, pura-pura tidak menyadari pandangan cemas Camilla yang berdiri tidak jauh darinya.
"Saya tidak yakin ini ide yang baik, Nyonya," bisik Camilla hati-hati. "Ini hanya akan membuat Tuan semakin marah."
"Aku tidak peduli dengan suasana hatinya," jawab Liora tenang, meneguk kopi dari gelasnya yang bening.
Camilla menghela napas panjang, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Liora memahami kegelisahan perempuan itu dan ia menghargainya. Tapi ada hal yang tidak boleh ia biarkan: ia tidak boleh membiarkan Maelric berpikir bahwa larangannya akan ditelan begitu saja tanpa perlawanan.
Ia harus menunjukkan bahwa ia masih ada. Bahwa ia tidak akan diam.
"Apa maksud ini semua?" Suara Maelric memecah keheningan ruang makan begitu ia masuk. Liora tidak mengangkat wajah, tidak memberikan satu pun tatapan padanya. "Kenapa kamu duduk di sana? Kenapa mejanya ditata seperti ini?"
Maelric mengarahkan pandangannya pada Camilla.
"Ia hanya menjalankan perintah saya," Liora angkat bicara sebelum Camilla sempat menjawab. Ia tidak akan membiarkan perempuan tua itu menanggung akibat dari keputusannya.
"Masuk ke dapur," perintah Maelric pada Camilla. Perempuan itu mengangguk kecil dan bergegas pergi. Maelric kemudian melangkah perlahan mendekati Liora, cukup perlahan untuk terasa mengancam, meski Liora berusaha keras tidak menampakkan itu. "Boleh aku tahu apa yang sedang kamu lakukan? Semalam aku sudah memperhatikan kebutuhanmu."
Dan lagi-lagi soal itu. Seolah ranjang adalah satu-satunya bahasa yang ia mengerti. Seolah perasaan Liora tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
"Ya, tapi sebelum itu kamu melarangku menemui keluargaku!" Suara Liora akhirnya pecah. Ia tidak mampu membahas ini dengan tenang, tidak soal ini.
"Karena mereka memberikan pengaruh yang buruk padamu." Maelric menarik kursi di sebelah Liora dan duduk, suaranya berubah lebih terkendali namun tetap tegas. "Kalau sejak awal aku tahu seperti ini jadinya, aku sudah menetapkan batas yang jelas, seberapa jauh mereka boleh ikut campur dalam kehidupan kita. Bahkan ayahmu sudah terlalu berani mengambil ruang yang bukan haknya."
"Camilla--!" teriaknya tiba-tiba, keras, sampai Liora hampir terlonjak dari kursinya.
Camilla datang hampir berlari.
"Catat baik-baik," kata Maelric dengan nada yang tidak memberi ruang untuk dibantah. "Aku selalu duduk di sebelah istriku. Selalu. Sekarang hidangkan sarapannya dan jangan buat aku mengulanginya dua kali!"
Camilla mengangguk cepat dan kembali ke dapur. Liora menatap ke arah jendela, nafsu makannya sudah hilang sejak tadi.
Ia hanya duduk diam, menggenggam gelasnya erat-erat.