Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 3
"Maafkan Mama, Nak... maafkan Mama..."
Zenna tak bisa berhenti mengisak setelah janin yang sudah dikandungnya selama delapan minggu akhirnya keluar dari rahimnya melalui proses vakum di salah satu klinik kandungan.
Saat ia meminta dokter di rumah sakit menggugurkannya, seketika permohonan itu ditolak dan dokter berupaya membujuk Zenna mempertahankan kehamilannya. Tetapi tekanan berulang dari Rendy melalui telepon dan mimpi buruk itu terus mengiang di kepala Zenna.
Akhirnya Zenna tak tahan lagi dan memutuskan melakukan aborsi di sebuah klinik--tentu secara ilegal dan diam-diam.
Zenna sempat melihat janinnya sebelum dibungkus kain kafan putih. Janin itu masih seukuran kacang merah, dengan tonjolan mungil di sisi tubuh yang akan menjadi cikal bakal kaki dan tangan.
Hati Zenna sungguh hancur saat melihatnya.
Aku telah membunuh anakku sendiri... aku pezina, dan sekarang aku seorang pembunuh... masih pantaskah aku hidup jika aku seperti ini...?
Tetapi Zenna tak bisa terus meratap dan terpuruk. Ia mungkin akan melompat terjun dari balkon apartemennya jika tidak ingat ibunya yang sedang berjuang melawan kanker kelenjar getah bening di rumah sakit, selalu menanyakan keberadaannya dan menantinya.
Seminggu setelah aborsi, Zenna kembali muncul di rumah sakit dan membesuk ibunya. Zenna berbohong pada ibunya bahwa ia tidak enak badan sehingga harus istirahat. Ia tak sampai hati mengatakan bahwa ia sudah tak mengandung lagi.
Zenna bisa melihat, kehamilannya telah membuat ibunya sedikit bersemangat untuk terus hidup meski tengah didera penyakit berat.
"Kamu tak perlu sering-sering ke sini, Zenna... perbanyaklah istirahat. Kamu harus menjaga kandunganmu agar tetap sehat," kata Amalia dengan tatapan dan senyuman lembut.
Batin Zenna hancur berkeping-keping. Namun ia berusaha keras menutupi perasaannya dan senyumnya tetap tersungging.
"Aku sudah bed rest seminggu kemarin. Kondisiku sudah jauh lebih baik, Mama tak usah khawatir," kata Zenna pelan.
Amalia menatap Zenna penuh kasih sayang. Haru pun menghias raut mukanya yang kian menua dan tak lagi secantik gemintang.
"Kamu putri kesayangan Mama, satu-satunya... maaf ya jika selama ini Mama menyusahkanmu... harusnya Mama yang berjuang untukmu, tapi ini malah kamu yang lebih banyak berjuang dan berkorban untuk Mama... maafkan Mama, Nak..."
"Mama nggak salah, nggak perlu minta maaf," sergah Zenna, dan ia tak bisa mencegah mata indahnya berkaca-kaca. "Justru Zenna yang harus minta maaf... maaf Zenna sudah melakukan hal yang salah... maaf Zenna nggak bisa jadi anak yang bikin Mama bangga... maaf..."
Tangis Zenna pun pecah. Amalia merengkuh putrinya lembut, berusaha tetap tegar meski di dalam ia juga remuk.
"Zenna... kamu masih bisa kembali ke jalan yang benar, Nak... belum terlambat kalau kamu mau mengubah segalanya," gumam Amalia seraya membelai surai ikal dan panjang putrinya. "Kamu tahu... Mama bermimpi... Mama, kamu, dan cucu Mama--kita bertiga hidup bersama... hidup kita sederhana saja, tapi bahagia... bukankah dulu kita juga seperti itu, Nak? Kita bisa melanjutkan hidup seperti itu lagi, kan?"
"Mama sembuh dulu," kata Zenna di sela sedunya. "Kalau Mama sembuh, Zenna janji akan meninggalkan laki-laki itu... Zenna nggak akan melakukan dosa yang sama lagi... Zenna akan hidup dengan Mama seperti yang Mama impikan itu... tapi tolong Mama sembuh dulu..."
Amalia tersenyum lebar.
"Tentu, Sayang... Mama janji, Mama nggak akan sakit lagi... Mama nggak akan menyusahkanmu lagi... janji... Mama janji..."
Janji itu sungguh ditepati Amalia--namun dengan jalan yang sama sekali tak disangka Zenna.
Beberapa hari kemudian, kondisi Amalia tiba-tiba memburuk. Kode biru menggema di rumah sakit. Para dokter dan perawat bekerja keras menstabilkan tanda vital, dan mengembalikan detak jantung yang hilang.
Tetapi...
"Maaf, Nona Zenna, Nyonya Amalia sudah tak ada lagi di dunia ini... mohon relakan..."
Zenna tak tahu bagaimana ia melewati waktu setelah ibunya tak lagi bernapas. Jeritan dan air matanya terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri. Ia seperti cangkang hampa ketika menatap jenazah ibunya ditutupi kain putih, dan orang-orang di sekitarnya sibuk menyiapkan prosesi pemakaman.
Setelah jasad Amalia menyatu dengan kedalaman bumi, Zenna tak sanggup melakukan apapun selain duduk membisu dengan air muka layu di dekat nisan ibunya. Berjam-jam ia di sana, hingga mendung menggulung langit dan rintik hujan perlahan jatuh menguyupi segalanya.
Tetapi Zenna sama sekali tak peduli. Ia sudah tak sanggup menangis, merasakan, atau memikirkan apapun lagi.
Sampai akhirnya, seseorang mendekat dan mengulurkan payung hitam ke arah Zenna dan berkata pelan, "Mau sampai kapan kamu di sini?"
Zenna mendongak. Lelaki itu tak sungguh dikenalnya, namun juga sepenuhnya tak asing. Ia merasa pernah bertemu dengan paras tampan bertubuh tinggi tegap itu di suatu tempat.
"Kehilangan orang yang kita cintai memang menyakitkan. Berduka boleh saja, tapi jangan berlebihan. Orang yang pergi meninggalkan kita pasti juga tak mau melihat kita larut dalam kesedihan hingga terpuruk..."
"Pergi," Zenna menutup kedua telinganya dan memalingkan muka. Ia tak ingin diceramahi apalagi oleh orang yang tak dikenalnya sama sekali. Tahu apa mereka soal isi hatinya dan apa saja yang sudah dialaminya sepanjang hidupnya?
Satu-satunya yang ia inginkan adalah menyusul ibunya sekarang. Perlahan benaknya mulai memikirkan cara untuk meninggalkan dunia yang terlalu banyak memberinya luka hingga detik ini...
"Aku tak akan pergi begitu saja," kata lelaki itu. "Aku ke sini untuk menjemputmu, Zenna."
Zenna mau tak mau kembali menatap lelaki itu. Rasanya makin tak asing. Mendadak ia ingat, lelaki itulah yang telah bersenggolan dengannya di rumah sakit dan memakinya pada suatu malam.
"Kamu...," Zenna masih tak mengerti bagaimana lelaki itu muncul kembali, dan bahkan mengenali dirinya. "Siapa kamu...?"
"Aku," lelaki itu menatap Zenna dingin. "Bram Atmaja. Calon suamimu."
...***...